
Happy birthday to you ...
Happy birthday to you ...
Happy birthday ... Happy birthday...
Happy birthday to you
Gema lagu ulang tahun memenuhi sebuah pesta, Meldia, putri cantik dari Diora dan Melati kini genap berusia empat tahun, banyak tamu undangan yang datang, entah itu dari kerabat dekat, tetangga hingga relasi dari orang tuanya
"Dek" Panggil Dena
"Iya mbak" Jawab Felisa
"Kamu tolong bantuin mbak, bawain sebagian kado - kado nya ke dalam yah sayang, udah numpuk soalnya" Ucap Dena
"Iya mbak, siap" Ucap Felisa
"Tan" Panggil Felisa
"Iya beb" Jawab Tania
"Bantuin aku angkat kado - kadonya ke dalam" Ucap Felisa
" Okey bestie" Ucap Tania
Mereka berdua pun mengangkat sebagian kado - kado itu ke dalam, menyusul kakak iparnya yakni Dena yang sudah masuk lebih dulu
Tut ... Tut... Tut ...
Ponsel Feli terus bergetar, ada panggilan dari lelaki pujaannya
"Halo dek" Ucap Fendi
"Halo bang" Jawab Felisa
"Kamu lagi ngapain" Tanya Fendi
"Lagi bantuin mbak Dena angkat kado" Jawab Felisa
"Oh iya, Abang sama Romi baru nyampe, kita di depan" Ucap Fendi
"Oh iya bang" Ucap Felisa
"Iya dek, maaf yah kalau Abang ganggu" Ucap Fendi
"Gak papa ko bang" Ucap Felisa
"Abang duduk dulu yah nanti Feli ke depan" Ucap gadis tersebut
"Iya bang, siap" Ucap Fendi
Panggilan pun berakhir
Felisa kini sedang berada di kamar kakaknya
"Beb, Bang Romi sama kak Fendi katanya udah di depan" Ucap Tania
__ADS_1
"Iya" Ucap Felisa
"Aku duluan ke depan yah say" Ucap Tania
"Bantuin ini dulu nyai, main pergi aja" Ucap Felisa
"Emergency nyai, pangeran udah nunggu putri di depan, gak baik kalau di tunggu, nanti di ambil dayang - dayang lagi buat di jadiin selir" Ucap Tania
Kemudian ia berlaku meninggalkan Dena dan Felisa berdua
"Hahaha, ada - ada aja ni Tania, bestie kamu kocak banget dek" Ucap Dena
"Ges**k mbak lebih tepatnya, agak miring emang" Ucap Felisa
"Miring begitu pangerannya tampan yah" Ucap Dena
"Agak laen emang dia mbak" Ucap Felisa
"Hahahah, ada - ada aja kamu dek, btw kamu sendiri gak ada niat buat nyusul pangeran kamu ke depan, benar loh yang di bilang Tania, apalagi teman mbak Mel yang perawat banyak yang datang juga loh, biasanya sih jadi incaran" Ucap Dena
"Kalau aku pergi terus mbak gimana" Tanya Felisa
"Udah gak papa, ini kan udah mau beres paling bentar lagi juga mbak udah ke depan lagi" Ucap Dena
"Sana dek, jangan buat menunggu gak baik nanti yang ada dia jadi nyamuk di antara pasangan bucin itu" Ucap Dena
"Hahahaha, iya mbak, betul juga, aku duluan yah mbak" Ucap Felisa
"Iya sayang" Ucap Dena
Ia sendiri sangat mendukung hubungan Felisa dan juga Fendi, baginya mereka adalah orang - orang yang ia sayangi, untuk itu ia berharap mereka bisa cocok dan menjadi pasangan yang tepat, namun ia tidak menyangka jika keduanya harus melewati perjuangan untuk bisa mendapatkan restu dari Diora, kakak ipar Dena sendiri
"Sayang kenapa kok nafasnya gitu amat" Tanya Putra
"Iya mama sakit yah" Ucap Reihan
"Gak kok bang, aku baik - baik aja, btw kok kalian disini" Tanya Dena
"Iya, Rei pengen pipis jadi kita masuk" Ucap Putra
"Oh anak ganteng mama kebelet yah, sini mama antar" Ucap Dena
"Abang balik ke depan yah sayang" Ucap Putra
"Iya bang" Ucap Dena
Reihan pun menuruti mamanya, ia pun menggandeng tangan mamanya ke kamar mandi
Di sisi lain yakni di dalam pesta, Diora sedang menatap seseorang, ia tak habis pikir kenapa Fendi bisa ada di acara ulang tahun anaknya, padahal bukan ia yang mengundang, ia juga percaya Felisa dan Dena juga tidak mungkin mengundang pria tersebut, lantas siapa yang mengundangnya
"Siapa yah" Pikir Diora
"Aku bang" Jawab Melati seolah faham apa yang di pikirkan suaminya itu
"Sayang, kamu" Ucap Diora
"Iya bang, aku pengen undang dia bang" Ucap Melati
__ADS_1
"Kenapa" Tanya Diora
"Gak papa yank, aku pengen membagi moment anak aku dengan semua orang termasuk Fendi" Ucap Melati
