
Tiga hari sudah Melati dirawat paska selesai melahirkan, hari ini ia sudah diizinkan pulang oleh dokter yang merawatnya, selama beberapa hari ini pun banyak keluarga yang datang menjenguknya, Diora pun selalu menemani istri tercintanya itu
Felisa dan Tania juga sering menjenguknya, begitupun kedua orang tua Melati sendiri, mereka saling bergantian menjaga anaknya sebab surat cuti Diora sudah selesai dan harus masuk kantor seperti semula
Diora pun sering bolak balik rumah sakit sehabis pulang kerja, tak jarang ia suka meminta tolong adiknya untuk membawanya baju ganti
Hari ini semuanya sedang berkumpul, Diora pulang lebih awal dan langsung ke rumah sakit untuk membantu kepulangan istrinya
Felisa dan Tania sedang membantu memasukan barang – barang Melati ke dalam tas, sedangkan kedua orang tua melati sedang berebutan untuk menggendong cucu kesayangan mereka, sedangkan Diora sedang pergi keluar untuk menyelesaikan pembayaran di bagian administrasi
Di dalam ruangan,
“Ma, papa gendong sebentar dong” Ucap pak Hendra meminta kepada istrinya
“Iya sebentar pa” Ucap mama Devanka
Mama Devanka pun memberikan cucunya itu ke dalam gendongan sang suami, dan suaminya pun menerima cucunya tersebut
“Tan” Panggil Melati
“Iya mbak” Ucap Tania
“Nanti mbak pesan kue di kamu yah buat acara akikah dedek Meldi” Ucap Melati
“Iya siap mbak, untuk mbak Mel nanti Tania beri diskon” Ucap Tania
“Memangnya mbak Mel mau pesan berapa banyak” Tanya Tania
“Rencananya sih 100 kotak Tan” Jawab Melati
“Oke mbak siap, nanti mbak bayar setengahnya aja” Ucap Tania bernegosiasi
“Sudah, tidak perlu membayar untuk dedek Meldi gratis” Ucap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan
Semua orang pun kaget dan melihat ke arah pintu, ternyata ibu Riana yang datang
“Mama” Ucap Tania
“Tante” Ucap Melati dan juga Felisa
“Halo jeng” Sapa ibu Devanka
“Halo” Ucap Ibu Riana
Kemudian ia pun melihat bayi cantik yang sedang anteng di gendongan kakeknya, pak Hendra pun memberikan cucunya itu kepada ibu Riana
Ia baru sempat hadir untuk menjenguk menantu sahabatnya itu
“Mama kok datang gak kasih tau Tania” Ucap Tania
“Memangnya kalo mau datang harus izin di kamu nak” Ucap mamanya
“Yah bukan gitu juga, kalo tau mama datang kan, Tania bisa jemput” Ucap Tania menjelaskan
“Tidak usah mama bisa kok naik angkot sendiri” Ucap Riana
“Tante nanti Mel pesan kue 100 kotak boleh” Tanya Melati
“Boleh sayang, nanti tante bikin buat acara dedek Meldi, gratis” Ucap Riana
“Memangnya gak apa – apa tante kalau gratis” Ucap Melati
“Gak apa – apa sayang, anggap aja itu hadiah dari kami buat dedek Meldi” Ucap Riana
“Makasih yah tante” Ucap Melati
“Makasih yah jeng” Ucap ibu Devanka dan juga pak Hendra
Tok ... tok ... tok
“Permisi bu, saya mau melepas infusnya ibu karna sesuai petunjuk dokter bahwa ibu sudah bisa pulang hari ini, administrasinya sudah di lengkapi oleh bapak, dan ini ada beberapa obat yang harus ibu konsumsi di rumah, petunjuk untuk mengkonsumsi obatnya sudah tertulis di bagian depan plastik” Ucap seorang suster yang baru masuk
“Iya makasih sus” Ucap Melati
Suster tersebut pun langsung berjalan ke arah samping ranjang Melati, dengan sigap ia melepaskan jarum infus dari tangan Melati, lalu memberikan obat – obat yang tadi ia bawa, Melati pun menerima obat tersebut, kemudian suster pun pamit keluar
Diora pun masuk ke dalam ruangan
“Bagaimana apa semuanya sudah siap” Tanya Dio
“Sudah bang” Ucap Felisa
__ADS_1
“Sudah nak” Ucap mertuanya dan ibu Riana
Mereka semuanya kemudian pergi keluar menuju tempat parkir rumah sakit, mereka sudah dijemput oleh om nya Melati
Mereka tidak pulang ke rumah orang tua Melati, namun pulang ke rumah Diora
Sesampainya di rumah, Felisa dan Tania pun beranjak turun untuk membuka pintu rumah, sebelum ke rumah sakit mereka berdua sudah menghiasi ruang tamu untuk menyambut kepulangan kakak ipar dan keponakannya
