
Ruang VVIP kini menjadi tempat perawatan sepasang suami istri korban kecelakaan. Setelah kondisi Ganesha terlihat stabil, dia pun disatukan ruang perawatannya dengan Shopia atas permintaan keluarga.
Sementara Pak Hamid berada di ruangan yang terpisah. Namun, kondisinya masih dalam keadaan koma. Pria paruh baya itu mengalami luka yang serius di kepalanya akibat benturan mobil yang kedua kalinya.
Keluarga dan kerabat pun bergantian menjenguk keadaan Shopia yang sudah bisa diajak bicara. Sementara Ganesha harus memakai penyangga di leher dan kakinya. Beruntung tidak mengalami luka serius di kepalanya seperti yang dialami oleh supir mereka.
Mengetahui kondisi Shopia yang sudah membaik, polisi pun datang untuk meminta keterangan padanya. Dengan lugas, Shopia menceritakan semuanya dari mulai dia pergi ke butik dan pulang dari sana, ternyata keadaan rem blong setelah mobil berjalan lumayan jauh dari butik.
"Terima kasih, Mbak Shopia atas keterangannya. Sesegera mungkin kami akan mengusut kasus ini. Karena sepertinya, ada orang yang sabotase mobil anda saat mobil sedang terparkir di parkiran butik. Apa sebelumnya, Mbak Shopia merasa ada yang mengikuti?" tanya Polisi itu.
"Tidak, Pak. Kami tidak merasa ada yang mengikuti," jawab Shopia.
"Baik Mbak. Silakan dilanjutkan kembali istirahatnya. Semoga kondisi Mbak Sophia dan suami segera pulih."
"Terima kasih, Pak!" sahut Shopia.
"Shopia, apa tidak ada orang yang kamu curiga?" tanya Nyonya Prada setelah kepergian polisi dari ruangan itu.
"Aku tidak tahu, Mah."
...***...
Sementara jauh dari rumah sakit tempat Shopia di rawat, terlihat El yang yang terus saja rewel bersama dengan perawatnya. Merasa lelah menghadapi El, Mira pun memutuskan untuk membawa El agar bertemu dengan Shopia.
"Mbak Sania, aku ke rumah sakit dulu ya! El rewel sekali kalau belum bertemu dengan Mama papanya. Bukankah kondisi Mbak Shopia stabil?" tanya Mira.
"Iya, kata Mas Piero sudah membaik. Nanti aku telpon dulu Mas Piero biar dikirim supir untuk mengantar Mbak Mira ke rumah sakit," ucap Sania seraya menyusui putrinya.
"Kalau begitu, aku ke rumah dulu. Mau menyiapkan keperluan El. Sayang di sini dulu ya sama Aunty," bujuk Mira.
Bukannya menurut, bayi cantik itu malah menangis saat Mira mau memberikan El pada pengasuhnya Neva. Mau tidak mau, akhirnya Mira pun membawa El ke rumah orang tua anak kecil itu.
Namun, baru saja Mira akan menyebrang jalan, ada sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di depan Mira. Meskipun awalnya perawat itu terkejut, akhirnya dia bisa bersikap biasa saat seorang laki-laki tampan berpakaian necis. Layaknya eksekutif muda keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Maaf Mbak! Saya mau tanya alamat teman sekolah. Katanya dia tinggal di daerah sini. Apakah Mbak kenal dengan Ganesha Oenelon?" tanya laki-laki yang memang terlihat seumuran dengan Ganesha.
"Oh, Tuan Ganesha. Rumahnya di sana, tapi Tuan Ganesha sedang di rawat di rumah sakit," jawab Mira.
"Oh, seperti itu rupanya. Terima kasih ya informasinya," ucap laki-laki itu dengan memegang tangan Mira mengajak bersalaman. "Ayo Dek! Ikut dengan Om!"
Mira seperti orang linglung, begitu saja memberikan El pada laki-laki itu. Begitupun dengan El yang menurut pada laki-laki yang tidak dikenalnya, sehingga dengan mudahnya laki-laki itu membawa El pergi dengan mobilnya.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa kamu memberikan El padanya?" tanya Nike yang baru saja datang. Dari jauh dia melihat kalau laki-laki itu membawa El pergi.
