Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 9 Be strong, Shopia


__ADS_3

Shopia terus berlari seraya menyeret koper suaminya. Sedari tadi, Ganesha terus saja menghubunginya. Menyuruh dia untuk segera tiba di bandara karena pesawat yang dia tumpangi akan lepas landas tiga puluh menit lagi.


"Apa aku terlambat?" tanya Shopia saat sudah sampai di depan Ganesha.


"Ck! Kamu telat lima menit, Shopia." Ganesha berdecak kesal.


Dia langsung merebut koper miliknya yang masih di pegang oleh Shopia. Tanpa bicara lagi, Ganesha langsung pergi meninggalkan istrinya. Namun, saat dia baru berjalan beberapa langkah, Ganesha menghentikan langkahnya.


"Ingat Shopia! Sekarang kamu sudah menjadi istriku. Aku tidak mengijinkan kamu untuk dekat dengan lelaki manapun, termasuk Piero. Mulai saat ini, kamu harus menjaga jarak dengan dia."


"Apa kamu cemburu?"


"Ekspektasi kamu terlalu tinggi Shopia. Aku hanya tidak mau kamu menginjak-injak kehormatan aku sebagai seorang suami." Ganesha langsung pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sementara Shopia hanya menatap punggung kokoh itu semakin menjauh dengan menghela napas dalam. Dia hanya tersenyum kecut saat teringat dengan ucapan Ganesha tadi. Shopia pun langsung membalikkan badannya untuk pulang ke rumah. Tanpa disadarinya, Ganesha pun berbalik dan melihat kepergian Shopia. Laki-laki itu hanya tersenyum samar dengan pandangan yang tidak lepas dari Shopia.


Aku memang tidak mencintaimu, Shopia. Tapi aku tidak suka berbagi, sesuatu yang sudah menjadi milikku. Begitupun dengan kamu, yang sudah berstatus sebagai istriku, batin Ganesha.


Lamunan Ganesha langsung buyar, saat melihat Shopia akan membalikkan badannya sebelum dia keluar dari ruangan itu. Dia segera bersikap acuh tak acuh pada wanita cantik itu. Harga dirinya bisa terjun bebas jika Shopia tahu kalau dia sedang memperhatikan wanita itu.


Berbeda dengan Shopia yang melihat Ganesha seperti membalikkan badan. Dia tersenyum sinis melihat suaminya yang sedang berakting di depannya. Dia pun akhirnya memilih untuk pergi dari Bandara.


Wanita cantik itu segera naik ke taksi yang tadi mengantarkannya ke bandara. Dia sengaja meminta supir taksi itu untuk menunggunya. Karena yakin tidak akan lama di dalam bandara.


"Lesu amat, Neng. Apa suaminya marah?" tanya supir taksi itu.


"Tidak, Pak. Suami saya memang tidak sabaran, tapi dia orangnya baik, kho." Shopia tersenyum pada supir taksi itu. Rasanya tidak etis jika dia harus menjelekkan suaminya sendiri di depan orang asing.


Pintar sekali dia menyembunyikan kejelekan suaminya. Padahal tadi terdengar jelas kalau suaminya itu membentak dia karena telat datang ke bandara, batin supir taksi.


Selama perjalanan pulang, Shopia hanya sesekali menanggapi ucapan pria paruh baya yang menjadi supir taksi. Pikirannya dengan melayang entah ke mana. Sampai akhirnya terdengar suara ponselnya berbunyi. Shopia pun langsung mengambil ponselnya. Dilihatnya Zara yang menghubungi dia.


"Hallo, Shopia. Kamu lagi di mana?" tanya Zara saat sudah tersambung.

__ADS_1


"Aku lagi perjalananan pulang dari bandara. Kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak! Aku hanya mau mengajak kamu melihat-lihat perumahan Putra Residence. Yang aku dengar, ditengah-tengah perumahan itu ada danau buatan dan taman bermain. Aku ingin mengambil perumahan di sana untuk investasi. Daripada uangku habis untuk nongky-nongky, lebih baik aku kredit rumah."


"Oke, sekarang aku ke perusahaan. Apa kamu sudah bersiap untuk pulang?"


"Masih lama, Shopia. Aku sedang di toilet jadi bisa menelpon kamu."


"Ya sudah, nanti aku tunggu di lobby. Aku malas naik, apalagi bertemu dengan ratu julid."


