
Semua orang sudah duduk melingkar. Mereka sengaja makan lesehan dengan beralaskan karpet. Ganesha mengambil posisi duduk di samping Shopia. Namun, dengan tidak tahu malunya, Dora duduk di samping Ganesha, sehingga laki-laki tampan itu diapit oleh dua wanita cantik. Dora tidak peduli dengan tatapan tidak suka dari orang tua Ganesha. Dia bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi hal itu.
"Dora, apa kamu lama di luar negeri hanya untuk jadi pelakor?" sengit Zara.
"Bicara kamu itu, tidak pernah berubah. Selalu saja sinis," ucap Dora santai. "Kak Anez, boleh minta dagingnya?"
"Ini punya Shopia. Kamu minta saja pada Piero," ucap Ganesha cuek.
Tumben Mas Aneh bersikap seperti itu, batin Shopia.
"Dora, tidak baik bersikap manja pada Anez. Sekarang kalian sudah bukan pasangan lagi. Lebih baik kalian menjaga jarak," tegur Prada.
"Iya, benar. Dalam keluarga Oenelon tidak dibenarkan memiliki istri dua. Saat sudah memutuskan untuk menikah maka tidak boleh ada perpisahan selain maut yang memisahkan. Ini sudah menjadi aturan keluarga secara turun temurun," timpal Galen.
Sialan! Kenapa aku baru tahu? Tapi aku pasti bisa merebut Anez kembali. Biarpun dia kaku, setidaknya Anez selalu menuruti kemauanku, batin Dora.
"Kamu dengar, Shopia. Tidak ada kata perpisahan dalam keluargaku selain terpisah karena maut. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi karena aku pasti akan mencari kamu," bisik Ganesha pelan.
Glek!
Shopia menelan ludahnya kasar mendengar apa yang Ganesha katakan. Dia benar-benar terjebak dalam pernikahan tanpa hati. Seandainya saja, Ganesha mencintainya, mungkin dia akan dengan senang hati selalu berada di sisi Ganesha.
"Selama tidak ada orang ketiga dalam pernikahan kita, aku tidak akan pernah pergi," ucap Shopia pelan.
Merasakan hawa-hawa yang kurang baik, Piero pun berinisiatif untuk memimpin doa sebelum mereka makan bersama. Sampai akhirnya tidak ada lagi orang yang berbicara di sana. Semuanya makan dalam diam menikmati steak daging.
Saat semua hidangan sudah habis tak bersisa. Barulah Zara memulai bicara. "Maaf semuanya, sepertinya aku pulang lebih dulu. Sudah terlalu malam."
"Iya gak apa, Zara. Makasih ya udah datang. Mas titip sahabatku," ucap Shopia dengan tersenyum manis.
"Iya, permisi semuanya!" pamit Gio, calon suami Zara.
__ADS_1
Setelah kepergian Zara dan Gio, tidak berapa lama kemudian Piero dan Jimmy pun menyusul. Mau tidak mau Dora pun ikut pulang. Karena orang tua Ganesha sepertinya tidak memberi celah buat dia agar berduaan dengan Ganesha.
Prada hanya tersenyum tipis melihat kepergian gadis itu. Dia dan Shopia pun membantu Bi Sari untuk membereskan sisa pesta. Sementara Galen mengajak putranya untuk berbicara berdua.
"Anez, Papa harap kamu mengerti dengan apa yang Papa katakan tadi pada Dora. Meskipun sebenarnya tidak ada aturan itu, tapi Papa tidak mau anak cucu Papa mengalami kegagalan dalam pernikahannya," ucap Galen dengan menatap lekat Ganesha.
"Iya, Pah. Aku tahu, tapi aku juga tidak bisa kalau bersikap kasar pada Dora. Dia terlalu lama mengisi hatiku," ungkap Ganesha.
"Untuk itu, lebih baik kamu menghindar. Papa yakin, sebenarnya posisi Dora sudah terkikis dengan keberadaan Shopia. Coba tanya hatimu, siapa yang lebih kamu inginkan untuk menemani hari-harimu. Kalau kamu masih gamang, pejamkan matamu dan lihat wajah siapa yang hadir dalam benakmu."