"Apa? Siapa yang membawa El?" Bukannya menjawab, Mira malah kebingungan karena kehilangan anak asuhnya. Dia langsung panik dengan berlari mengejar mobil yang tadi membawa El.
"Tolong tolong ada penculik," teriak Mira sambil berlari dan menangis sepanjang jalan.
"SANIA TELEPON KAK PIERO, EL DICULIK. AKU AKAN MENGEJARNYA," teriak Nike. Dia langsung naik kembali ke mobilnya dan berusaha mengejar penculik itu yang dia yakin pasti belum jauh.
"Cepat naik! Kamu yang tahu wajah penculiknya," suruh Nike pada Mira yang sedang berlari.
"Itu mobilnya, Mbak!" tunjuk Mira pada mobil yang terlihat di pintu gerbang perumahan. Namun saat mereka sudah sampai di sana. Mobil yang membawa El sudah melaju duluan.
"Pak Satpam, orang tadi itu penculik. Dia telah membawa putri Tuan Ganesha," adu Mira pada satpam yang berjaga.
"Apa Mbak? Penculik? Dia bilang itu keponakannya, jadi saya tidak menghentikan dia," tanya satpam kaget.
"Sudah Pak! Cepat buka portalnya!" suruh Nike dengan nada ketus.
Dia langsung menambah kecepatannya saat sudah berada di jalan raya. Dari jauh dia melihat mobil yang membawa El masuk ke pom bensin. Nike pun segera mengirim pesan pada Piero agar segera mengikutinya.
"Sial! Dia cepat sekali mengisi bensinnya. Apa orangnya sadar, kalau kita mengikuti?" gumam Nike.
Gadis itu terus saja mengikuti mobil yang membawa El. Sampai akhirnya mobil itu hilang dibalik tembok yang kokoh sebuah rumah yang megah. Nike akhirnya menghentikan mobilnya tepat di depan rumah itu.
Baru saja Nike selesai mengirim lokasi pada Piero, terdengar kaca mobilnya ada yang mengetuk. Rupanya penculik dan temannya itu sudah mengepung mobil Nike. Mereka tahu kalau dia diikuti oleh Nike. Namun penculik itu sengaja membiarkan kedua gadis itu mengikutinya agar bisa dia jadian pemuas hasratnya saat tahu kalau seorang artis pendatang baru sedang mengikutinya.
__ADS_1
"Mbak Nike, kita harus bagaimana?" tanya Mira pelan.
"Kamu tenang saja! Sebentar lagi Kak Piero datang," bisik Nike pelan.
"KELUAR KALIAN! KALAU TIDAK INGIN AKU RUSAK MOBILNYA," teriak laki-laki itu.
Nike pun hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Diikuti oleh Mira dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan. Pria tampan yang berpakaian necis itu tersenyum miring melihat Mira yang ketakutan saat melihatnya.
"Ada apa kalian mengikuti aku?" tanya laki-laki itu dengan wajah tanpa dosa.
"Kembalikan El!" suruh Nike.
"Cepat tangkap kedua gadis ini, sebelum Nona Eliza datang," suruh temannya laki-laki itu.
"Bos, boleh aku menyicipnya sedikit?"
"Tidak! Sebelum aku menikmatinya," ucap penculik yang membawa El kabur.
Cih! Siapa sudi melayani kamu. Kak Piero cepatlah datang! batin Nike.
Dia segera membawa Nike dan Mira masuk ke dalam rumah megah itu. Hingga tidak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Nike dan Mira pun segera dimasukkan ke dalam kamar dan segera menguncinya. Setelah terlebih dahulu menutup mulut mereka dengan lakban kain dan mengikat tangan kedua gadis itu.
"Awas saja kalau kalian berisik! Selamanya kalian tidak akan bebas. Tapi kalau kalian menurut, hanya anak kecil itu yang akan dijual di pasar gelap. Jadi lebih baik kalian diam saja," ancam penculik itu
...~Bersambung~...
...Ayo Kakak dikencangkan dukungannya! Jangan lupa klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih...
Sambil nunggu update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1