Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 100 Bertemu Elgar


__ADS_3

Matahari bersinar begitu teriknya, tepat berada di atas kepala. Meskipun rasanya enggan, tak urung Ganesha memilih untuk pulang dan mengantar istrinya ke butik. Dia tersenyum manis saat melihat Shopia dan El yang sudah bersiap dan menunggu kedatangannya.


"Sudah siap belum?" tanya Ganesha dengan mengambil alih El dari Shopia.


"Sudah dong, Papa. Tapi El kayaknya gak jadi ke rumah Mama. Tadi Mama bilang mau pergi ke luar kota dengan Papa. Biar Mbak Mira dan El bermain di rumah Sania saja seraya menunggu kita pulang," ucap Shopia.


"Oh, ya sudah gak apa!" sahut Ganesha dengan menciumi putrinya.


Setelah mengantarkan El ke rumah Sania, Shopia pun pergi bersama dengan Ganesha. Entah kenapa Shopia maupun Ganesha merasa berat jika harus membawa El bersamanya. Mereka merasa lebih tenang jika menitipkan putrinya pada Nyonya Prada maupun Sania. Apalagi, Piero pun ikut pulang bersama Ganesha.


"Mas Piero, Sania, titip El ya!" ucap Shopia saat sudah berada di rumah Piero. " Mbak Mira, di sini saja sebelum aku dan Mas Anez pulang. Jangan membawa El kemana-mana tanpa seijin Mas Piero ataupun Sania."


"Iya Mbak Shopia, aku mengerti!" sahut Mira.


"Mbak Shopia tenang saja, aku dan Mas Piero pasti menjaga El. Kalian jangan khawatirkan El. Dia aman bersamaku," ucap Sania meyakinkan.


"Makasih, ya Sania!" sahut Shopia dengan tersenyum manis


"Titip putriku, Piero!" ujar Ganesha seraya menepuk tangan sahabatnya.


Pasangan suami istri itu pun segera pergi menuju ke butik seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Selama perjalanan Ganesha terus saja menggenggam tangan istrinya, seolah dia takut untuk berpisah. Begitupun dengan Shopia yang merasakan hal yang sama dengan Ganesha.


"Kita makan siang di butik saja ya! Cafe yang ada di roof top butik, menunya enak-enak. Katanya itu resep pribadi milik keluarga Wiratama," usul Ganesha.


"Boleh Mas, kapan-kapan aku ingin sekali bertemu dengan teman Mas itu. Yang sudah membantu kita dari serangan JL," ungkap Shopia.


"Maksud kamu Elgar? Tapi Mas khawatir, kalau dia bertemu dengan kamu, dia kan menginginkan kamu. Karena Elgar itu pemain wanita," tutur Ganesha.


"Ya sudah, nanti Mas saja yang mengucapkan terima kasih mewakili aku."


"Sudah, Sayang. Mas juga sudah memberikan bonus untuk pengawal bayangan yang berhasil menangkap Nyonya Lucy waktu itu. Tapi sekarang, pengawal bayangan yang biasa menjaga kamu sudah ditarik oleh Elgar. Katanya sedang dipakai untuk menyelidiki kasus kematian sahabat orang tuanya," beber Ganesha.


"Oh, semoga kita juga baik-baik saja ya Mas. Meskipun tidak ada pengawal seperti Keluarga temannya Mas."

__ADS_1


"Aamiin. Mereka memang sengaja mendatangkan agen internasioanl untuk melatih semua pengawal yang menjaga keluarga dan perusahaannya. Tapi kenapa Papa kamu tidak punya pengawal pribadi yang kompeten seperti pengawal Keluarga Wiratama?"


"Jangan tanya aku, Mas. Aku tidak tahu kalau soal itu."


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di parkiran butik. Shopia dan Ganesha pun segera turun dan menuju ke cafe yang ada di roof top butik. Mereka tidak melewati tangga, melainkan dengan menggunakan lift yang berarti harus masuk dulu ke dalam butik.


"Mau makan apa?" tanya Ganesha saat sudah berada di kafe. "Steak di sini enak, mau coba?"


"Boleh deh, Mas. Samain saja dengan Mas," jawab Shopia mengiyakan.


