Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 50 Mirip


__ADS_3

Seminggu udah berlalu sejak hari di mana papanya Piero datang berkunjung ke apartemen putranya. Hari ini, pria tampan itu akan bertunangan dengan sahabat baiknya, Eliza. Meskipun dia tidak mencintai gadis itu, tetapi dia menghargai persahabatan mereka


"Eliza, kenapa kamu tidak keberatan dijodohkan denganku?" tanya Piero.


"Bukan aku tidak keberatan, tetapi aku tidak punya pilihan. Kamu tahu Piero, aku diancam akan dikeluarkan dari kartu keluarga kalau tidak mau mengikuti keinginan papaku. Enak saja, aku harus memberikan semua harta papaku pada anak si pelakor itu. Kamu tahu, kenapa aku tidak mau bekerja di perusahaan papaku, selain karena tidak bisa dekat dengan Anez. Aku juga tidak mau menjadi bawahan anak laki-laki itu," jelas Eliza panjang lebar.


"Lucu ya hidup kita, kamu cintanya sama Anez. Tapi tunangan sama aku." Piero Menertawakan dirinya sendiri.


"Sudahlah! Kita berpura-pura saja depan mereka Seminggu kita bertunangan, kamu pura-pura menghamili anak gadis orang biar kita putus."


"Boleh juga ide kamu. Tapi siapa yang harus aku ajak kerjasama?"


"Kamu cari saja gadis yang mau kamu bayar untuk jadi pacar pura-pura kamu," ucap Eliza enteng.


Benar juga. Tapi siapa ya? Ah iya, kenapa gak Sania saja. Papa pasti mengira beneran kalau dia hamil anakku. Waktu itu kan Papa melihat aku tidur berpelukan dengan Sania. Padahal aku gak sengaja peluk dia, batin Piero.


Banyak tamu yang berdatangan ke acara pertunangan putri seorang putri penguasa sukses dengan putra seorang pengacara kondang. Kedua keluarga itu nampak berbahagia. Begitupun dengan Piero dan Eliza yang terlihat bahagia di mata para tamu. Mereka benar-benar totalitas dalam berakting untuk mengelabui semua orang.


Tidak ketinggalan Ganesha dan Shopia pun datang ke acara pertunangan sahabatnya. Begitupun Sania yang ikut serta. Agar ada orang yang menemani Shopia mengobrol saat Ganesha sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.


"Selamat ya, Bro. Aku gak nyangka kamu yang akhirnya menikah dengan Eliza," ucap Ganesha dengan merangkul sahabatnya.


"Hanya tunangan, Anez. Kamu jangan salah paham," ucap Piero pelan.


"Sebenarnya aku setuju-setuju saja kalau kamu menikah dengan Eliza. Kita kan tahu kalau dia orangnya gak neko-neko. Hanya saja kerasa kepala," ucap Ganesha setelah dia mengurai pelukannya.


"Selamat Mas Piero, semoga segera ke pelaminan," ucap Shopia dengan tersenyum.


"Tidak akan aku aminkan, Shopia. Doa kamu itu deritaku," sarkas Piero.


"Selamat, Mas Piero. Jangan lama-lama tunangannya, biar gak kaya aku," ucap Sania dengan tersenyum samar.


"Aku berharap seperti kamu, Sania."


Melihat Piero dan Sania yang jadi asyik mengobrol, Ganesha pun beralih pada Eliza yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Melihat kehadiran Ganesha dan Shopia, gadis itu mendelik tidak suka pada Shopia. Namun, tersenyum manis pada Ganesha.


"Selamat ya, Eliza." Ganesha mengulurkan tangan untuk memberikan ucapan selamat pada temannya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, Anez." Eliza pun balas tersenyum pada Ganesha.


Sementara Shopia hanya tersenyum samar melihat semua itu. Hatinya tidak bisa dipungkiri kalau dia juga tidak suka melihat Ganesha bersikap manis seperti itu pada Eliza. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan ketidaksukaannya pada Eliza.


"Eliza, Piero ayo ke depan! Acaranya akan segera dimulai," ajak Jody yang datang mengingatkan putrinya.


