Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 107 Kekhawatiran Piero


__ADS_3

Baru saja Piero membantu Ganesha pindah ke ruang perawatannya, dia dikejutkan oleh pesan dari mata-mata yang mengawasi Eliza di kantor polisi. Piero sengaja membayar orang agar tahu apa saja yang dilakukan oleh gadis itu.


08386xxxxx: [Tuan, ada yang mengunjungi Nona Eliza. Kalau tidak salah dia dipanggil Tante Mary. Sepertinya Nona Eliza meminta Nyonya itu agar membantunya bebas]


"Untuk apa Mama mengunjungi Eliza. Tidak bisa dibiarkan. Aku harus bicara dengan mama langsung. Kalau mama tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan, aku harus mengawasinya juga," gumam Piero.


"Piero, kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Ganesha dengan nada lemah. Dia melirik sahabatnya yang raut wajahnya terlihat tegang.


"Tidak apa, Anez. Aku pulang dulu ya! Mau ketemu Mama. Nanti aku minta Mama menemani kamu dulu."


"Iya gak apa! Makasih," ucap Ganesha tulus.


Piero hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Ganesha. Dia pun berlalu pergi meninggalkan sahabatnya menuju ke ruangan anak tempat El di rawat. Dia tersenyum saat melihat kondisi El sudah membaik dan terlihat ceria kembali.


"Halo El Sayang, sudah baikan cantik?" tanya Piero.


"Sudah Om. Makasih udah bebasin El," ucap Shopia dengan menirukan suara anak kecil.


"Sama-sama. Shopia, aku ada perlu ke luar. Aku titip Anez dulu," ucap Piero.


"Iya Mas. Nanti aku ke sana. El, mau ketemu Papa tidak?"


"Pa-pa ...." Anak kecil itu memanggil papa, sepertinya dia sudah kangen ingin bertemu dengan Ganesha.


"Nanti mama izin dulu sama perawat ya!"


"Shopia, aku pergi sekarang ya!" pamit Piero.


Setelah kepergian Piero, Shopia pun meminta izin kepada perawat untuk membawa El ke ruang perawatan Ganesha. Setelah dia diizinkan, Sophia pun langsung membawa El untuk menemui papanya.


El terlihat sangat senang sekali ketika dia bertemu dengan Ganesha. Meskipun keadaan Ganesha sangat mengkhawatirkan, tetapi hal itu tidak membuat El menjadi takut. Justru El tertawa saat melihat leher dan kaki Ganesha yang diperban serta digantung ke atas.


"El sayang, kamu baik-baik saja Nak? Papa kangen!" Ganesha terlihat menitikkan air matanya saat dia melihat wajah cantik putrinya. Dia sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bisa melihat putrinya kembali.

__ADS_1


"El kondisinya sudah stabil, kata dokter besok udah bisa pulang," jawab Sophia.


"Syukurlah nanti pulang ke rumah mama saja." temen Ganesha terulur ingin menyentuh tangan putrinya. Gadis kecil itu pun langsung menyambut jangan Papanya dengan berceloteh yang tidak bisa dimengerti oleh orang tuanya.


"Iya mas sama Mas dirawat di sini mungkin El akan bersama Mama di rumah dan aku yang akan menjaga Mas di sini."


"Maafkan Mas, tidak bisa menjaga kalian!" sesal Ganesha.


"Jangan bicara seperti itu, Mas! Kita tidak tahu musibah itu akan datang menimpa keluarga kita. Yang terpenting kita bisa bersama terus membesarkan dan merawat El." Shopia menggenggam tangan suaminya, untuk menguatkan hati Ganesha dan memberikan keyakinan pada suaminya kalau dia akan terus bersamanya.


"Terima kasih Sophia, selalu bersama Mas dalam keadaan apapun."


"Sudah Mas, jangan banyak pikiran! Lebih baik fokus dengan kesembuhan Mas. Agar kita bisa bermain bersama lagi dengan princess cantik kita," ucap Shopia dengan tersenyum. Meskipun sebenarnya dia juga merasakan kesedihan yang sama dengan suaminya. Tetapi Shopia berusaha tegar di depan laki-laki yang dicintainya.


...***...


Sementara itu, Piero langsung menuju ke rumah orang tuanya. Dia bergegas mencari keberadaan Nyonya Mary. Akan tetapi, dia tidak menemukan wanita cantik itu di sana. Akhirnya Piero memutuskan untuk menelpon mamanya.


