
Pesta meriah dengan begitu banyak balon berwarna-warni menghiasi rumah Keluarga Oenelon, membuat Louis merasa sangat bahagia berada di sana. Laki-laki kecil itu terus saja berada di dekat Shopia dan bayinya. Sementara Bu Kia dan Nike beramah tamah dengan keluarga besar Keluarga Oenelon yang datang memenuhi undangan dari Nyonya Prada.
Namun, wajah cantik yang tadinya terlihat berseri, mendadak redup. Saat Nike melihat kedatangan Tuan Yongki dan Nyonya Mary datang ke pesta penyambutan Baby El. Badannya bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, membuat Bu Kia merasa kaget dengan apa yang terjadi pada Nike.
"Bu ... To-tolong bawa aku pergi! Di-dia datang untuk membuang aku lagi," pinta Nike dengan tergagap. Dia memegang tangan Bu Kia dengan kuat dan bersembunyi di balik tubuh wanita yang sudah merawatnya itu.
"Nike, kamu kenapa? Ayo kita mencari minum dulu!" ajak Bu Kia dengan menuntun Nike ke pinggir ruangan.
Bu Kia mengajak Nike duduk di sofa yang ada di pinggir ruangan itu. Dia pun mengambil air puti dan memberikannya pada Nike. Namun, baru saja gadis itu bisa menetralkan ketakutannya melihat Tuan Yongki. Tiba-tiba saja Nyonya Prada datang bersama dengan Nyonya Mary untuk menyapa Bu Kia.
"Mbak Kia, kenalkan ini sahabat saya Jeng Mary," ucap Nyonya Prada.
Bu Kia langsung melihat ke arah Nyonya Mary. Dia tersenyum manis melihat wajah yang sudah dikenalkan saat dulu dia masih gadis. Namun, sepertinya Nyonya Mary tidak langsung mengenali Bu Kia yang pernah menjadi juniornya di sekolah model dulu.
"Saya, Kia Nyonya. Senang berkenalan dengan Anda," ucap Bu Kia seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Mary. Apa ini putri Anda?" tanya Nyonya Mary menyambut uluran tangan Bu Kia.
"Iya, Nyonya. Nike, ayo beri salam pada Nyonya Mary!" suruh Bu Kia.
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya. Kilas bayangan masa kecilnya terus berputar-putar di kepalanya. Sampai akhirnya, dia tidak sadarkan diri.
Nyonya Mary sempat terkejut melihat wajah yang sudah tidak asing baginya. Dia pun segera membantu Bu Kia untuk menidurkan Nike di sofa. Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di pesta ikut panik melihat ada orang yang pingsan. Padahal tadi, gadis itu terlihat baik-baik saja saat berbincang dengan mereka.
"Piero pindahkan saja ke kamar tamu," suruh Ganesha.
"Sebentar, aku cari orang dulu!" sahut Piero.
Dia langsung celingukan mendengar apa yang sahabatnya katakan. Piero khawatir Sania akan cemburu kalau dia menggendong gadis lain. Apalagi istrinya sedang hamil muda yang terkadang mengalami mood swing. Bisa gagal dunia pergulatannya kalau sampai Sania tidak mau memberi jatah padanya. Pada akhirnya Piero menyuruh satpam di rumah itu untuk memindahkan Nike ke kamar tamu.
__ADS_1
"Piero, siapa gadis itu?" tanya Tuan Yongki saat Piero sudah kembali ke ruang tengah.
"Adik tirinya Shopia. Apa Papa belum bertemu dengannya? Dia mirip sekali dengan Vero, tapi sayang dia bukan Vero," ucap Piero sekenanya.
"Vero?" gumam Tuan Yongki.
Dia hanya tersenyum kecut jika memang benar gadis itu adalah anak kecil yang pernah dijualnya pada pasangan yang tidak bisa memiliki anak itu. Sampai akhirnya dia pun melihat langsung wajah Vero yang masih tidak sadarkan diri.
"Tuan, silakan tunggu di luar! Agar sirkulasi udara di ruangan ini tidak terlalu pengap jika kebanyakan orang," suruh dokter pribadi keluarga Oenelon.
