Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 54 Belimbing Wuluh


__ADS_3

Tangan yang penuh dengan belanjaan, tidak membuat Sania merasa lelah ataupun kesal. Pasalnya, dia mendapatkan ponsel baru dari Piero. Meskipun harganya hanya sekitar tiga juta, tetapi buat Sania, itu termasuk salah satu ponsel yang dia beli dengan harga mahal.


"Sania, sini aku bantu!" Piero mengambil salah satu kantong belanjaan yang ada di tangan Sania.


"Biar aku saja, Mas." Sania memberikan senyum terbaiknya pada Piero.


"Aku tidak mau dibilang raja tega sama orang-orang karena sudah membiarkan kamu kerepotan sendiri." Piero langsung mengambil alih salah satu kantong belanjaan dari tangan Sania. Bersamaan dengan mamanya yang baru tiba di lantai tempat mereka belanja.


Piero segera merangkul pinggang Sania agar meyakinkan orang yang melihatnya kalau mereka memang berpacaran. Dia berpura-pura tidak menyadari kedatangan mamanya yang langsung menepuk pundak Piero.


"Piero, kenapa kamu ada di sini? Apa tidak bekerja?" tanya Mary Janette, mamanya Piero.


"Aku disuruh belanja oleh Anez. Mama mau apa ke sini?" Piero balik bertanya.


"Mama mau beli daging. Nanti malam pulanglah ke rumah. Keluarga Om jody mau makan malam bersama kita. Apa Papa belum memberi tahu?" tanya Mary seraya menelisik penampilan Sania dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Siapa gadis itu, Piero? Kenapa bersama kamu?"


"Dia pacar aku aku, Mah."


"Apa katamu? Pacar? Lalu bagaimana dengan Eliza? Kamu sudah bertunangan tapi kenapa berpacaran dengan orang lain?"


"Aku lebih dulu pacaran dengan dia. Kalau tunangan kan Papa yang paksa. Mah, aku pulang dulu. Anez sudah menungguku," pamit Piero.


Mary hanya diam saja ditempatnya. Dia memang yang melahirkan Piero, tetapi entah kenapa hubungan mereka tidak sedekat orang lain yang memiliki ikatan batin dengan anaknya. Dia malah kadang tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Piero. Yang terpenting baginya, bisa mencukupi kebutuhan putranya, itu sudah cukup.


Sementara Piero jadi banyak diam. Dia juga ingin seperti anak lain yang selalu diperhatikan oleh orang tuanya, tapi itu rasanya mustahil bagi dia. Kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


"Mas, mamanya cantik sekali. Pantas saja Mas Piero juga tampan," puji Sania.


"Kamu sudah mulai jatuh cinta sama aku? Belum juga ada satu hari aku jadi pacar bohongan kamu, ternyata kamu sudah jatuh cinta duluan," seloroh Piero.


"Percaya diri sekali Anda Tuan Sinclair. Aku kan hanya mengagumi mama Mas Piero." Sania memalingkan mukanya, merasa malu dengan apa yang Piero katakan.


"Aku hanya bercanda. Kenapa dibawa serius?"

__ADS_1


"Gimana gak dibawa serius kalau Mas Piero selama ini jarang bercanda. Sampai orang tidak tahu seperti apa kalau Mas Piero sedang bercanda."


"Karena hidupku tidak se-bercanda itu."


Keduanya jadi terdiam, mereka fokus dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya mobil Piero sudah masuk ke dalam halaman rumah Ganesha, barulah ada yang membuka suara.


"Sania, ingat jangan bilang apa-apa soal hubungan kita."


"Iya, Mas."


Kedatangan mereka disambut oleh Shopia dan Ganesha yang menunggu keduanya sedari tadi. Mereka sudah siap dengan pisau buah dan piring. Sedari tadi, Ganesha seperti setrikaan menunggu kedatangan sahabatnya. Bukan Piero yang dia tunggu, tetapi buah kiwi dan belimbing wuluh yang membuat dia sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


"Haish ... Piero kenapa kerja kamu lambat sekali? Aku sampai bosan menunggu kamu di sini," gerutu Ganesha.


"Ya ampun, Anez. Kita hanya pergi dua jam. Itu pun karena kamu menambah pesanan. Lihat bawaan aku banyak sekali," tunjuk Piero.


"Iya, cepetan buahnya mana?" Ganesha menengadahkan telapak tangannya. Meminta buah yang dia inginkan.


