
Keesokan paginya karena tak tenang dengan sikap Diora semalam, Felisa pun ingin menanyakan perubahan kakaknya itu, semalam semenjak ia di antar pulang oleh lelaki dingin itu, ia bahkan belum menutup matanya sama sekali
Ia bangun dari kasurnya lalu beranjak keluar
"Mbak" Panggil Felisa
"Iya dek" Ucap Melati
"Abang mana mbak" Tanya Felisa
"Abang udah berangkat kerja sayang" Ucap Melati
Ia sedang memberikan sarapan untuk anaknya Meldia
"Yuk makan dulu" Ucap Melati
"Nanti aja mbak" Jawab Felisa
"Dek" Panggil Melati
"Ayo sarapan dulu" Ucapnya
"Tapi mbak" Ucap Felisa
"Kamu belum tidur kan, jadi harus makan, habis itu kamu tidur" Ucap Melati
"Ko mbak tau" Ucap Felisa
"Tau lah dek, kantung mata kamu aja udah buktiin" Ucap Melati
"Kenapa ko kamu gak tidur, sampai punya kantung mata" Ucap Ela
Ia baru selesai mandiin anaknya, dan kini bergabung di meja makan
"Gak papa mbak" Ucap Felisa
Ela sendiri tidak tau apa - apa, sebab semalam Faiz rewel sehingga ia sibuk membujuk anaknya untuk tidur, setelah anaknya tidur ia pun ketiduran bersamanya, sehingga peristiwa semalam tidak ada Ela yang terlibat di dalamnya
"Ada apa sih" Tanya Ela
"Gak tau mbak, Feli aja mau tanya sama mbak Mel dan bang Dio, tapi orangnya malah gak ada" Ucap Felisa manyun
Sebenarnya ia merasa kesal, sebab ia sudah sangat ingin bertanya kepada Diora namun orangnya malah tidak ada
"Tanya apa" Ucap Ela
"Sarapan dulu nanti mbak jelasin" Ucap Melati
"Kenapa harus sarapan dulu kan tinggal bilang aja Mel" Ucap Ela
Ia kasihan dengan adik sepupunya Felisa, seperti orang yang sudah menunggu penjelasan namun lawan bicaranya terus berbelit - belit
Ia menjadi kesal jadinya dengan sikap istri sepupunya ini, seperti ada yang di tutupi olehnya
"Ayo sarapan, setidaknya sarapan, biar kita punya tenaga menghadapi kenyataan" Ucap Melati
"Maksudnya" Ucap Ela kaget mendengar jawaban Melati
"Mbak" Ucap Felisa
Ela yang merasa keadaan mulai memanas pun mencoba melerai keduanya, ia takut karena ucapan Melati, Felisa menjadi salah faham dan menjadi kalut
"Ayo dek sarapan dulu, Fais mau makan apa, mama buatin roti yah" Ucap Ela
"Pake selai coklat ma" Ucap Fais
__ADS_1
"Okey" Ucap Ela
Felisa pun kemudian mengambil beberapa roti untuk sarapan, biar bagaimana pun ia harus tetap mengisi tenaganya
Setelah sarapan, tidak ada yang bersuara, mereka tenggelam dengan pemikiran mereka masing - masing
"Fais main sama Ade di depan yah" Ucap Ela
"Yuk dek main" Ajak Fais
Seolah faham dengan situasi, Fais pun menggandeng tangan Meldia dan membawanya ke depan untuk bermain
Kini di meja makan hanya tersisa tiga wanita dewasa
Setelah kepergian anak - anak, Melati pun kini membuka suara untuk memulai pembicaraan
"Dek" Panggil Melati
"Iya mbak" Jawab Felisa
"Mbak akan bicara serius sama kamu, semoga kamu faham yah" Ucap Melati
Felisa dan Ela pun diam mendengarkan
"Mbak bukan ingin membela suami mbak, yang disini notabennya kakak kalian, mbak hanya ingin menjelaskan maksud dari perbuatannya semalam kepada kamu Fel terutama Fendi" Ucap Melati
"Memangnya semalam ada apa mbak, apa yang terjadi kepada Felisa dan Fendi" Ucap Ela
