Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 91 Baby Girl


__ADS_3

Sudah seharian Sania berada di rumah sakit. Wajahnya sudah terlihat pucat menahan rasa sakit karena kontraksi. Namun sepertinya, pembukaannya belum juga naik masih saja pembukaan lima. Membuat Piero menjadi panik melihat keadaan istrinya.


"Sania, apa perlu Mas tengokin anak kita. Agar dia cepat keluar," ucap Piero disela-sela laki-laki tampan itu mengelus perut istrinya.


"Mas, yang benar saja, ini di rumah sakit. Bagaimana bisa kita melakukannya?" Sania memutar bola matanya malas mendengar apa yang suaminya katakan.


" Mas tidak tega melihat kamu kesakitan seperti itu."


"Mas, cari solusi yang lain. Perutku sakit sekali," keluh Sania.


"Kalau kalian mau menuntun jalan buat bayi kalian, lakukan saja. Biar aku menunggu di luar," celetuk Ganesha yang duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidur Sania.


"Tuh Sania, dengar apa yang Anez katakan. Dia juga sependapat dengan Mas."


Astaga! Kenapa bos dan assisten-nya mendadak otaknya konslet. Sudah tahu perutku lagi sakit, malah disuruh gituan, gerutu Sania dalam hati.


Tidak berapa lama kemudian. Seorang perawat datang untuk memeriksa keadaan Sania. Ganesha segera keluar dari ruangan. Karena tidak mungkin dia melihat apa yang akan perawat itu lakukan pada istri sahabatnya. Sementara Piero masih di sana, setia menemani istrinya.


"Mbak, kenapa lama sekali anakku lahir? Apa tidak ada cara lain untuk mempercepat kelahirannya?"


"Mbak perbanyak jalan untuk memperlancar persalinan," ucap perawat itu. "Kalau tidak coba minum minyak jarak. Itu cara alami untuk mempercepat kontraksi. Minum satu sampai dua ons atau dua sendok makan minyak jarak untuk merangsang pelepasan hormon prostaglandin, yang dapat membantu mematangkan serviks."


"Beli dari mana minyak seperti itu, Mbak?" tanya Sania.


"Ada di saya, Mbak. Tapi jangan bilang sama dokter kalau saya menawarkannya. Saya hanya ingin membantu," ucap perawat itu pelan.


"Baiklah, Mbak. Saya mau membelinya," ucap Sania langsung menyetujui.


"Ini, Mbak. Cukup seratus ribu saja." perawat itu memberikan minyak jarak dalam botol kecil pada Sania.


Seperti terhipnotis, Sania mengikuti saja apa yang perawat itu bilang. Dia meminum minyak jarak sesuai yang dianjurkan oleh perawat itu. Setelah mendapatkan uang bayaran dari Sania, perawat itu pun kembali memeriksa pasien yang lain.


Sania bangun dari tidurannya. Dia berjalan-jalan di kamarnya untuk mempercepat persalinan. Setelah hampir setengah jam berjalan-jalan ditemani oleh Piero, tiba-tiba saja Sania merasakan ada sesuatu yang pecah saat di akan berjongkok. Piero pun dengan sigap menggendong istrinya ke tempat tidur.

__ADS_1


"Anez, tolong tekan tobol hijau itu!" suruh Piero.


Ganesha hanya mengikuti perintah sahabatnya. Tidak lama kemudian, perawat dan dokter datang untuk memeriksa keadaan Sania. Namun, lagi-lagi pembukaan Sania belum juga lengkap.


"Baru pembukaan delapan, Mbak. Tapi sudah keluar darah," ucap Dokter itu dengan terus memastikan dan membantu melebarkan jalan lahir.


"Dok, sakit sekali! Kenapa lama sekali anakku lahir?" tanya Sania dengan air mata yang mulai merembes dari kedua sudut matanya.


"Sabar ya Mbak! Semuanya butuh proses," ucap dokter itu menenangkan.


Sampai akhirnya Sania merasakan mulas seperti ingin buang air besar. Barulah dokter kandungan menuntun Sania melahirkan bayinya. Sania pun hanya mengikuti apa yang dokter itu katakan.


