
Hari terus berganti dan waktu pun terus berlalu. Kini keadaan Ganesha sudah benar-benar membaik. Semua penyangga yang terpasang di leher dan kakinya kini sudah dilepas. Dia pun sudah bisa berjalan dengan normal seperti sedia kala.
Rencananya, hari ini mereka akan mengunjungi Eliza. Yang menurut kabar dari Piero, kalau keadaan gadis itu sekarang sudah mulai membaik. Meskipun luka bakarnya belum mengering seutuhnya.
"Shopia, apa kita harus mengunjungi Eliza. MAs rasa hanya buang-buang waktu saja," ucap Ganesha.
"Apa Mas ragu untuk melihat keadaan dia?" tanya Shopia.
"Mas memang sudah memaafkannya, tapi Mas tidak ingin melihat mukanya. Setiap kali teringat dengan apa yang dia lakukan pada keluarga kita, rasanya Mas ingin memberikan Eliza pada Ceya," ucap Ganesha. "Mas tidak bisa seperti kamu, yang akan bersikap biasa pada orang yang sudah menyakiti kamu."
"Ya, sudah. Mas nanti tunggu di taman saja bersama dengan El, biar aku sendiri yang ke sana. Baru setelah itu, kita main ke mall. Ya kan, Sayang? Kita habisin uang Papa ya!" Shopia mengelus lembut rambut putrinya yang ada dalam pangkuan Ganesha.
"Ma-ma ...."
"El, setuju Mas." Shopia tersenyum mendapatkan reaksi seperti itu dari El.
"Boleh, Sayang. Kalian boleh memilih apapun yang kalian inginkan."
Ganesha pun segera berangkat dengan Shopia. Mereka sengaja tidak membawa pengasuh El karena ingin quality time dengan keluarga kecilnya. Setelah mengalami ujian yang bertubi-tubi, Shopia dan Ganesha ingin membawa El untuk berjalan-jalan di mall.
"El sama Papa main di taman ya! Mama ke sana sebentar," tunjuk Shopia pada sebuah lorong rumah sakit.
"Ma-ma ...," panggil El.
"Sini Sayang sama, Papa!" Ganesha pun segera mengambil El dan membawanya di bangku taman. Gadis kecil itu terlihat bahagia melihat air mancur yang ada di tengah-tengah taman rumah sakit.
Sementara Shopia segera pergi menuju ke ruangan Eliza. Dia tersenyum tipis saat bertemu dengan Nike dan Nyonya Mary di depan ruangan Eliza. Tak lupa dia pun menyapa wanita yang sudah melahirkan sahabat suaminya.
"Siang, Tante! Apa Eliza bisa dijenguk?" tanya Shopia.
"Mau melihat Eliza?" tanya Nyonya Mary terkejut.
"Iya, Tan. Saya baru sempat sekarang," jawab Shopia.
"Ayo Tante temani!" ajak Nyonya Mary langsung menarik tangan Shopia. Sejujurnya wanita cantik itu sedikit khawatir kalau Shopia akan membalaskan dendam dengan apa yang sudah dilakukan oleh Eliza padanya. Sehingga dia ingin tahu apa yang akan Shopia lakukan pada Eliza.
Saat sudah sampai di dalam ruangan Eliza, terlihat gadis itu sedang tertidur. Shopia pun hanya diam melihat keadaan gadis itu. Hanya Nyonya Mary yang berbicara memberi tahu keadaan Eliza.
"Beginilah Shopia keadaan Eliza. Dia mengalami luka bakar di seluruh tubuhnya. Tante harap, kamu bisa memaafkan semua kesalahan Eliza di masa lalu," ucap Nyonya Mary.
__ADS_1
"Iya, Tante. Saya sudah memaafkan kesalahan dia, tapi untuk proses hukum, itu Mas Anez yang urus. Aku tidak tahu menahu," ucap Shopia dengan tidak mengalihkan pandangannya dari Eliza.
"Aku hanya berharap, semoga Eliza bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi lagi kejatahan yang sama di kemudian hari."
"Iya, Shopia. Apa Anez tahu kalau kamu datang ke mari?" tanya Nyonya Mary lagi.
"Aku bersama Mas Anez, tapi dia menunggu di taman dengan El. Kalau begitu saya permisi Tante," pamit Shopia.
"Ayo, pergi bersama! Tante juga mau pulang, sekalian ke lokasi syuting," ajak Nyonya Mary.
Akhirnya wanita cantik beda generasi itu terus saja mengobrol seraya berjalan menuju ke depan rumah sakit. Nyonya Mary sengaja ikut dengan Shopia karena ingin melihat keadaan Ganesha yang sudah bisa berjalan lagi, karena semenjak kepulangan Ganesha dari rumah sakit, dia tidak sempat menjenguk kembali.