Namun, laki-laki itu sempat tertegun saat melihat wajah Shopia yang sangat mirip dengan mendiang istrinya. Apalagi, sorot mata Shopia yang teduh, membuat dia tidak bisa mengalihkan pandangannya.


"Clara," gumam Jody.


"Ayo, Pah. Kenapa bengong di sini?" ajak Eliza saat melihat Jody terus menatap lekat Shopia.


"Oh, Iya." Jody pun pergi bersama dengan Eliza dan Piero. Meninggalkan Shopia yang merasa aneh dengan sikap papanya Eliza.


"Kamu kenapa?" tanya Ganesha saat melihat Shopia mengangkat kedua bahunya.


"Tidak ada, Mas."


"Ayo kita ke depan!" ajak Ganesha dengan menggenggam tangan istrinya.


Shopia tersenyum melihat ke arah tangannya. Ganesha yang sekarang benar-benar sudah berubah dengan Ganesha yaang dulu dikenalnya. Dia merasa sangat bersyukur karena hubungannya semakin membaik.


"Mas, apa yang dipanggung itu orang tua Eliza," bisik Shopia.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Ganesha heran.


"Kenapa mereka terus melihat ke arahku? Aku jadi gak enak hati terus diperhatikan seperti itu," bisik Shopia lagi.


"Mungkin mereka terpukau oleh kamu. Mereka baru tahu kalau istri Mas sangat cantik. Karena saat acara pernikahan kita, mereka masih di luar negeri," tebak Ganesha.


"Bisa aja, Mas."


Mereka langsung berhenti berbisik-bisik saat melihat Piero memasangkan cincin berlian di jari manis Eliza. Keduanya memperlihatkan cincin pertunangannya. Membuat semua orang begitu terpana saat melihat cincin yang seharga mobil lamborghini.


"Cincin pertunangan aku malah sudah aku jual," gumam Sania yang melihat ke arah Piero dan Eliza.


Dia membalikkan badannya, tidak ingin melihat kebahagian orang-orang yang ada di atas panggung. Bukannya dia cemburu, tapi Sania jadi teringat pada acara pertunangannya dengan Rodeo. Hatinya kembali sakit saat harus mengingat itu. Sampai tangannya ada yang menepuk, barulah dia tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"KIta cari makan dulu. Kamu kenapa melamun terus?" tanya Shopia.


"Tidak apa, Mbak. Mbak Shopia mau makan apa? Biar saya ambilkan," tanya Sania segera menetralkan perasaannya.


"Kita nyari bareng saja. Mas Anez sedang mengobrol dengan temannya," ucap Shopia. "Mas, aku ke sana dulu ya!"


"Jangan jauh-jauh!" pesan Ganesha.


"Iya, nggak. Aku ingin makan es krim yang ada di sana," tunjuk Shopia.


"Iya. Sania jaga istriku!"


"Baik Tuan!" sahut Sania.


Shopia dan Sania pun menuju ke stand makanan yang berjejer rapi di pinggir gedung sebelah kanan. Mereka mencicipi setiap makanan yang ada di sana. Sampai ada seorang wanita cantik menegurnya.


"Nona, apa Anda putri bungsunya Tuan Jody?" tanya seorang wanita cantik yang sudah tidak muda lagi.


"Maaf Nyonya, Tuan Jody siapa?" tanya Shopia bingung.


"Apa Anda tidak kenal dengan tuan rumah?"


"Saya kenal dengan Tuan Piero. Kebetulan dia atasan saya," jawab Shopia.


"Oh begitu. Saya pikir Anda putri bungsu Tuan Jody. Soalnya wajah Anda mirip sekali dengan mendiang istrinya. Kebetulan saya kenal baik dengan Nyonya Clara."


"Mungkin hanya mirip, Nyonya. Bukankah kita memang memiliki kemiripan wajah dengan tujuh orang yang ada dunia ini," ucap Shopia seraya tersenyum manis.


"Iya, Anda benar. Kenalkan saya Laurent Keith, nama Anda siapa?"


"Saya Shopia Martin dan ini teman saya Sania Fortuna." Shopia pun mengulurkan tangannya pada wanita itu.


"Senang berkenalan dengan Anda, Shopia.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2