
Berita tentang kebakaran rumah tahanan khusus wanita menjadi tranding topik di semua online maupun offline. Tentu saja hal pasti sampai ke telinga Tuan Jody yang sedang berada di luar negeri. Apalagi saat dia melihat nama-nama korban kebakaran itu, membuat dia menghembuskan napasnya kasar.
"Eliza, semoga kamu baik-baik saja Nak! Meskipun benar Papa sangat kecewa dan sakit hati sama kamu, tapi Papa tidak mengharapkan terjadi sesuatu yang buruk sama kamu. Semoga saja setelah kejadian ini, kamu bisa berubah menjadi lebih baik," gumam Tuan Jody seraya melihat foto kebersamaannya dengan Eliza dan Lucy
Kilas balik bayangan kebersamaan mereka kini mengganggu pikirannya. Seperti potongan film yang datang silih berganti memenuhi ingatan Tuan Jody. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke tanah air.
Sementara di rumah sakit Bhayangkara, Eliza belum juga sadarkan diri. Luka bakar tingkat tiga yang dideritanya membuat Eliza banyak kehilangan darah sehingga dia mengalami koma.
Nyonya Mary dengan setia menjaga gadis itu. Begitupun dengan Nike yang merasa khawatir dengan apa yang dialami oleh saudara kembarnya, sedangkan Piero sesekali melihat keadaan sahabat kecilnya itu.
"Mama, kenapa Eliza tidak sadar juga?" tanya Nike saat dia mengunjungi Eliza sepulang dari rumah sakit.
"Menurut dokter, dia syok dan kehilangan banyak darah membuat alam bawah sadarnya menolak untuk bangun," jelas Nyonya Mary.
"Semoga saja, dia benar-benar sadar ya, Mah dan tidak mengulangi lagi kesalahannya."
"Iya, Mama juga berharap begitu. Kata Prada, Eliza mulai berubah setelah mengetahui pernikahan Anez dengan gadis lain yang menurutnya beberapa tidak sepadan. Seharusnya tidak sadar kalau jodoh itu tidak bisa dipaksakan karena sudah menjadi ketentuan dari Tuhan." Nyonya Mary menghela napasnya sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Nike, Mama harap kamu tidak pernah terobsesi pada laki-laki apalagi menghalalkan segala cara untuk mendapatkan laki-laki itu. Kamu lihat mamanya Eliza! Karena dia terobsesi pada Jody, membuat dia menghalalkan segala cara. Sampai akhirnya harus mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hidupnya berakhir nestapa."
"Iya Mah, aku mengerti!" ucap Nike.
Gadis itu hanya jadi terdiam seribu bahasa. Pikirannya melayang pada Ganesha, pada keinginannya untuk menikah dengan laki-laki itu. Setelah mendengarkan apa yang Nyonya Mary katakan, akhirnya dia memutuskan untuk menyerah dengan perasaannya pada Ganesha dan tidak akan lagi meminta Ganesha untuk menikahinya.
Aku tidak ingin seperti Eliza dan mamanya. Berurusan dengan Shopia dan Anez, membuat diri kita hancur. Semoga saja, aku masih bisa menemukan laki-laki yang tulus mencintaiku, batin Nike.
...***...
Hari-hari pun terus berlalu, kini kondisi Ganesha sudah benar-benar stabil. Meskipun penyangga di lehernya belum bisa dilepas, tetapi dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dengan syarat harus rutin kontrol ke rumah sakit.
Mendengar putranya sudah diperbolehkan pulang, Nyonya Prada pun langsung membuat pesta penyambutan untuk putra semata wayangnya. Meskipun hanya keluarga saja tapi cukup meriah untuk sebuah pesta kecil.
"Selamat datang di rumah, Anez!" ucap Nyonya Prada dengan menaburkan ribuan kelopak mawar untuk menyambut kedatangan putranya.
Semua orang yang ada di rumah besar Keluarga Oenelon pun bergantian mengucapkan selamat datang pada Ganesha memuat laki-laki itu menjadi terharu.
__ADS_1
"Terima kasih semuanya," ucap Ganesha. "Sini Sayang! Papa kangen dengan princess Papa."
Ganesha mengulurkan tangannya saat melihat El sedang digendong oleh pengasuh barunya. Gadis kecil itu langsung meronta ingin digendong oleh papanya. Shopia pun langsung mengambil alih El dan memberikannya pada Ganesha.
"Shopia, Anez sudah bisa makan apapun, kan?" tanya Nyonya Prada.
"Sudah bisa, Mah!" sahut Shopia.
"Syukurlah kalau begitu. Mama sudah masak makanan kesukaan Anez. Ayo kita langsung ke meja makan saja!" ajak Nyonya Prada.
"Ayo, Mas!" Shopia langsung mendorong kursi roda suaminya.
