Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 38 Hampir Terbongkar


__ADS_3

Dengan perasaan yang tidak menentu, Piero menggantikan meeting dengan klien. Beruntung dia bisa bersikap profesional. Meskipun hatinya sedang cemas, tetapi hal itu tidak mengurangi kredibilitas dia di depan klien, sehingga meeting pun berjalan dengan sukses.


Sepulang meeting, dia berjalan dengan tergesa menuju ke ruangan Ganesha untuk menyimpan berkas di meja Ganesha. Karena hanya ruangan Ganesha nyang memiliki akses khusus, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk ke sana tanpa memiliki akses.


Saat dia akan kembali ke mobilnya, tanpa sengaja hampir bertabrakan dengan Zara di depan ruangan gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Zara menjadi heran karena Piero sepertinya sangat tergesa-gesa.


"Mas Piero, buru-buru amat sampai aku mau ditabrak," tegur Zara.


"Sorry, Zara. Aku sedang terburu-buru mau ke rumah sakit. Anez dirawat, katanya tadi pagi pingsan. Pasti dia tidak menjaga kesehatannya karena terus memikirkan Shopia. Kalau kamu bertemu dengan Shopia, tolong bilang sama dia, Anez benar-benar kehilangannya dan ingin memperbaiki semuanya," cerocos Piero panjang lebar.


"Iya, Mas. Semoga saja Shopia cepat ketemu."


"Oh iya, bukankah kamu kemarin cuti menikah ya! Selamat ya Zara, semoga pernikahan kamu langgeng. Kenapa tidak membuat undangannya?"


"Tidak, Mas. Aku menikah di kampung nenek. Tadinya mau di sini tapi aku rubah. Biar keluargaku kumpul semua di rumah nenek," jawab Zara.


"Oh, begitu. Ya sudah aku pergi dulu," pamit Piero segera berlalu pergi meninggalkan Zara yang masih mematung di tempatnya.


Dia menjadi gamang ingin memberitahu di mana Shopia tapi sahabatnya itu tidak ingin ada orang yang tahu tentang keberadaannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertanya lebih dulu pada Shopia dan memberitahu keadaan Ganesha pada sahabatnya.


"Sebaiknya aku mengirim pesan dulu pada Shopia. Aku khawatir dia marah kalau aku tidak bicara dulu," gumam Zara.


Gadis itu pun kembali ke kubikel-nya mengambil ponsel yang ada di dalam tas. Tanpa disadarinya, Eliza terus saja memperhatikan gerak-gerik dia. Entah kenapa Eliza merasa tidak suka pada Zara karena gadis itu bersahabat dekat dengan Shopia.


Seharusnya sudah tidak ada halangan lagi buat aku mendekati Anez. Dora sudah dipenjara, Shopia sudah menghilang. Tapi kenapa, sepertinya semakin sulit mendekati Anez. Dia malah sering tidak merespon pesan aku. Telepon pun dia abaikan, batin Eliza.


Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, Zara dengan asyiknya berkirim pesan pada Shopia. Sampai dia tidak menyadari kalau Eliza sudah berada di belakang gadis itu.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu tahu di mana Shopia? Bagus sekali Zara. Siap-siap saja kamu dapat hukuman dari Anez kalau sampai dia tahu, karyawan dia sendiri yang sudah menyembunyikan istrinya," sarkas Eliza.


Deg ... Deg ... Deg ....


Jantung Zara mendadak berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia tidak menyangka kalau ada orang yang mengintip di belakangnya. Namun, bukan Zara jika dia tidak bisa mengelak saat sedang terjepit.


"Aku baru tahu, kalau seorang putri yang terhormat dari pengusaha sukses tanah air suka mengintip pesan orang. Memangnya kamu lihat, kalau aku berkirim pesan dengan Shopia?" kelit Zara.


"Lah itu, kamu sedang berkirim pesan dengan kontak yang bernama Via. Berarti dia Shopia kan? Karena kamu sedang membicarakan Anez dengan dia," desak Eliza.


"Kayak kamu tidak suka bergosip saja. Aku sedang bergosip dengan temanku kalau Bos Anez sedang sakit. Jadi aku bisa pulang cepat untuk menjenguk dia."


"Kamu jangan bohong! Sini aku lihat isi pesan kamu. Aku juga membaca percakapan kamu dengan Shopia."


