
Benar saja apa yang Piero perkiraan. Pagi-pagi sekali papanya sudah datang ke apartemen dia. Untung saja semalam dia sudah mengganti password apartemennya. Jadinya tidak akan ketahuan saat dia tidur di sofa ruang tamu.
"Papa, ada apa pagi-pagi sekali sudah datang ke sini?" tanya Piero saat dia melihat papanya berdiri di depan pintu.
"Apa tidak boleh Papa datang ke apartemen anaknya sendiri?" tanya Yongki sinis.
"Boleh. Tapi kalau mau pukul aku, agak siangan saja, Pah. Jam segini aku belum sarapan," sindir Piero.
Hampir saja Yongki melayangkan satu tangannya kalau istrinya tidak menahan tangan dia. Mary menghela napas dalam, sebelum dia berbicara dengan Piero.
"Apa boleh Mama masuk?" tanya Mary.
"Boleh, Mah. Silakan, Mah, Pah!" Piero menyingkir dari ambang pintu.
Dia membiarkan orang tuanya masuk ke dalam apartemen. Bersamaan dengan Sania yang keluar dari kamar tidur dengan wajah yang fresh dan rambut yang setengah kering. Piero tersenyum tipis, karena momentnya pas sekali. Pasti orang tuanya akan percaya kalau dia dan Sania memang sudah tinggal serumah.
"Kalian ...." Mary tidak melanjutkan ucapannya. Dia sangat terkejut melihat putranya tinggal bersama seorang gadis di apartemennya. Apalagi Mary tahu, kalau apartemen Piero hanya ada satu kamar
"Mama, aku dan Sania memnag sudah lama tinggal bersama. Karena aku bosan hidup sendiri. Pulang ke rumah pun tidak ada siapa-siapa . Hanya ada bibi dan Pak Nono. Jadinya, aku mengajak Sania untuk tinggal bersamaku. Apalagi, kami sama-sama sebatang kara," sarkas Piero. "Sayang tolong ambilkan minum ya untuk mama dan papaku."
"Ya Mas, Sebentar aku ambilkan," ucap Sania.
Gadis itu pun langsung berlalu pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman. Tidak lupa dengan kue yang dia temukan di lemari es. Rupanya Piero sering memasak sendiri. Meskipun dia seorang laki-laki. Terbukti dengan isi lemari es yang terlihat lengkap.
Setelah semuanya siap, Sania segera kembali menuju ke ruang tamu. Dia merasakan hawa-hawa yang menegangkan saat menyimpan minuman dan kue yang dibawanya di atas meja. Apalagi, Piero tidak ada di sana. Sepertinya lai-laki itu sedang membersihkan dirinya.
Sania tersenyum sebelum dia mempersilakan tamunya untuk minum. "Tuan, Nyonya, silakan diminum!"
"Apa namamu Sania?" tanya Yongki dengan menatap tajam gadis itu.
"Iya, Tuan!" sahut Sania.
"Duduklah! Ada hal yang harus aku bicarakan padamu," suruh Yongki dengan tidak mengalihkan pandangannya dari Sania.
Sania hanya tersenyum kikuk berhadapan dengan kedua orang tua Piero. Keberaniannya saat berhadapan dengan para preman, seakan menciut saat dia berada di depan orang tua itu. Sania hanya diam, setelah dia mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Sudah berapa lama berhubungan denga Piero?" tanya Mary dengan menelisik penampilan Sania.
__ADS_1
"Sudah lama, Nyonya. Saya iku dengan Mas Piero sudah dua tahun lebih," jawab Sania apa adanya. Karena memang benar, dia beekrja sebagai security wanita sudah dua tahun lebih di perusahaan Ganesha Corporation.
Mendengar jawaban dari gadis itu, Mary dan Yongki saling berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau putranya ternyata diam-diam memelihara seorang simpanan. Namun Marry tidak bisa menyalahkan Piero, karena memang dia kurang perhatian pada putranya. Berbeda dengan Yongki yang terlihat geram mendengar jawaban dari Sania.
"Tinggalkan putraku dan aku akan memberikan uang banyak padamu!" suruh Yongki.
"Maaf, Tuan. Bukannya saya tidak butuh uang, tetapi uang yang diberikan oleh Mas Piero sudah lebih dari cukup. Jadi saya tidak membutuhkan uang Anda lagi," ucap Sania berusaha tenang.
Dasar orang kaya! Apa-apa diukur dengan uang, gerutu Sania dalam hati.
"Cih! Sombong sekali kamu. Memangnya berapa uang yang Piero berikan kepadamu?" sinis Yongki.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa memberitahu hal yang bersifat pribadi."
"Percuma Papa menyogok Sania untuk pergi meninggalkan aku, karena kami saling mencintai dan sudah berjanji untuk terus bersama," serobot Piero yang baru datang. "Lagipula, sekarang Sania sedang hamil anakku. Tidak mungkin dia mau pergi jauh dariku. Iya kan, Sayang?"
