Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 104 Siapa mereka?


__ADS_3

Pemilik wajah cantik yang angkuh dengan badan tinggi semampai, terlihat baru turun dari mobil sport keluaran terbaru. Dia baru saja mendapatkan mobil itu dari papanya sebagai penawar kesedihannya karena kehilangan Nyonya Lucy.


Tanpa bicara apapun, Eliza masuk ke rumah peninggalan mamanya yang dia jadikan sebagai markas untuk merencanakan semua niat jahatnya pada keluarga Shopia. Eliza sudah memikirkan matang cara untuk melenyapkan orang-orang yang menjadi penghalangnya untuk mendapatkan semua harta Keluarga Vuttion sekaligus untuk membalaskan dendam atas kematian mamanya.


"Di mana anak kecil itu?" tanya Eliza dengan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan El.


"Di kamar Bos. Sedang tidur karena pengaruh hipnotis," jawab penculik yang bernama Ryan.


"Kenapa kamu menghipnotisnya?" tanya Eliza kaget mendengar apa yang anak buahnya katakan. Dia mendudukkan bokongnya di atas sofa yang ada di ruang tengah.


"Repot, Bos. Kalau anak itu tidak tidur pasti rewel dan nangis terus."


"Apa tidak akan kenapa-napa kalau dia dihipnotis? Aku sudah menemukan calon pembelinya," tanya Eliza dengan memainkan jari jemarinya dan melihat ke arah cat kukunya.


"Tidak apa, Bos. Kapan transaksinya?" tanya Ryan dengan duduk di samping Eliza.


"Besok malam. Kamu pastikan dia dalam kondisi sehat. Jangan sampai pembelinya mengurungkan niat karena melihat anak itu seperti tidak terurus," pesan Eliza.


"Sudah pasti, Bos!" sahut Ryan.


"Aku ingin melihat anak kecil kecil itu. Apa kamu menyimpannya di kamar tamu?" tanya Eliza seraya melangkahkan kakinya ke kamar tamu tempat Nike dan Mira disekap.


"Bu-bukan Non. Bayi itu tidak ada di sana," ucap Ryan terlihat gugup.


Eliza menghentikan langkahnya, dia melihat raut wajah laki-laki di depannya yang terlihat gugup. Eliza pun hanya tersenyum miring sebelum dia berbicara.


"Buka pintu, aku tidak suka kamu menyembunyikannya sesuatu dariku!" suruh Eliza dengan raut wajah tegas.


Ah sial! Pasti Nona akan melarang aku untuk menikmati yang gratisan, batin Ryan.


Mau tidak mau, Ryan pun membukakan pintu kamar ruang tamu. Rasa segan dia pada Keluarga Jean Levi, membuat Ryan tidak pernah berani membantah setiap keinginan Eliza.


"Siapa mereka?" tanya Eliza saat melihat siluet badan Nike dan Mira dalam keremangan.

__ADS_1


Ryan pun langsung menyalakan lampu kamar, agar Eliza bisa melihat wajah dari kedua sanderanya. Diapun kembali menghampiri Eliza yang berdiri di ambang pintu kamar.


"Oh, jadi kamu penculiknya! Nona muda keluarga Vuttion yang terhormat. Untuk apa kamu menculik anak kecil yang tidak berdosa. Kalau kamu punya masalah dengan orang tuanya, kenapa tidak kamu habisi saja mereka. Jangan libatkan bayi yang tidak berdosa itu," geram Nike.


"Bukankah kamu saudara Shopia? Kebetulan sekali, aku tidak usah susah payah untuk menghabisi kamu. Siapa pun orang yang berhubungan dengan Shopia, maka dia harus berakhir di tanganku." Eliza mengelilingi tubuh Nike dan Mira yang saling bergenggaman tangan.


"Tapi melihat wajahmu, sepertinya akan laku dengan harga tinggi kalau sekalian aku jual. Ryan, awasi mereka! Aku akan mencari calon pembelinya," suruh Eliza langsung berlalu pergi. "Tunjukan di mana kamu menyimpan bayi kecil itu!"


"Baik, Non!" sahut Ryan


...***...


Sementara di tempat yang berbeda. Sesaat setelah Piero mendapatkan pesan singkat dari Nike. Laki-laki itu terlihat panik menuju ke ruang perawatan Ganesha. Dia berharap, polisi yang sedang interogasi Shopia masih berada di tempat.