"Hallo Mah, lagi di mana?" tanya Piero saat sambungan teleponnya tersambung.


"Iya, Mama tunggu di rumahku sebelum aku datang."


"Iya, Piero. Mama tunggu kamu di sini. Kebetulan juga Mama sedang free."


"Aku tutup ya, Mah!"


Piero langsung menutup panggilan teleponnya dan bergegas menuju ke rumahnya. Dia hanya tersenyum menertawakan kebodohannya. Kenapa tidak dari tadi dia menelpon mamanya. Mungkin dia tidak akan sia-sia dengan datang ke rumah orang tuanya.


Tidak butuh waktu lama untuk Piero sampai di rumahnya. Karena dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ditambah lagi jalanan yang tidak terlalu ramai. Membuat dia merasa leluasa memacu kendaraannya.


Sesampainya di rumah, dia sambut dengan Sania dan mamanya karena Nike sedang istirahat di kamarnya. Laki-laki tampan itu, langsung mengajak mamanya untuk berbicara serius di ruang kerjanya.


"Piero, ada apa? Sepertinya kamu serius sekali," tanya Nyonya Mary.

__ADS_1


"Mah, untuk apa Mama menemui Eliza? Jangan bilang kalau Mama mau membantu dia agar bisa bebas," tanya Piero dengan menatap lekat mamanya.


"Piero, Mama hanya kasian pada Eliza. Mama berharap dia bisa sadar dari kesalahannya," jawab Nyonya Mary dengan tenang.


"Lalu apa yang akan Mama lakukan?" selidik Piero.


"Mama hanya memberitahu Tuan Jean Levi tentang keadaan Eliza. Tapi sepertinya beliau tidak peduli. Padahal Eliza cucunya


Tuan Jean. Meskipun bukan putri kandung Lucy."


"Maksud Mama?" tanya Piero tidak mengerti.


"Papanya Eliza, adik di luar nikah Lucy. Tapi karena keluarga besar Levin tidak mau mengakuinya, papanya Eliza selalu berbuat semaunya. Dia selalu mencari cara agar bisa mempermalukan Keluarga Levin. Sampai akhirnya dia jatuh cinta pada sahabat mama dan mereka menikah diam-diam."


"Mama, apa benar Nike saudara kembar Eliza?"


"Iya, mereka kembar fraternal atau tidak identik. Mamanya meninggal setelah melahirkan sehingga Lucy berinisiatif membawa salah satu putrinya sedangkan satunya dititipkan di panti asuhan. Setelah satu tahun barulah mama membawanya ke rumah agar kamu memiliki teman saat Mama sedang kerja di luar kota. Tapi ternyata papa kamu marah saat dia tahu kalau Nike putri seorang penjahat."


"Mah, aku tidak keberatan Mama menyayangi Eliza ataupun Nike dengan alasan apapun. Tapi aku akan sangat keberatan jika Mama memuluskan rencana Eliza untuk kabur. Kalau Mama melakukan hal itu, berarti Mama akan berhadapan dengan aku."


"Piero, Mama seorang publik figur. Tentu Mama akan menjaga nama baik Mama agar tidak terlibat dengan kejahatan apapun. Mama juga sudah bilang sama Nike agar tidak mengikuti jejak Eliza. Karena hal itu akan membuat karir yang susah payah Mama dan Nike bangun pasti akan hancur seketika. Jadi kamu tenang saja. Mama tidak akan membantu Eliza untuk kabur dari sana."


"Syukurlah, Mama bisa berpikir seperti itu. Aku khawatir rasa sayang Mama pada Eliza akan mengalahkan logika Mama."


Sebenarnya aku ingin membebaskan Eliza karena tidak tega melihat dia tidur di atas ubin yang dingin. Tapi kata-kata Nike membuat aku mengurungkan niat untuk menyewa pengacara yang akan membela Eliza. Meskipun memang benar Eliza dan Nike lahir dari rahim yang sama. Akan tetapi wajah dan pribadi mereka sedikit berbeda. Maafkan aku Monika! Tidak bisa menjaga putri kamu dengan baik seperti yang telah aku janjikan sebelum kamu menghembuskan napas yang terakhir.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Anez update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.

__ADS_1



__ADS_2