Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 66 Nikah bohongan?


__ADS_3

Perjalanan yang hanya ditempuh dalam waktu lima belas menit, kini terasa sangat lama. Piero terus saja teringat dengan apa yang mamanya katakana, yang memintanya untuk tidak pergi dari rumah itu. Namun, sikap papanya yang seperti itu, membuatnya tidak mengindahkan kata-kata mamanya.


“Mas, maafin aku ya! Gara-gara aku, kalian bertengkar. Padahal aku tidak mau menjadi penyebab Mas menjadi anak yang durhaka. Karena bagaimana pun, beliau papanya, Mas.” Sania memulai pembicaraan saat mereka menuju ke apartemen.


“Mas, hanya ingin Papa lebih mengerti anaknya, Sania. Selama ini, Papa selalu memaksakan kehendaknya.”


“Begitu ya, Mas. Maaf kalau aku jadi sok tahu. Oh, iya Mas, Lebih baik kita ke rumah Mbak Shopia dulu. Katanya nenek ada di sana.”


“Baiklah, kita langsung ke sana. Hari ini aku masih cuti, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?”


“Pergi kemana ya, Mas? Nonton bioskop aja, Mas. Aku ingin merasakan pacaran ala anak kota, soalnya dulu di kampung aku jauh dari kota. Jadi kita pacarannya di jembatan kalau sore-sore sambil menunggu matahari terbenam.”


“Seriusan kamu belum pernah nonton bioskop? Tapi ... Apa sekarang kita pacaran?”


“Menurut Mas? Apa kita hanya nikah bohong-bohongan aja? Seperti kemarin kita pacaran bohong-bohongan," tanya Sania. "Lagian aku juga pernah nonton bioskop. Tapi hanya sama teman perempuan. Karena aku dan temanku sama-sama jomblo."


Sama saja denganku. Aku pun belum pernah nonton berdua dengan perempuan. Biasanya hanya berdua dengan Ganesha atau rame-rame dengan yang lainnya, batin Piero.


"Tidak Sania, kita bukan menikah bohongan. Tapi kita butuh waktu untuk saling membuka diri. Ada baiknya kalau kita mencoba seperti orang pacaran dulu. Bagaimana, apa kamu setuju?"


"Iya, Mas!" sahut Sania.


Piero membelokkan mobilnya menuju ke arah rumah Ganesha. Karena memang rumah sahabatnya itu berada di sebelah utara dari rumah orang tuanya. Sehingga dia harus mengambil jalur lain agar sampai ke rumah sahabatnya.


Sesampainya di rumah Ganesha, Terlihat Shopia yang sedang berjemur seraya olah raga Yoga di taman depan. Ibu hamil itu tersenyum manis melihat kedatangan Piero dan Sania. Begitupun dengan Piero dan Sania yang membalas tersenyum pada Nyonya rumah itu.


“Wah, senang sekali melihat kedatangan kalian. Ayo masuk, kita ngobrol di dalam!” ajak Shopia.


“Terima kasih, Mbak Shopia. Maaf Mbak, apa nenek ada di sini?” tanya Sania.


“Ada di dalam. Sepertinya sedang ngobrol di dapur dengan Bi Sari. Biarkan saja Nenek tinggal di sini. Agar kamu bisa melihatnya setiap hari.”


"Apa tidak merepotkan, Mbak? Mungkin besok Nenek akan pulang," ucap Sania.


"Tidak, Sania. Biarkan saja Nenek kamu tinggal di kamar bekas kamu. Bukankah kamu akan tinggal bersama dengan Mas Piero?"


Sania pun masuk ke dalam untuk menemui Nek Ratmi. Benar saja, perempuan yang sebentar lagi lama akan memasuki angka tujuh itu, sedang berbincang dengan Bi Sari. Mereka saling berbagi pengalaman tentang pekerjaan dan majikan mereka.

__ADS_1


“Nenek!” panggil Sania seraya mendekati wanita tua itu.


“Sania, datang dengan siapa?” tanya Nek Ratmi.


“Aku datang dengan Mas Piero. Mungkin masih di depan berbincang dengan Mbak Shopia.”


“Oh, putri majikan nenek memang sangat baik sama seperti ibunya," ucap Nek Ratmi tersenyum pada cucunya.


"Maksud Nenek siapa? Mbak Shopia?"


"Iya, Sania. Dulu Nenek pernah bekerja di rumah keluarganya saat kamu masih kecil. Tapi semenjak ayah kamu menikah lagi, terpaksa Nenek tinggal di kampung menjaga kamu."


