
Mentari bersinar cerah, sang Danyon sedang mengawali pembinaan kepada para bawahannya, ia nampak kurang sehat, namun tetap tegas dan terlihat berwibawa dengan seragam kebesarannya
“Siap Dan” Ucap seluruh prajurit yang mengikuti binaan
Kemudian riuh tepuk tangan memenuhi lapangan olahraga tersebut
Fendi kembali ke ruangan usai memberikan binaan
“Serka Romi” panggil komandan Arif
“Siap Dan” Ucap Romi
“Apa Komandan Fendi sedang sakit” Tanya Arif
“Siap, kurang tau Dan” Jawab Romi
“Oh ya sudah” Ucap Arif
“Siap, pengisi komandan” Ucap Romi
“Siap” Ucap komandan Arif
Didalam ruangannya terlihat wajah Fendi yang nampak kelelahan, ia terlihat tidak bersemangat dari beberapa hari yang lalu, saat Romi memberikan informasi tentang Felisa kepadanya
Ia nampak frustasi, Romi yang tak sengaja melewati ruangannya yang pintunya sedikit terbuka pun dapat melihat keadaan sahabatnya tersebut
Ia pun merasa sedih dengan keadaan sahabatnya, namun ia bisa apa, semua keputusan ada pada Fendi sendiri
Sepulang kerja, Romi mengajak sahabatnya untuk ke tempat karaoke, demi menghibur sahabatnya Romi bernyanyi
Ia menyanyikan lagu rock, hingga balad romantis, Fendi pun terhibur dengan aksi kocak sahabatnya tersebut
Hingga lagu kebangsaan pun Romi nyanyikan hanya untuk membuat Fendi lebih bersemangat
“Broh” Panggil Romi saat selesai bernyanyi
“Hum” Jawab Fendi sambil meminum soda miliknya
“Kayaknya kamu harus maju deh” Ucap Romi
“Maju” Jawab Fendi bingung
“Iya maju tak gentar, Felisa kan belum memberikan jawabannya, kamu masih punya kesempatan” Ucap Romi
“Okey, aku maju” Ucap Fendi
Semalaman ia berfikir keras hingga tidak tidur, pikirannya terganggu karena omongan Romi tempo hari
Sehingga membuat ia kurang bersemangat seperti sekarang
“Yes, itu baru sobibku” Ucap Romi
Mereka pun melanjutkan acara menyanyi mereka, Fendi pun mengambil mikropon yang satunya kemudian berdiet dengan Romi
Suara mereka menggema dengan nada – nada yang indah dan merdu tentang cinta, suara Fendi jauh lebih bagus dari Romi, ia bernyanyi dengan penghayatan yang luar biasa, seolah sedang menyampaikan kerinduan dan kekagumannya pada gadis pujaannya
Di tempat lain, gadis pujaan itu sedang terkapar tak berdaya, ia di diagnosa terkena tipes dan malaria
Sekarang ia sedang di omname di rumah sakit tempat kakak iparnya bekerja, dan tentunya Danu menjadi dokter yang merawatnya
“Malam Feli” Ucap Danu
“Malam dok” Ucap Felisa
“Gimana keadaan kamu” Ucap Danu
“Sudah agak mendingan dok” Ucap Felisa
“Bagus kalau begitu” Ucap Danu
“Sus Mel kemana” Tanya Danu
“Mbak Mel lagi pergi ceklis absen dok” Ucap Felisa
“Assalamualaikum” Ucap Tania dan Melati bersamaan ke dalam ruangan
“Eh ada dokter” Ucap Tania
“Malam Dokter” Ucap Melati
“Malam” Ucap Danu
“Kalian nginap disini” Tanya Danu
“Saya gak dok, soalnya ada Meldi, nanti Tania yang menginap dok” Ucap Melati
“Oh begitu, apa perlu saya temani buat jaga kamu Fel” Ucap Danu
__ADS_1
Melati pun kaget mendengar ucapan sang dokter, ia pun memberikan isyarat kepada adik iparnya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi
“Makasih sebelumnya dok, namun tidak udah dok, biar Tania saja yang menjaga saya” Ucap Felisa
Melati pun seolah menangkap ada sinyal – sinyal asmara dari dokter Danu kepada Felisa
“Okey kalau begitu saya permisi” Ucap Danu
“Iya dok’” Ucap ketiga wanita tersebut secara bersamaan
Dokter Danu pun berlaku meninggalkan ruang inap Felisa
“Dek, maaf yah mbak gak bisa menemani kamu disini” Ucap Melati
“Ia mbak gak papa kan ada Tania” Ucap Felisa
“Iya mbak gak usah khawatir, pasti Tania jaga kok” Ucap Tania
“Baiklah kalau begitu” Ucap Melati
“Mbak pulang pakai apa sudah malam loh” Ucap Felisa
“Mbak nebeng di teman mbak, kamu ingat kan teman mbak, yang di kampung sebelah” Ucap Melati
“Oh iya mbak” Ucap Felisa
Melati pun pamit dan meninggalkan Felisa dan Tania di dalam ruangan
“Tan aku tidur duluan yah, ngantuk” Ucap Felisa
“Iya beb” Ucap Tania
Tania pun keluar dari ruangan Felisa, ia mencoba menelepon Romi kekasihnya
Dr ... dr ... dr 📞
Satu panggilan terlewat tak ada jawaban