Terlihat El tertawa senang di pangkuan Ganesha. Gadis kecil itu mengira sedang main kereta-keretaan bersama dengan orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat Ganesha dan Shopia ikut tertawa melihat kebahagiaan putrinya.
"Wah cucu oma lagi seneng nih. El kangen ya sama Papa?" tanya Nyonya Prada.
"Pa-pa ...," ucap El dengan mengelus wajah papanya. Ganesha jadi menitikkan air mata bahagia karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Oh, iya Mama hampir lupa. Bagaimana keadaan Pak Hamid?" tanya Nyonya Prada.
"Pak Hamid sudah sadar Mah. Mungkin tidak lama juga akan pulang. Tapi sepertinya beliau tidak bisa bekerja lagi, karena kakinya mengalami kelumpuhan," ucap Shopia sendu.
"Iya, Mah. Aku juga berencana memberikan beasiswa untuk putranya yang masih sekolah. Mungkin sampai kuliah, biar nanti langsung bekerja di perusahaan kita," ucap Ganesha.
"Bagus itu, Nak! Berbagi dengan orang yang membutuhkan uluran tangan kita, tidak akan membuat kita mendadak jatuh miskin ataupun bangkrut," timpal Tuan Galen.
Saat mereka sedang berbincang membicarakan tentang supir pribadi Anez, terdengar ada suara orang yang memberi salam. Rupanya Tuan Jody dan Jordan langsung datang ke rumah keluarga Oenelon saat beliau tahu kalau menantunya sudah pulang dari rumah sakit.
"Jody, kapan datang?" tanya Tuan Galen.
"Aku baru turun dari pesawat langsung ke sini. Kangen dengan princess Opa," jawab Tuan Jody dengan mengulurkan tangannya. Namun El malah semakin mengeratkan pelukannya pada Ganesha.
"Wah, El menolak Opa. Padahal Opa bawa hadiah buat El," ucap Tuan Jody dengan menunjukkan sebuah paper bag di tangannya.
"Om juga bawa hadiah buat El. Tapi El harus mau digendong sama Om," timpal Jordan.
__ADS_1
Sepertinya rayuan dari dua pria tampan beda generasi itu tidak mempan pada El. Gadis kecil itu tetap saja tidak bergeming. Dia tidak mau lepas dari papanya.
"Mungkin El masih kangen dengan Mas Anez, Pah. Papa dan Kak Jordan lebih makan dulu. Mama sudah masak banyak," ucap Shopia.
"Benar apa yang Shopia katakan. Ayo lebih baik kita makan dulu!" ajak Nyonya Shopia. "Eh, tapi masih ada yang belum datang kayaknya. Piero kenapa belum ke sini?"
"Tadi bilangnya mau menjemput dulu Sania. Mungkin sebentar lagi juga datang," ucap Shopia.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Shopia, tidak berapa lama kemudian Piero, Sania dan NIke datang. Disusul oleh Nyonya Mary bersama dengan Tuang Yongki. Meskipun hati Nike selalu was-was setiap kali dia melihat Tuan Yongki, tetapi dia berusaha melawan rasa takutnya pada laki-laki itu. Pada akhirnya dia hanya diam dan menunduk.
"Piero, siapa gadis yang duduk di samping kamu?" tanya Tuan Yongki dengan menyelidik wajah Nike.
"Oh, ini adik sambungnya Shopia. Namanya Nike, Pah. Papa biasa saja melihatnya, jangan menakuti Nike seperti itu," tegur Piero.
"Papa tidak bermaksud menakuti. Hanya saja, Papa merasa melihat seseorang," ucap Tuan Yongki.
"Itu hanya perasaan kamu, Yongki. Lebih baik kita mulai saja makan bersamanya sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhan Anez," ucap Tuan Galen langsung mengalihkan pembicaraan.
"Semoga saja tidak ada lagi orang yang ingin berniat jahat pada keluarga kita," timpal Nyonya Prada.
"Aamiin." Kompak semua orang yang hadir di sana.
Mereka pun mulai menikmati hidangan yang tersedia. Namun selama makan, Tuan Yongki selalu saja mencuri pandang pada Nike. Dia benar-benar merasa penasaran dengan gadis itu. Tentu saja hal itu semakin membuat Nike merasa khawatir identitasnya akan diketahui oleh Tuan Yongki.
Tuhan, tolong aku! Jangan sampai Papa Yongki mengenali aku! Aku tidak mau dijual lagi sama dia, batin Nike.
"Ah iya Papa ingat! Bukankah kamu artis yang sedang naik daun itu, kan? Papa tidak menyangka bisa bertemu di sini," ucap Tuan Yongki tiba-tiba yang sukses membuat semua orang yang tahu identitas Nike merasa lega karena ternyata Tuan Yongki tidak mengenali gadis yang pernah dibuangnya dulu.
Syukurlah Papa tidak ingat dengan Nike, batin Nyonya Mary.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya yang keren satu ini.