
Selepas kepergian Ganesha dan istrinya serta Piero, terlihat Eliza masih duduk di tempatnya. Dia tidak langsung pulang tapi sedang mencari cara agar bisa berbicara berdua dengan Prada. Eliza yakin, wanita paruh baya yang dekat dengan ibunya itu pasti akan percaya dengan kata-katanya. Saat Galen sudah pergi ke ruang kerjanya, barulah Eliza berbicara.
"Tante, apa Tante tidak tahu kalau Shopia itu seorang wanita penggoda? Masa tadi malam, dia tidak tahu malu menggoda Anez di depan aku. Mungkin juga, dia menggoda lelaki lain selain Anez." Eliza mulai melancarkan aksinya untuk menghasut Prada.
"Bukankah bagus ya, kalau seorang istri menggoda suaminya sendiri? Apalagi kalau suaminya itu orang yang tidak peka. Daripada kita sakit hati, lebih baik kita lebih aktif. Jangan sama-sama cuek nanti malah tidak akan nyambung." Prada tersenyum menanggapi ucapan Eliza.
"Tapi bukan hanya Anez, Tante. Sama Pak Jimmy dan Piero pun dia kegatelan. Selalu menampilkan senyum yang menggoda. Tante kho bisa menerima dia sebagai menantu. Kenapa tidak memilih gadis lain untuk menjadi pengganti Dora?"
"Karena Shopia yang sudah Tuhan takdirkan untuk menjadi istri Anez. Coba kamu pikirkan, pernikahan Anez dan Dora hanya tinggal beberapa hari lagi, tapi malah terjadi hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya."
"Iya, sih Tan. tapi harusnya Tante mencari gadis lain untuk menggantikan posisi Dora. Bukan gadis seperti Shopia yang tidak sederajat dengan kita. Asal usulnya saja tidak jelas."
"Buat Tante asal usul tidak terlalu penting. Asalkan gadis itu baik dan bisa membuat anak Tante bahagia, itu sudah cukup."
Susah sekali menghasut Tante Prada. Apa dia juga sudah terkena sihir Shopia sehingga selalu membela gadis itu. Kenapa juga harus Shopia? Kenapa bukan aku saja yang mereka pilih untuk mengantikan Dora. Aku jadi menyesal karena terlambat pulang ke tanah air, gerutu Eliza dalam hati.
"Tante, sepertinya aku pulang sekarang. Mama sudah menunggu untuk pergi ke acara amal," pamit Eliza.
"Oh, iya. Salam saja ya buat Mama kamu," ucap Prada dengan tersenyum ramah.
Dia pun mengantar Eliza sampai ke teras rumahnya. Saat mobil yang dinaiki gadis itu sudah tidak terlihat lagi. Barulah Prada kembali masuk ke dalam rumahnya.
Sepertinya Eliza menyukai Anez. Sampai dia berusaha untuk menghasutku. Tapi aku percaya kalau Shopia gadis yang baik. Detektif yang disewa suamiku tidak mungkin memberikan laporan bohong. Tapi yang menjadi pertanyaan, kenapa Shopia bisa mabuk sampai tidak sadar dengan apa yang Anez lakukan padanya.
...***...
Sementara di tempat lain, terlihat Shopia yang sedang mecoba mobilnya. Dia memilih yang model SUV yang bisa membawa seluruh anggota keluarga. Tentu saja Ganesha sedikit heran dengan mobil pilihan istrinya. Karena biasanya wanita lebih suka mobil yang terlihat imut-imut seperti mobil matic bukan seperti pilihan Shopia yang justru terlihat gagah.
"Kamu yakin pilih yang ini?" tanya Ganesha.
"Iya, Mas. Kemahalan ya kalau pilih yang ini?" tanya Shopia.
__ADS_1
"Tidak apa kalau kamu suka, tapi nanti aku harus mendapatkan jatah lebih, bagaimana?" bisik Ganesha tepat di telinga Shopia.
Shopia tersenyum mendengar apa yang Ganesha katakan. Sekarang dia semakin mengerti, asalkan dia bisa memenuhi semua kebutuhan ranjang Ganesha, laki-laki itu bisa sedikit lunak padanya. Tidak seperti saat mereka awal menikah.
"Mas Anez tenang saja, aku pasti akan menuruti kemauan Mas."
