
Pesta acara ulang tahun Meldia berjalan lancar kemarin, beruntung cuaca tidak hujan sehingga bisa sesuai dengan harapan kedua orang tuanya yakni Melati dan Diora
Tidak hanya tamu undangan yang pulang dengan kebahagiaan di acara tersebut, begitupun dengan Fendi ia juga merasakan hal yang sama, ia nyaman bersama Felisa dan juga keluarganya, Romi dan Tania juga bahagia karena di acara kemarin mereka semakin romantis
Bagaimana tidak, mereka juga mengikuti lomba yang disusun untuk anak - anak, namun mereka juga turut meramaikan, alhasil mereka juga pulang membawa hadiah, meskipun nilainya tak seberapa, hanya beberapa cemilan dan buku yang sudah di siapkan oleh Devanka, sang nenek dari Meldia
"Lumayanlah buat catat pesanan" Begitu pikir Tania
Ia dan Romi pun menikmati cemilan tersebut
"Fel" Panggil Melati
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Udah selesai beres - beres atau belum" Ucap Melati
"Hampir selesai mbak" Ucap Felisa
"Istirahat dulu kita makan siang, nanti baru di lanjutin" Ucap Melati
Sudah sejak pagi para wanita dalam keluarga tersebut membereskan sisa acara kemarin, Diora sedang ke kantor, Putra sedang mengembalikan kursi sewaan yang di angkutnya bersama suami Bu Jamilah
Mereka akan membawa ke pemiliknya sekalian membayar uang sisa sewa, karena Diora sudah memberikan uang muka sewa kemarin
Felisa dan kedua kakak iparnya sedang menikmati makan siang, Meldia dan Reihan sedang bermain di rumah ibu Devanka dan suaminya
"Fel" Panggil Dena
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Mbak lihat kamu akrab sama Fendi" Ucap Dena
"Hum" Ucap Felisa
"Lumayan mbak" Ucapnya
"Lumayan atau sangat" Ucap Melati meledek
"Mbak" Ucap Felisa
"Hihi" Ucap Dena tertawa
"Mbak lihat kemarin ada yang gak mau jauh - jauhkan tuh, sampai - sampai pas mbak suruh ambil pisau di dapur aja bareng" Ucap Melati
Memang benar, yang di suruh oleh Melati adalah Felisa, namun Fendi selalu mengikutinya kemanapun gadis itu pergi, dan yang lucunya, tingkah mereka menjadi sorotan bagi yang lainnya, namun mereka tak menyadari bahwa sedang menjadi pusat perhatian
"Oh bang Fendi mau pinjam korek mbak" Ucap Felisa
Ia berkata jujur, setelah Felisa di suruh mengambil pisau, Diora juga menyuruh Fendi untuk mengambil korek, sebab acara tiup lilin dan potong kue Meldi akan segera di mulai, saking sibuknya Melati hingga melupakan dua benda tersebut yang juga tatkala penting
"Oh begitu toh" Ucap Melati
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Tapi adik sepupu mbak itu baik loh dek" Ucap Dena
"Iya Den, dia baik kok" Ucap Melati
"Masuk tipe kamu gak dek, kira - kira" Ucap Dena yang terus memancing Felisa
Wajah gadis tersebut sudah merah seperti udang, kedua iparnya sepertinya sengaja untuk menggodanya
"Assalamu Alaikum" Ucap Tania
__ADS_1
"Walaikumsalam, masuk aja Tan" Ucap Melati
"Kita di dapur" Ucap Dena
Tania langsung bergegas menuju tujuan
"Wah maaf ni ganggu mbak" Ucap Tania
"Gak papa kok kita udah mau selesai" Ucap Melati
"Tapi btw ko mbak tau yang datang aku" Ucap Tania
"Yang suaranya paling menggelegar yah cuma Tania Rahardja di komplek ini mau siapa lagi" Ucap Felisa
"Wah mulut Ade mbak, kayak cabe rawit sekilo, pedas" Ucap Tania
"Hahahaha" Tawa mereka bertiga
Sedangkan Felisa hanya manyun aja
"Dia kenapa mbak" Ucap Tania
"Biasa gak ketemu Abang prajurit jadi ngambek" Ucap Melati
"Hahai, meledak" Ucap Tania
"Mbak Mel" Ucap Felisa
