
Tinggal beberapa hari ulang tahun putri cantik Melati dan Diora yakni Meldia, sebentar lagi akan berusia empat tahun
Melati sedang di sibukkan dengan beberapa catatan yang harus ia beli untuk perlengkapan ulang tahun
"Dek, baru pulang" Tanya Melati
"Iya mbak" Jawab Felisa
"Kamu tolong pakai ponsel mbak, nelpon mbak Dena, udah nyampe apa belum" Ucap Melati
Saat ia akan menelepon, terdengar suara salam dari luar
"Assalamu Alaikum" Ucap sang tamu
"Walaikumsalam, dek tolong lihat siapa yang datang" Ucap Melati
"Iya mbak" Jawab Felisa
Kemudian menuju ruang depan
"Mbak Dena" Panggil Felisa
Ia memeluk kakak iparnya itu
"Adek" Ucap Dena
"Tante" Ucap Reihan
"Sayangku" Ucap Felisa
"Bang" Panggil Felisa
Ia menyalami tangan Putra
"Gimana kabar kamu sayang" Tanya sang kakak
"Alhamdulillah baik bang" Jawab Felisa
"Mbak lihat siapa yang datang" Teriak Felisa
Melati hendak berdiri untuk melihat, namun mereka keburu masuk
"Halo mbak" Ucap Dena
"Dena, Reihan, Putra,Ya Allah kangen banget" Ucap Melati berdiri lalu memeluk ketiganya
"Iya mbak, kangen banget" Ucap Dena
"Bang Dio kemana mbak" Tanya Putra
"Biasa sayang, kerja" Jawab Melati
"Bukannya lagi pemulihan mbak" Tanya Dena
"Katanya udah lebih sehat" Jawab Melati
"Syukurlah kalau begitu" Ucap Dena
"Yuk duduk dulu" Ucap Melati
"Iya mbak, btw mbak lagi ngapain tadi" Ucap Dena
"Ini lagi mencatat beberapa barang yang belum ada" Ucap Melati
"Tante, adek mana" Tanya Reihan mencari Meldia
Melati hendak menjawab keponakannya itu, namun suara mungil gadis cantik itu tiba - tiba terdengar memanggilnya
"Mama" Panggil Meldia yang baru bangun tidur
Ia mengucek matanya dan berjalan keluar kamar, ia belum sadar ada banyak orang di ruang Tv
"Mama kok aku seperti melihat bang Reihan" Ucap Meldia dengan polos
"Hahahaha" Semuanya tertawa
Melati memeluk anaknya itu, mengusap wajahnya dengan lembut, kemudian mengarahkannya pada siapa saja yang ada dalam ruangan
"Memang bang Reihan, tuh lihat" Ucap Melati
Meldia pun melihat ke arah Reihan dengan kesadaran penuh
"Adek" Panggil Reihan
"Abang" Ucap Meldi
Kemudian berlari memeluk sepupunya itu, Reihan pun mengelus rambut adiknya itu
"Mbak, kayaknya Reihan udah cocok deh jadi kakak" Ucap Felisa
__ADS_1
"Iya Den, penyayang banget dia kayak papa mamanya" Ucap Melati
"Tuh kan sayang, kau juga bilang apa" Ucap Putra
"Itu sih maunya Kamu" Ucap Dena
"Hahahaha" Tawa Melati dan Felisa
"Dosa loh Den kalau nolak, Rei juga udah gede, bolehlah" Ucap Melati
"Iya mbak, nanti di pikirkan" Ucap Dena
"Oke sayang" Ucap Melati
"Oh yah makan siang dulu yuk" Ajak Melati
"Ayo sayang kita ke dapur" Ucap Putra
Ia menggandeng tangan istrinya
"Wah so sweet" Ucap Felisa
"Wah jomblo ngiri bang" Ucap Dena
"Udah gak yah" Ucap Felisa
Kemudian berjalan melewati keduanya
"Hahahaha" Tawa Dena dan Putra
Melati yang mendengar omongan Felisa hanya tersenyum
Memang benar yang di katakan olehnya, sudah ada lelaki yang baik dekat dengannya
"Semoga bang Dio cepat luluh hatinya" Gumam Melati
"Yuk mbak" Ajak Dena
"Iya, Yuk sayang" Ajak Melati pada anak dan keponakannya
Reihan menggandeng tangan Meldia menuju dapur
Di ruang makan, mereka nampak berkumpul bersama
"Kangen masakan mbak sama Feli" Ucap Dena
"Kalau gitu makan sepuasnya sayang" Ucap Melati
"Wah mantap, soalnya rencananya mau nambah, hehehehe" Ucap Putra
"Wah dek, awas bongsor kami, kamu udah berisi gitu" Ucap Melati
"Iya sayang, nanti perut kamu makin buncit loh" Ucap Dena
"Buncit - buncit pun tetap kamu cinta kan" Ucap Putra bangga
"Ihhhhhh, belum tentu yah" Ucap Dena bergurau
"Hahahaha, tuh bang dengar" Ucap Felisa
"Jangan mau Den, udah gak tampan nanti" Ucap Melati memanasi
"Iya mbak, aku gak mau" Ucap Dena
"Wah memang kompak para wanita yah" Ucap Putra