Saat sampai di sana, terlihat Ganesha sedang duduk bersama dengan Jordan. Kedua laki-laki tampan itu terlihat asyik sedang bermain dengan El. Bahkan mereka tidak sadar sedang diperhatikan oleh seorang wanita cantik yang memakai seragam dokter.
"Anez, bagaimana keadaan kamu?" tanya Nyonya Mary.
"Sudah baikan, Tan!" sahut Ganesha.
"Syukurlah! Maaf, Tante belum sempat menjenguk kamu lagi."
"Tidak apa, Tan. Tante juga apa kabar?"
"Tante baik, Anez. Jordan, apa kamu mau menjenguk Eliza juga?" tanya Nyonya Mary lagi.
"Calon istri? Apa dia dokter di sini?"
"Iya, Tan. Do'akan saja agar secepatnya."
"Aamiin."
Setelah cukup berbincang-bincang, Shopia dan Ganesha pun undur diri. Mereka segera menuju ke mall terdekat untuk mengajak El bermain dan membeli mainan yang dapat menunjang perkembangan putrinya.
El terlihat sangat bahagia melihat begitu banyak balon yang berwarna-warni di pusat permainan anak-anak. Meskipun mereka ke sana hanya naik kereta mini, tapi hal itu membuat gadis itu terlihat sangat bahagia. Apalagi, saat mereka melewati mesin pencapit El meronta ingin mengambil boneka yang ada di dalam mesin itu.
"El, mau boneka Sayang?" tanya Shopia saat melihat putrinya kegirangan melihat begitu banyak boneka di sana.
"Biar Papa yang ambilkan," ucap Ganesha dengan memberikan El pada Shopia.
Papa muda itu begitu bersemangat mencapit boneka yang ada di dalam mesin itu. Membuat dia tidak menyerah meskipun mengalami kegagalan tidak kali. Sampai akhirnya dia mendapatkan boneka dolphin yang berwarna putih.
__ADS_1
"Wah, Papa pintar, bisa dapatkan boneka buat El," puji Shopia.
"Tentu, dong! Siapa dulu putrinya," ucap Ganesha dengan tersenyum lebar. "Coba kamu yang ambil. Sini El sama Papa."
"Aku gak bisa, Mas. Tapi baiklah! Demi El, Mama akan mencobanya," ucap Shopia dengan memberikan El dan boneka yang sedang dipegangnya.
Mama muda itu tersenyum tipis. Dia merenggangkan dulu otot-otot jarinya sebelum memainkan mesin pencapit. Tidak lupa Shopia berdoa dulu sebelum memulainya.
"El, lihat Mama kamu, mau main mesin pencapit boneka saja, pakai acara berdoa dulu," sindir Ganesha yang merasa gemas dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Mas, mau melakukan hal apapun, kita tidak boleh berdoa, agar hasilnya memuaskan," ucap Shopia.
"Ah iya benar. Untung setiap kali kita membuat adonan tidak pernah lupa untuk berdoa. Jadinya hasil seperti El, princess Papa yang cantik."
"Mas, bicaranya. Sudahlah, jangan ganggu konsentrasi aku!"
Shopia pun langsung memainkan mesin itu. Sedikit pun dia tidak mengalami kesulitan, sehingga begitu banyak boneka yang didapatkan oleh mama muda itu, membuat Ganesha menjadi tercengang dengan kepiawaian istrinya memainkan mesin itu.
Begitupun dengan petugas yang berjaga di sana. Dia langsung memberitahu manager pusat permainan itu, karena sudah hampir setengahnya, Shopia mendapatkan boneka dari mesin pencapit.
"Maaf, Mbak. Sepertinya mesinnya sedang mengalami kerusakan, kami akan memperbaikinya dulu," ucap manager di sana.
"Masa sih, perasaan tadi aku main juga masih susah kho," bantah Ganesha.
"Sudah, Mas! Mbak, boleh minta kantong untuk boneka-boneka ini?" Shopia tersenyum pada Mbak petugas yang berjaga di pusat permainan itu.
"Boleh, Mbak! Sebentar saya ambilkan."
Setelah mendapatkan kantong untuk tempat boneka, Shopia dan Ganesha pun langsung pergi menuju ke restoran karena sudah waktunya jam makan siang. Ganesha terus saja menggerutu karena merasa kesal kesenangan putrinya diganggu oleh orang itu, yang dia tahu kalau manager itu sebenarnya berbohong.
"Sudah, Mas. Segini juga sudah banyak. Lagipula kasian juga kalau sampai boneka yang di sana bisa aku ambil semua. Mereka bisa mengalami kerugian nantinya."
"Iya benar, tapi aku gak suka cara mereka membohongi kita."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Shopia dan Ganesha update, yuk kepoin juga karya yang keren satu ini.