"Maaf, Dok! Aku hanya ingin memastikan gadis itu," ucap Tuan Yongki. Dia pun kembali ke luar setelah sekilas melihat wajah Nike.
Sementara itu, Nyonya Mary langsung menarik tangan Bu Kia ke halaman belakang. Dia ingn tahu tentang siapa Nike sebenarnya. Karena wajahnya mengingatkan dia pada teman dekatnya yang sudah tiada.
"Maaf, Mbak! Kalau boleh tahu, apa Nike putri kandung Anda?" tanya Nyonya Mary.
"Nike putri sambung saya dari almarhum suami saya yang sudah tiada," jawab Bu Kia terus terang.
"Iya, Nyonya. Kami tinggal di Ausy, tapi kenapa Nyonya sangat penasaran dengan putri saya?"
"Karena wajahnya sangat mirip dengan sahabat saya. Kebetulan juga, saya mencarinya selama bertahun-tahun tetapi tidak menemukannya. Apa Nike putri kandung suami Mbak Kia atau putri angkatnya?"
"Saya kurang tahu, Nyonya. Saat saya menikah dengan papanya Louis, Nike sudah besar. Tapi kalau dilihat dari wajahnya, Nike memang tidak memiliki kemiripan dengan suami saya ataupun dengan mendiang istri suami saya."
"Aku semakin yakin kalau Nike itu Vero. Karena wajahnya mirip sekali dengan Vivian," gumam Nyonya Mary.
Mereka pun kembali ke ruang tengah karena khawatir Tuan Yongki mencarinya. Namun ternyata, pria yang sudah matang itu sedang bercengkrama dengan Tuan Galen dan Tuan Jody. Membicarakan tentang Nyonya Lucy yang akan menjalani sidang terakhirnya.
Sementara Ganesha terus saja menempel pada istrinya. Laki-laki tampan itu seakan takut akan ada orang yang ingin mencelakai keluarga kecilnya. Apalagi saat dia melihat wajah yang tidak bersahabat dari Eliza yang datang bersama dengan Jordan.
__ADS_1
"Shopia, bagaimana keponakan Kakak? Apa dia rewel?" tanya Jordan dengan mengelus lembut rambut baby El. "Ini ada sedikit hadiah dari Kakak," lanjutnya.
Jordan memberikan sebuah amplop cokelat pada Shopia. Membuat wanita cantik itu merasa gamang untuk menerimanya. Namun, akhirnya dia menerima pemberian dari Jordan setelah laki-laki tampan itu memberi kode dengan matanya.
"Terima kasih, Kak!" ujar Shopia.
"Coba dibuka dulu, apa namanya sudah benar?"
Shopia pun membuka amplop pemberian dari Jordan. Dia langsung tercengang saat melihat surat pengalihan saham JV Group sebesar dua puluh persen untuk putrinya. Begitupun dengan Eliza yang langsung melotot tidak berkedip dengan apa yang dilihatnya.
Gila Kak Jordan! Aku saja hanya punya sepuluh persen, sedangkan anak kecil itu dia beri dua puluh persen. Benar-benar keterlaluan! sungut Eliza dalam hati.
"Kakak, apa tidak terlalu besar?" tanya Shopia.
"Tidak! Kakak juga sudah menyiapkan pengalihan sebagian harta keluarga Vuttion untuk kamu. Mungkin sedang diproses oleh pengacara," ucap Jordan dengan tersenyum.
"Kakak, sebenarnya aku tidak terlalu membutuhkan semua itu. Bisa mengetahui kalau aku masih memiliki keluarga saja, aku sudah sangat bahagia."
"Itu hak kamu Shopia. Kedepannya, jika ada apa-apa, jangan sungkan bilang sama Kakak."
Elah, munafik banget jadi orang! Pura-pura gak butuh tapi mengambil semuanya. Kamu tuh serakah Shopia. Semua hal yang seharusnya menjadi milikku, kamu ambil semua. Aku benci banget sama kamu. Anez kamu kamu ambil, Papa juga kamu ambil, sekarang harta keluarga Vuttion juga kamu ambil, geram Eliza dalam hati.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya yang keren dari author yang keren satu ini!
__ADS_1