"Tenang pa, Rei belain, papa bukan bongsor tapi gemoy" Ucap Reihan
"Hahahaha" Tawa semuanya
"Wah penerus kamu ni Den" Ucap Melati
"Iya dong mbak, kan anak aku" Ucap Dena
"Rei pintar banget sayang" Ucap Felisa
"Makasih Tante" Ucap Reihan
"Adek makan yang banyak juga biar makin gemoy kayak papa" Ucapnya pada Meldia
Mereka makan hingga seluruh makanan di atas meja tandas, Dena dan Putra menambah makanannya beberapa kali, mereka sangat merindukan masakan kedua saudarinya
"Bang, aku kenyang" Ucap Dena
"Iya sayang, Abang juga " Ucap Putra
"Abang, Meldi mau main" Ucap Meldia
"Yuk main sama abang" Ucap Reihan
__ADS_1
"Cuci tangan dulu sayang" Ucap Dena
"Iya ma, yuk dek Abang cuci tangannya" Ucap Reihan
ia menuntun Meldia ke wastafel lalu mencuci tangannya dan juga Meldia
"Calon lelaki hebat ni Reihan" Ucap Melati
"Aamiin mbak" Ucap Dena
"Wah gini nih, abis makan malah ngantuk" Ucap Putra
"Iya bang" Ucap Felisa
Ia juga merasakan hal yang sama
"Faktor kekenyangan" Ucap Melati
"Benar mbak" Ucap Dena
Ia pun berdiri lalu mengangkat piring - piring kotor di atas meja lalu menaruhnya di tempat cuci piring
"Biar Feli aja mbak yang cuci" Ucap Felisa
"Iya dek" Ucap Dena
kemudian duduk kembali
Felisa pun mulai mencuci semua piring kotor yang ada, sedangkan Dena dan yang lainnya sedang bercerita
"Mbak, kita ngobrol di depan aja yuk" Ucap Dena
"Yuk" Ucap Melati
"Abang tidur yah, ngantuk banget, capek juga perjalanan" Ucap Putra
"Iya bang" Ucap Dena
"Dek kita ke depan duluan yah" Ucap Melati pada Felisa
"Iya mbak" Jawab Felisa
Sesampainya di ruang depan, Dena dan Melati pun mengobrol
"Mbak, kenapa bang Dio ngambil ponsel Feli" Tanya Dena
"Jadi ceritanya bang Dio dengar kabar gak baik mengenai sepupu kamu Fendi, dek" Jawab Melati
"Gak baik gimana mbak" Ucap Dena
Melati pun menceritakan alasan ketidaksukaan Diora terhadap Fendi, dan Dena pun terkesiap mendengar perkataan Melati
"Astagfirullah mbak, gak kayak gitu ceritanya mbak" Ucap Dena
"Maksud kamu gimana Den, apa yang gak kayak gitu" Tanya Melati penasaran
"Mbak, memang benar saat itu Fendi ada di situ tapi gak kayak gitu ceritanya, Fendi gak melakukan hal seperti yang di tuduhkan kepadanya itu, kami keluarganya datang saat itu, dan kami tau kejadian yang sebenarnya" Ucap Dena
"Fendi berubah semenjak kejadian itu mbak, Fendi anak baik mbak, dia sangat baik" Ucap Dena mulai terisak
Tanpa sadar Felisa yang hendak ke kamarnya mendengar obrolan keduanya
"Mbak juga yakin gak mungkin Fendi seperti itu" Ucap Melati
"Iya mbak, adik aku gak begitu, dia kehilangan kakaknya Farel mbak, benci bencinya dia sama pacar kakaknya dia tidak mungkin melakukan hal tersebut, semua itu berakhir karena salah faham mbak" Ucap Dena terisak karena mengingat kejadian itu
"Aku bukan mau membela Fendi mbak, tapi memang saat itu aku sama kelurga aku di hubungi sama om Rahman dan kita semua ke rumah sakit dimana Farel di rawat, untuk mengurus jenazahnya, jadi aku sendiri mendengar langsung penuturan dari dokter sebab Fendi sendiri pun syok berat saat itu, om Rahman dan tante Beti, sapaan kecil untuk mamanya Fendi, pun tak kuat melihat keadaan kedua anak meraka mbak, papa aku sampai berusaha menguatkan om Rahman" Ucap Dena menjelaskan
"Mungkin Fendi yang bisa menjelaskan semuanya ke bang Dio" Ucapnya
"Kita doain aja yah, biar bang Dio luluh hatinya dan nanti bisa mendengar penjelasan dari Fendi
" Ucap Melati
"Aamiin" Ucap Dena
Kemudian menghapus air matanya
"Aamiin" Ucap Melati
"Aamiin" Ucap Felisa diam - diam
Mereka pun kembali menceritakan banyak hal lain, Felisa ikut nimbrung saat keduanya sedang tertawa, dan akhirnya mereka bertiga mengobrol dengan asyik di ruang tamu.
Bersambung_______
Dukung terus karya author yah Readers sayang 🥰
Terima kasih 🙏❤️🥰
__ADS_1