
Akad nikah baru saja digelar dengan sangat lancar. Meskipun awalnya Tuan Yongki menolak Sania sebagai menantunya, tak urung pria paruh baya itu menghadiri pernikahan putra satu-satunya. Bagaimana tidak, dia mendapatkan ancaman dari istri dan anaknya. Membuat dia memilih untuk mengalah
Sania terlihat cantik dengan kebaya putih dan rambut disanggul dengan bunga melati yang menghiasi rambutnya. Begitupun dengan Piero, terlihat sangat gagah memakai jas pengantin yang berwarna putih senada dengan warna kebaya Sania.
Sementara Shopia memakai dress yang membuatnya semakin terlihat anggun. Ganesha berkali-kali melirik ke arah istrinya. Dia begitu terpesona dengan wajah Shopia yang nampak bersinar. Entah kenapa, semenjak kehamilannya Shopia terlihat menjadi semakin cantik.
Kedua pasangan suami-istri menjadi orang paling pertama yang memberikan ucapan selamat pada pengantin karena memang, acaranya tertutupi dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat saja.
"Selamat, Piero, Sania. Semoga kalian bahagia selalu," ucap Ganesha.
"Thanks, bro!" sahut Piero
"Makasih, Tuan!" sahut Sania
"Selamat ya Mas Piero, Sania. Semoga cepat dapat momongan," ucap Shopia dengan tersenyum manis
"Thanks, Shopia."
"Makasih, Mbak Shopia."
Setelah mereka berfoto bersama, Ganesha dan Shopia memilih untuk menikmati hidangan yang tersedia. Namun, saat keduanya sedang asyik Menikah hidangan, ada seorang nenek tua yang datang menghampirinya.
"Permisi, boleh Nenek bertanya?" tanya nenek tua itu.
"Iya, Nek! Mau bertanya apa?" tanya Shopia dengan tersenyum ramah.
"Apa Anda putrinya Nyonya Clara? Saya Nenek Ratmi, neneknya Sania. Saya pernah bekerja di rumah Nyonya Clara, tapi semenjak hari itu, saya dipecat oleh Nyonya Lucy."
"Nenek kita bicara di tempat lain ya!" ajak Ganesha.
"Boleh, Nak. Tapi bagaimana dengan Sania?" tanya Nek Ratmi yang cemas melihat cucunya.
Kemarin dia baru datang dari kampung karena dijemput oleh Piero dan Sania. Namun mereka tidak membawa neneknya ke rumah Ganesha melainkan tinggal di hotel bersama dengan Sania.
"Nenek jangan cemas! Sania baik-baik saja dengan Piero," ucap Ganesha.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin Nenek kenal Tuan Jody, beliau pasti senang bertemu kembali dengan Nenek."
"Tuan Jody? Iya Nenek kenal. Ada hal yang harus nenek katakan padanya. Tapi di mana Nyonya Clara sekarang? Apa datang ke pernikahan Sania juga?" tanya Nek Ratmi.
"Tidak, Nek. Mari ikut saya!, Ayo Shopia kita pulang."
Ganesha pun membawa Shopia dan Nek Ratmi untuk pulang ke rumahnya. Dia segera menghubungi Tuan Jody dan Jordan agar menyusul ke rumah. Namun, saat mobilnya keluar dari rumah Piero, bersamaan dengan Eliza dan mamanya masuk.
"Untung saja mereka tidak bertemu dengan Shopia dan neneknya Sania," gumam Ganesha.
"Kenapa, Mas?" tanya Shopia heran dengan apa Ganesha katakan.
"Tidak apa," ucap Ganesha seraya mengelus rambut Shopia dengan satu tangannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dia sengaja tidak membawa supir karena ingin berdua dengan Shopia. Tapi ternyata, rencananya untuk mengajak Shopia menginap di hotel yang ada di tepi pantai harus di cancel dulu. Karena ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan.
Setelah mengetahui hal yang sebenarnya tentang Shopia, Ganesha menjadi was-was, khawatir istrinya mengalami hal yang tidak dia harapkan. Apalagi, hilangnya mama Shopia belum ada titik temunya
Setibanya di rumah, Ganesha langsung memarkirkan mobilnya di garasi dan menyuruh Nek Ratmi agar masuk rumah lewat pintu samping agar tidak ada yang melihat kalau nenek itu ikut bersamanya.
