Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 55 Tragedi Anniversary


__ADS_3

Malam yang indah dengan cahaya bintang yang menghiasi angkasa, membuat suasana pesta anniversary orang tua Piero menjadi terlihat semakin romantis. Yang awalnya hanya makan malam keluarga, kini berubah menjadi sebuah pesta kecil-kecilan.


Ganesha dan Shopia pun terlihat berada di tengah-tengah keluarga Piero. Begitupun dengan Prada dan Galen yang kebetulan sudah pulang dari luar negeri. Mereka datang untuk mengucapkan selamat pada pesta anniversary pasangan Yongki dan Mary.


"Selamat ya, semoga kalian semakin kompak dan langgeng," ucap Prada dan Galen secara bergantian.


"Terima kasih, Jeng. Silakan dinikmati hidangannya!" ujar Mary.


"Selamat Om, Tante. Semoga langgeng sampai nanti," ucap Ganesha mewakili Shopia yang berdiri di sampingnya.


"Terima kasih, Anez."


Setelah memberi ucapan selamat, Ganesha bergabung dan papanya berbincang dengan kolega yang juga diundang. Sementara Shopia diajak Prada untuk bertemu dengan teman-teman sosialitanya. Mereka menyambut hangat Shopia karena menghargai Prada.


"Jeng, kenalkan ini menantu saya, Shopia." Prada langsung memperkenalkan Shopia pada teman-temannya.


"Tapi sebentar, Jeng. Kenapa menantu kamu mirip sekali dengan Clara ya!"


"Clara siapa, Jeng?"


"Itu loh, istrinya Tuan Jody yang hilang entah ke mana."


"Sutt ... Jangan kencang-kencang! Nanti Nyonya Lucy mendengar," ucap salah satu teman Prada. Mereka pun langsung mengalihkan pembicaraan pada yang lain saat Lucy dan Mary datang menyapa mereka.


Lagi-lagi Lucy tertegun melihat Shopia bersama dengan teman-teman sosialitanya, sehingga dia tidak lama berada di sana. Karena merasa kurang nyaman saat melihat keberadaan Shopia.


"Kalau boleh tahu, gadis cantik ini putrinya siapa?" tanya Lucy.


"Ini menantu saya, Jeng. Cantik, kan? Namanya Shopia. Sebentar lagi aku punya cucu loh, Jeng. Sekarang Shopia sedang hamil empat bulan," beber Prada dengan bangganya.


"Wah, Jeng. Kamu hebat sebentar lagi mau punya cucu. Anakku malah masih suka keluyuran gak jelas," ucap salah satu teman Prada.


Mendengar ada yang memuji Prada, entah kenapa Lucy merasa tidak suka. Dia pun akhirnya berpamitan.


"Jeng, Aku ke sana dulu ya! MAu menyapa tamu yang lain. Jangan lupa minggu depan pesta amal di hotel Twist ya!" pesan Lucy sebelum dia pergi.

__ADS_1


"Baik Jeng, kami pasti datang."


Sesaat setelah kepergian Mary dan Lucy. Ganesha datang menghampiri Shopia dan mengajak ibu hamil itu untuk ikut dengannya. Shopia hanya mengikuti ke mana Ganesha membawanya.


"Om ini istriku, Shopia." Ganesha langsung memperkenalkan istrinya pada Jody. "Tadi, Om Jody ingin kenalan dengan kamu," lanjutnya.


"Saya Shopia, Tuan!" Shopia mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Jody.


"Om Jody, Papanya Eliza. Om dengan mertuamu berteman baik. Begitupun dengan Eliza dan Ganesha. Mereka berteman baik sedari kecil," jelas Jody dengan menatap lekat Shopia.


"Saya mengenal Mbak Eliza," ucap Shopia.


"Om juga punya seorang putra, namanya Jordan. Tapi dia tidak datang karena sedang urusan." paruh baya itu tidak ingin melepaskan pandangannya dari Shopia. Membuat Shopia menjadi kikuk dibuatnya.


Namun, obrolan mereka mendadak terhenti saat pesta annyversary itu mendadak heboh dengan kedatangan Piero dengan seorang wanita cantik. Mereka terlihat mesra, membuat semua orang bertanya-tanya.


"Mas, bukannya yang bersama dengan Mas Piero itu Sania?" tanya Shopia kaget.


"Iya. Sepertinya akan ada pertunjukan," ucap Ganesha dengan tersenyum samar.


