
Keesokan harinya pukul 04.00 Wib,
Felisa dan yang lainnya sudah bangun, mereka segera membersihkan sisa – sisa pekerjaan semalam dan menyapu halaman
Sehabis itu mereka segera mandi karna waktu subuh akan segera tiba, tak lama kemudian adzan subuh berkumandang, dan mereka pun sholat berjamaah
Melati sedang menyusui anaknya di kamar, ia masih dalam masa nifas jadi belum bisa menjalankan kewajibannya
Tok...tok...tok
Setelah menidurkan anaknya kembali, Melati bergegas ke arah depan untuk membuka pintu rumah melihat siapa yang datang
“Assalamualaikum mbak” Ucap Tania
Rupanya Tania dan ibunya yang sedang mengantarkan pesanan mereka
“Walaikumsalam, masuk tante, Tania” Ucap Melati
“Yang lain mana” Tanya ibu Riana
“Oh lagi sholat tante, sebentar lagi selesai kok” Ucap Melati
Melati, Tania dan ibu Riana pun bergegas ke arah dapur untuk menata kotak – kotak kue tersebut di atas meja
Sehabis sholat, Diora dan Putra pun kini mengatur kursi – kursi yang mereka sewa di halaman depan untuk para tamu undangan duduk, maklum saja yang bisa masuk ke dalam rumah hanya 20 orang, menyesuaikan dengan ukuran luasnya ruang tamu, yang mana 20 orang tersebut terdiri dari para tokoh agama dan keluarga terdekat
“Tan, kamu udah datang” Ucap Felisa
“Udah dong, lihat kan udah cantik begini” Ucap Tania
“Wah Tania cantik banget pakai gamis” Ucap Dena memuji
“Oh ya mbak Mel mending kita siap – siap, sebentar lagi para undangan datang” Ucap Dena
Mereka pun kembali ke kamar untuk bersiap, namun sebelumnya Dena membangunkan anaknya Reihan dan memandikannya, setelah itu mereka pun bersiap, sama halnya dengan Melati yang sedang memandikan bayi cantiknya yang sudah bangun
Setelah para wanita bersiap, kini gantian giliran para pria yang bersiap, dan para undangan pun mulai berdatangan, para tokoh agama, tetangga terdekat dan keluarga mengambil tempat di bagian dalam, sedangkan tamu yang lainnya duduk di bagian luar
Felisa dan sahabat beserta kakak – kakak iparnya sedang berada di bagian dapur
Pagi itu cuaca sangat cerah, tidak ada setetes hujan pun yang turun, semesta seperti sedang ikut bersholawat, memuji keagungan Tuhan semesta alam dan junjungan Nabi Muhammad SAW
“Fel” Panggil Tania dengan suara pelan
“Iya” Jawab Felisa
“Kamu dengar gak suara itu” Ucap Tania lagi
“Suara yang lagi ikut bersholawat, kayak kenal deh, tapi siapa yah” Ucap Tania
“Iya kayak pernah dengar, merdu lagi” Ucap Felisa
Sebenarnya dari tadi pas sedang mendengar suara yang melantunkan sholawat dengan merdu itu, hatinya bergetar, dan seolah jantungnya berdegup dengan kencang, ia tidak tau apa yang sedang terjadi pada dirinya, makanya ia berdiam diri saja dan tetap fokus mendengarkan
__ADS_1
“Sudah jangan berisik kalian” Ucap ibu Riana menegur kedua gadis tersebut
Melati dan Dena hanya tersenyum mendengar dua gadis itu diomelin
Memasuki acara puncak Melati pun keluar bersama bayi nya, ia mengitari satu persatu keluarga dan tokoh agama dan mereka pun menggunting beberapa helai rambut anaknya dan tetap melantunkan sholawat Nabi, sang kakek Meldia, pak Hendra kini menggendong cucunya dan beranjak keluar untuk membagikan uang koin dan permen kepada anak – anak dan tamu lainnya yang sudah menanti di depan
Tidak hanya uang koin, Diora dan Putra juga melempar uang kertas yang jumlahnya beragam dan anak – anak serta tamu lainnya ikut berpartisipasi dan berlomba untuk memperebutkan uang – uang tersebut
Felisa, Dena dan ibu Riana pun membagikan kotak kue untuk tiap – tiap undangan, Diora pun memberikan beberapa amplop untuk para toko agama sebagai wujud terima kasih karna sudah mendoakan anaknya dan tamu undangan serta para tetangga pun mulai kembali ke rumahnya masing – masing dan yang tersisa hanyalah beberapa kerabat dekat
Seseorang sedang memandang gadisnya dengan tersenyum, semenjak Felisa keluar untuk membagikan kotak kue, sepasang mata itu tidak pernah melepaskan pandangannya pada gadis tersebut
Hanya saja sang gadis belum menyadari kehadiran sang pria di rumahnya
“Foto keluarga yuk” Ucap Dena mengajak semuanya
Mereka telah menyewa jasa fotografer jadi ia yang bertugas mengambil dokumentasi dari acara pertama berlangsung
“Mas tolong fotoin kita yah” Ucap Melati
“Tania, Bu Riana, mohon maaf yah, kami foto keluarga dulu baru kemudian ibu sama Tania bergabung gak apa – apa kan Bu” Ucap Dena menjelaskan kepada sahabat adik iparnya itu dengan sopan agar tidak menyinggung
