
Wajah Piero mendadak bersemu merah. Dia tidak biasa mendengar gombalan receh dari seorang gadis. Secepatnya dia pun menetralkan perasaannya.
"Sudah cepat! Kita harus ke kantor polisi untuk memberi kesaksian. Setelah itu, kita baru pulang."
Piero langsung pergi meninggalkan Sania begitu saja. Bisa-bisanya dia merasa canggung hanya karena ucapan asal gadis itu. Sampai saat tiba di parkiran mobil gadis itu, Piero baru menghentikan langkahnya.
"Kemana Sania? Kenapa dia belum datang?" gumam Piero.
Tidak berapa lama kemudian, terlihat Sania datang dengan setengah berlari. Gadis itu terlihat kesal karena ditinggal begitu saja. Padahal dia harus mengurus check-out dulu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Piero.
"Nongkrong dulu, Bos. Tadi ketemu hot daddy di lobby," jawab Sania asal.
"Sudah ayo!" ajak Piero langsung masuk ke dalam mobil.
Terpaksa mereka kembali ke kantor polisi untuk memberi kesaksian. Namun, saat sampai di sana keduanya bertemu dengan Pak Kades yang sedang menjenguk anaknya. Tanpa malu, Pak Kades langsung bersimpuh di depan Piero. Memohon agar diselesaikan dengan kekeluargaan.
"Tolong Tuan, kita selesaikan dengan kekeluargaan. Anak saya bersalah, tapi dia sudah berjanji tidak akan mengulang lagi pada siapa pun," mohon Pak Kades.
"Maaf, Pak. Saya tidak banyak membantu karena yang melaporkan Tuan Anez. Anda bisa meminta tolong padanya bukan pada saya, karena saya hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh beliau," ucap Piero.
Kenapa mereka begitu sombong? Apa mereka tidak tahu kalau aku selain kepala desa, aku juga juragan tanah. Aku yang memiliki banyak tanah di desaku.
"Tuan, saya memiliki sebidang tanah yang sangat cocok untuk pembangunan Vila. Barangkali Tuan berkenan untuk membangun vila yang tidak jauh dari air terjun. Saya tidak keberatan untuk melepaskannya," rayu Pak Kades.
Piero dan Sania hanya berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau kepala desa itu berniat untuk menyogok. Namun, tetap saja mereka tidak bisa mengambil keputusan tanpa seijin dari Ganesha.
"Maaf, Pak. Saya tetap tidak bisa mengambil keputusan. Tapi Bapak bisa bicara langsung dengan bos saya," ucap Piero.
"Tolong, Pak. Asalkan anak saya dibebaskan, saya tidak keberatan melepas tanah itu dengan harga murah."
Sebentar, Pak. Saya hubungi dulu Bos saya," ucap Piero seraya merogoh ponsel yang ada di kantong jaket yang dipakainya.
__ADS_1
Piero langsung bicara saat panggilan teleponnya sudah tersambung. "Hallo, Anez. Ayahnya Parto mau memberikan penawaran asalkan kita mencabut tuntutan."
"Aku tidak tertarik dengan penawaran apapun. Aku lebih tertarik melihat laki-laki brengsekk itu mendekam di balik jeruji besi. Piero, jangan ditanggapi permintaan apapun dari ayahnya. Karena aku tidak akan merubah keputusan."
"Baiklah! Jika itu keputusan kamu, aku tutup dulu."
Setelah sambungannya terputus, Piero langsung melihat ke arah Pak Kades yang sedari tadi menguping pembicaraannya dengan Ganesha. Laki-laki itu tidak menyangka rayuannya dengan sebidang tanah tidak mempan untuk mereka. Padahal, banyak sekali orang yang menginginkan tanah di lokasi itu untuk dibangun tempat wisata.
"Bapak sudah dengar kan, kalau Bos saya tidak mau merubah keputusannya. Lebih baik anda menjual tanah itu untuk menyewa pengacara kondang agar bisa memenangkan perkara."
"Baiklah! Kalau kalian tidak mau dengan jalan kekeluargaan. Aku pun tidak akan tinggal diam."
...***...
Lain dengan Piero, lain pula dengan Ganesha. Laki-laki itu hatinya sedang dihinggapi ribuan kupu-kupu. Ganesha merasa sangat bahagia karena bisa bersama lagi dengan istrinya.
