Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 108 Kebakaran


__ADS_3

Hari-hari yang Ganesha lewati di rumah sakit terasa membosankan. Meskipun dia ditemani oleh oleh istri tercintanya. Tetap saja dia merasa jenuh. Beruntung kini kakinya sudah tidak digantung lagi. Namun, dia belum bisa berjalan normal seperti sebelum kecelakaan itu.


"Mas, mau jalan-jalan gak?" tanya Shopia saat hari telah beranjak sore.


"Iya boleh. Mas bosan sekali berada di kamar terus. Kita juga gak bisa ngapa-ngapain," keluh Ganesha.


"Sabar, Mas. Semoga saja kondisi Mas cepat membaik. El pasti sudah kangen dengan papanya," ucap Shopia seraya membantu Ganesha duduk di kursi roda.


"Shopia, bagaimana kondisi perawat El?"


Shopia hanya menghela napas dalam mendengar pertanyaan suaminya. Ada rasa bersalah di hatinya karena masalahnya dengan Eliza, membuat Mira yang menjadi korbannya, sehingga perawat itu syok.


"Mbak Mira mengundurkan diri, Mas. Dia takut tidak bisa menjaga El. Padahal tidak ada yang menyalahkan dia dengan kejadian ini," tutur Shopia.


"Sudah tidak apa. Kita tidak bisa memaksa orang untuk terus bersama kita kalau orang itu merasa tidak nyaman." Ganesha menggenggam tangan Shopia yang sedang mendorong kursi roda yang dinaikinya.


"Iya, Mas. Semoga saja kejadian itu tidak pernah terulang lagi. Semoga Eliza bisa bertaubat dari semua kesalahannya."


Terus saja mereka mengobrol seraya menuju ke taman rumah sakit. Saat sampai di sana, Shopia duduk di bangku taman berhadapan dengan Ganesha yang duduk di kursi roda. Tangan mereka saling bertautan dengan bibir yang saling melempar senyum.


"Shopia, kenapa Mas ingin merasakan pacaran sama kamu? Andai dari awal Mas sukanya sama kamu, mungkin kita sudah kenyang merasakan pacaran seperti anak muda."


" Tidak apa, Mas. Sudah terwakilkan oleh Dora. Aku juga tahu bagaimana cara Mas berpacaran. Apa Mas lupa, kalau aku selalu ikut saat kalian berkencan? Bodohnya aku waktu itu, mau saja di manfaatkan oleh Dora.


"Kalau kamu tidak dimanfaatkan oleh dia, mana mungkin kita bisa menikah."


"Mas benar. Mungkin sudah jalan takdir kita harus seperti itu."


"Shopia, tetap di sisi Mas, ya! Apapun yang terjadi," ucapkan Ganesha dengan penuh harap.


"Iya Mas, selamanya aku hanya ingin bersama dengan Mas." Sophia tersenyum manis seraya menatap iris mata hitam pekat Ganesha. Dia sangat menyukai tatapan mata Ganesha yang nampak tajam.


Sementara di tempat lain, Piero saat terkejut saat dia melihat berita di televisi, yang menyiarkan tentang kebakaran di rumah tahanan khusus wanita. Piero langsung teringat dengan Elisa yang ditahan di sana selama masa tunggu persidangannya. Dia pun segera menghubungi sipir yang bertugas di sana.


"Halo Mas Piero, kondisi di sini sedang gawat, Mas. Petugas belum bisa mengendalikan apinya." Sipir itu langsung memberitahukan keadaan di lokasi, karena dia yakin kalau Piero akan menanyakan tentang kebakaran di rumah tahanan khusus wanita.

__ADS_1


"Tolong cek keadaan Eliza, Pak!"


"Siap Mas! saya pasti akan memberitahukan Mas Piero tentang keadaan Eliza jika dia sudah ditemukan," ucap sipir di seberang sana.


"Baiklah Pak, saya tutup teleponnya." Piero segera menutup panggilan teleponnya.


Dia kembali melakukan panggilan telepon, namun pada orang yang berbeda. Sampai terdengar di sana suara orang yang menyapanya barulah Piero berbicara.


