
Shopia langsung pergi begitu saja saat terdengar namanya dipanggil oleh apoteker. Setelah dia menyelesaikan pembayaran dan menerima obat serta vitamin untuk kehamilannya, Shopia pun bergegas untuk pulang. Dia tidak peduli pada Dora yang terus saja melihat gerak-geriknya.
Berbeda dengan Dora yang semakin tidak suka pada Shopia karena mantan sahabatnya itu seperti tidak takut padanya. Padahal dulu, Shopia sellau menurut pada semua apa yang Dora katakan. Dia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang tadi berangkat bersama dengannya.
"Hallo, cepat ikuti Shopia. Kita harus tahu di mana dia tinggal. Agar lebih mudah mendapatkan persetujuan poligami. Anakku harus menjadi ahli waris Keluarga Oenelon. Makanya aku harus menikah resmi dengan Kak Anez."
"Oke, kamu jangan khawatir! Rencana kita pasti berhasil."
Klik!
Dora langsung menutup ponselnya. Dia pun segera mengambil vitamin yang diresepkan oleh dokter untuk kehamilannya. Setelah semua urusannya selesai, dia langsung kembali ke perusahaan. Karena memang, tadi dia ijin datang telat ke perusahaan.
"Hai, Kak Anez! Mau pergi ke mana?" sapa Dora saat mereka berpapasan di lobi perusahaan.
"Aku ada urusan penting. Kamu dari mana?" tanya Ganesha datar.
"Aku dari rumah sakit. Semalam perut aku kram," jawab Dora mendadak berubah melas.
"Oh ...."
"Kak Anez, hanya oh saja? Memang Kakak tidak khawatir dengan keadaan aku? Dengan keadaan anak Kakak sendiri?" protes Dora.
"Aku yakin, kamu baik-baik saja. Sudahlah! Ada hal penting yang harus aku lakukan," ucap Ganesha dengan berlalu pergi meninggalkan Dora.
Tentu saja hal itu membuat gadis itu merasa geram. Tangannya terkepal kuat. Dia sangat marah jika ada orang yang mengabaikannya. Dora pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, Sayang. Jalankan rencana kedua. Aku tidak mau tahu, dia harus dilenyapkan," ucap Dora saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Iya, Sayang. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah putus asa Anez. Kamu tenang saja, rencana kita pasti berjalan lancar. Setelah hartanya kita ambil alih, tinggal Anez yang harus kita singkirkan."
"Ya sudah, aku masuk dulu. Perutku sakit."
__ADS_1
Dora langsung menutup panggilan teleponnya. Dia pun bergegas masuk ruangannya. Karena memang, dari semalam perutnya kram.
Sementara Shopia, tanpa ada rasa curiga sedikit pun, dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Dia pun memakan roti terlebih dahulu sebelum minum obat. Dia langsung mengistirahatkan badannya yang terasa lelah.
Saat dia sedang terlelap tidur, datang seorang lelaki tampan dengan postur tubuh tegap datang ke rumahnya. Lelaki itu langsung masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci itu. Dicarinya Shopia ke setiap ruangan. Saat sudah mendapati keberadaan istrinya, Ganesha langsung menyimpan jas yang dipakainya di sandaran kursi.
Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang sangat dia rindukan. Dia teringat waktu tadi bersitegang dengan Piero saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan laki-laki itu dengan Zara.
Flashback on
Saat Ganesha sedang melewat pintu tangga darurat, tanpa sengaja dia mendengar suara orang yang sedang berbicara. Dia jadi penasaran karena hapal suara orang yang sedang ada di sana. Ganesha pun berpura-pura membaca berkas di depan pintu tangga darurat dengan menajamkan pendengarannya.
"Zara, kamu jaga Shopia baik-baik. Sekarang masalahnya semakin melebar. Sepertinya Anez harus menikah dengan Dora."
"Apa Mas? Menikah? Aku tidak akan membiarkan Shopia kembali pada Tuan Anez jika akan disakiti seperti itu."
"Makanya aku minta kamu jaga dia baik-baik. Kasian sekali hidupnya. Aku tidak bisa membayangkan jika adikku dalam posisi dia. Sudah pasti aku akan menjauhkan dia dari suami yang hanya menyakiti hatinya saja."