Mereka berdua pun menyambut yang lainnya di depan pintu
“Selamat datang mbak Mel dan dedek Meldia” Ucap keduanya bersamaan
Melati pun tersenyum melihat sambutan adik ipar dan sahabatnya itu, yang lainnya pun juga ikut terharu, bahkan ibu Devanka dan pak Hendra pun sangat senang melihat anak mereka sangat disayangi oleh keluarga suaminya
Hanya Diora saja yang cemberut karna namanya tidak disebutkan dalam penyambutan
“Muka abang kenapa cemberut” Tanya Tania
“Gimana tidak cemberut, nama abang tidak kalian sebutkan, jadi abang gak di ajak masuk ni” Ucap Diora
“Hahahaha” Tawa semuanya saat mendengar penuturan Diora
Tania pun membisikan sesuatu ke telinga Felisa
1 ... 2 ... 3
Tania pun memberikan aba – aba kepada Felisa
“Selamat datang Abang Diora yang ganteng tapi suka ngambek” Ucap keduanya
“Hahahaha” Semuanya kembali tertawa mendengar ucapan dua gadis tersebut
Bahkan papa Hendra pun sampai tertawa terbahak – bahak melihat wajah menantunya yang sudah tidak beraturan karna kesal
“Sudah bang, jangan cemberut terus, masuk yuk” Ajak sang istri
Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah, Tania dan Felisa pun bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk semuanya, Melati sudah masuk ke dalam kamarnya dibantu Diora dan mamanya Devanka
Papa Hendra sedang bercerita dengan ibu Riana di ruang tamu, karna om Melati sudah pamit pulang, ia hanya mengantarkan mereka dan tidak ikut masuk
“Tante, om diminum dulu tehnya” Ucap Felisa menawarkan
“Iya, makasih sayang” Ucap kedua orang tua tersebut
Beberapa tetangga sebelah rumah pun datang bertamu untuk melihat malaikat kecil Diora, ibu Jamilah yang paling antusias
“Assalamualaikum” Ucap ibu Jamilah dan beberapa tetangga lainnya
“Walaikumsalam ibu – ibu” Ucap Diora dan yang lainnya
“Silahkan masuk bu Jamilah, bu Raya dan lainnya” Ucap Felisa mempersilahkan
Para tetangga itu pun masuk ke dalam rumah dan bersalaman sambil mengucapkan selamat kepada beberapa orang yang berada di dalam
“Melati dan dedeknya dimana, Dio” Tanya ibu Jamilah
“Mereka sedang beristirahat bu di kamar” Ucap Diora
“Wah gak bisa lihat dedeknya dong kita” Ucap bu Raya
“Bisa ko ibu – ibu mari saya antarkan ke kamar, tapi mohon untuk tidak berisik yah bu karna adek bayinya dan mamanya lagi istirahat” Ucap ibu Devanka
Para ibu – ibu tersebut menuju kamar Melati ditemani ibu Devanka, mereka menengok sebentar bayi cantik tersebut dan kembali lagi ke ruang tamu
“Wah cantik sekali anakmu Dio” Ucap bu Jamilah
Dan diiyakan oleh ibu – ibu yang lainnya
“Bibit unggul ini, lihat saja papa dan mamanya aja ganteng dan cantik” Ucap bu Raya menimpali
“Iya kita semua setuju” Ucap yang lainnya
“Hehehe, makasih yah ibu – ibu semua atas pujiannya” Ucap Diora
Bu Jamilah dan tetangga yang lainnya pun memberikan buah tangan sebagai hadiah atas kelahiran anak tetangganya tersebut, dan Diora pun menerimanya dengan senang hati
“Sekali lagi terima kasih yah ibu – ibu sudah mau datang melihat cucu kami dan terima kasih juga karna telah membawa hadiah” Ucap pak Hendra
Ia tidak menyangka bahwa anak dan cucunya sangat disayangi oleh tetangga – tentangganya
“Iya, sama – sama pak, bu, Dio, kalau begitu kami semua permisi pulang dulu yah” Ucap Bu Jamila mewakili ibu – ibu yang lainnya
__ADS_1
“Silahkan bu” Ucap Diora sambil mengantar para tetangganya ke depan rumah
Setelah itu ia pun kembali masuk dan bergabung dengan yang lainnya, mereka pun kembali berbincang – bincang, dan tak terasa waktu sudah malam
"Om, Tante, semuanya, kita makan malam dulu yuk" Ucap Felisa mengajak para orang tua tersebut
Saat abangnya dan para orang tua sedang bercerita, ia dan Tania kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam, karena keluarganya tersebut pasti lapar
Dan seperti sekarang sudah tersedia di atas meja, menu sederhana dan lezat, ada nasi putih hangat, tumis kangkung, dan ikan bakar bumbu minang serta sambal dabu - dabu nya
