
Langit malam yang awalnya terang benderang berganti dengan guyuran air hujan yang intensitasnya semakin tinggi. Untung saja Piero dan Sania sudah sampai di hotel tempat mereka menginap, sehingga keduanya langsung menuju ke kamar yang sudah disewanya.
"Mas, aku mandi duluan ya!" pamit Sania
"Ya sudah, Mas mau cek e-mail yang masuk dulu," ucap Piero.
Dia pun asyik mengecek e-mail. Namun, saat teringat dia mencoba untuk membuka segel istrinya. Tiba-tiba rasa gugup melandanya. Piero pun akhirnya memilih ke bar sebentar untuk menenangkan kegugupan.
"Mungkin segelas wine bisa membuat aku merasa lebih tenang," gumam Piero. "Sania, Mas keluar sebentar ya!" teriaknya.
Dia pergi setelah memberitahu pada istrinya. Saat tiba di bar yang ada di lantai dasar hotel, terlihat suasananya yang lumayan ramai. Dia pun memesan segelas wine pada bartender yang sedang asyik memainkan botol-botol minuman.
"Mas, apa Elgar sering ke sini?" tanya Piero membuka obrolan.
"Kadang-kadang kalau ada artis baru yang dari luar negeri menginap di sini. Mas kenal dengan Bos El?" tanya Bartender itu.
"Lumayan kenal."
"Tumben Bos El meninggalkan gadis itu sendiri," gumam Bartender itu.
Piero langsung mengikuti arah pandang bartender itu. Benar saja, terlihat di sana Nike sedang duduk sendiri. Piero pun menghampiri gadis itu.
"Hey, sendirian? Elgar ke mana?" tanya Piero.
"Tadi dipanggil oleh keluarganya," ucap Nike dengan tersenyum manis pada Piero.
"Boleh duduk di sini?"
"Silahkan!"
Piero pun duduk bersisian dengan Nike. Tanpa sengaja dia melihat tanda lahir di pinggang gadis itu. Dia menjadi semakin berharap, kalau Nike itu adiknya yang hilang.
"Vero ...," lirih Piero.
__ADS_1
"Maaf, tadi Anda bicara apa?" tanya Nike yang mendengar apa yang Piero katakan.
"Tidak, aku hanya sedang teringat dengan adikku. Kebetulan kalian memiliki tanda lahir yang sama. Oh iya, kita jangan terlalu formal bicaranya. Aku temannya Elgar, anggap saja teman kamu juga. By the way, kamu berasal dari negara mana? Bahasa negara ini kamu fasih sekali," tanya Piero.
"Baiklah! Aku daru Ausy, kebetulan ibu sambung aku berasal dari sini. Aku kembali ke sini pun karena beliau ada urusan di sini. Kebetulan juga ada tawaran juga dari JS Entertainment," beber Nike.
"Oh, begitu. Kedepannya anggap saja aku dan istriku sebagai temanmu. Aku pergi dulu, istriku pasti sedang menunggu," pamit Piero.
"Silahkan! Terima kasih sudah menemani aku," ucap Nike dengan tersenyum ramah.
Piero segera beranjak pergi saat dia teringat kalau Sania pasti sedang menunggunya. Meninggalkan Nike yang terus melihat kepergiannya. Gadis itu tersenyum getir saat bayangan masa kecilnya yang tiba-tiba kembali melintas di pikirannya.
Aku pun merasa, kalau kamu seperti seseorang yang selalu baik padaku. Tapi aku takut, jika aku mengingatnya dan kembali ke saat itu, maka hal buruk itu akan terjadi lagi. Aku sudah nyaman dengan keluarga angkat aku yang sekarang. Meskipun aku tidak pernah tahu siapa keluarga kandungku, setidaknya mereka memperlakukan aku dengan baik, batin Nike.
Sementara Piero semakin mempercepat langkahnya, saat dia mendengar suara petir yang menggelegar. Dia khawatir Sania akan merasa ketakutan sendirian di kamar.
Namun, sepertinya dugaannya melenceng jauh. Dia melihat Sania yang sedang tidur terlelap tanpa terganggu dengan suara petir. Piero menghela napas dalam, karena ternyata dia sudah ditinggal tidur oleh istrinya.
Dia pun memilih untuk membersihkan dirinya. Selesai acara bersih-bersihnya, Piero merangkak naik ke tempat tidur. Dibaliknya tubuh Sania yang membelakanginya. Dia tersenyum melihat wajah tenang gadis sederhana itu.