Aku hanya ingin memastikan kalau gadis yang sangat mirip dengan Clara itu putriku atau bukan, batin Jody.


Sementara itu, terlihat Piero memperkenalkan gadis yang dibawa bersamanya. Wajah Yongki mendadak berwarna merah padam. Dia merasa dipermalukan oleh putranya sendiri. Tanpa bicara lagi, Yongki langsung menarik tangan Piero dan membawanya ke ruang atas.


Plak!


Satu tamparan sukses mendarat di pipi kiri Piero. Membuat pemuda tersenyum miring. Meskipun pipinya terasa perih. Dia sudah memprediksi kalau papanya akan bermain tangan padanya. Tapi itu tidak jadi masalah, asalkan dia sudah bisa membalas sakit hati pada sikap kedua orang tuanya yang selalu berpura-pura harmonis di depan orang lain. Padahal tidak pernah ada kasih sayang di dalamnya.


"Yang satu belum, Pah!" tantang Piero.


"Anak tidak tahu diuntung. Bisa-bisanya kamu mempermalukan orang tua kamu sendiri. Apa kamu lupa, kalau kamu sudah bertunangan? Kenapa kamu membawa gadis itu?" sentak Yongki.


"Karena Sania sedang mengandung anakku. Aku tidak mau kehilangan anak dan istriku. Apa Papa lupa waktu itu melihatnya di apartemen? Dia memang tinggal bersamaku karena kami sudah memutuskan untuk hidup bersama."


Plak!

__ADS_1


Lagi-lagi satu tamparan mendarat di Pipi Piero. Membuat sudut bibir Piero terlihat berdarah. Namun, lagi-lagi pemuda itu hanya tersenyum sinis pada papanya. Merasa menang karena sdah bisa melawan pada papanya yang otoriter.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus tinggalkan gadis itu. Atau perlu, aku hilangkan seperti dulu adik angkatmu," geram Yongki keceplosan dengan apa yang dikatakannya.


"Apa kata, Papa? Jadi penculikan itu benar, kalau Papa dalangnya? Kenapa, Pah? Mama sengaja membawa dia untuk menemani aku main, tapi kenapa Papa malah menghilangkannya dengan berpura-pura kalau dia diculik?"


"Kamu ingin tahu alasannya? Karena orang tua gadis kecil itu bersalah pada Papa. Tapi Mama kamu merasa kasian dengannya karena hanya sebatang kara, sehingga memutuskan untuk mengadopsinya."


"Aku tidak menyangka kalau Papa tidak berperasaan. Menyakiti anak yang tidak berdosa,"


"Kamu memang benar, Papa memang tidak berperasaan. Makanya Papa tidak akan segan untuk melenyapkan pacar kamu itu. Kamu tinggal pilih, meninggalkan dan dia aman. Atau bersamanya dan bersiap-siap untuk kehilangan dia."


Bukannya menjawab pilihan yang diberikan oleh papanya, tetapi malah tertawa sinis. Papanya bisa kejam, dia pun bisa lebih kejam lagi.


"Lakukan, Pah. Akan aku pastikan, karir Papa hancur ditanganku. Aku tidak akan menyerang fisik Papa, tapi aku akan hilangkan nama baik Papa sebagai pengacara kondang," ancam Piero.


"Apa kamu tega?"


"Kenapa tidak? Bukankah Papa juga tega sama aku?"


Sialan! Kenapa dia malah balik menggertakku? Aku tidak bisa meremehkan kemampuannya. Bagaimana pun darahku mengalir padanya. Sudah pasti dia menuruni sifatku. Aku pikir, dia akan sama seperti ibunya yang mudah sekali aku bodohi.


Sementara di tengah-tengah pesta, terlihat Sania bersama dengan Shopia. Mereka seperti lupa dengan apa yang terjadi. Karena keduanya terlihat asyik menikmati kue-kue yang menggugah selera. Sampai akhirnya Eliza datang menghampiri.


"Hey, gadis udik! Kamu dibayar berapa oleh Piero? Bukankah kamu pembantunya Anez?" tanya Eliza dengan nada sinis.


"Maksud Mbak apa ya? Saya tidak mengerti," Bukannya menjawab, Sania justru balik bertanya.


"Kamu pikir, aku tidak tahu kalau Piero menyewa pacar bohongan? Aku tahu semunya karena aku yang mengusulkannya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2