Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 35 Tertangkap


__ADS_3

"Lepaskan, Kak! Aku tidak mengerti dengan apa yang Kakak katakan," kelit Dora dengan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Ganesha.


"Jangan berpura-pura di depan aku, Dora. Atau aku tidak akan segan lagi membawa kamu ke ranah hukum. Jangan menguji kesabaran ku!"


"LEPASKAN PUTRIKU GANESHA!" seru Jack dengan suara yang menggelegar memenuhi rumahnya.


"Suruh putri Om untuk mengatakan di mana istriku, maka aku akan melepaskan putri, Om." Ganesha masih saja mencengkeram kuat rahang Dora.


Kesabarannya benar-benar sudah habis dengan apa yang mantan tunangannya itu lakukan. Dia tidak lagi melihat siapa orang yang ada di depannya. Asalkan orang itu bisa memberitahu keberadaan istrinya, maka dia akan melepaskan cengkeramannya.


"Sho-pia per-gi de-ngan Ro-bin," ucap Dora dengan terbata-bata.


Bruk!!!


Ganesha langsung menghempaskan Dora dengan keras. Dia tidak peduli jika nanti Dora membentur tembok. Apalagi dia mendengar suara ponselnya berbunyi. Dia pun mengangkat panggilan telepon dari Piero.


"Ya!" sahut Ganesha saat dia mendengar suara Piero bicara.


"Aku sudah menemukan mobil yang membawa Shopia, tapi di dalamnya hanya ada Robin dengan kaki dan tangan terikat. Dia bilang, ada orang yang menghadangnya dan membawa Shopia pergi."


"Sial! Kamu cek CCTV jalanan. Aku akan membawa Dora untuk ketemu Robin."


"Baik, aku ke kantor polisi sekarang. Kamu langsung menyusul saja."


Klik!


Ganesha langsung menutup panggilan telepon dari Piero. Dia menarik tangan Dora, ingin membawa gadis itu ke kantor polisi. Namun, Jack dengan sigap menahannya. Dia tidak mungkin membiarkan putrinya dibawa pergi oleh laki-laki yang sedang dikuasai oleh amarah.


"Kamu pikir, bisa semudah itu membawa Dora? Om, tidak akan biarkan dia pergi dengan laki-laki pecundang sepertimu," sentak Jack.


"Oh, baik. Kalau Om melarang aku membawanya sekarang. Nanti juga akan ada orang yang menjemputnya ke sini. Asal om tahu, dia sudah bersekongkol dengan Robin untuk menculik istriku. Aku jadi semakin yakin kalau semua foto dan video itu hanya rekayasa dia. Kita buktikan di pengadilan, karena aku akan mencari ahli telematika untuk membuktikan semua foto itu hanya tipuan Dora untuk menjeratku."

__ADS_1


Ganesha langsung pergi dari rumah Dora. Dia sudah tidak sabar ingin menghajar Robin. Saat sudah sampai ke kantor polisi, dia pun langsung menuntaskan keinginannya untuk menghajar Robin. Sampai polisi pun turun tangan melerainya.


"Tenangkan diri Anda, Pak! Ini kantor polisi. Jangan membuat keributan di sini," ucap Polisi yang memisahkan Ganesha.


"Brengsekk! Kamu bawa ke mana istriku, hah? Aku gak nyangka, kamu bersekongkol dengan Dora. Padahal, selama ini aku baik padamu," bentak Ganesha.


"Cih! Baik katamu? Kamu hanya menjadikan aku kacung kamu. Sama seperti Piero. Tapi dia tetap saja bodoh mau mengikuti kamu terus. Meskipun kamu sudah merebut gadis yang disukainya." Robin meludah begitu saja. Sudah kepalang tanggung, kejahatannya sudah terbongkar.


"Apa katamu, Piero menyukai istriku? Apa benar begitu Piero?" Ganesha menatap nyalang sahabatnya. Namun Piero hanya menggelengkan kepalanya.


"Robin, kamu salah kalau mau memprovokasi Anez. Aku memang menyayangi Shopia seperti adikku sendiri bukan karena ingin memilikinya untuk menjadi pasangan," ucap Piero dengan tenang.


"Cih! Kalian berdua sama-sama menjijikan." Robin berdecih dengan senyum miringnya.


"Kamu yang menjijikan Robin. Aku tidak pernah menyangka, ternyata selama ini hanya berteman dengan seorang pengkhianat. Pak Polisi, Aku ingin hukuman yang berat untuk dia dan cewek itu."