Dr... dr ... dr 📞
Panggilan keduanya
"Halo beb" Ucap Romi
"Kamu dimana beb"Tanya Tania
"Kok berisik banget" Lanjutnya
Romi pun keluar dari ruang karaoke menuju lobi untuk berbicara dengan Tania
"Aku lagi sama Fendi beb" Ucapnya
"Oh" Ucap Tania
"Ada apa beb" Tanya Romi
"Felisa masuk rumah sakit beb" Ucap Tania
"Apa, sakit apa beb" Tanya Romi
"Siapa yang sakit" Ucap Fendi yang berbisik kepadanya
Romi pun mengaktifkan speaker di panggilan teleponnya
"Feli sakit tifus sama malaria bang, masuk rumah sakit dari habis magrib, sekarang lagi istirahat" Jawab Tania
"Rumah sakit mana beb" Tanya Romi
"Rumah sakit Cempaka beb" Jawab Tania
"Okey kita kesana" Ucap Romi
"Iya beb" Ucap Tania
"Hati - hati di jalan sayang" lanjutnya
"Iya sayang" Ucap Romi
Telepon dimatikan
Fendi dan Romi pun bergegas menuju rumah sakit yang diberitahukan Tania, di jalan Fenis nampak cemas, ia khawatir dengan keadaan gadis pujaannya, sesampainya di lokasi, merekapun bertanya ke petugas yang sedang berjaga, beruntung waktu jenguk pasien belum habis
"Pasien dengan nama nona Felisa di ruang 15 pak" Ucap sang petugas
"Terima kasih sus" Ucap Romi
"Sama - sama" Ucap suster tersebut
__ADS_1
Mereka pun pergi ke ruang yang di tujukan perawat, sesampainya disana mereka melihat Tania yang sedang duduk di kursi depan ruangan Felisa
"Beb" Panggil Romi
"Abang" Ucap Tania
"Pak Fendi" Lanjutnya
"Halo" Ucap Fendi menyapa
Tania pun dibuat kaget dengan sapaan prajurit dingin tersebut
"Keadaan Feli bagaimana" Tanya Fendi
"Sudah mendingan pak, sekarang dia lagi istirahat" Jawab Tania
"Kamu udah makan beb" Tanya Romi
"Belum bang" Jawab Tania
"Broh, titip Feli yah, aku ajak Tania makan dulu" Ucap Romi
"Memang boleh pak" Tanya Tania
"Okey" Jawab Fendi datar
"Titip Feli yah pak" Ucap Tania
Fendi pun mengangguk sebagai ucapan persetujuan
Romi pun pergi menemani kekasihnya mencari makan malam, sedangkan Fendi masuk ke dalam ruang inap Felisa, gadis itu nampak tertidur nyaman seperti seorang bayi
Fendi pun mendekati sisi kiri ranjang rumah sakit, ia pun melihat Felisa lebih dekat
"Bulu matanya lentik" Ucap Fendi
Ia pun menatap gadis tersebut, perasaannya sangat cemas saat ia hendak kemari, namun rasa cemas itu perlahan menghilang setelah melihat dengan langsung keadaan gadisnya ini
Di tengah malam, Felisa pun terbangun, ia membuka matanya perlahan karena ia sangat haus, ia pun memanggil Tania, namun ia sangat kaget setelah melihat siapa yang sedang tertidurdi bangku samping tempat tidurnya, itu bukan Tania namun sosok lelaki, ia pun mencoba bergerak ingin meraih gelas di atas meja samping kanan tempat tidur, ternyata pergerakannya tadi membuat Fendi terbangun, Fendi pun dengan gerak cepat mengambil gelas minum untuk Felisa
"Astagfirullah" Ucap Felisa kaget
"Kamu gak papa, kenapa ga bangunin abang" Ucap Fendi
"Maaf" Hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Felisa
Fendi pun memberikan gelas untuk Felisa, dan felisa meminum air tersebut
"Tania kemana bang" Tanya Feli
"Abang udah suruh Tania pulang, nanti besok pagi ia kesini" Ucap Fendi
"Kenapa" Tanya Felisa bingung kenapa sahabatnya itu pulang
" Tania kelihatan capek dek, jadi abang suruh pulang di antar sama Romi, malam ini kamu abang yang jaga" Ucap Fendi
"Oh begitu' Ucap Felisa
"Eh kenapa abang yang jagain Feli" Tanya Felisa saat tersadar dengan situasi yang ada
"Udah istirahat jangan banyak tanya, abang akan jaga kamu sekarang dan selamanya " Ucap Fendi
Felisa pun kaget dengan ucapan Fendi, namun ia memilih untuk beristirahat, fisiknya terlalu lelah, ia tak ingin menambah beban di pikirannya.
Malam itu ada dua hati yang sedang saling menjaga dalam diam, cicak pun bahkan iri melihat seorang lelaki yang sangat sejati menjaga wanita pujaannya yang sedang terbaring sakit.
Bersambung_____
Duh Abang Fendi bikin meleyot deh 🤧
Author jadi sayang 🥰
Felisa be like : Punya Feli kali 😏
Author : Cih 🙄
Felisa : Jangan ngambek yah Thor 🤪
Author : Hum 🥴
Felisa : Hahahaha 🤣
Felisa : Udah ah Readers terus dukung karya ini yah ☺️ Saranghae ❤️🥰
__ADS_1