"Iya - iya sayang" Ucap Melati
"Oh yah ada apa Tan" Ucap Dena
"Eh iya lupa mbak, ini mama nitip kue buat mbak dan juga Feli" Ucap Tania
"Wah enak - enak ni, nanti bilang ke Tante makasih banyak yah" Ucap Dena
"Gak tuh beb" Ucap Tania
"Bantuin aku beberes yah" Ucap Felisa
"Okey beb" Ucap Tania
Seusai mengisi perut, mereka lantas melanjutkan pekerjaan mereka yang tadi tertunda
"Lelahnya" Ucap Dena
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Oh yah ni mbak pesan minuman Boba, mau gak" Ucap Melati
"Mau mbak" Ucap ketiganya kompak
Mereka beristirahat sambil meminum Boba yang di beli Melati
"Makasih yah semuanya" Ucap Melati
"Iya mbak" Ucap Ketiganya
"Mbak, mandi duluan yah" Ucap Dena
"Iya dek" Ucap Melati
Melati beranjak ke kamarnya, Tania dan Felisa masih asyik mengobrol di ruang keluarga
__ADS_1
"Eh aku punya foto kalian kemarin" Ucap Tania
"Foto apa" Ucap Felisa
"Foto kamu sama pak Fendi, bang Romi yang ambil diam - diam pakai ponsel aku" Ucap Tania
"Mana, coba lihat" Ucap Felisa
"Udah aku kirim di WA kamu, lihat aja" Ucap Tania
"Okey" Ucap Felisa
Ia pun membuka chat di WA dari Tania, yang berisi sebuah foto
"Wah bagus juga" Ucap Felisa
"Iya dong, bang Romi kan suka fotografer, sudah pasti hasilnya bagus" Ucap Tania
"Iya deh, iya, kali ini aku setuju" Ucap Felisa
"Hahahaha" Tawa keduanya
Felisa pun membuat sebuah story' yang berisi foto tersebut dengan tulisan : Manis
"Cie langsung di buat story" Ucap Tania yang menjadi pemirsa pertama
"Hehehe" Tawa Felisa
"Gerak cepat juga bu guru ini" Ucap Tania
Ting...
Sebuah chat Wa masuk ke ponsel Felisa
"Kirim ke Abang dong" Komentar Fendi pada story' tersebut
Felisa pun langsung mengirimkan foto tersebut kepada Fendi, dan lelaki dingin tersebut langsung membuatnya menjadi story dengan tulisan : Satu dan selamanya
"Uhuy" Ucap Tania
"Satu dan selamanya" Ucapnya
Lagi - lagi ia menjadi pemirsa pertama yang melihat postingan cerita kedua orang tersebut
"Ada yang langsung post ni" Ucap Tania
"Cie" Ucapnya
Felisa hanya senyum - senyum melihat postinga. Fendi, ia tak menyangka Fendi akan langsung membuat cerita dan menulis judul tersebut pada foto mereka
"Fel" Panggil Tania
"Kenapa beb" Ucap Felisa
"Pak Fendi kayaknya serius deh suka sama kamu" Ucap Tania
Felisa hanya terdiam, ia merasa senang, perkataan Tania sama seperti perkataan lelaki tersebut, hanya saja mereka berdua sama - sama ingin tidak terjebak dalam dosa, mereka ingin saling mengenal lebih dalam, agar bisa lebih serius, biar bagaimanapun Fendi bukan lagi anak di bawah umur, ia adalah pria dewasa, sudah selayaknya tidak bermain - main dalam persoalan asmara, hanya saja melangkah ke arah situ, butuh niat, butuh mental, apalagi Fendi masih harus berjuang untuk jujur dan terbuka terhadap keluarga Felisa dan itu tidaklah mudah, semoga saja suatu saat ketika ia jujur, maka ia dapat di terima dengan baik, sehingga ia lah yang menjadi satu - satunya pria beruntung yang bisa memiliki gadis tersebut
Begitu pun dengan Felisa, ia juga tak ingin salah melangkah, pengalamannya di masa lalu mengajarkannya banyak hal, tidak mudah hidup yang telah ia lewati, ia tak ingin sejarah terulang kembali, sebab tidak enak rasanya jika kelas anak atau turunannya merasakan hal yang sama seperti dirinya, tentu bukan itu yang diinginkan oleh Felisa.
Bersambung______
Hai hai hai readers, dukung terus karya Author yah 🥰
__ADS_1
Terima kasih 🙏🤗
Selamat berpuasa ☺️❤️