
Bel panjang telah berbunyi, menandakan saatnya pulang sekolah, di dalam kelas X MIPA 1 seorang guru sedang berbicara kepada para murid – muridnya
“Sekian untuk pembelajaran kita hari ini, ibu harap kalian bisa memahami apa yang ibu terangkan, minggu depan kita praktik yah anak – anak” Ucap Felisa mengakhiri jam mengajarnya
“Iya bu” Ucap seluruh siswa tersebut
“Berdiri”
“Beri hormat” Ucap sang ketua kelas
“Selamat siang bu guru” Ucap semuanya
“Siang semuanya” Ucap Felisa berlalu meninggalkan kelasnya
Sesampainya di kantor nampak Laras sedang asyik dengan ponsel
“Siang Ras” Ucap Felisa
“Siang” Ucap Laras
“Yang lain kemana” Tanya Felisa
“Sudah pada pulang” Ucap Laras
“Kamu gak pulang” Ucap Felisa
“Aku nungguin kamu” Ucap Laras
“Makasih yah, yuk pulang” Ajak Felisa pada rekannya itu
Di tengah perjalanan, ponselnya berbunyi, panggilan dari Melati
“Halo, assalamualaikum dek” Ucap Melati
“Walaikumsalam mbak” Jawab Feli
“Kamu di mana dek” Tanya Melati
“Masih di jalan, mau pulang ke rumah mbak” Ucap Felisa
“Jangan langsung pulang dek, langsung kesini aja dek” Ucap Melati
“Memangnya mbak dimana, bukannya lagi tugas” Tanya Felisa
“Iya makanya kamu kesini, Tania masuk rumah sakit” Ucap Melati
“Ya Allah, iya mbak Feli kesana” Ucap Felisa
Ia pun pamit pada rekan kerjanya Laras
“Ras, maaf yah aku gak bisa pulang sama kamu, aku harus ke rumah sakit” Ucap Felisa
“Siapa yang sakit Fel” Tanya Laras
“Sahabat aku Ras” Jawab Felisa
“Oh, hati – hati di jalan yah” Ucap Laras
“Iya, kamu juga yah” Ucap Feli
Ia pun segera pergi menuju rumah sakit, sesampainya disana, ia langsung menelepon Tania, namun nomor sahabatnya itu tidak aktif, ia pun segera mengirim pesan kepada Melati
“Mbak, kamar nomor berapa Tania” Tanya Felisa dalam pesannya
“Ruang rawat wanita kamar nomor 5 “ Balasan dari kakak iparnya itu
Felisa pun menanyakan ruangan tersebut pada seorang suster yang lewat dan suster tersebut mengantarkannya kesana, sesampainya disana, ia pun mengetok pintu kamar pasien
Tok.. tok.. tok
“Assalamualaikum” Ucapnya sambil membuka gagang pintu
__ADS_1
“Walaikumsalam” Ucap beberapa orang di dalam kamar
Felisa pun masuk, ia melihat sahabatnya sedang tertidur, di sampingnya ada ibu Riana dan juga Melati yang sedang melihat keadaan Tania
“Mbak” Panggil Felisa
“Sst, jangan berisik, Tania baru tertidur” Ucap Melati
“Tania sakit apa mbak” Ucap Melati berbisik
“Ia sakit tipes karna makan kurang teratur dan juga kelelahan” Ucap Melati seperti diagnosa dokter yang memeriksa Tania
“Ya Allah Tan, kok bisa kayak gini” Ucap Felisa sambil memandang sahabatnya yang sedang terbaring lemah
Ia pun mengecek ponselnya, belum ada panggilan balik dari Fendi, sepertinya lelaki tersebut sangat sibuk sampai belum mengabari balik Felisa bahkan membaca pesan WA nya pun tidak, bisa dibuktikan dengan tanda centang satu yang terlihat pada riwayat chat mereka
“Bang Romi kemana sih” Gumamnya
“Apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka bisa putus” Ucap Felisa dalam hatinya
Ia sedang berpikir keras kenapa sahabatnya bisa seperti ini, mungkinkah karena galau sehingga ia sakit seperti begini
“Tante, dek, mbak pamit dulu yah mau kembali ke ruangan” Ucap Melati pamit karena harus kembali ke ruang jantung tempatnya bertugas
“Iya mbak” Ucap Felisa
“Iya Mel” Ucap ibu Riana
Felisa pun duduk menemani ibu sahabatnya tersebut, tak lama kemudian Tania pun terbangun dan ia merasa sangat lapar, ibu Riana pun dengan sigap menyuapi anaknya tersebut
Felisa pun membenarkan posisi tangan Tania agar jarum infus tidak keluar darah
“Feli” Ucap Tania
“Hai Tan” Ucap Felisa
Tania pun makan dengan lahap hingga semua makanannya tandas di piring tak tersisa, sepertinya ia benar – benar kelaparan, Felisa pun memberikan air minum kepada Tania
“Feli tante tinggal sebentar yah, mau mengambil air panas di dapur” Ucap ibu Riana sambil membawa termos air
Kini di dalam kamar hanya tinggal Felisa dan Tania, Felisa pun membenarkan posisi duduk Tania dan membetulkan selimutnya
“Fel” Panggil Tania lirih
“Kalau kamu belum mau cerita, jangan cerita” Ucap Felisa
