Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 86 Trauma Masa Kecil Nike


__ADS_3

Perlahan Nike membuka matanya, dia terus mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke pupil matanya. Dilihatnya Bu Kia yang sedang duduk bersama dengan Louis dan seorang wanita cantik.


"Kamu sudah sadar, Nak? Ada apa dengan kamu? Kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Bu Kia.


"Ibu, apa bisa kita pulang sekarang? Aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku takut orang itu membuang aku lagi."


"Maksud kamu apa Nike? Siapa yang akan membuang kamu?" tanya Bu Kia semakin heran pada putri sambungnya.


"Ta-tadi, Tuan tadi pasti akan membuang aku lagi."


"Dokter, apa yang terjadi pada putri saya?" tanya Bi Kia cemas.


"Sepertinya dia memiliki kenangan buruk di masa lalunya. Mungkin juga di masa kecilnya," ucap dokter cantik itu.


"Apa yang harus saya lakukan, Dok?" tanya Bu Kia.


"Lebih baik dibawa ke psikiater saja Bu, agar penanganannya tepat."


"Baiklah Dok! Terima kasih atas sarannya," ujar Bu Kia.


"Kalau begitu saya permisi ya, Bu. Sepertinya malam sudah larut, saya harus bergegas pulang," pamit Dokter itu.


"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Bu Kia.


Selepas kepergian dokter itu, Bu Kia mendekati Nike yang duduk seraya menyender di head board tempat tidur. Dia menggenggam tangan Nike untuk menyakinkan gadis itu kalau semuanya baik-baik saja.


"Nike, ada hal yang ingin Ibu tanyakan sama kamu, apa kamu mengenal Nyonya Mary?"


"Mama, dia mamaku. Tapi aku tidak boleh mengakuinya sebagai mamaku karena Papa tidak menyukainya," ucap Nike pelan.


"Jadi, sebenarnya kamu bukan putri Papa Jhonson?"


"Bukan, Bu. Daddy tidak punya anak dari mommy. Mereka membeli aku agar memiliki anak untuk melengkapi kebahagiaannya," tutur Nike.

__ADS_1


"Apa katamu? Membeli? Apa suamiku yang sudah menjual kamu pada mereka?" serobot Nyonya Mary yang sedari tadi menguping pembicaraan Nike dan Ibunya.


"Mama ...," lirih Nike.


"Vero, apa kamu sudah mengingat Mama, Nak? Kakakmu pasti senang karena sudah menemukan adiknya." Nyonya Mary langsung memeluk Nike. Mereka pun saling melepaskan rindu. "Nike, Mama senang kamu baik-baik saja."


"Terima kasih, Mah. Ta-tapi ... Jangan bilang Papa kalau aku sudah bertemu dengan Mama. Aku takut ...," lirih Nike.


"Iya, Mama tidak akan mengatakan apapun pada papamu. Kamu tinggal dulu dengan Bu Kia. Biar Mama yang mengunjungi kalian," ucap Nyonya Mary.


"Iya, Mah."


"Mama sebenarnya ingin tahu bagaimana kamu bisa dijual oleh Papa. Apa bisa ceritakan kejadiannya Vero?"


"Mah, jangan panggil aku Vero! Vero sudah mati, aku Nike putrinya Papa Jhonshon." Nike menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam, setiap kali dia mengingat kejadian itu, maka tubuhnya akan bergetar ketakutan. Makanya dia ingin melupakan semua hal yang berhubungan dengan masa kecilnya. Namun, pertemuan dan kerinduannya pada Mary, membuat dia memberanikan diri untuk mengingat semuanya.


Flashback on


Setelah dia berhasil dibawa oleh orang suruhan Tuan Yongki, dia di sebuah kamar apartemen selama dua hari. Meskipun fasilitas kamar itu lumayan bagus, tapi ketakutan pada dua laki-laki dewasa yang menculiknya, membuat Nike selalu menangis di pojokan kamar. Sampai akhirnya Jhonshon datang membawanya pergi.


