Prajurit ! I Love You

Prajurit ! I Love You
#Insiden Memilukan


__ADS_3

*Flashback on


"Feli, buruan nanti kita telat" Panggil melati dari ruang tamu.


Saat ini mereka sedang bersiap untuk pergi ke kondangan pernikahan sepupunya melati.


"Iya mbak" Jawab Felisa bergegas keluar.


"Bang Dio kemana mbak" Tanya Felisa kemudian.


"Lagi di luar nunggu ojek buat kamu, kan tidak mungkin Kalo kita bertiga boncengan, apalagi mbak lagi hamil muda begini" Ucap Melati panjang lebar.


"Siap mbak" Jawab Felisa seadanya


Sebenarnya Felisa enggan ikut sebab ia sudah punya janji dengan Tania, hanya saja mengingat kebaikan Kakak iparnya itu, maka ia enggan untuk menolak, alhasil janjinya pada Tania harus di batalkan, lebih tepatnya ditunda.


Tania berjanji mentraktir dirinya sebab usaha Tania menerima banyak orderan hari itu.


Diora masuk ke dalam rumah memanggil dua wanita kesayangannya.


"Sayang, ayo berangkat, adik kamu sama mang Udin, dia udah nunggu kamu di depan" Ujar Diora.


"Buruan dek nanti kita telat, acaranya sudah mau mulai, yuk bang" Ucap Melati pada suaminya.


Felisa iri dengan kemesraan kakak dan iparnya, ia berdoa dalam hati agar kelak di beri sosok yang penyayang seperti Abangnya itu.


"Aamiin" 🤲 Ucap Diora menimpali, ia merasa adiknya itu sedang berdoa dalam diamnya.

__ADS_1


Felisa hanya terkekeh mendengar jawaban abangnya, memang benar kata orang, darah lebih kental daripada air, hal sepele saja bisa di ketahui oleh seorangĀ saudara, mungkin itulah yang


dinamakan ikatan batin.


Berangkatlah mereka bertiga ke tempat tujuan, di acara tersebut mereka gembira berkumpul dengan keluarga besar Melati, banyak yang menghadiri acara pernikahan tersebut.


Ada om dan tante Melati yang datang jauh - jauh dari luar kota, ada sepupunya juga yang baru pulang TKW dari Yordania, ramai sekali suasananya.


"Mbak Mel, Feli mau ngambil bakso, mbak mau gak biar sekalian" Tanya Felisa pada ipar nya itu.


"Iya boleh, tapi tidak pakai mie yah hanya laksa doang Fel. Ucap Melati.


"Okey" Jawab Feli.


Kemudian ia beranjak ke stan bakso, sebenarnya banyak stan makanan yang tersedia di acara nikahan tersebut, hanya saja karna di luar sedang hujan maka mereka lebih memilih menyantap bakso.


Setelah mendapatkan bakso tersebut, Feli kembali menuju iparnya, dan memberikan bakso tersebut, ia pun duduk dan menikmati baksonya, namun berbeda dengan Melati, belum sempat menyantap baksonya, pandangannya teralihkan pada tiang besi yang hampir jatuh menimpa keponakannya, dengan setengah berlari ia pun berteriak.


"Bruk" Bunyi suara besi yang lumayan keras, jatuh menimpa tubuh seorang wanita yang sedang berada di bawah, wanita itu tidak lain adalah Melati.


Niat hati menyelamatkan keponakannya malah ia sendiri yang tertimpa tiang tersebut.


"Ahh sakit" Melati meringis.


Sang suami Diora pun panik, dia berlari ingin menyelamatkan istrinya itu, tak kalah panik Felisa juga melihat keadaan sang ipar, Melati kini tak sadarkan diri, darah segar keluar dari balik rok kebayanya.


"Bang, bagaimana ini, kaki mbak Mel berdarah" Ucap Felisa panik.

__ADS_1


Seluruh keluarga Melati pun dibuat panik, mamanya sudah pingsan, papanya sedang membopong mamanya ke arah sofa.


"Om ayo kita angkat istri saya, bawa ke rumah sakit" Ucap Diora kepada om Melati.


Dio pun segera membopong istrinya masuk ke dalam mobil, Felisa pun ikut bersama ketiganya, tentunya dengan om Fahri yang menyetir mobilnya sendiri.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di rumah sakit terdekat, Melati segera di periksa, namun sayang, akibat pendarahan yang terlalu banyak, kandungan Melati pun dinyatakan tidak selamat, benturan yang di alami Melati cukup kuat, sehingga membuat janin dalam perutnya tidak tertolong.


Padahal Melati sudah diingatkan bahwa kondisi kandungannya masih lemah, namun apa mau dikata insiden memilukan itu tak bisa di cegah, yang terjadi haruslah terjadi, Melati pun segera ditangani sang dokter untuk melanjutkan proses korek agar rahimnya bersih, sang paman mencoba memberikan kekuatan kepada Diora berharap ia kuat melewati semuanya.


Diora mulai ikhlas, hanya saja dia bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada sang istri, Felisa yang melihat abangnya seperti itupun ikut bersedih, ia tak menyangka bahwa semua ini akan terjadi, andai saja dia menjaga iparnya dengan baik, semua pasti akan baik saja, namun kini.


"Maafkan Feli mbak Mel" Hanya itu yang bisa di ucapkannya dalam hati.


Setelah beberapa saat, Melati mulai sadar dan mulai tabah menerima penjelasan suaminya, sebenarnya ia pun kecewa pada dirinya sendiri, namun ia harus bisa menerima keadaan, toh anaknya tak bisa kembali.


Tak berselang lama orang tua Melati juga datang ke rumah sakit, mereka bersama - sama memberikan support kepada Melati agar mampu melewati cobaan ini, memberikan kekuatan layaknya keluarga semestinya.


"Inalillahi Wa Inna Illaihi Rojiun, semoga Adek bayi di terima di sisi Allah" Ucap Felisa dan diaminkan oleh semuanya.


Setelah beberapa hari di rawat akhirnya Melati di izinkan pulang ke rumahnya, ia menjalani harinya seperti sediakala.


"Kita berdoa dan usaha lagi yah sayang" Ucap Diora menenangkan istri tercinta. Dan Felisa pun selalu mendoakan kakak dan kakak iparnya itu agar selalu di berikan kebahagiaan.


*Flashback off


Begitulah sejatinya keluarga.

__ADS_1


Senantiasa ada di kala suka maupun duka. 🄰


Bukankah begitu Readers šŸ¤—


__ADS_2