“Iya gak apa – apa Dena” Ucap Ibu Riana
Sang fotografer pun mengambil foto keluarga tersebut, dengan berbagai macam gaya
“Dek, ayo gabung” panggil Dena pada seseorang yang sedang berada di pojokan, rupanya yang di panggil sedang menelepon, sehabis menelpon ia pun berbalik
Betapa terkejutnya Felisa dan Tania karna sang prajurit dingin tengah berada di dalam rumahnya
Felisa di buat terpesona olehnya, Tania yang melihat tingkah sahabatnya menyikut tangan Felisa, dan sedikit berbisik
“Pak Fendi tampan yah Fel” Ucap Tania
Felisa hanya diam tak menjawab, Tania sangat gemas dengan ekspresi sahabatnya itu, bagaimana tidak pipi Felisa sangat merah merona seperti udang rebus
“Iya mbak” Ucap sang lelaki itu lalu beranjak ke arah Dena dan yang lainnya
“Foto bareng sama keluarga mbak” Ucap Dena
“Kenalin semuanya, ini saudara sepupu saya namanya Fendi Rahman Gunawan” Ucap Dena memperkenalkan
“Oh sepupu Dena toh, kirain calon suaminya Felisa” Ucap ibu Riana bercanda
“Loh kok kita baru tau mbak Dena sepupuan sama pak Fendi” Ucap Tania
"Kamu kenal Tan" tanya Dena
"Iya kak" Ucap Tania jujur
“Kok pas nikahan kamu dan Putra, kita gak ketemu di acara” Kini giliran Melati yang ikut berbicara karna penasaran
Sebenarnya ia sangat senang melihat kehadiran Fendi, seolah hari ini doanya di ijabah oleh Tuhan, ia pernah melihat foto Fendi dalam postingan Ig Romi, kekasih Tania
__ADS_1
“Pas nikahan aku, papanya Fendi, om Rahman dan keluarga tidak bisa hadir karna om Rahman sedang melakukan operasi di luar kota, sehingga tidak sempat datang ke acara aku mbak, hanya bang Putra yang kenal soalnya kita sering video call an mbak di grup keluarga” Ucap Dena menjelaskan
“Oh begitu” Ucap yang lainnya
“Apa semuanya sudah siap mbak” Tanya sang fotografer
"Sudah mas" Ucap Dena
Fendi pun kini ikut bergabung dengan Dena dan keluarga suaminya, ia berdiri disamping Diora namun sang fotografer menyuruhnya pindah ke samping Felisa agar kedudukan gambar menjadi lebih pas, seperti masing – masing sedang berpasangan dengan posisi di tengah pak Hendra yang sedang duduk sambil memangku Reihan dan ibu Devanka menggendong Meldia dan 3 pasangan lainnya berdiri di samping mereka, sungguh sebuah potret keluarga yang indah dan menarik
Tania pun tidak ingin ketinggalan dengan moment mengemaskan tersebut, ia pun mengambil ponselnya dari dalam saku celana dan memotret keluarga tersebut, ia pun tersenyum melihat beberapa gambar yang ia ambil
“Bukti menarik nih untuk ayang beb” Gumamnya kemudian memasukan kembali ponselnya seperti semula
Kini giliran Tania dan ibunya bergabung untuk berfoto bersama, selesai berfoto ibu Riana kemudian pamit pulang, ia meninggalkan anaknya yang masih ingin berada di sana
“Makan dulu Fen” Ajak Dena
“Fel, buatin kopi atau teh buat Fendi” Ucap Melati
Kemudian berlalu ke kamar untuk menidurkan anaknya
Padahal di dalam kotak sudah ada air mineral, dan aneka kue tapi Melati menyuruhnya membuat minuman, entah apa yang sedang direncanakan oleh kakak iparnya tersebut
Felisa pun pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk prajurit dingin tersebut
“Ini bang tehnya” Ucap Felisa
“Iya dek, terima kasih” Ucap Fendi lalu meminum teh tersebut
“Manis seperti yang buat” Ucapnya dalam hati
Mereka pun bercengkrama satu sama yang lainnya, seperti sudah orang yang kenal lama, prajurit dingin itu bisa mencair mengikuti suasana
Ia tak pernah menyangka memutuskan datang ke acara yang diajak sepupunya akan membuatnya bertemu kembali dengan sang gadis pujaan, kesibukan keduanya membuat mereka kehilangan komunikasi beberapa waktu lalu
Setelah kembali bergabung dengan yang lainnya, Melati pun duduk sambil mendengarkan obrolan mereka, diam – diam ia mengatur siasat dengan Tania, mereka berpindah tempat duduk untuk menghilangkan jarak di antara sang prajurit dan Felisa agar lebih dekat, diam – diam juga Fendi pun merasa grogi karna jaraknya dan sang gadis yang teramat dekat, ia pun salah tingkah dan justru membuat Melati dan Tania tertawa dalam hati melihatnya.
Bersambung ~~
Duh, pak Komandan kok bisa grogi yah 🤣
Santuy dong, hihihi 😁
Kira – kira gimana, abis ini mau acara tembak – tembakan atau di kasih granat aja langsung biar meledak 🤭 Uhuy
Hatinya maksud Author 😂
Terus dukung karya Author yah semuanya ☺️ Terima kasih 🙏
__ADS_1