Sedari berangkat dari kota kecil itu, dia terus saja memeluk Shopia yang tertidur pulas. Jelas saja, membuat supir yang di depannya tidak berani melihat ke belakang. Dia takut melihat yang seharusnya tidak dia lihat.
Perjalanan yang terasa lama saat mereka berangkat. Kini terasa sangat cepat. Tanpa terasa, mobil yang Ganesha tumpangi sudah terparkir rapi di depan rumah. Ganesha pun mencium pipi Shopia untuk membangunkan istrinya.
Perlahan Shopia pun membuka mata. Dia mengucek matanya berkali-kali. Sebelum akhirnya dia berbicara. "Sudah sampai, Mas?"
"Sudah, lihat mama dan papa sudah menunggu kedatangan kita," tunjuk Ganesha ke luar jendela mobil.
Benar saja, terlihat di sana Prada dan Galen serta pembantu rumahnya sedang berdiri di teras rumah untuk menyambut kedatangan Shopia. Melihat semua itu, hati ibu hamil itu jadi terenyuh, Dia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan seperti ini dari mertuanya.
"Mas, mama dan papa tahu kalau aku pulang hari ini?"
"Tentu saja, mereka selalu tahu apapun yang terjadi pada anaknya. Kamu tahu, mama dan papa yang paling gigih mencari kamu saat aku sedang sakit. Sudah yuk, pasti mereka sangat kangen dengan mennatu kesayangannya."
Terima kasih Tuhan. Meskipun aku tidak mendapatkan kasih sayang dari mamaku tapi kedua mertuaku begitu menyayangi aku.
Prada langsung menghampiri Shopia saat ibu hamil itu keluar dari mobil. Tidak ada keraguan di hatinya untuk memeluk menantunya. Dia sangat senang karena pernikahan anaknya kini terselamatkan dari badai yang menerpa.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Shopia. Mama sangat senang melihat kamu pulang. Jangan pergi lagi, Nak! Ini rumah kamu, ini rumah kalian." Mata Prada terlihat menegmbun saat berbicara dengan Shopia.
"Iya, Mah. Maafkan Shopia sudah merepotkan kalian!" Shopia mengurai pelukan mertuanya.
"Tidak, Nak. Kami mengerti dengan apa yang terjadi pada kalian. Semoga kedepannya, kalau ada masalah dibicarakan baik-baik. Karena komunikasi dalam sebuah hubungan itu sangat penting."
"Sudah, Mah. Papa juga ingin memeluk putri kita," ucap Galen.
"Tidak, Pah. Aku tidak mengijinkan Papa memeluk istriku. Ayo Shopia, kita lanjutkan tidurnya!"
"Eh ... Tidak bisa ... Mama kangen dengan Shopia. Kamu jangan mendominasi seperti itu Anez! Kami ke sini karena ingin melepas rindu dengan putri kami," sanggah Prada.
"Ck! Mama dan Papa selalu ikut-ikutan saat aku menyukai seseorang," ucap Ganesha berdecak sebal.
Saat anak dan kedua orang tuanya itu berdebat, Shopia langsung menghampiri Bi Sari yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dia pun memeluk pembantu rumahnya yang selalu baik padanya.
"Bibi apa kabar?" tanya Shopia dengan mengurai pelukannya.
"Bibi baik, Non. Terima kasih sudah kembali ke rumah ini. Saat Non Shopia tidak ada, Den Anez jadi ...."
"Jangan membocorkan rahasia aku, Bi. Ayo kita masuk. Kamu pasti lapar karena sekarang sudah masuk jam makan siang," potong Ganesha.
Shopia hanya tersenyum malu, karena memang benar kalau sebenarnya dia merasa lapar. Namun, tidak mungkin mengatakannya saat mertua menyambut kedatangannya.
"Iya, benar. Kita makan siang dulu. Tadi Mama sudah memasak untuk makan siang kita. Mama juga membuat kue cokelat lava untuk kalian."
"Terima kasih, Mah. Mama sudah bersusah payah memasak untuk kita," ucap Shopia.
"Mama senang bisa menyiapkan makanan untuk keluarga. Karena Mama ingin, meskipun kalian jauh dari Mama tapi kalian tidak pernah melupakan Mama."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....