"Kamu tenang saja gadis kecil! Meskipun kamu bukan anak kandungku, tapi aku akan memperlakukan kamu dengan baik. Karena aku dan istriku sangat menginginkan kehadiran seorang dalam pernikahan kami," ucap Tuan Jhonshon.


"Papa, tapi aku ingin pulang. Kak Ero dan Kak Anez pasti sedang mencari aku," ucap Nike dengan wajah memelas.


"Tidak bisa, Nak. Pesawatnya akan berangkat satu jam lagi. Kita harus bergegas ke bandara," tolak Tuan Jhonshon.


"Menurutlah Nike! Kalau kamu tidak ingin aku buang ke tempat yang menyeramkan," gertak Tuan Yongki.


Akhirnya Nike hanya diam tidak berkata-kata lagi. Dia pun langsung dibawa pergi oleh Tuan Jhonshon ke negaranya. Namun, sampai di rumah Tuan Jhonshon, Nike tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari istrinya karena dia dikira sebagai anak selingkuhan Tuan Jhonshon. Sampai akhirnya istri Tuan Jhonshon meninggal akibat kecelakaan, barulah Nike mendapatkan kasih sayang dari Bu Kia setelah ayah angkatnya menikah lagi.


Flashback off


"Terima kasih Mbak Kia sudah merawat putri saya," ucap Nyonya Mary setelah mendengar penuturan dari Nike.

__ADS_1


"Saya tulus menyayangi Nike, seperti saya sayang sama Shopia." Bu Kia tersenyum lembut seraya membelai lembut rambut Nike.


Shopia? Kenapa dia sangat beruntung disayangi oleh semua orang? batin Nike.


Setelah mereka cukup berbincang-bincang di kamar tamu, ketiga wanita cantik itu ke luar dari kamar. Ternyata tamu yang datang sudah banyak yang pulang. Hanya tersisa keluarga dan kerabat dekat saja. Bu Kia dan Nike pun langsung berpamitan pada Shopia.


"Shopia, Nak Anez, ibu pulang dulu ya! Baby El, baik-baik ya sayang sama Mama," ucap Bu Kia.


"Kak Anez ...," lirih Nike dengan menatap lekat laki-laki tampan yang sedang menggendong putrinya.


Ganesha langsung menengok ke arah Nike yang memanggilnya pelan. Dia sedikit mengerutkan keningnya mendengar panggilan pelan dari Nike. Begitupun dengan Shopia yang menatap heran pada Nike.


"Kenapa? Mau gendong El? Tapi El belum bisa digendong sembarangan orang," tanya Ganesha dengan kembali fokus pada bayinya.


"Vero kangen sama Kakak," ucap Nike pelan.


Lagi-lagi Ganesha mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak percaya kalau gadis yang ada di depannya itu adik dari sahabatnya. Ganesha pun hanya tersenyum miring dengan menggelengkan kepalanya.


"Sudah Nike! Kamu jangan berpura-pura seperti itu karena ingin mendekati aku! Meskipun kamu Vero tapi aku tidak akan tertarik padamu," ujar Ganesha dengan tidak berperasaan.


Bu Kia langsung buru-buru mengajak Nike pergi mendengar apa yang Ganesha katakan. Dia merasa tidak enak hati, khawatir Shopia berpikir kalau Nike ingin menggoda suaminya. Sementara Shopia langsung melihat wajah datar Ganesha, Ternyata suaminya tetap Ganesha Oenelon yang arogan dan berbicara tanpa hati pada orang yang tidak disukainya.


"El Sayang, jangan tiru semua keburukan yang ada pada Mama dan Papa. AMbil yang baik-baiknya saja," ucap Shopia dengan mencium pucuk kepala bayinya yang sedang digendong Ganesha.


"Shopia, lebih kita ke kamar saja. Tidak baik berlama-lama di ruangan yang banyak orang. Biarkan saja mereka melanjutkan pestanya. Lebih baik kita bikin pesta sendiri," ajak Ganesha.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Ganesha update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini!

__ADS_1



__ADS_2