"Tapi Meldia juga anak aku, aku juga berhak menentukan siapa yang datang di acara anak aku" Ucap Diora
Ia sedikit kecewa dengan istrinya ini, Melati bahkan tidak membicarakan hal ini kepadanya dahulu, ia bahkan tak meminta pendapat Diora sama sekali
"Yank kamu kok gak nanya Abang dulu" Ucap Diora yang sudah mulai kesal
"Kalau nanya Abang, dia pasti gak akan ada disini" Ucap Melati
Ia sendiri pun sudah bosan dengan sikap gengsi suaminya itu, egonya terlalu berlebihan
"Maksud kamu apa yank" Ucap Diora
"Kalau aku izin sama Abang, Abang pasti gak akan izinin Fendi untuk dagang kan, Abang lihat sekarang, gimana bahagianya Felisa bang, dia itu nyaman sama Fendi, lihat mereka berempat bang, Tania sama Romi, Feli sama Fendi, mereka itu anak - anak baik bang, jangan hanya karena masa lalu Abang jadi melupakan pribadi mereka, bang setiap orang pasti akan berubah, sama halnya kayak Abang juga kan dulu, sekarang Abang adakah suami dan ayah yang baik untuk Meldia, coba Abang bercermin pada diri Abang, bukankah tidak ada bedanya dengan Fendi" Ucap Melati menjelaskan
"Tapi kasus kita besa sayang, dia buat orang mati" Ucap Diora
Kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya
Devanka yang mendengar obrolan anak dan menantunya hanya bisa pasrah melihat sang menantu memilih masuk ke dalam rumahnya
"Ma, papa kemana" Tanya sang putri
"Papa lagi ke toilet sayang" Ucap Melati berbohong
Meldia pun kini bermain bersama dengan teman - teman seangkatannya dan tamu undangan lainnya, mereka sedang di buatkan tatoo kontemporer oleh jasa yang di sewa Melati
"Nak, kamu yang sabar yah" Ucap Devanka
"Iya ma" Ucap Melati
Devanka memahami situasi Diora, ia tak menyalahkan menantunya bersikap seperti itu, Devanka sangat faham, sebagai anak tertua, Diora harus bisa menjaga adik - adiknya dan memastikan adiknya itu memilih pasangan yang tepat, ia mungkin tidak terlalu fokus ke Putra, sebab adiknya Putra adalah seorang pria, tentu saja ia dapat menjaga dirinya sendiri, dan tentunya bisa menjadi pemimpin untuk keluarga kecilnya, sedangkan Felisa berbeda, ia perempuan, tentu saja Diora takut, Felisa salah jalan atau salah memilih pasangan hidupnya, tentu Diora yang harus mengarahkannya ke pilihan yang baik agar nantinya tidak menyesal
"Ma, maafin bang Dio yah" Ucap Melati
"Maaf untuk apa, apa yang di lakukan Diora, pasti juga akan di lakukan oleh kakak - kakak lainnya yang ingin menjaga adik perempuannya, justru mama bangga punya menantu kayak Diora, meski terkadang mama suka kesal karena caranya agak berbeda dengan yang lainnya dalam menunjukan kasih sayangnya" Ucap Devanka
"Tapi papa percaya, dia akan bisa jadi imam yang baik untuk kamu nak, makanya papa gak khawatir nyerahin anak perempuan satu - satunya papa ke dia, Diora itu menantu terbaik papa" Ucap sang ayah Hendra
"Hahaha, ya iyalah pa, kan anak kita cuma satu sudah pasti yang terbaik kita pilihnya" Ucap Devanka pada suaminya
"Hahahah benar juga" Ucap Hendra tertawa
Melati pun berterima kasih dan memeluk kedua orang taunya itu, ia juga bersyukur memiliki Diora dalam hidupnya
"Makasih, pa, ma" Ucapnya
Ia benar - benar bersyukur.
Bersambung_________
Lelaki terbaik di bentuk dari segala sisi keburukan kelaki - lakian nya, ia yang mau belajar berbenah dan memperbaiki diri dari segala pribadi bandit menjadi pria sejati, bukan yang hanya tobat sesaat lalu mengulangi lagi saat ketahuan berbuat dosa malah membuat asumsi dengan maksud jiwa nakalnya meronta - meronta lalu berdalih khilaf, duh sangat di sayangkan sekali, itu beneran khilaf atau doyan sih 🤣
Ups Author kelepasan tertawanya
__ADS_1
Yah maklum lah , zaman sekarang kaum lelaki pada aneh sekali, agak Laen dari yang Laen 😂
Terima kasih sudah mendukung karya author 🙏 🥰 Saranghae ❤️🤗