"Dek, kamu ngapain" Tanya Ela
"El, jadi semalam, bang Dio gak senang sama Fendi" Ucap Melati
"Kenapa, bukannya baik - baik aja" Ucap Ela
"Iya mbak, benar kata mbak Ela, selama ini kalian baik - baik aja" Ucap Felisa
"Orang seperti itu" Ucap Felisa dan Ela bersamaan
"Maksudnya gimana Mel" Tanya Ela
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Apa kamu sudah mendengar tentang masa lalu Fendi" Tanya Melati
"Sudah mbak, bang Fendi sudah cerita dan Feli menerima" Ucap Felisa
"Apa kamu juga menerima kalau Fendi dulunya sebelum ia jadi prajurit, ia pernah membuat seorang gadis meninggal" Ucap Melati lantang
"Apa" Ucap Felisa dan Ela kaget
"Maksud mbak apa, gadis siapa" Ucap Felisa
"Iya Mel, gadis siapa, kok bisa" Ucap Ela
"Kamu pasti belum mendengar hal itu kan" Tanya Melati
"Fendi belum cerita ke kamu kan, karna memang dia gak berani" Ucap Melati
"Tapi mbak" Ucap Felisa
"Apa kamu pikir, kakak kamu akan dengan mudah menyerahkan kamu kepada lelaki yang pernah membuat seorang gadis meninggal, apa kamu yakin bisa hidup sama dia, apa kamu pikir kakak kamu akan tenang jika kamu bersamanya" Ucap Melati
Felisa hanya terdiam
"Tapi Mel, apa gak sebaiknya kita dengarin dulu dari versinya Fendi" Ucap Ela
__ADS_1
Ia mencoba bersikap bijak, mencoba menemukan titik terang, sebab ia percaya dengan lelaki tersebut, apalagi ia melihat Felisa bahagia bersamanya, ia ingin adek sepupunya itu bisa terus bahagia
"Apa lagi yang perlu di tanyakan El" Ucap Diora
Ia baru saja kembali, karna hanya kerja setengah hari
"Maksud aku gini bang" Ucap Ela
Diora menatap tajam Ela, Ela pun tak ingin berseteru dengan sepupunya itu
"Mulai sekarang kamu gak boleh bertemu sama dia dek" Ucap Diora tegas
"Tapi bang" Ucap Felisa
"Tidak ada tapi - tapi an" Ucap Diora
Kemudian ia pergi ke kamarnya
Felisa pun mengikutinya namun sayang pintu kamarnya di tutup dari dalam
"Bang" Panggil Felisa
Namun tak di gubris oleh Diora
"Dek" Panggil Melati
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Udah dek, tenang nanti kita bicara lagi sama bang Dio" Ucap Ela
"Hp kamu mana" Ucap Diora
Ia membuka pintu kamar hanya ingin menanyakan ponsel Felisa
"Gak bang, biarin Feli pegang hape" Ucap Felisa
"Gak boleh, sini hp kamu" Ucap Diora tegas
Diora pun mengambil ponsel Felisa, kemudian ia masuk kembali ke kamarnya
"Bang" Panggil Diora
Kini ia mulai terisak
"Sayang" Panggil Melati
"Mbak, tolong ambil hape Feli mbak" Ucap Felisa
"Iya sayang nanti mbak coba yah" Ucap Melati
"Ayo dek" Ucap Ela
"Iya mbak" Ucap Felisa
Ia pun pergi dengan Ela ke dalam kamarnya, sedangkan Melati masuk ke kamar mereka karena di buka oleh Diora
"Abang, apa gak papa ambil ponsel Feli, kasihan dia nya bang" Ucap Melati
"Abang tau sayang, tapi harus Abang lakuin, biar mereka gak saling berhubungan lagi dek" Ucap Diora
"Iya bang"Ucap Melati
"Abang juga gak tega, cuma Abang harus bersikap begini, Abang harap kamu maklum dek" Ucap Diora
"Iya sayang" Ucap Melati
__ADS_1
Mereka pun beristirahat, begitupun Felisa karena lelah menangis ia pun beristirahat.
Bersambung____