
Piero datang dengan tergesa, bersamaan dengan Tuan Jody dan Jordan. Mereka sama-sama terkejut dengan berita yang beredar di media online dan offline. Tentang kecelakaan yang menimpa Ganesha dan Shopia.
Namun, saat mereka tiba di klinik tempat Shopia mendapatkan pertolongan pertama, ternyata ketiga pasien korban kecelakaan itu sudah dipindahkan ke rumah sakit Bhayangkara. Piero hanya bisa bertanya mengenai kondisi sahabatnya.
"Dokter, Bagaimana keadaan pasien?" tanya Piero pada dokter yang memberikan pertolongan pertama.
"Pasien atas nama Ganesha dan Hamid, kondisinya kritis karena air bag yang harusnya melindungi mereka pecah saat benturan yang ke dua. Sementara kondisi istrinya stabil hanya syok saja," jelas dokter yang mengetahui dari polisi tentang keadaan mobil Ganesha.
"Baik, Dok! Terima kasih," ucap Piero.
Tuan Jody dan Jordan hanya diam saja. Mereka sedang memikirkan penyebab dari kecelakaan itu. Sampai akhirnya ayah dan anak itu memutuskan untuk pergi ke kantor polisi terlebih dahulu, sedangkan Piero langsung k rumah sakit untuk memastikan kondisi sahabatnya.
Sesampainya di kantor polisi. Tuan Jody langsung bertanya pada komandan yang menangani kecelakaan putrinya. Raut wajahnya terlihat tegang mendengar penjelasan dari komandan itu.
"Komandan bisa dijelaskan penyebab dari kecelakaan putriku?" tanya Tuan Jody.
"Kondisi rem mobil blong Tuan. Sepertinya ada yang memutuskannya. Namun tidak langsung diputuskan hanya sebagian saja. Sehingga semakin lama dan semakin sering rem itu di tarik, ia akan putus dengan sendirinya. Hal itu yang membuat supir lama menyadari kalau remnya blong," jelas komandan polisi itu meminum dulu air putih yang ada di mejanya sebelum dia melanjutkan penjelasannya.
"Menurut kesaksian warga, mobil putri Anda menghantam pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. Namun kondisi tanah ladang yang tidak rata, membuat mobil itu menjadi tidak terlalu cepat lajunya. Meskipun harus berakhir dengan menabrak pohon yang besar dan mengakibatkan air bag pas posisi supir dan penumpang di belakangnya menjadi pecah."
"Apa sudah diselidiki siapa pelakunya?" tanya Tuan Jody penuh harap.
"Masih dalam proses, Tuan."
"Terima kasih komandan. Tolong selidiki sampai tuntas, penyebab kecelakaan putriku."
"Baik, Tuan. Kami pasti akan mengusut kasus ini dengan tuntas."
...***...
Berbeda dengan Piero yang baru sampai di rumah sakit. Dia langsung menunggu Ganesha dan yang sedang menjalani operasi karena patah kaki dan lehernya, sedangkan supir kondisinya koma.
"Piero, bagaimana keadaan Anez?" tanya Nyonya Prada yang baru saja datang ke rumah sakit.
"Kita berdoa saja untuk keselamatannya, Mah! Maafkan aku tidak bisa menjaga Anez," ucap Piero dengan menitikkan air mata.
__ADS_1
Sungguh, Piero sangat ketakutan jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada sahabatnya. Dia berjanji dalam hatinya, tidak akan menuntut Anez untuk melakukan hal yang tidak diinginkan oleh sahabatnya, asalkan laki-laki itu kembali sehat seperti sedia kala.
"Anez ...." Nyonya Prada tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung menangis sesenggukan dengan apa yang terjadi pada putra semata wayangnya.
Tidak jauh berbeda dengan Nyonya Prada, Tuan Galen pun ikut menitikkan air matanya. Harapan dia satu-satunya kini sedang berjuang sendiri untuk bertahan hidup.