Selalu wajah Shopia yang aku lihat setiap kali aku memejamkan wajah. Wajah sedihnya, wajah putus asanya, dan senyum manisnya memenuhi pikiranku. Tapi aku masih belum bisa percaya kalau aku bisa jatuh cinta pada orang yang paling tidak aku sukai. Karena dia selalu ada di antara aku dan Dora, batin Ganesha.
"Anez, apa kamu mengerti dengan apa yang Papa katakan?" Galen menepuk pundak putranya yang terlihat sedang melamun.
"I-iya Pah. Aku mengerti," jawab Ganesha gugup.
"Jangan hanya bilang mengerti. Tapi harus dilakukan. Jangan sampai kamu menyesal jika nanti kehilangan seseorang yang berarti."
"Tidak akan, Pah. Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah jadi milikku."
"Pah, seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi. Papa lebih suka memiliki menantu siapa? Shopia apa Dora?"
"Dora memang cantik tapi Shopia juga tidak kalah cantik. Kalau Papa harus memilih, Papa akan memilih Shopia. Karena dia pandai berbaur dan memiliki sopan santun yang lumayan bagus. Sudahlah! Papa pulang dulu. Ingat Anez, jangan pernah memberi celah pada orang ketiga," pesan Papa Galen.
"Iya, Pah!" sahut Ganesha.
Ayah dan anak itu pun berjalan beriringan menghampiri dua wanita cantik yang sedang duduk berdua di sofa. Galen langsung tersenyum hangat pada Shopia yang melihat ke arahnya. Setelah dia berpamitan pada menantunya, kedua paruh baya itu langsung pulang ke rumahnya.
Kini tinggallah Shopia dan Ganesha yang sedang berdiri di teras. Shopia akan masuk ke dalam rumah saat mobil yang dikendarai oleh orang tuanya sudah tidak terlihat lagi. Namun, Ganesha segera mencekal tangan istrinya.
"Tunggu di balkon ya! Nanti aku nyusul," ucap Ganesha.
__ADS_1
"Iya, Mas." Shopia langsung pergi ke kamarnya setelah Ganesha melepaskan cekalan tangannya.
Wanita yang terlihat anggun dengan dress selutut itu, langsung menuju balkon kamarnya seperti apa yang suaminya minta. Sesampainya di sana, Shopia menumpukan tangan pada pagar pembatas. Kepalanya mendongak ke atas, melihat bintang yang berkelap-kelip dengan bulan sabit di antara ribuan bintang.
Shopia larut dalam pikirannya sendiri. Sampai tidak menyadari kedatangan Ganesha. Saat Ganesha mencium pipi kanannya, barulah Shopia tersadar dari lamunannya
"Happy birthday, Shopia. May your dreams come true."
Ganesha memasangkan sebuah kalung berlian bermata biru di leher jenjang istrinya. Tentu saja membuat Shopia sangat terkejut. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan hadiah dari suaminya.
"Mas ...." Shopia tidak melanjutkan ucapannya saat Ganesha membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah suaminya.
Laki-laki itu tersenyum manis melihat kekagetan istrinya. "Apa kamu suka?" tanya Ganesha dengan menatap lekat Shopia.
"Sangat suka, Mas. Terima kasih," ucap Shopia dengan mata yang berbinar.
Shopia dengan refleks memeluk Ganesha erat. Dia sangat bahagia karena Ganesha menyiapkan hadiah untuknya. Sebuah kado terbaik dalam hidupnya.
"Apa mau hadiah yang lain?" tanya Ganesha dengan menatap lekat wajah cantik Shopia.
"Memang masih ada hadiah lain?"
"Tentu saja. Hadiah ini pasti akan membuat kamu meminta lebih."
"Benarkah?! Hadiah apa, Mas?"
Tanpa bicara lagi, Ganesha langsung memberikan kode pada orang suruhannya agar menyalakan kembang api. Sehingga terdengar suara letupan dan cahaya kembang api yang menghiasi langit malam. Melihat semua itu, Shopia sampai menitikkan air mata karena hatinya sangat bahagia mendapatkan kejutan dari suaminya.
"Terima kasih Mas!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....