"Cih! Kepo banget. Mending kamu urus saja urusan kamu, gak usah jadi tukang intip. Malu-maluin saja," cibir Zara.


"Aku gak takut dengan ancaman kamu. Asal kamu tahu, persahabatan aku lebih penting dari pekerjaan ini. Tanpa bekerja di sini pun, aku masih bisa bekerja di tempat lain. Dunia itu luas, kenapa aku harus terpaku padu satu hal yang hanya membuat aku tidak nyaman," balas Zara.


Eliza hanya mendelik tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Zara. Dia pun langsung kembali ke tempatnya dengan bibir yang dia majukan sejauh lima sentimeter. Sementara Jimmy hanya memperhatikan anak buahnya sedang berdebat. Dia jadi ikut curiga saat mendengar kalau Zara menyembunyikan Shopia.


"Zara memang orangnya berprinsip. Dia tidak akan mudah membocorkan rahasia orang yang disayanginya tanpa seijin dari orang itu. Sepertinya aku harus mencari cara agar bisa mengorek tentang Shopia tanpa membuat dia curiga," gumam Jimmy.


Dia pun kembali pada pekerjaannya dengan terus memikirkan bagaimana caranya agar Zara mau mengatakan tentang Shopia dengan suka rela. Bagaimana pun dia tidak mau bersitegang dengan siapa pun. Sampai akhirnya, Jimmy meminta Zara ke ruangannya menjelang bel pulang berbunyi.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!" suruh Jimmy.

__ADS_1


Terlihat Zara menyembulkan kepalanya sebelum dia masuk ke ruangan atasannya. Gadis itu menampilkan senyum khasnya dengan lesung pipi menjadi pemanis wajahnya. Begitupun dengan Jimmy yang menyambut hangat kedatangan bawahannya.


"Permisi, Mas. Ada perlu apa ya?" tanya Zara.


"Duduk dulu, Zara. Biar kita bicaranya enak. Bicara santai saja ya! Karena sudah masuk jam pulang kerja. Apa kamu dijemput oleh suamimu?" Jimmy melihat ke arah Zara yang sedang mendudukkan bokongnya di kursi yang berseberangan dengannya.


"Tidak, Mas. Suami aku sedang piket," jawab Zara.


"Oh, aku lupa kalau suami kamu seorang intel. Hm ... Zara apa tidak bisa minta tolong suami kamu untuk mencari Shopia. Aku merasa kasian melihat Anez. Semenjak kepergian Shopia, hidupnya berantakan. Dia tidak mengurus dirinya. Yang dipikirkannya hanya Shopia dan bayi yang ada dalam kandungannya."Jimmy menghela napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Entah apa yang terjadi dengan pernikahannya? Cintanya benar-benar sedang diuji. Mungkin benar kalau sikap dia kurang baik pada Shopia tapi sekarang dia sudah menyesalinya dan akan memperbaiki semuanya."


"Aku akan mencoba bertanya dulu, Mas. Kalau dia sanggup, mungkin bisa membantu. Tapi kalau dia tidak mau, aku minta maaf tidak bisa membantu apa-apa."


"Aku mengerti, tapi aku sangat berharap kalau suami kamu mau membantu."


"Iya Mas, akan aku usahakan. Apa Mas Jimmy mau menengok Tuan Anez?" tanya Zara kemudian.


"Iya, apa kamu mau ikut?"


"Boleh deh, Mas. Tapi kita berangkat sendiri-sendiri saja ya Mas. Soalnya aku bawa motor. Tidak enak juga kalau ada yang lihat. Nanti malah dituduh yang iya-iya. Kan gak enak didengarnya," seloroh Zara.


"Iya boleh. Suami kamu pasti bangga punya istri yang memiliki batasan dengan laki-laki lain. Nanti Mas tunggu di lobby rumah sakit kalau tiba lebih dulu, begitupun dengan kamu jika tiba di sana lebih dulu."


"Siap Mas. Kalau begitu aku permisi!"


Jimmy hanya tersenyum melihat kepergian Zara. Dia berharap, hati gadis itu terketuk agar mau memberitahu di mana Shopia. Karena Jimmy berpikir, jika dia memaksanya, maka Zara akan semakin menyembunyikan sahabatnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2