Sania pun ikut larut dalam obrolan bersama dengan neneknya. Tidak lama kemudian Shopia bergabung karena Piero sedang berbicara berdua dengan Ganesha di ruang kerja. Ganesha memilih bekerja di rumah dan meminta Wenny untuk mengantar semua pekerjaannya ke rumah.


"Piero, kamu carikan pengawal bayangan untuk istriku. Aku tidak ingin dia terancam karena masalah keluarganya," suruh Ganesha saat keduanya berbicara di ruang kerja.


"Mau yang legal atau yang tidak?" tanya Piero.


"Aku mau yang profesional."


"Kenapa tidak mengubungi Elgar, bukankah keluarganya punya pengawal pribadi yang tangguh?"


Sama saja dengan kamu Anez. Mereka seperti itu karena memiliki segalanya jadi terkadang semaunya. Tapi setahu aku, keluarga Wiratama memang arogan pada lawan bisnisnya tapi mereka sering menolong pengusaha yang berada diambang kebangkrutan. Sudahlah, biar aku sendiri yang meminta tolong padanya, batin Piero.


"Kamu tenang saja, biar aku yang urus semuanya. Tapi aku tidak menyangka, kalau Shopia ternyata bersaudara dengan Kak Jordan dan Eliza. Bagaimana reaksi Eliza kalau dia tahu, ternyata saudara Shopia. Dia kan sangat membenci istri kamu."


"Entahlah! Aku jadi tidak mengenali Eliza. Sikapnya jadi jauh berubah dari saat kita masih sekolah dulu."


"Biarkan saja, Anez. Yang penting dia tidak merusak kebahagian kita."


"Apa kamu sudah mulai mencintai Sania?"


"Belum, tapi aku sangat peduli padanya. Oh iya, Anez, apa kamu mau ikut menonton di bioskop? Tadi Sania mengajakku menonton mumpung masih cuti."


"Piero, apa kamu ingin tahu bagaimana cara cepat agar kamu segera mencintai istrimu?"


"Apa kamu tahu caranya?"

__ADS_1


"Tentu saja!"


"Caranya bagaimana?" tanya Piero dengan wajah yang serius.


"Kamu segera hamili istri kamu. Setelah kalian saling memberikan tubuh kalian seutuhnya, pasti kalian akan saling ketergantungan seperti aku."


"Apa benar seperti itu. Apa rasanya akan nikmat jika kita melakukannya tanpa cinta?"


"Bagi seorang lelaki, melakukan hal itu tanpa cinta pun rasanya tidak akan jauh dengan melakukannya dengan cinta. Kamu coba saja," ucap Ganesha.


"Baiklah, tapi aku khawatir akan menyakiti Sania."


"Kenapa kamu lambat sekali menaklukkan hati perempuan. Dia istri kamu, kamu berhak atas dirinya."


Benar juga yang Anez katakan. Dia saja dulunya sangat tidak menyukai Shopia tapi setelah malam itu, perlahan pandangannya pada Shopia berubah. Tapi entahlah, bisa saja karena dari awal sebenarnya dia menyukai Shopia tanpa disadarinya, batin Piero.


Sudah merasa puas berbincang di ruang kerja seraya Ganesha mengecek pekerjaannya, mereka pun akhirnya keluar dari ruang kerja karena sudah waktunya jam makan siang. Mereka sepakat untuk makan siang di luar, sekalian menonton bioskop agar tidak terlalu banyak pengunjung jika menonton di jam kerja.


"Shopia, kita makan siang di luar saja. Piero mengajak kita menonton bersama," ucap Ganesha saat bertemu dengan istrinya.


"Menonton? Ini kan masih siang, Mas." Shopia terlihat mengerutkan keningnya.


"Iya, gak apa. Hari ini sedang tidak banyak pekerjaan jadi Mas bisa santai sedikit."


"Baiklah, Mas. Aku ganti baju dulu."


"Ayo ke atasnya bareng. Mas juga mau ganti baju dulu," ajak Ganesha dengan menuntun istrinya.


Namun, bukan Ganesha jika tidak bisa memanfaatkan kesempatan. Dia memaksa Shopia agar dia yang memakai baju pada istrinya, Tentu saja dengan memberikan kecupan di beberapa titik sensitif istrinya, membuat ibu hamil itu menggeliat kegelian.


"Ah ... Mas ...."


"Kenapa Sayang? Apa kamu menginginkan, Mas? Jangan sekarang ya! Sepulang dari bioskop, Mas pasti akan membuat kamu puas, sepuas-sepuasnya."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2