Glek!
Piero menelan ludahnya kasar, saat tanpa sengaja melihat belahan dada istrinya. Dia jadi penasaran untuk melihat isi di dalamnya. Perlahan tangannya terulur memegang kedua bukit kembar itu.
"Ternyata rasanya seperti ini, pas sekali di tanganku," gumam Piero.
Jiwa laki-lakinya semakin meronta saat melihat ada yang menyembul di balik baju Sania. Matanya melotot sempurna ingin merasakannya, lidahnya terus menjilati bibirnya sendiri ingin merasakan seperti apa rasa yang akan ditawarkan oleh buah ranum itu.
Tangan nakalnya membuka dua kancing daster yang Sania pakai. Lalu Piero menyingkap sedikit baju daster itu. Dengan jantung yang terus bertalu-talu dan hawa panas yang mulai keluar dari tubuhnya, Piero mendekatkan wajahnya pada buah ranum itu. Bersamaan dengan Sania yang membuka mata karena merasa ada yang menimpa dadanya.
"Mas, sedang apa?" tanya Sania dengan suara serak.
"Mas ganggu tidur kamu ya! Maaf tadi Mas lama," ucap Piero langsung bangun dari posisinya yang siap menikmati buah ranum istrinya.
__ADS_1
"Iya, gak apa! Maaf Mas, aku tidur duluan. Aku ngantuk sekali," ucap Sania seraya bangun dari tidurnya.
"Tidak apa. Sania, apa boleh Mas memintanya sekarang?" tanya Piero. Hasrat yang sudah membuncah mengalahkan rasa segan dan tidak enak hati pada istrinya. Akhirnya Piero memilih untuk berterus terang.
"Boleh, Mas." Pipi Sania terlihat bersemu merah.
Piero tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya. Dia langsung mendekatkan wajahnya dan akhirnya terjadilah, apa yang seharusnya terjadi di malam yang dingin itu. Dengan hujan lebat yang mengguyur ibu kota sebagai saksi penyatuan dua insan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan.
...***...
Setelah malam itu, hubungan Piero dan Sania semakin mesra. Pasangan suami istri itu terlihat seperti anak muda yang sedang kasmaran. Meskipun begitu, mereka selalu bersikap biasa di depan orang lain.
Sementara Shopia dikejutkan dengan kedatangan ibunya bersama dengan Zara. Antara senang dan tidak percaya, ibunya akan mencari keberadaannya.
"Ibu, apa kabar?" tanya Shopia seraya memeluk ibunya, Kia.
"Ibu baik. Bagiamana keadaan kamu Shopia? Ibu senang saat mendengar kabar dari Zara kalau kamu baik-baik saja," ucap Kia dengan mata yang berkaca-kaca. Dia terpaksa meninggalkan Shopia karena takut jejak keponakannya itu tercium jika terus bersamanya. Makanya, Kia memilih menikah dengan bule untuk mengamankan dirinya dan juga Shopia.
"Aku juga baik, Bu. Kapan ibu datang? Om bule itu gak ikut?" tanya Shopia.
"Suami ibu sudah meninggal. Ibu ke sini bersama dengan putri sambung Ibu dan adikmu. Beri salam pada Kakak, Louis!" suruh Kia pada seorang anak laki yang baru berusia tujuh tahun.
"Hallo!" sapa Louis
"Hallo tampan, namaku Shopia. Ibu, tampan sekali adikku," puji Shopia.
Aku juga tidak menyangka akan memiliki anak dari bule itu. Karena menikah dengan Boy bertahun-tahun, aku tidak dikaruniai keturunan, batin Kia.
Sementara Zara hanya melihat Shopia saling melepas rindu dengan ibunya yang meninggalkan sahabatnya itu sedari Shopia duduk di bangku SMP. Beruntung dia sudah mengenal Shopia sedari mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, sehingga saat papanya dipindah tugas ke ibu kota, Zara mengajak Shopia untuk ikut serta.
Meskipun, Shopia menolak untuk tinggal bersamanya dan memilih tinggal di rumah kos-kosan. Setidaknya Shopia aman bersamanya. Bahkan, papanya Zara yang membantu menjualkan rumah Shopia di kota asalnya untuk bekal Shopia tinggal dan sekolah di ibu kota.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....