Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 39 Menjenguk Ganesha


__ADS_3

Tatapan mata lurus ke depan melihat jalanan ibu kota. Tangan yang anteng memutar-mutar stir mobil. Namun, tidak dengan pikirannya. Setelah terus berpikir dan menimang-nimang, akhirnya Jimmy memutuskan untuk memberitahu Piero tentang praduganya. Dia pun langsung menghubungi Piero yang sedang berada di rumah sakit.


"Hallo, Piero. Kamu lagi di mana?" tanya Jimmy saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Aku lagi di ruangan Anez. Kenapa?"


"Bisa agak menjauh dari situ gak? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Tapi aku harap, tidak ada orang lain yang tahu tentang pembicaraan kita."


"Baiklah, aku akan keluar."


Terdengar suara pintu ruangan dibuka. Jimmy yakin kalau Piero sedang berjalan ke luar ruangan. Dia pun akhirnya kembali berbicara.


"Apa sudah aman?" tanya Jimmy.


"Aman. Katakan ada hal penting apa?"


"Piero, aku curiga kalau Zara menyembunyikan Shopia. Apa kamu bisa menyadap ponselnya? Kamu lihat percakapan dia sekitar pukul satu siang. Sepertinya dia habis berkirim pesan dengan Shopia."


"Menyadap ponsel keahlian aku. Kenapa aku tidak berpikir kalau Zara bisa saja menyembunyikan sahabatnya. Makanya dia terlihat tenang tidak merasa panik sedikit pun."


"Tadi aku tidak sengaja mendengar perdebatan dia dengan Eliza. Tapi kamu jangan bilang apapun pada Anez. Aku tidak mau kehilangan karyawan berbakat seperti dia."


"Oke, aku tidak akan mengatakan pada siapa pun tentang Zara terlibat. Tapi jika nanti aku menemukan lokasi pastinya dia, maka aku akan langsung menjemputnya. Aku tidak tega melihat Anez tersiksa seperti itu."


"Ya sudah, aku tutup ponselnya dulu. Sebentar lagi aku sampai rumah sakit."


Klik!


Jimmy langsung memutuskan panggilan teleponnya bersamaan dengan mobil yang dibawanya memasuki parkiran rumah sakit. Dia segera turun dari mobil setelah mobilnya terparkir rapi. Terlihat Zara sudah menunggunya di depan lobby rumah sakit.


"Sudah menunggu lama?" tanya Jimmy.


"Baru saja, Mas. Tadi aku beli buah dulu untuk buah tangan," ucap Zara dengan menunjukkan parcel buah di tangannya.


"Kamu karyawan yang baik, ayo kita ke sana!" Jimmy berjalan lebih dulu dengan Zara mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Saat sudah sampai di ruangan Ganesha, tidak lupa keduanya mengetuk pintu terlebih dahulu. Mereka pun langsung masuk saat sudah diijinkan oleh orang yang ada di dalam ruangan itu. Nampak Piero sedang mengutak-atik ponselnya dengan Ganesha yang sedang tertidur.


"Piero, bagaimana keadaannya?" tanya Jimmy seraya menatap lekat wajah pucat Ganesha.


"Hanya saat tertidur dia tidak muntah-muntah. Kata dokter, fisik dan psikis Anez sedang tidak baik-baik saja. Seandainya psikisnya ada obatnya, sakit fisiknya pasti cepat sembuh," jelas Piero.


"Maksud Mas Piero?" tanya Zara tidak mengerti dengan apa yang Piero katakan.


"Rasa kehilangan Shopia yang membuat Anez sakit. Sama seperti saat dulu kehilangan adikku, dia pun sakit seperti itu. Sampai dia harus menjalani terapi karena adikku tidak bisa kembali. Ternyata, saat dia kehilangan Shopia, trauma masa kecilnya kembali lagi," jelas Piero.


"Apa kalau Shopia kembali, dia akan sembuh?" tanya Zara terlihat cemas.


"Kemungkinan besar iya. Makanya aku dan papanya berusaha mencari dia. Tapi ternyata kami mengalami kesulitan," ucap Piero sendu.


"Semoga Tuan Anez kembali sehat seperti sedia kala."


"Aamiin. Terima kasih Zara atas doanya. Kalau nanti kamu menemukan Shopia, tolong katakan padanya kalau Anez sebenarnya mencintai dia. Kalau Anez tidak bisa jauh dari dia. Tolong katakan juga pada Shopia, kalau Anez menyesali semua kesalahannya. Dia sangat berharap Shopia kembali bersamanya."


Nyess


"Akan aku sampaikan jika nanti aku tidak sengaja bertemu dengan Shopia," ucap Zara dengan suara pelan.