Seketika Ganesha membuka pintu tangga darurat itu dengan kasar. Tentu saja membuat kedua orang yang sedang membicarakannya menjadi kaget. Apalagi Piero, yang sudah pasti akan mendapatkan kemarahan dari bos sekaligus atasannya itu.
"Piero, ikut aku sebentar!" suruh Ganesha dengan nada dingin.
Mau tidak mau, Piero pun mengikuti ke mana laki-laki itu pergi. Dia hanya memejamkan matanya sesaat untuk menetralkan perasaannya. Piero yakin kalau Ganesha pasti marah karena dia idak memberitahu di mana keberadaan Shopia.
Sementara Ganesha, dengan langkah panjangnya menuju ke roof top perusahaan. Piero hanya mengekor di belakang sahabatnya yang terlihat tegang. Membuat semua orang yang mereka lewati menjadi heran. Karena tidak biasanya Ganesha memperlihatkan wajahnya yang menegang seperti itu saat dia sedang berjalan.
"Katakan! Di mana Shopia?" tanya Ganesha datar.
Piero menghela napas dalam, sebelum dia menjawab pertanyaan Ganesha. "Anez, biarkan Shopia menenangkan diri. Kasian jika dia ...."
"Aku tanya di mana Shopia? Aku tidak meminta pendapat kamu." Lagi-lagi Ganesha berbicara dengan nada datar.
__ADS_1
"Ada di rumah Zara."
"Apa selama ini kamu bersekongkol dengan Zara untuk menyembunyikan istriku?"
"Aku tidak bersekongkol dengan siapa pun. Aku hanya membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Kamu tahu, Anez. Malam itu Shopia hampir menabrakku karena fokusnya hilang saat menyetir. Mungkin sepanjang jalan dia menangis setelah melihat foto-foto kamu dengan Dora."
"Salah dia kenapa mudah sekali terprovokasi oleh foto-foto itu. Kenapa tidak bertanya dulu padaku?"
"Kamu ingin tahu kenapa? Karena semua orang pun pasti berpikran yang sama dengan Shopia. Selama menikah dengan kamu, apa kamu memperlakukan dia dengan baik sebagai seorang istri? Bukankah kamu hanya menginginkan pelayanan dari dia tapi tidak peduli dengan perasaannya. Makanya, saat melihat foto-foto mesra kamu, dia memilih pergi."
"Aku tidak butuh pendapat kamu. Aku hanya ingin tahu di mana istriku. Kamu tahu yang sebenarnya Piero. Apa mungkin, kamu sebenarnya memiliki perasaan pada Shopia? Jadi kamu sengaja menyembunyikan dia dari aku agar kami benar-benar berpisah dan kamu punya kesempatan untuk mendekatinya," tuduh Ganesha.
Bugh!
Piero langsung memukul perut Ganesha. Dia tidak terima dengan tuduhan sahabatnya. Dengan mencengkeram kerah Ganesha, Piero berkata "Aku memang menyayangi Shopia. Tapi perasaan aku hanya rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Sama seperti aku menyayangi kamu. Aku harap, kalau kamu memang mencintainya, jangan sakiti dia lagi!"
Piero langsung menghempaskan Ganesha begitu saja. Membuat Ganesha tersungkur ke lantai. Dengan tangan yang memegang perutnya, Ganesha membuka suaranya. "Katakan di mana istriku? Aku tidak bisa jauh darinya. Piero, Aku tidak akan menyakiti lagi. Karena aku sadar, kalau Shopia yang sudah memenuhi hatiku, bukan Dora."
"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu."
Flashback off
Ganesha semakin mengeratkan pelukannya pada Shopia. Berkali-kali dia mencium tengkuk istrinya. Membuat wanita cantik yang berada dalam pelukannya itu, perlahan membuka matanya. Dada Shopia langsung berdebar kencang saat menyadari ada sebuah tangan kekar yang sedang memeluknya.
Kenapa aku merasakan wangi Mas Anez. Tapi dari siapa dia tahu aku ada di sini? batin Shopia.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1