"Baik, Pak!" sahut polisi itu.


Mendengar tawa Robin, Ganesha sudah bersiap untuk menghajar kembali laki-laki itu. Tetapi Piero segera memeluk tubuh sahabatnya. Dia tidak mungkin membiarkan Ganesha membuat keributan kembali di kantor polisi.


"Sudah, Anez. Lebih baik kita fokus mencari Shopia," ucap Piero dengan merangkul pundak sahabatnya. "Aku bingung, karena waktu itu, aku mendapat pesan tentang keberadaan Shopia. Tapi saat tiba di sana, aku hanya menemukan Robin yang sudah diborgol dengan kaki terikat di dalam mobilnya, tapi tidak menemukan Shopia."


"Kita cek siapa pemilik nomor ponsel itu. Pasti Shopia bersama dengan orang itu."


...***...


Keesokan harinya, jauh dari keramaian ibu kota. Tepatnya di sebuah desa kecil, terlihat seorang wanita cantik menggeliatkan badannya. Perlahan dia membuka mata saat merasa udara dingin yang menusuk kulit. Wanita cantik itu mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling kamar yang dia tempati.


"Aku di mana? Ini kamar siapa?" gumam wanita cantik itu.


Saat dia dalam kebingungannya, pintu kamarnya ada yang membuka dari luar. Shopia langsung waspada, karena dia berpikir kalau yang masuk ke dalam kamar itu, laki-laki yang telah menerobos masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Namun, ternyata pikirannya salah, saat Zara terlihat masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangannya. "Shopia, sudah bangun? Ini sarapannya."


"Zara, aku di mana? Siapa laki-laki semalam yang telah masuk ke rumahku?" tanya Shopia.


"Dia Robin, temannya Ganesha. Mungkin sekarang, dia sudah di bawa ke kantor polisi. Untuk sementara, lebih baik kamu tinggal di sini saja," ucap Zara.


"Terima kasih, Zara. Kamu sudah menyelamatkan aku."


"Sudah menjadi kewajiban aku menolong kamu. Shopia, aku tidak bisa lama tinggal di sini. Mungkin agak siangan, aku kembali ke ibu kota. Kamu di sini saja, sampai urusan Dora selesai."


"Zara, bolehkan aku tinggal di sini sesuka hati aku. Aku ingin melahirkan dan merawat anakku dengan tenang. Jauh dari perselisihan. Tolong jangan katakan pada siapa pun kalau aku ada di sini," mohon Shopia.


Sebenarnya itu yang aku inginkan, menjauhkan kamu dari belenggu Tuan Anez. Tapi aku juga tidak bisa memaksa kamu, jika kamu tidak mau pisah dengan suami kamu yang arogan itu, batin Zara.


"Baiklah! Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan. Nanti barang-barang kamu, aku bawa ke sini sedikit demi sedikit. Agar tidak menimbulkan kecurigaan dari siapa pun."


"Terima kasih, Zara. Kamu memang sahabat aku yang baik. Sudah lama aku ingin tinggal di daerah pegunungan, dengan hawanya yang sejuk dan alamnya yang masih asri."


"Ayo, aku kenalkan dulu dengan nenek. Dia pasti senang saat tahu kami ingin tinggal di sini. Semenjak kematian Kakek, nenek hanya tinggal sendiri. Semuanya anaknya merantau termasuk ayahku."


Kedua sahabat itu beranjak menuju ke ruang tengah. Terlihat di sana calon suami Zara dan seorang nenek yang sudah lanjut usia. Sekitar umur tujuh puluhan.


"Nenek, kenalin ini sahabat aku Shopia. Dia mau tinggal di sini menemani Nenek," ucap Zara dengan tersenyum cerah. "Shopia, kenalin ini Nenek Azmi, beliau nenekku yang paling baik. Kamu pasti betah tinggal di sini. Kalau cerewet Nenek lagi kambuh, kamu tidak usah dengarkan."


"Hallo Nek, terima kasih mau menerima aku di sini," ucap Shopia dengan mencium punggung tangan Nek Azmi.


"Nenek senang Nak Shopia mau tinggal di sini. Semoga betah, meskipun ini di desa tetapi tidak jauh dari kota. Ya meskipun hanya kota kecil," ucap Nek Azmi.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik, like, comment, rate, vote dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2