"Mas ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, sebaiknya kamu istirahat. Ibu hamil tidak boleh lelah, kan?"
"Mas, jangan menyembunyikan apapun dariku, aku hanya ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi. Siapa Clara dan apa hubungannya denganku?"
"Nanti biar Tuan Jody yang menjelaskan sendiri."
Tidak lama kemudian, Tuan Jody dan Jordan datang ke rumah Ganesha. Ayah dan anak itu terlihat begitu terburu-buru masuk ke rumah itu. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang pernah bekerja dirumahnya.
"Bi Ratmi, masih ingat saya?" tanya Tuan Jody.
"Saya ingat, Tuan. Bagaimana kabar Tuan?" tanya Bi Ratmi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saya baik. Bibi bisa beritahu saya, apa yang terjadi hari itu. Saat saya datang ke rumah Clara, rumahnya dalam keadaan sepi. Saya tidak menemukan satu orang pun di sana."
__ADS_1
Flashback on
Hari itu Nyonya Lucy datang ke rumah dengan dua orang bodyguard yang bertubuh kekar. Saat Clara sedang tidur siang dengan putrinya. Sebuah rumah yang jauh dari keramaian kota dan berada di atas sebuah bukit, membuat rumah itu nampak sepi karena tidak ada rumah lain di sekitarnya.
Jody sengaja membangun rumah itu agat jauh dari jangkauan keluarganya. Namun, ternyata Lucy diam-diam menyuruh orang untuk membututi suaminya sampai akhirnya dia memiliki kesempatan untuk datang ke rumah itu, saat Jody membawa Jordan untuk belajar di luar negeri.
"Nyonya, Anda siapa? Kenapa masuk tidak mengetuk pintu dulu?"
"Saya istri sah Tuan Jody. Saya ke sini hanya untuk mengambil alih rumah ini dan isinya. Karena semua harta kekayaan Jody itu milik saya. Termasuk rumah ini."
" Ta-tapi Nyonya, apa Nyonya Clara sudah tahu tentang hal ini? Kalau belum, saya akan mengajak Nyonya pergi bersama dengan Saya."
"Bibi ingin selamat apa ingin saya buang ke jurang?" tanya Lucy saat Bi Ratmi akan membangunkan Clara.
"Saya ingin selamat, Nyonya." Bi Ratmi menjawab dengan ketakutan.
"Kalau ingin selamat, cepat pergi dari rumah ini! Soal Clara, kamu tidak perlu ikut campur. Jhon, awasi wanita tua ini! Jangan sampai dia masuk ke ruang tengah. Aku akan mencari kamar wanita murahan itu," suruh Lucy.
"Ba-baik Nyonya. Saya akan pergi, tolong jangan sakiti Nyonya Clara, dia sedang hamil muda."
Lucy hanya tersenyum miring, lalu dia mengambil gelas dan mengisinya dengan serbuk putih. Dia pun masuk ke kamar Clara. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara tangisan putrinya yang menangis histeris. Bi Ratmi langsung berlari menuju ke kamar itu.
Namun, bodyguard yang menjaga dia menahannya. "Sebaiknya tidak usah ikut campur urusan mereka. Aku pun tidak ingin menyakiti orang lain. Apalagi wanita tua seperti kamu. Kalau kamu punya ponsel, sebaiknya kamu meminta tolong pada saudara kamu. Aku akan berpura-pura tidak melihatnya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh bodyguard itu, Bi Ratmi segera mengirim pesan pada adiknya Clara. Dia menceritakan semuanya pada Boy. Mau mengadu pada Tuan Jody rasanya tidak mungkin karena dia tahu tuannya sedang berada di luar negeri.
Sampai akhirnya boy datang, beberapa saat setelah Lucy pergi dari rumah itu. Pemuda itu langsung membawa kakak dan keponakannya yang mulutnya sudah berbusa. Begitupun dengan Bi Ratmi yang ikut bersama dengan Boy. Dia tidak kembali lagi ke rumah itu karena merasa takut pada kekejaman Lucy.
Flashback off
...~Beraambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1