"Baiklah! Kita ambil Land Cruiser saja," ucap Ganesha pada pegawai showroom.
Shopia tersenyum senang karena Ganesha menuruti keinginannya. Karena sebenarnya, dia sengaja memilih mobil dengan harga mahal untuk tabungan dia nanti jika sedang terdesak. Berbeda dengan Piero yang serasa aneh pada sahabatnya. Karena dulu Ganesha tidak pernah memberikan barang mewah pada Dora.
"Anez, kamu yakin mau ambil mobil ini?" tanya Piero.
"Iya, aku sudah janji untuk memberikan dia hadiah. Ya sudah, kamu tolong urus surat-suratnya. Shopia, berikan KTP kamu pada Piero. Biar dia yang mengurus surat-suratnya," suruh Ganesha.
"Baik, Mas." Shopia pun langsung mengambil kartu tanda penduduk si dompetnya. Lalu dia berikan pada Piero agar mobil barunya itu atas namanya. "Ini Mas Piero. Maaf ya merepotkan."
"Iya, tidak apa. Secepatnya BPKB sama STNK nya akan aku berikan. Apa sekalian dengan SIM A juga?" tanya Piero.
"Baiklah, aku akan mengurus semuanya."
"Piero, aku pulang duluan. Ayo Shopia!" Ganesha langsung menarik tangan Shopia setelah dia berpamitan pada Piero.
Laki-laki itu ingin membawa Shopia ke suatu tempat yang belum pernah mereka datangi berdua. Sebuah vila di pinggir hutan lindung. Tempat Ganesha memelihara berbagai macam hewan yang dia rawat dari kecil.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Shopia saat mereka sudah tiba di sana.
"Ini tempat aku menyendiri. Saat aku sedang bosan bekerja, aku pasti pergi ke sini."
Shopia hanya melirik sekilas ke arah Ganesha. Dia masih asyik melihat bangunan tua yang terawat itu. Sebuah rumah peninggalan penjajah yang dijadikan vila oleh suaminya.
"Apa kamu menyukai rumahnya?" tanya Ganesha melihat ke arah istrinya.
__ADS_1
"Iya, rumahnya sangat asri meskipun sudah berumur tua."
"Ini rumah peninggalan kakek buyut aku. Keluargaku datang ke sini saat mereka ingin berlibur. Tapi bukan rumah ini yang ingin aku perlihatkan padamu."
"Maksud, Mas?" Kening Shopia hampir menyatu dengan apa yang suaminya katakan.
"Ayo ikut ke kebun belakang. Kamu pasti akan lebih terpukau dengan apa yang kamu lihat di sana." Ganesha lagi-lagi menarik tangan istrinya agar Shopia segera mengikuti langkah kakinya.
Benar saja apa yang suaminya katakan, Shopia sampai tidak bisa berkata-kata saat dia masuk ke kebun belakang yang dimaksud oleh Ganesha, kedatangan mereka disambut oleh orang utan dan kicauan burung. Belum lagi singa dan harimau yang langsung bangun dari tidurnya menyadari kedatangan tuannya. Meskipun semua binatang itu berada dalam kandang, tetap saja dia merasa was-was.
"Mas, maksud kamu apa membawa aku ke mari. Apa aku akan dijadikan santapan mereka?" tanya Shopia ketakutan dengan bersembunyi dibalik punggung kokoh Ganesha.
"Kalau kamu mengkhianati aku, maka aku tidak akan segan menjadikan kamu makanan pembuka Ceya dan Vega. Mereka pasti senang bisa Merasakan daging manusia," ucap Ganesha dengan melambaikan tangannya pada Singa yang berbulu lebat itu. "Ceya, sini!"
Terlihat singa itu semakin merapatkan tubuhnya ke pagar besi yang kokoh. Berharap akan dibelai oleh tuannya yang sudah lama tidak menjenguk mereka.
"Ingat Ceya, Dia istriku. Tapi kalau dia menyakiti aku, kamu boleh mencabiknya."
Singa itu pun langsung mengaum untuk memperlihatkan kegagahannya pada Shopia. Sementara wanita cantik itu hanya bisa diam mematung dengan tangan menutup mulutnya. Merasa kaget dengan apa yang Ganesha katakan.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1