Prajurit ! I Love You

Prajurit ! I Love You
#Jatuh Hati


__ADS_3

Matahari mulai terbenam, senja kini berganti malam, seorang wanita sedang duduk menikmati minumannya di gazebo dekat lapangan olahraga, ketiga temannya sedang ada keperluan, dua prajurit sedang melapor di kesatuannya, yang wanita sedang membeli pesanan ibunya.


Wanita itu memandang ke arah langit, bintang berkedip seolah menyapa, hari ini langit terang, bulan sabit seperti membentuk sebuah senyuman, gadis itu pun tersenyum dan merasa damai.


"Indahnya" Gumam Felisa.


"Hm"


Seseorang mengganggu lamunannya Felisa, Fendi kini duduk di sebelahnya


"Kenapa kamu senyum - senyum sendiri" Tanya Fendi kemudian.


"Tidak, aku hanya sedang menatap bulan dan bintang" Jawab Felisa.


"Oh" Ucap lelaki itu datar.


"Abang ko sendiri, bang Romi kemana" Tanya Felisa


"Tadi katanya mau ikut Tania, bentar lagi pasti mereka datang" Ucap Fendi menerangkan


"Oh begitu" Gumam Felisa


Hening ... hening ... hening.


Tidak ada percakapan apapun, dua insan itu larut dengan pemikiran mereka masing - masing, menikmati debaran jantung yang kian tak menentu, mereka terlalu malu untuk saling berucap, suasana malam ini terlalu indah, mereka menikmatinya dalam diam, menyalami perasaanya mereka masing - masing.


"Fel" Panggil Tania


Mengagetkan keduanya.

__ADS_1


Gadis itu datang bersama Romi  dengan belanjaan yang lumayan banyak.


"Sini Tan aku bantu bawain" Tawar Felisa.


"Udah Ga apa - apa, ringan kok" Ujar tania


"Tan, pulang yuk" Ajak Felisa


Tania nampak enggan, ia masih ingin berlama - lama dengan lelaki pujaannya, mereka kini memutuskan untuk saling mengenal, Romi mengutarakan perasaannya saat menemani Tania belanja, sama sekali acara penembakan yang tidak romantis, orang lain di kasih seikat bunga, Tania malah di kasih seikat sawi, benar - benar di luar ekspektasi.


"Feli, 5 menit lagi yah, lagian kan baru jam 19.00 wib, aku masih pengen disini" Ujar Tania.


Felisa agak ragu, sebab dia ingin cepat pulang ke rumah, badannya sudah gerah karna keringat akibat olahraga.


"Kamu mau pulang, ayo saya Antar" Tawar Fendi.


Ia mencoba memberanikan diri agar lebih dekat dengan gadis yang telah membuatnya jatuh hati, sebenarnya Fendi belum sepenuhnya yakin atas perasaannya, hanya saja ia nyaman berdekatan dengan gadis tersebut, untuk saat ini ia merasa perlu bertindak lebih agar ia bisa tau sejauh mana perasaannya terhadap gadis tersebut.


Ia sangat kaget mendengarkan perkataan Fendi, Kalimat itu tidak mungkin di ucapkan lelaki dingin tersebut, Romi meyakini bahwa ia hanya salah dengar, bisa saja telinganya salah menangkap.


Sontak saja Felisa dan Tania pun nampak ikut kaget, apalagi Tania, bagaimana tidak, dari pertama kali mereka bertemu, baru saat ini ia mendengar lelaki tersebut berbicara seperti itu, ia bahkan sering bertanya kepada Romi, kenapa pak Fendi selalu irit kalau bicara.


Felisa pun hanya diam tak bersuara, ia bingung mau jawab apa atas tawaran lelaki tersebut, jantungnya terasa deg - degan.


"Yah sudah kita pulang berempat aja, naik mobil Abang, motor Tania kita titip di pos, nanti besok pagi Abang bawa antar ke rumah, bagimana" Ucap Romi menawarkan


Ia sepertinya faham dengan situasi, bersahabat lama dengan Fendi, membuatnya faham apa yang terjadi dengan komandannya itu, Fendi bukanlah orang yang suka tebar pesona, ia lelaki sejati yang akan terang - terangan mengejar gadis yang ia suka, namun ia merasa bingung, kalau Fendi memang sudah jatuh hati, kenapa ia terlihat ragu - ragu dari biasanya, hm, pikir Romi.


"Abang ...bang...bang Romi" Panggil Tania sambil mengibaskan tangannya di depan wajah kekasihnya itu, nampaknya ia tengah melamun.

__ADS_1


"Melamun apa bang" Tanya Tania


"Gak apa - apa dek, pulang yuk" Ajak Romi


Dan mereka pun menuju mobil Romi yang berada di parkiran


Suasana di dalam mobil kini senyap, Romi yang dari awal bercanda dengan Tania kini mulai diam menyetir, sebab gadisnya itu tengah tertidur, mungkin efek kelelahan, berbeda halnya dengan kedua insan di jok belakang, tidak ada percakapan antara keduanya, bagaikan tenggelam dengan pikiran dan perasaan masing - masing, tidak ada ucapan yang keluar, Felisa nampak bingung dengan situasi yang terjadi, mengenai perubahan sikap prajurit tampan yang berada di sampingnya, ia hanya berdehem sambil menetralkan kecanggungannya, Fendi pun nampak diam, namun tak lama ia mencoba bersuara, mencoba meminta nomor hp gadis tersebut.


"Apa boleh Abang minta nomor Hp mu" Ucap Fendi


Ciiiiitttt....


Mobil pun berhenti seketika, saking kagetnya Romi hingga mengerem mobilnya secara mendadak, Tania sampai terbangun.


Felisa pun ikut terhuyung ke depan, hampir saja kepalanya terbentur jok depan, namun bahunya langsung dipegang oleh Fendi, membuat ia kaget dan reflek menoleh ke arah lelaki tersebut, mata keduanya saling memandang dan terkunci, panggilan Tania dan Romi pun tidak didengarkan oleh mereka, mereka asyik dengan dunia mereka sendiri, menyalami ke dalam netra masing - masing, dengan intens, entah apa yang sedang ada di pikiran mereka, hanya mereka yang tau.


 


Cie cie cie.


Dari matamu, matamu, ku mulai ? Hihihi, Auh Ah 😁


Tebak aja sendiri, Author lapar, mau makan dulu 😅


Sampai bertemu di episode berikutnya Readers  🥰


Tetap Semangat semua 💪🤗


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2