Ia sangat kasihan melihat sahabatnya tersebut
Tania pun menceritakan apa yang terjadi tanpa menutupi sedikitpun
“Apa kamu yakin, itu adalah pacarnya” Tanya Felisa
Tania pun mengangguk
“Tau darimana” Ucap Felisa
“Aku melihat foto mesra bang Romi dengan seorang wanita di ponsel bang Romi, dan aku mendapati mereka sedang berduaan di kafe saat aku mengantar pesanan langganan mama aku” Ucap Tania
“Kamu temui mereka” Tanya Felisa
Tania pun menggelengkan kepalanya
“Terus” Ucap Felisa
“Aku pergi meninggalkan mereka, karena aku terlalu terkejut dan juga kecewa” Ucap Tania jujur
“Lalu kamu sudah hubungi bang Romi” Tanya Felisa
“Aku sudah menghubunginya, namun nomornya tidak aktif, jadi aku mengirim pesan kepadanya meminta putus tapi dia pun tidak membalas pesanku” Ucap Tania
“Kenapa kamu bertindak gegabah seperti itu Tan, harusnya kamu meminta penjelasan bang Romi, tentang hubungannya dengan wanita itu, bukannya langsung mengambil keputusan seperti itu” Ucap Felisa menasehati
__ADS_1
Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu, padahal selama ini Tania adalah orang yang logis, bahkan dahulu saat Felisa mempunyai masalah dengan Rezky pun Tania selalu menjadi penasehat handal untuk mereka namun mengapa Tania tidak bisa bersikap yang sama pada apa yang sedang ia alami
“Tapi Fel, dia gak balas pesan aku, mungkin itu tandanya dia setuju untuk putus denganku” Ucap Tania kekeh dengan pemikirannya
Felisa pun kehabisan kata – kata untuk berdebat dengan sahabatnya itu, ia tak ingin melanjutkan argumen mereka karena kondisi Tania yang belum stabil
“Ya sudah, kamu istirahat, biar cepat sembuh” Ucap Feli mengalihkan pembicaraan
“Iya” Ucap Tania
“Nanti kalau udah sembuh baru curhat lagi” Ucap Felisa
“Okey” Ucap Tania
Ibu Riana pun kini sudah datang, Felisa pun masih menemani sahabatnya itu hingga tak terasa hari sudah malam
“Assalamualaikum dek” Ucap Melati saat masuk ke kamar nginap Tania
“Walaikumsalam” Ucap semuanya
“Mau nginap disini atau mau pulang sama mbak” Tanya Melati karena sipnya sudah selesai
“Pulang aja Fel, nanti besok mampir lagi” Ucap Tania
“Gak papa ni” Tanya Felisa
“Iya, gak papa, lagian kamu kan penakut, nanti aku gak nyenyak lagi tidur gara – gara kamu nyuruh temani ke toilet” Ucap Tania yang sangat mengenal sahabatnya itu
“Hahahaha” Tawa Melati membenarkan perkataan Tania tentang adik iparnya itu
Ibu Riana pun tersenyum, karena Felisa tidak jauh berbeda dengan mamanya Retno, ibu Riana teringat sahabatnya
“Hehehe, tau aja beb” Ucap Felisa
“Tania, tante, kita pulang dulu yah” Ucap Melati Pamit
Mereka berdua pun menyalami ibu Riana, Felisa memeluk sahabatnya Tania sebelum keluar dari Kamarnya
Melati dan Felisa pun kini sedang menuju terminal untuk naik angkot pulang ke rumahnya, maklum saja rumah sakit tempat Melati dan sekolah tempat Felisa bekerja berada di pusat kota
Sesampainya di rumah, Diora sedang menggendong Meldia, mama mertuanya baru saja membawa pulang anaknya tersebut, ketika Melati berdinas maka Meldia dititipkan di rumah mamanya, kini rumah orang tuanya tidak lagi di seberang pulau, semenjak cucu mereka lahir
Pak Hendra dan ibu Devanka membeli rumah di kampung Felisa hanya saja mereka berbeda komplek, demi untuk selalu dekat dengan cucu kesayangan mereka
Kedua wanita itupun kemudian berlalu ke kamar masing – masing untuk mandi dan beristirahat, tubuh mereka benar – benar lelah setelah seharian beraktivitas
Sang putri Meldia pun kini sudah terlelap dibujuk ayahnya, Diora pun menidurkan anaknya dan ia pun bersiap untuk tidur, istrinya yang baru selesai berganti pakaian kini ikut bergabung di atas kasur, Diora pun memeluk istrinya dan mereka terlelap bersama
Di kamar lainnya, sang gadis pun sedang berdoa setelahnya ia pun memeluk gulingnya dan memejamkan matanya.
Bersambung_______
Wah wah wah nasib bujangan yah cuma bisa memeluk guling 😁
Gimana yah dengan kisah Tania dan Romi selanjutnya ?
Terus pantengin ceritanya yah ☺️
Btw jangan lupa kunjungi karya Author yang lainnya yah:
Tuan Muda Arogan dan gadis penggoda ☺️
Episode perdananya sudah Author up 🤗 Selamat membaca ❤️
__ADS_1