Ya ampun aku dipanggil sayang sama Mas Piero. Kenapa bulu kudukku mendadak berdiri ya, batin Sania.
"Baiklah! Kalau kalian sudha tidak bisa diajak kompromi. Papa akan melakukan apa yang seharusnya Papa lakukan." Yongki langsung berdiri dari duduknya. Dia pergi begitu saja. Rasanya percuma dia merayu Piero dan gadis itu. Kalau mereka kekeh tidak mau berpisah. Hanya ada jalan satu-satunya yang bisa membuat mereka berpisah, memisahkannya dengan paksa.
"Eh, anu Nyonya ...."
"Baru lima minggu, Mah." Piero segera memotong ucapan Sania. Karena dia yakin kalau gadis itu pasti bingung.
"Cepatlah menikah, Piero! Kasian anak itu, dia tidak berdosa. Jangan sampai dia yang akan mendapatkan sanksi sosial karena kesalahan kalian. Sangat menyakitkan jika kita ditolak dalam lingkungan kita sendiri karena kesalahan yang tidak kita perbuat," ucap Mary sendu.
Dia teringat dengan masa kecilnya yang pernah dikucilkan karena terlahir dari seorang wanita malam. Makanya dia bertekad untuk menjadi seorang artis terkenal agar semua orang mengakui keberadaannya. Sampai dia melupakan keluarganya demi sebuah pengakuan.
"Menikah?" Piero dan Sania saling berpandangan karena terkejut dengan apa yang didengarnya. Mereka tidak menyangka akan disuruh menikah oleh mamanya.
"Iya menikah. Kenapa kalian bingung. Bukankan seorang anak butuh pengakuan dari semua orang tentang keberadaannya?"
"Ta-tapi Nyonya, kita ...."
"Iya, Mah. Aku akan menikah secepatnya," potong Piero.
"Biar nanti Mama yang bicara dengan Lucy. Karena semalam Tuan Jody langsung pulang saat kalian datang."
__ADS_1
"Baik, Mah. Terima kasih sudah mengerti aku."
...***...
Setelah hari itu, Sania kembali ke rumah Ganesha. Karena Piero yakin kalau rencana sudah hampir sukses. Namun, pembatalan pertunangan itu masih belum ada pembicaraan antara kedua keluarga itu karena Tuan Jody tidak ada di tanah air.
"Sania, jadi kaapn kamu menikah dengan Mas Piero?" tanya Shopia yang tahu tentang kabar itu.
"Enggak tahu, Mbak. Jangan tanya aku! Aku juga bingung, kenapa tiba-tiba harus menikah dengan Mas Piero? Aku kan tidak punya perasaan apa-apa sama dia, selain rasa segan seorang bawahan pada atasannya," ungkap Sania.
"Perlahan cinta pasti datang seiring kebersamaan kalian. Bagus juga buat kamu, agar lebih cepat melupakan sakit hati kamu pada mantan tunangan kamu itu," ucap Shopia.
"Iya juga sih, Mbak. Kalau gitu, aku mau ajak Mas Piero ke kampung biar Bu Darmi melihat kalau aku bisa menggandeng pria tampan yang lebih tampan dari anaknya itu." Sania terlihat berapi-api membayangkan wajah kecut mantan calon mertuanya itu.
"Semangat Sania. Semoga pernikahan kamu dengan Mas Piero bahagia dan langgeng nantinya, meskipun tidak didasari cinta dalam hati kalian masing-masing. Oh, iya, nanti sahabat Mbak mau datang ke sini. Tolong siapkan makanan yang banyak ya! Karena kami senang sekali pesta makanan. Kamu juga harus ikutan, Sania."
"Siap, Mbak!" Sania pun berlalu pergi menuju ke dapur.
Dia menyiapkan berbagai macam makanan dan cemilan yang sudah tersedia di lemari es. Sampai akhirnya tamu yang ditunggunya datang dengan diantar oleh suaminya.
"Shopia, apa kabar? Aku kangen sama kamu, kenapa tidak pernah menghubungi aku. Aku pulang ke kampung katanya kamu sudah dijemput suami kamu," cerocos Zara.
"Aku baik, kamu apa kabar juga. Maaf, kartu sim yang dulu kamu berikan, dihilangkan oleh Mas Anez."
"Pantas saja. Dia juga men-skorsing aku tanpa alasan," ucap Zara dengan tertawa kecil.
"Zara, maafkan aku ya! Karena menolong aku, kamu jadi kena getahnya."
"Tidak apa, Shopia. Dia menghukum aku tapi dia juga menaikkan jabatan aku jadi wakil manager. Emang ya suami kamu itu, susah ditebak maunya apa." Lagi-lagi di terkekeh geli mengingat semua hal yang terjadi di kantor.
Saat hari pertama Ganesha masuk ke kantor lagi, dia langsung men-skorsing Zara dan memotong gaji gadis itu. Tapi saat kembali masuk kerja, dia malah direkomendasikan jadi wakil manager.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1