Dengan sigap Sania membongkar belanjaannya mencari buah yang disimpan paling bawah oleh kasir. Saat sudah mendapatkannya, dia pun segera mencucinya sebelum di berikan pada Ganesha.


"Shopia, belimbing-nya mana? Lalu bumbu rujaknya sudah dibuat?" tanya Ganesha.


"Sebentar, Mas. Tadi aku simpan di lemari es." Shopia langsung beranjak pergi mengambil bumbu rujak. Namun, saat dia kembali, dia sangat terkejut melihat Eliza sudah duduk di ruang tamu bersama dengan Ganesha. Dia pun segera menghampiri suaminya dan memberikan bumbu itu pada Ganesha.


"Mbak Eliza, kapan datang?" tanya Shopia, berusaha bersikap ramah.


"Barusan. Aku ke sini karena ada perlu dengan tunangan aku. Ayo Piero, kita harus mencari gaun malam unutk pesta amal!" ajak Eliza.


"Oh, begitu. Mas, ada bumbu kacangnya ketinggalan." tangan Shopia terulur membersihkan sudut bibir Ganesha yang tidak ada apa-apanya. Dia sengaja melakukan hal itu hanya untuk membuat hati Eliza meradang.


"Terima kasih, Sayang. Apa anak papa ingin makan rujak?" tanya Ganesha dengan memberikan satu potong belimbing wuluh ke Shopia. Meskipun terpaksa, dia akhirnya memakannya juga.


Asem banget ... Kenapa Mas Anez kuat banget makan buah yang asem kayak gini?

__ADS_1


Ingin rasanya dia memuntahkan kembali, tetapi Shopia menahannya karena tidak ingin mengecewakan Ganesha. Ditambah lagi di sana ada Eliza. Pasti gadis itu akan menertawakannya.


"Bagaimana enak, kan?" tanya Ganesha.


"Enak, Mas. Buat Mas aja. Mas, anak kita ingin melihat aunty-nya juga makan buah," ucap Shopia melas.


"Maksud kamu siapa, Sania apa Eliza?"


"Eliza, Mas." Shopia tersenyum manis membuat Ganesha menjadi tertular.


"Eliza, sebelum pergi sini aku suapi dulu!" Ganesha mengulurkan tangannya dengan sepotong belimbing wuluh.


Eliza langsung membuka mulutnya saat buah itu sudah ada di depan mulutnya. Hatinya sangat bahagia karena akan mendapatkan suapan pertama dari laki-laki yang selalu menari-nari di benaknya. Namun, saat dia mulai menggigit buah itu, seketika wajahnya langsung meringis. Merasakan rasa asam yang tidak bersahabat dengan lidahnya.


"Bagaimana enak, kan? Dihabiskan ya Eliza, makanan tidak boleh dibuang-buang," ucap Ganesha dengan melanjutkan makan buahnya.


Sialan banget buahnya asam begini. Pasti Shopia sengaja ingin mengerjai aku, sehingga meminta Ganesha untuk memberikan buah itu kepadaku. Awas saja kamu Shopia! Aku akan membalasnya, geram hati Eliza.


Tidak berapa lama kemudian, Piero datang bersama dengan Sania dari arah dalam. Rupanya tadi mereka menyimpan barang bawaannya dan langsung merapikannya. Piero mengeryitkan keningnya melihat Eliza duduk di dekat Ganesha. Dia pun langsung menghampiri mereka.


"Eliza kapan datang?" tanya Piero.


"Ck! Punya tunangan gak pengertian banget. Aku mau minta antar cari gaun malam. Buat pesta amal sama makan malam di rumah kamu." Eliza berdecak sebal melihat Piero datang bersama dengan Sania.


"Biasanya kamu pergi sendiri. Tumben ngajak aku?"


"Yah karena aku sudah menjadi tunangan kamu. Untuk apa aku pergi sendiri kalau ada tunangan yang bisa aku ajak pergi."


"Tapi jangan lama! Sehabis jam makan siang, aku ada meeting dengan klien."


"Iya, Ayo pergi!" ketus Eliza. "Anez, aku pergi dulu ya!" Eliza melembutkan suaranya saat berbicara dengan Ganesha.


"Hm ...." Hanya deheham Ganesha yang menjadi jawaban ucapan Eliza. Laki-laki itu terus saja asyik memakan rujak belimbing wuluh.

__ADS_1


Kontras sekali sikap kamu Eliza. Saat berbicara denganku dan saat berbicara dengan Ganesha. Apa tidak bisa, bicara lebih baik padaku? Meskipun di antara kita memang tidak ada perasaan apapun, batin Piero.


__ADS_2