"Mama baru selesai mandikan El. Ada apa menelpon?


"Halo Mama! Apa Mama sudah mendengar kabar tentang kebakaran di rumah tahanan Eliza?" tanya Piero saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Mama baru tahu dari kamu. Lalu bagaimana keadaan Eliza?"


"Aku tidak tahu, Mah. Sekarang aku mau berangkat ke sana. Mama hati-hati di rumah ya! Tolong jaga El, takutnya Eliza kabur."


"Kamu tenang saja, Piero. El aman sama mama."


"Baiklah Mama, aku akan segera ke sana, telepon nya aku tutup ya!"


"Mas, mau ke mana?" tanya Sania yang sedang menyusui putrinya.


"Melihat Eliza. Rumah tahanan khusus wanita yang dia tempati mengalami kebakaran hebat. Menurut berita karena konsleting listrik. Baik-baik di rumah ya! Mas pergi dulu," pamit Piero.


"Iya, Mas. Hati-hati!" pesan Sania seraya menatap dalam suaminya sampai hilang di balik balik pintu.


Semoga semuanya baik-baik saja. Dan Eliza tidak kabur dengan memanfaatkan keadaan, batin Sania.


Saat Piero akan masuk ke mobilnya, terlihat Nike baru pulang dari syuting. Gadis itu sedikit mengeryitkan keningnya melihat Piero yang terburu-buru.


"Kakak mau ke mana?" tanya Nike heran.


"Kakak mau ke rumah tahanan Eliza. Katanya terjadi kebakaran di sana," jawab Piero.


"Boleh aku ikut, Kak?"

__ADS_1


"Jangan Nike! Lebih baik kamu di rumah saja menjaga istri dan anakku. Lagi pula di sana pasti banyak wartawan. Nanti kedatangan kamu menjadi sorotan," Piero langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan rumahnya menuju ke rumah tahanan.


Setibanya di lokasi kebakaran, terlihat petugas pemadam kebakaran begitu gesit membantu para tahanan keluar dari kobaran api. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang terjebak dan tidak bisa keluar, salah satunya Eliza.


Gadis itu tidak bisa keluar dari toilet, yang sengaja dikunci oleh sesama tahanan wanita, karena merasa tidak suka pada Elisa yang selalu menunjukkan wajah angkuhnya. Sampai akhirnya sebuah plafon menempa tubuhnya hingga dia pun terbakar.


"TOLONG .... TOLONG ...," teriak Elisa dengan berusaha memadamkan api yang menjalar di punggungnya. dia berharap ada orang yang akan membukakan pintu toilet yang dikunci dari luar.


"Siapapun tolong aku! Aku berjanji akan baik pada orang yang telah menolong. Cepatlah tolong aku! Aku mohon!"


Sampai akhirnya seorang petugas pemadam kebakaran datang dan menolong Eliza keluar dari toilet. Gadis itu langsung tidak sadarkan diri dengan luka bakar di sekujur tubuh dan sebagian pipi kirinya.


Piero yang melihat petugas pemadam kebakaran itu menggendong Eliza, dia langsung mengenali wajah sahabatnya. Meskipun sebagian dari wajah Eliza sudah rusak karena luka bakar.


"Pak apa dia masih hidup," tanya Piero cemas.


"Sepertinya masih Mas, semoga saja nyawanya masih bisa tertolong," ucap petugas pemadam kebakaran itu seraya menyimpan Eliza di atas brangkar dan langsung di bawa masuk ke dalam ambulans.


"Pak, mau dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Piero.


"Ke Rumah Sakit Bhayangkara, Mas."


"Baik Pak, nanti saya menyusul."


Benar saja, Piero langsung naik ke dalam mobilnya dan mengikuti ambulans itu ke mana membawa Eliza. sampai saat Eliza sudah masuk ke dalam UGD barulah dia menghentikan langkahnya. dan duduk di kursi tunggu


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Cukup dengan klik like, comment, rate, gift dan favorite...


...Terima kasih....


Dambil nunggu Sophiia dan Ganesha update, lu kapoin juga kerja teman autar yang keren satu ini


__ADS_1


__ADS_2