Aku semakin yakin, kalau sebenarnya Zara mengetahui dimana Shopia berada. Tapi aku juga mengerti kalau dia tidak bisa mengkhianati sahabatnya. Salah Anez juga dulu tidak peduli dengan perasaan istrinya. Sampai akhirnya Shopia memilih untuk menghilang dari kehidupan suaminya, batin Jimmy.


Perlahan Ganesha membuka matanya saat dia mendengar suara orang yang berbicara. Namun, rasa mual itu kembali datang. Membuat Piero dengan sigap menyiapkan wastafel portabel agar Ganesha mudah membuat cairan yang ingin dikeluarkannya.


Zara hanya meringis melihat apa yang terjadi bos arogannya. Dia tidak menyangka kalau Ganesha benar-benar jadi orang lemah saat Shopia pergi jauh dari hidupnya.


Sepertinya, aku harus memberitahu Shopia? Kasian juga melihat keadaan Tuan Anez seperti itu. Sampai wajahnya pucat seperti vampir, batin Zara.


"Piero, kapan mereka datang?" tanya Ganesha saat dia sudah puas mengeluarkan isi perutnya yang kosong.


"Belum lama. Zara datang bersama dengan Jimmy," jawab Piero.


"Kuat, Bro. Aku yakin kamu bisa mengalahkan rasa sakit itu. Cepat sembuh, biar kita bisa mencari Shopia bersama-sama." Jimmy langsung menghampiri Anez yang menyenderkan kepalanya pada head board tempat tidur.

__ADS_1


"Aku khawatir dengan Shopia dan anakku. Bagaimana keadaan mereka di luar sana? Apa mereka baik-baik saja?"


"Kita doakan agar dia baik-baik saja. Kamu juga harus baik-baik saja agar secepatnya bisa menemukan Shopia," ucap Jimmy terus saja memberi semangat pada sahabatnya.


Sampai hari sudah mulai gelap, Jimmy dan Zara pun berpamitan pulang. Karena memang mereka sudah terlalu lama di sana. Tadinya Zara ingin cepat-cepat pulang, tapi dia penasaran dengan pembicaraan ketiga sahabat itu.


"Mas Jimmy, aku langsung pulang ya! Suamiku sebentar lagi pulang," pamit Zara saat mereka sudah tiba di parkiran.


"Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menjenguk Anez."


"Iya Mas, sama-sama."


Zara pun segera pulang ke rumahnya setelah dia cukup berbasa-basi dengan Jimmy. Dia sudah tidak sabar ingin menelpon Shopia dan memberitahu tentang keadaan Ganesha pada sahabatnya. Tanpa dia tahu, kalau nomor ponsel miliknya sudah disadap oleh Piero.


Benar saja, setibanya di rumah Zara buru-buru membersihkan dirinya dulu sebelum menelpon Shopia. Karena dia tidak mau saat nanti suaminya pulang dia masih terlihat kucel setelah seharian beraktivitas. Dirasa semuanya sudah rapi dan wangi, Zara pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Shopia.


"Hallo, Shopia. Kamu sedang apa?" tanya Zara saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Aku sedang di kamar. Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik. Suami kamu yang tidak baik." Zara pun menceritakan semua yang dilihatnya pada Shopia. Membuat sahabatnya hanya terdiam mendengarkan semua celotehan Zara dengan hati yang terasa linu.


Shopia tidak bisa berkata-kata dengan apa yang Zara ceritakan. Hatinya bimbang antara kembali dan tetap bertahan. Tapi dia juga merasa takut, jika nanti kembali pada Ganesha maka nyawanya dan nyawa anaknya akan terancam.


"Halo Shopia, kamu dengar tidak apa yang aku katakan? Kenapa diam saja?" tanya Zara saat Dia merasa kalau Shopia tidak meresponnya.


"Aku mendengar, Zara. Tapi kamu bicara terus. Tidak memberi kesempatan buat aku menyela."


"Hehehe ... Aku terlalu bersemangat untuk menceritakannya sama kamu. Shopia, kembali saja ke sini. Bagaimana pun juga kalian masih suami istri. Udah gitu, kamu sekarang sedang hamil. Sudah tentu, seorang anak akan membutuhkan sosok ayahnya."


"Akan aku pikirkan dulu."


"Kamu jangan khawatir, Dora sudah mendekam di penjara. Kalau mau kembali ke sini. Nanti aku akan menjemput kamu."


"Tidak usah, Zara. Aku masih perlu waktu untuk berdamai dengan hatiku."

__ADS_1


__ADS_2