
Sandera yang diselamatkan oleh pasukan khusus Keluarga Wiratama, kini sudah berada di rumah sakit internasional untuk mendapatkan pertolongan. Begitupun dengan baby El yang dehidrasi karena dalam jangka waktu yang lumayan lama, dia tidak mendapatkan ASI dan asupan makanan apapun.
Sementara Piero sedang mengurus kepindahan Ganesha, agar jarak dari rumah sakit ke rumah mereka lebih dekat. Selain itu, agar bisa dekat dengan baby El dan yang lainnya. Shopia yang mengetahui keadaan putrinya, segera menuju ke rumah sakit tempat Baby El dirawat bersama dengan Nyonya Prada dan Tuan Galen.
"Dokter, apa cucuku akan baik-baik saja?" tanya Nyonya Prada saat baru tiba dan melihat dokter sedang memeriksa keadaan El.
"Keadaannya stabil Nyonya. Beruntung dia dibawa tepat waktu sehingga tidak ada yang serius," jelas Dokter.
"Syukurlah! Aku ingin sekali mencakar wajar Eliza. Dia benar-benar keterlaluan!" geram Nyonya Prada.
"Sudah Mah, jangan terlalu emosi! Nanti tensi Mama naik," ucap Tuan Galen.
"Dok, kenapa El tertidur?" tanya Shopia.
"Kondisinya lemah, Nyonya. Kalau pengaruh hipnotisnya sudah dipatahkan oleh dokter ahli."
"Syukurlah! Bangun Sayang, ini Mama!" Shopia bicara dengan suara yang bergetar. Hatinya sangat sakit melihat putri kesayangannya terlihat lemah tidak berdaya. "Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi!" pamit dokter yang memeriksa keadaan El Zatta.
"Mama, Shopia, Papa ke ruang sebelah ya! Mau melihat keadaan Jody dan Jordan," pamit Tuan Galen.
"Iya, Pah!" sahut Nyonya Prada.
Sementara Shopia terus saja menciumi tangan putrinya yang terpasang selang infus. Sesekali tangannya mengelus lembut wajah cantik El. Nyonya Prada hanya bisa menghela napas dalam melihat keadaan cucunya.
"Semoga setelah ini, tidak ada lagi orang yang ingin berniat jahat pada keluarga kita. Mama benar-benar tidak menyangka Eliza bisa berbuat senekat itu. Ternyata, wajah cantiknya tidak mewakili hatinya yang busuk."
__ADS_1
"Mah, apa mungkin Eliza juga yang sudah sabotase mobil Mas Anez. Selama ini, dia tidak pernah menyukai aku. Apalagi saat dia tahu kalau aku istrinya Mas Anez. Dia semakin membenciku," ucap Shopia.
"Apa mungkin Eliza setega itu. Karena setahu Mama, Eliza diam-diam menyukai Anez. Hanya saja Mama berpura-pura tidak tahu dengan perasaannya karena Anez tidak begitu menyukai Eliza," tutur Nyonya Prada.
"Semua ini terjadi karena kesalahan aku. Andai saja, aku tidak masuk dalam kehidupan Mas Anez, mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Shopia sendu. Setitik air mata memaksa keluar dari pelupuk matanya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu. Kamu dan Anez itu sudah terjerat takdir. Meskipun kalian sama-sama menolak, tetapi kalau sudah jodoh, kalian tidak akan bisa menghindarinya," ucap Nyonya Prada.
"iya Mah. Terima kasih sudah menerima aku dengan baik," ucap Shopia.
Baru saja Shopia selesai bicara, terlihat El membuka matanya. Dia tersenyum saat melihat Shopia ada di depannya. Bayi cantik itu langsung merengek meminta digendong oleh Sophia. Dengan hati yang bahagia karena putrinya sudah bangun, Sophia pun langsung menggendong El dan memberikan sumber kehidupan pada putrinya.
"Cucu Oma sayang, sehat-sehat Nak! Maafkan Oma, karena lupa dengan penjagaan El. Oma terlalu panik saat mendengar Papa kamu kecelakaan," sesal Nyonya Prada seraya mengelus lembut rambut cucunya.
"Ma-ma ... Pa-pa ...," ucap El melepaskan sejenak pagutannya pada sumber kehidupannya.
"El, cepat sembuh ya! Nanti main sama Oma. El boleh minta apa saja yang El mau tapi, El harus cepat sembuh. Nanti pulang ke rumah Oma, kita main sama Ceya," bujuk Nyonya Prada.
"Ma-ma ...," ucap El yang memang baru bisa mengucapkan kata mama papa saja.
"Mah, memang tidak apa-apa El diajak main dengan singa? Apa tidak akan dimakan?" tanya Shopia meringis membayangkan singa peliharaan keluarga suaminya.
"Tidak akan, Shopia. Singa itu sudah seperti teman Anez. Sedari kecil selalu menjaga Anez kalau Mama dan papa sibuk bekerja. Sama El juga pasti sayang, seperti dia sayang sama papanya," tutur Nyonya Prada.
...***...
Sementara di kantor polisi, lagi dan lagi Eliza menampakkan wajah angkuhnya di hadapan semua orang yang ada di sana. Sedikit pun dia tidak memperlihatkan ketakutan dan rasa penyesalannya. Bahkan, pada Nyonya Mary pun dia memperlihatkan wajah angkuh itu. Padahal selama ini, Nyonya Mary selalu baik padanya.
__ADS_1
"Eliza, kenapa kamu berubah, Nak?" tanya Nyonya Mary saat dia menjenguk Eliza di kantor polisi.
"Tante tidak perlu berpura-pura peduli padaku. Aku tahu kalau Tante lebih peduli pada mereka," sinis Eliza.
"Eliza, Tante peduli sama kamu. Makanya Tante ingin tahu keadaan kamu," ucap Nyonya Mary dengan menatap lekat Eliza.
"Apa benar Tante peduli padaku?" tanya Eliza untuk meyakinkan dirinya dengan ucapan Nyonya Mary.
"Tentu saja benar, Eliza. Kenapa meragukan Tante?"
"Kalau benar Tante peduli padaku, bantu aku keluar dari sini. Aku tidak mau mendekap di balik jeruji besi," ucap Eliza dengan menatap dalam Nyonya Mary.
Nyonya Mary sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Eliza. Dia memutar otaknya, mencari cara apa yang harus dilakukannya untuk membantu putri sahabatnya. Namun sepertinya, dia tidak menemukan cara pas dan tidak beresiko.
"Apa yang harus Tante lakukan? Tante tidak bisa membayar jaminan kamu karena mereka menolaknya," tanya Nyonya Mary.
"Tante cukup menjadi pengantar pesan untuk Opa Jean. Biar Opa yang mencari caranya," ucap Eliza.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shopia update,yuk kepoin karya keren yang satu ini.
__ADS_1