"Mah, Pah. Apa polisi tadi sudah pergi?" tanya Piero setibanya di ruang Ganesha.


"Baru saja pergi. Memangnya kenapa?" tanya Nyonya Prada yang kaget melihat wajah Piero.


"El, Mah. El diculik. Tadi Sania menelpon, Nike juga mengirim pesan lokasi mereka," beber Piero.


"Mas Piero kemana mereka membawa anakku?" tanya Shopia langsung menangis terisak, sedangkan Ganesha hanya bisa menitikkan air matanya. Karena kondisinya belum memungkinkan dia untuk banyak bergerak


"Astaga! Jahat sekali orang itu, apa dia belum puas membuat Shopia dan Anez celaka. Bahkan Pak Hamid yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korbannya," ucap Nyonya Prada dengan suara serak.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Jody dan Jordan yang baru saja datang.


"El, diculik Om. Adikku mengikuti penculik itu dan dia mengirim lokasinya," jelas Piero.


"Piero, kirimkan lokasinya padaku! Kamu hubungi polisi dan siapa saja yang bisa membantu. Aku akan pergi ke titik lokasi duluan," suruh Jordan.


"Papa ikut dengan kamu. Galen, Prada, tolong jaga putri dan menantuku. Biar El, kami yang menangani," ucap Tuan Jody sebelum pergi dari ruangan Shopia.


"Papa, tolong selamatkan El," pinta Shopia.

__ADS_1


"Iya, Nak! Papa pasti akan berusaha menyelamatkan cucu Papa." Tuan Jody mencium keningnya putrinya kemudian dia pun pergi menyusul Jordan yang sudah keluar terlebih dahulu bersama dengan Piero


Piero pun segera menghubungi komandan polisi yang menangani kasus kecelakaan Ganesha. Dia juga mengubungi Elgar untuk meminta bantuan kepada laki-laki itu. Saat semua orang sudah dia hubungi, barulah Piero menjalankan mobilnya.


Berbeda dengan Jordan yang langsung tancap gas menuju ke lokasi yang dikirimkan oleh Piero. Namun, dia sedikit terkejut saat men-zoom titik lokasi itu ternyata rumah Nyonya Lucy yang jarang ditempati oleh mendiang ibu tirinya itu. Dia langsung curiga kalau Eliza dalang dari penculikan itu.


"Papa, lihat! Putri kesayangan Papa yang menjadi dalangnya. El disekap di rumah Mama Lucy," ucap Jordan dengan tidak mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ramai.


"Anak sialan! Tidak tahu diuntung sekali dia. Padahal aku menyayangi dia tulus seperti putriku sendiri," geram Tuan Jody. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, menahan kemarahannya.


"Kendalikan emosi Papa. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah itu."


Benar saja apa yang Jordan katakan. Ujung rumah megah itu sudah terlihat di depan mata. Dia pun langsung mempercepat laju kendaraannya agar secepatnya sampai di sana.


"Pah persiapkan diri Papa. Aku akan mendobrak pintu pagar itu," suruh Jordan.


"Tidak usah Jordan. Papa punya akses masuknya tanpa harus mendobrak pintu. Kita berpura-pura saja tidak tahu menahu soal El. Kamu mengerti?" ucap Tuan Jody. Dia segera membuka bagian atas arloji rolex yang dia pesan khusus. Terlihat di sana beberapa tombol kecil dengan keterangan huruf dan angka. Dia pun segera menekan L1 hingga akhirnya pintu gerbang itu terbuka sendiri.


"Iya, Pah!" sahut Jody seraya melajukan mobilnya menuju halaman rumah megah itu.


Anak buah Eliza yang menjaga pintu gerbang sangat terkejut dengan kedatangan Tuan Jody dan Jordan. Mereka yakin di belakang kedua laki-laki itu pasti ada mobil yang mengikutinya. Hingga akhirnya, mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa di rumah itu.


"Tuan, ada apa ke sini?" tanya Ryan menyambut kedatangan Tuan Jody.


"Panggilkan Eliza! Bukankah dia ada di sini?" tanya Tuan Jody bersikap biasa.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini!

__ADS_1



__ADS_2