"Ayo Mbak! Tarik napas dalam-dalam lalu lepaskan sambil mendorong bayinya," ucap dokter itu.


"Ayo Sayang, yang kuat ya! Jangan menyusahkan Mama ya, Nak! Cepatlah keluar, kasian Mama kesakitan," ucap Piero dengan mengelus lembut perut buncit Sania.


Sania hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti apa yang dokter itu katakan. Dia menarik napas dalam-dalam lalu melepaskannya seraya mengejan dengan mencengkeram erat tangan Piero. Sampai kukunya ada yang menancap di tangan calon papa muda itu.


Piero hanya bisa meringis menahan perih di tangannya. Dia ikut merasakan apa yang Sania rasakan. Apalagi saat wajah istrinya terlihat sangat pucat pasi. Piero hanya bisa membiarkan Sania melampiaskan rasa sakitnya dengan mencengkeramnya kuat tangannya. Sampai saat Sania sudah mendorong untuk ynag ketiga kalinya, barulah terdengar tangisan bayi di ruangan itu.


"Sania, lihatlah! Putri kita sudah lahir," seru Piero dengan hati yang sangat bahagia.


"Syukurlah, Mas!" sahut Sania lemas.


"Ayo Mbak, kita keluarkan saudaranya!" ajak Dokter itu saat mau membantu Sania mengeluarkan ari-ari. "Ayo di dorong lagi, Mbak!"


Tidak butuh waktu lama, ari-ari itu langsung keluar hanya dengan satu dorongan. Piero sedikit pun tidak melewatkan apa saja yang Sania alami saat istrinya itu menjalani proses persalinan. Sampai saat semuanya sudah beres barulah dia menemui Anez yang menunggu di luar ruangan.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Nyonya Mary yang ternyata ada di luar bersama Ganesha dan Nike.


"Sania dan bayiku selamat, Mah. Bayi perempuan seperti Anez," ucap Piero.


"Syukurlah!" Kompak Nyonya Mary, Nike dan Ganesha.

__ADS_1


"Selamat ya, Bro! Aku senang mendengarnya," ucap Ganesha.


"Makasih ya, Anez! Kamu menemani aku di sini," ucap Piero. "Mama tahu dari mana kalau Sania melahirkan?"


"Dari Prada. Tadi di pemakaman bertemu dengan dia dan bilang kalau istrimu mau melahirkan. Jadinya sepulang dari sana Mama langsung ke sini," ucap Nyonya Mary.


"Ya ampun Kak Piero, itu tangannya luka begitu. Ayo ke UGD dulu minta diobati!" ajak Nike.


"Tidak usah Nike. Biar Kakak minta pada perawat yang ada di dalam. Ini hanya luka kecil."


"Piero, aku pulang dulu ya! Ini sudah malam, Shopia pasti cemas menunggu di rumah," pamit Ganesha.


"Oh, iya. Gak apa, mungkin Sania juga sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap Piero.


"Kak Anez, apa boleh aku ikut pulang? Besok ada syuting pagi, aku takut kesiangan bangun kalau pulang terlalu malam," tanya Nike.


"Ya sudah!" sahut Ganesha.


"Kak Piero, aku pulang dulu ya! Selamat untuk kelahiran bayinya," pamit Nike dengan tersenyum manis. "Mama, aku pulang duluan!"


"Hati-hati Nike! Anez titip Nike ya!" pesan Nyonya Mary.


"Iya, Tan! Saya pulang duluan." Ganesha pun bergegas pergi setalah berpamitan dengan Nyonya Mary. Diikuti oleh Nike yang mengekor dari belakang.


Meskipun sebenarnya Ganesha merasa enggan jika harus berdua dengan Nike dalam satu mobil, tetapi dia merasa tidak enak hati jika menolak keinginan adik sahabatnya itu. Apalagi dia khawatir kejadian dulu terulang lagi jika Nike harus pulang sendiri saat hari sudah malam.


Sudahlah Anez! Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Mana mungkin Nike akan mengambil kesempatan untuk mendekatimu? Kamu tinggal menolaknya kalau dia sampai berbuat yang tidak-tidak," elak hati Ganesha.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Shopia update, yuk kepoin karya keren yang satu ini!



__ADS_2