Setelah mereka menunggu lebih dari satu jam, terlihat lampu ruang operasi itu padam. Tidak berapa lama kemudian seorang dokter keluar dari sana dengan wajah yang terlihat lelah. Piero dan Nyonya Prada serta Tuan Galen segera memburu dokter yang sudah melakukan tindakan operasi pada putranya.
"Dok, bagaimana keadaan Anez?"
"Dok, bagaimana keadaan putra saya?"
"Operasinya berjalan lancar, Tuan, Nyonya. Mungkin sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU. Anda bisa melihatnya dengan bergantian saat pasien sudah dipindahkan," ucap dokter itu panjang lebar.
"Baik, Dok. Terima kasih!" Kompak Piero dan orang tua Anez.
"Saya permisi Tuan, Nyonya." pamit dokter itu.
"Iya, Dok. Silakan!"
"Piero, bagaimana keadaan Shopia?" tanya Nyonya Prada.
"Shopia kondisinya stabil. Tapi aku juga belum melihatnya. Kata perawat ada di ruang perawatan VIP," ucap Piero.
"Apa Tuan Jody sudah tahu?" tanya Tuan Galen yang sedari tadi diam.
"Sudah Om. Tadi aku datang ke tempat kejadian bersama dengan Tuan Jody dan Jordan. Namun, beliau pergi ke kantor polisi dulu. Sementara aku langsung ke sini," ucap Piero.
"Kalau begitu, Mama mau melihat keadaan Shopia dulu. Nanti kalau anez sudah dipindahkan, bilang Mama ya!"
"Iya, Mah. Aku pasti akan segera menghubungi Mama."
...***...
Sementara di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah kamar yang luas dengan interior seperti kamar seorang putri. Terlihat seorang gadis sedang tertawa bahagia. Dia merasa puas karena rencananya berjalan dengan mulus.
__ADS_1
"Rasakan pembalasanku anak sialan. Gara-gara kamu, aku harus kehilangan Mama. Kalian pikir, aku akan menurut begitu saja pada kalian. Cih! Aku ingin kalian juga ikut merasakan sakitnya kehilangan. Untung saja anak buah opa ada yang mau membantu aku untuk memusnahkan satu persatu orang-orang yang sudah menyebabkan Mama meninggal." Gadis itu langsung mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi orang suruhannya.
"Hallo, Nona. Apa Nona sudah melihat berita?" tanya seseorang di seberang sana saat panggilan teleponnya tersambung.
"Iya. Aku puas dengan hasil kerjamu. Sekarang kamu lakukan rencana kita selanjutnya. Kamu harus ingat, lakukan tugasmu dengan baik saat mereka lengah."
"Siap, Nona. Anda jangan khawatir, aku pasti bekerja dengan rapi."
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya."
Klik!
Gadis itu langsung menutup panggilan teleponnya. Dia tersenyum bahagia seraya menjatuhkan badannya di atas tempat tidur. Namun, sesaat kemudian wajah bahagia itu berubah sendu saat dia teringat dengan kepergian mamanya.
"Mama, maafkan aku! Aku tidak bisa membantu Mama waktu itu. Tapi aku akan membalaskan sakit hati Mama dan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan wanita kampung itu menjadi ahli waris keluarga Vuttion. Apalagi, sampai harus mendapatkan setengah dari kekayaan Papa. Tidak Shopia! Kamu tidak boleh mendapatkannya. Karena semua itu milikku!"
Eliza langsung bangun dari posisi tidurnya, Dia ingin memastikan keadaan Shopia di rumah sakit. Tidak lupa, dia membawa jaket hoodie, masker dan jaket. Agar tidak ada orang yang mengenalinya. Dia berniat untuk memakai semua itu saat sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Non, mau ke mana?" tanya pembantu rumah tangga keluarga Vuttion.
"Aku mau main dulu ke tempat teman. Kalau Papa pulang, bilang saja kalau aku tidak akan lama."
"Tapi Non. Tuan berpesan agar Nona tidak kemana-mana?"
"AKU BILANG, AKU MAU KE TEMPAT TEMAN! NGERTI!" bentak Eliza, membuat pembantu rumah tangga itu langsung menciut nyalinya melihat wajah sangar Eliza.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukunganya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1