Ganesha pun segera memesan makanan yang dia inginkan. Keduanya menungu pesanan mereka datang seraya berbincang. Hingga ada seseorang yang datang menepuk pundak Ganesha dari belakang.


"Anez, makan siang di sini!" sapa Elgar yang datang bersama dengan seorang gadis cantik yang jauh lebih muda dari Elgar.


"Iya, istriku mau pesan gaun untuk pesta. Kamu sendiri?" Ganesha balik bertanya pada Elgar.


"Apa kamu lupa kalau ini butik mamaku. Desainernya mama aku sendiri," jawab Elgar dengan memutar bola matanya malas.


"Sorry aku lupa!" Ganesha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya, ini Shopia istriku. Apa kamu bersama istrimu juga?"


"Hehehe ... Iya Om. Aku tuh terpaksa banget nikah sama Om Elgar. Namaku Alya, lengkapnya Alya Qatrunada Bramantyo," ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman dengan Ganesha dan Shopia.


Pasangan suami istri itu hanya bengong melihat Alya sungkem pada mereka. Seperti seorang murid yang bersalaman dengan gurunya. Sementara Elgar hanya mengangkat bahunya tidak peduli dengan sikap Alya.


"Aku Shopia," ucap Shopia tersenyum manis pada Alya. "Apa kamu masih sekolah?"


"Iya Tante, aku masih kelas tiga SMU. Gara-gara bujang lapuk ini, aku harus menikah muda," cebik Alya seperti kesal dengan pernikahannya.


"Cepat duduk bocil! Gak usah bahas yang tidak-tidak," suruh Elgar dengan mendudukkan istri kecilnya sebelum akhirnya dia duduk di samping Alya.


"Mas Elgar, kebetulan bertemu di sini. Saya belum sempat mengucapkan terima kasih soal kemarin," ucap Shopia.

__ADS_1


"Nyantai saja. Aku dan Anez itu teman sekolah, jadi sesama teman kita harus saling menolong, kan?" Elgar tersenyum manis pada Shopia.


Sungguh, Ganesha merasa tidak suka melihatnya. Untung saja pelayan datang membawakan pesanan untuk mereka. Seperti sudah mengerti, pelayan itu pun membawa makanan untuk Elgar. Meskipun belum dipesan oleh Elgar.


"Silakan dinikmati hidangannya!" ujar pelayan itu setelah dia selesai menyimpan makanan di meja.


"Terima kasih, Mbak!" ucap Shopia dan Alya bersamaan.


Meskipun istri Mas Elgar terlihat bar-bar, tetapi dia memiliki sopan santun yang bagus, batin Shopia.


Mbak ini lembut sekali orangnya, tapi suaminya terlihat sangar. Apalagi tatapan matanya yang tajam, membuat orang segan melihatnya, batin Alya.


"Bocil, sebelum makan berdoa dulu," ucap Elgar saat Aly akan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Sudah Om!" sahut Alya dengan memutar bola matanya malas. Dia kesal dipanggil bocil oleh Elgar. Apalagi, laki-laki itu selalu tidak tahu tempat.


Mereka pun akhirnya makan dalam diam. Tidak ada yang bersuara saat keempat anak manusia itu sedang menikamti hidangan yang tersedia. Saat semua makanan sudah habis, barulah Ganesha bersuara.


"Elgar, aku duluan ya! Aku khawatir kelamaan meninggalkan putri kami," pamit Ganesha seraya bangun dari duduknya.


"Oh, iya silakan! Aku masih lama di sininya," ucap Elgar.


"Mari Mas, Dek Alya, kami duluan ya!" Shopia tersenyum manis pada pasangan beda usia itu. Membuat Ganesha mencubit pinggang istrinya karena merasa tidak suka melihat Sophia tersenyum pada lelaki lain.


"Lain kali kalau ketemu dengan Elgar tidak boleh tersenyum seperti itu! Biasa saja, dia itu buaya darat. Pacarnya di mana-mana," ujar Ganesha saat mereka berjalan menuju ke butik.


"Iya Mas. Aku hanya berbasa-basi sama dia. Karena bagaimanapun dia pernah berjasa pada kita."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa sawerannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Shopia update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini



__ADS_2