Hari ini dia ingin masak enak untuk menyambut kedatangan kakak dan kakak iparnya kembali ke rumah, Diora pun mengambil makanan untuk menyuapi istrinya di dalam kamar karena Melati belum bisa banyak bergerak
Sedangkan yang lainnya memakan masakan Felisa dan Tania di ruang makan dengan sangat nikmat, setelah selesai makan malam dan beristirahat sebentar
Pak Hendra dan ibu Devanka pun pamit pulang, begitupun Tania dan ibunya
“Feli, aku pulang dulu yah” Pamit Tania
“Iya beb” Ucap Felisa
“Papa dan mama pulang dulu yah Dio nanti besok mama kesini lagi” Ucap ibu Devanka
“Iya ma, pa, hati – hati di jalan yah, maaf tidak bisa mengantar” Ucap Dio
“Iya tidak apa – apa, tante dan om pulang dulu yah Fel” Pamit keduanya
“Iya tante” Ucap Feli menyalami punggung tangan mertua abangnya
Ibu Riana pun juga pamit kepada Diora dan Felisa, mereka pun kembali ke rumahnya masing – masing
Diora dan Felisa pun kembali masuk ke dalam dan mereka mengunci semua pintu dan jendela rumahnya
Diora pun bergegas mandi karna tadi ia belum sempat membersihkan diri dari pulang bekerja, setelah itu ia pun naik ke atas ranjang untuk tidur sebentar, karna sudah dipastikan nanti malam ia harus begadang menjaga bayi cantiknya tersebut, karna kondisi Melati belum cukup pulih maka ia harus menjadi suami dan ayah yang siaga
Di lokasi lain dalam kamar Felisa, ia sedang membalas ucapan selamat dari seseorang
To Beruang Kutub :
“Makasih bang untuk ucapannya” Ucap Felisa membalas
Setelah melihat postingan Felisa kemarin, Fendi pun baru sempat mengucapkan selamat atas kelahiran keponakan gebetannya itu, disebabkan kemarin ia sangat sibuk seharian di kesatuan
Acara balas membalas pesan pun mereka lakukan dan tak terasa sudah jam 02.00 wib, Felisa maupun Fendi bahkan tidak merasa mengantuk sedikitpun, hanya perasaan bahagia yang mereka rasakan karena sudah mulai akrab antara satu dan yang lainnya, bahkan Fendi maupun Felisa membalas pesan masing – masing dengan sangat cepat, lebih cepat mungkin dari kecepatan pesawat 🤭 (Kira – kira seperti itu yah)
Percakapan dalam pesan mereka pun sangat beragam tidak hanya tentang keponakan Felisa, namun juga tentang hal umum lainnya, perlahan namun pasti semesta pun seakan mendukung kedekatan keduanya dengan tidak membiarkan sinyalnya untuk jelek
Seolah radar pemancar sinyal menangkap dengan cepat pesan yang mereka kirimkan, mereka baru selesai berkirim pesan saat daya baterai ponsel keduanya yang hampir habis
“Bang, sudah dulu yah, soalnya ponsel Feli dayanya mau habis” Ketik Feli memberi tau
“Iya abang juga, sampai jumpa yah” balas Fendi
"Iya bang, selamat tidur" Ucap Felisa
"Kamu juga dek, mimpi indah yah" Balas Fendi
Isi pesan keduanya pun tidak terlalu formal seperti sebelumnya, mereka lebih menggunakan bahasa yang sederhana, entah siapa yang melakukannya lebih dulu, tentu saja pak prajurit dingin tersebut, ia ingin lebih santai berkomunikasi dengan gadis pujaannya itu
Percakapan dalam pesan itu pun berakhir, mereka pun mematikan ponsel masing – masing dan mengisi daya pada ponsel mereka, kemudian mereka pun beranjak tidur dengan perasaan yang bahagia.
Wah ... Author ucapkan selamat datang di rumah dedek Meldia, semoga menjadi anak yang solehah yah
Selamat juga buat pak Fendi atas perjuangannya mendekati Felisa, semoga selalu lancar yah
Wah jaringan kuotanya lancar yah pak 🤭
Ingat di isi loh pak, jangan sampai habis nanti sinyalnya jelek lagi pas komunikasi 😁 semoga saja tidak yah atau mungkin Readers ada yang berminat buat mengisi kuota pak komandan atau pun Felisa, boleh juga tuh 🤣
Btw,
Readers juga mendoakan yang terbaik kok, iya kan Readers ☺️
Dan buat Readers semua, Author ucapkan banyak terima kasih karna selalu mendukung karya Author 🤗 dan selalu pantengin karya Author yah semoga selalu suka 🥰 Saranghae semua 😘
__ADS_1