"Baiklah, tunggu aku di lobby!"


Shopia langsung memutuskan sambungan teleponnya saat mobil yang dia tumpangi berbelok ke halaman perusahaan Ganesha. Dia pun langsung membayar ongkos taksi sebelum mobil itu pergi dari sana. Lalu menuju ke kafetaria yang tidak jauh dari lobby perusahaan. Setelah dia memesan makanan, barulah Shopia memberitahu tentang keberadaannya pada Zara.


"Shopia, Anez sudah berangkat?" tanya Piero tiba-tiba.


"Sudah, Mas!" sahut Shopia.


"Silakan, Mas. Tumben ngopi di sini?"


"Iseng saja. Tadi aku lihat kamu masuk ke sini. Kerjaan juga udah selesai," jawab Piero enteng. "Kamu tenang saja, Anez tidak akan tahu kita nongkrong di sini berdua."


"Eh, bukan begitu maksud aku."


"Shopia, apa Anez suka menyakiti kamu? Jangan memaksakan diri, jika kamu sudah tidak kuat menjalani pernikahan."


"Tidak kho, Mas. Mas Anez tidak pernah memukul aku. Hanya ucapannya saja yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan. Lagipula, orang tua Mas Anez memperlakukan aku dengan sangat baik."


"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya. Shopia, kalau ada apa-apa, jangan sungkan meminta tolong padaku."


"Iya, Mas. Terima kasih. Sepertinya aku harus pergi, Zara sudah menunggu di depan," pamit Shopia.


Piero hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hangat. Dia hanya menatap punggung Shopia sampai menghilang di balik tembok gedung bertingkat itu. Piero menarik napas dalam dan menghembuskan-nya perlahan. Entah kenapa, semenjak dia bertemu dengan Shopia, dia selalu teringat dengan gadis itu dan merasa khawatir padanya. Padahal hubungan mereka tidak dekat hanya sebagai percakapan basa-basi saja.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Piero, Shopia pun selalu merasa terlindungi jika di dekat laki-laki itu. Namun, dia selalu menjaga jarak pada semua laki-laki yang mendekat padanya.


"Shopia, apa kamu dekat dengan Pak Piero?" tanya Zara saat mereka sudah berada di taksi.


"Tidak dekat, tapi dia sering menolong aku tanpa aku minta."


"Oh, aku pikir kamu ada hubungan di belakang Tuan Ganesha."


"Zara, jangan bikin gosip! Mereka sahabat dekat. Mana mungkin aku seperti itu," seru Shopia.


"Canda, Phia. Kamu tuh serius banget menanggapinya."


Tidak butuh waktu lama, kedua wanita cantik itu sudah sampai di kantor pemasaran perumahan Putra Residence. Melihat type rumah serta lingkungan yang ditawarkan oleh pengembang, membuat Shopia merasa tertarik untuk ikut mengambilnya. Namun, dia masih menimang-nimang karena harganya pun lumayan mahal untuk ukuran kantongnya.


"Shopia, ikut mengambil saja. Kamu kan sekarang istri Bos. Pasti mendapatkan jatah bulanan yang lumayan besar."


"Apa bisa dicicil pembayarannya? Kalau bayar langsung segitu, aku tidak punya uang."


"Tentu saja bisa. Aku saja mengambil cicilan KPR."


"Itu terlalu lama. Aku bertahap saja. Zara, kita ambil type ini saja. Harganya tidak terlalu mahal, modelnya bagus. Ditambah dekat dengan danau," usul Shopia dengan mata yang tidak lepas dari brosur yang dilihatnya. Mereka sengaja meminta waktu untuk berdiskusi dulu sebelum memutuskan pilihannya.


"Aku suka pilihan kamu. Harganya juga hanya satu koma enam. Ya sudah, kita ambil samping- sampingan saja."


Akhirnya mereka pun mengambil rumah yang bersebelahan. Shopia memang sudah merencanakan untuk membeli rumah. Agar saat nanti Ganesha sudah tidak menginginkan dia lagi, Shopia tidak perlu bingung harus pulang ke mana.


Aku harus berjaga-jaga dengan semua kemungkinan terburuk. Menjalani pernikahan tanpa hati, tidak boleh larut dengan kemewahan yang ditawarkan sesaat. Be strong, Shopia.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2