
Hari ini cuaca di luar nampak hujan lebat, air menggenang sepanjang jalan menuju rumah Felisa, belum lagi angin yang berhembus kencang menambah suhu dingin yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hari ini dan besok akan terjadi curah hujan yang sangat lebat dari biasanya, matahari pun tidak muncul sejak pagi
Felisa tidak pergi ke sekolah hari ini, akibat cuaca buruk sekolah jadi diliburkan, semua orang malas keluar rumah dengan kondisi banjir yang ada
Ia hanya bersantai dengan memakai sweater hangat dan selimut tebal di dalam kamar, begitupun dengan Melati dan Diora yang sedang membujuk anaknya yang sedang menangis
Melati pun memakaikan baju yang lebih tebal untuk bayinya dan membungkusnya dengan selimut bayi agar jauh lebih hangat, ia dan Diora pun memakai jaket tebal mereka
“Assalamualaikum” Ucap seseorang di luar
“Walaikumsalam” Jawab Diora bergegas membuka pintu
Ternyata yang datang adalah adiknya Putra beserta istri dan anaknya, mereka baru saja tiba, mereka turun dari angkot dan bergegas masuk ke dalam rumah
“Abang” Ucap putra
Mereka pun saling berpelukan satu sama yang lainnya
“Kalian semua tidak apa – apa kan” Tanya Diora memeriksa keadaan adik beserta keponakannya
Ia pun menutup pintu agar udara dingin tidak masuk ke dalam
“Gimana, berombak tidak” Tanya Diora
“Ombak bang, Reihan aja sampe mabuk laut” Ucap Dena
Felisa mendengar suara ribut – ribut dari luar, begitupun juga Melati setelah menaruh bayinya di ranjangnya kemudian mereka pun keluar dari kamar masing – masing
“Bang Putra, mbak Dena, Rei” Ucap Felisa menyebutkan nama ketiga saudaranya itu sambil berteriak, kemudian ia pun berlari untuk memeluk ketiganya
“Kangen” Ucapnya kemudian
“Abang juga” Ucap Putra memeluk adiknya itu
“Iya, mbak juga kangen dek sama kamu” Ucap Dena
“Mbak Mel” Ucap Dena menuju Melati dan memeluknya juga
Reihan pun menyalami tante dan omnya itu
“Mama, Rei ngantuk” Ucap Reihan kepada mamanya
“Dena pun segera menggendong anaknya tersebut, Reihan sudah sekolah di TK besar, ia sangat manja pada mamanya
“Mbak, kamarnya belum dibersihkan, sementara Rei tidur di kamar Feli dulu yah, gak apa – apa kan, soalnya Feli gak tau kalo bang Putra dan mbak datang hari ini, kirain beberapa hari lagi” Ucap Feli panjang lebar
“Iya gak apa – apa, nanti sementara ia tidur di kamar kamu dulu dek, habis itu nanti mbak beresin kamar mbak” Ucap Dena
Dena pun membawa anaknya itu ke dalam kamar adik iparnya kemudian ia membujuk anaknya itu untuk tidur, setelah anaknya terlelap, ia pun keluar kamar menemui yang lainnya
“Dek, bantuin kakak beresin kamar yuk” Ucap Dena
“Yuk sama – sama” Ucap Melati
__ADS_1
“Eh jangan mbak, mbak kan baru selesai melahirkan gak boleh terlalu capek” Ucap Dena melarang Melati
“Mbak cuma mau menemani kalian kok, lagian melahirkannya kan sudah beberapa hari yang lalu jadi sakitnya sudah sedikit berkurang” Ucap Melati
Memang benar sakit yang ia rasakan sudah berkurang, sebab mamanya Devanka sering datang ke rumah dan membantunya berobat dengan metode tradisional, ibunya itu sering membuatkannya jamu setelah melahirkan, sehingga Melati jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya
“Yuk mbak, ke belakang” Ucap Felisa
Sebab kamar Dena dan Putra ada di bagian paling belakang sebelah pintu dapur
Rumah Felisa tidak terlalu besar, hanya ada tiga kamar tidur dan satu buah kamar mandi, satu ruang tamu, ruang keluarga dan juga ruang makan beserta dapur untuk memasak, Kamar utama dekat ruang tamu ditempati oleh Diora dan istri beserta anaknya, Kamar kedua dekat ruang televisi ditempati oleh Felisa, dulunya itu merupakan kamar abangnya Putra dan kamar Felisa yang sebenarnya berada di ujung ruang televisi dekat pintu dapur, hanya saja saat abangnya pindah kerja ke pulau seberang, Putra dan Dena meminta ia untuk pindah ke kamar mereka, jadilah sekarang kamar itu milik Felisa
“Mbak mau tukaran kamar atau gak” Tanya Felisa
“Gak usah dek, gak apa – apa di sini saja” Ucap Dena
“Lagian mbak, Rei dan bang Putra kan gak lama disini, kita cuma datang buat acara akikahan dedek Meldia aja kok, sengaja kita datang lebih cepat supaya agak lama tinggalnya” Ucap Dena menerangkan
“Memangnya sekolah Reihan udah libur yah mbak” Tanya Felisa
“Belum sayang, sebenarnya liburnya baru dua hari lagi, cuma pas mbak ke sekolah Reihan kata gurunya boleh libur duluan, karena mereka sudah selesai tes” Ucap Dena
Mereka pun terus beres – beres sambil bercerita dan bercanda, Melati ikut mendengarkan obrolan adik – adiknya sambil mengisi bantal ke dalam sarungnya
Putra dan Diora pun sedang asyik mengobrol di depan
Putra bercerita tentang pekerjaannya dan Diora bercerita tentang persalinan istrinya
“Bang, makan dulu” panggil Melati pada suaminya yang tengah asyik mengobrol
Sehabis makan, mereka pun sholat Dzuhur secara bersamaan, diimami Diora, sehabis itu, Putra dan Diora kembali asyik mengobrol melanjutkan pembicaraan mereka sedangkan para wanita memilih tidur di kamarnya masing – masing, Reihan sudah di pindahkan sang ayah ke kamar mereka jadi Felisa pun bisa tidur dengan tenang
Di luar hujan masih belum berhenti, petir pun sesekali menyambar, sungguh cuaca yang buruk
Felisa pun semakin memeluk gulingnya dan membungkus dirinya dengan selimut tebal, bahkan ia sudah memakai kaos kaki saking dinginnya
Sedangkan di kamar lainnya Melati sedang menyusui bayinya, Meldia tiba – tiba terbangun dan menangis akibat suara guntur yang membuatnya kaget, begitupun dengan Dena sedang menenangkan Reihan yang sedang takut
Putra dan Diora sudah kembali ke kamar mereka untuk tidur siang, berperan sebagai ayah baru membuat malam – malamnya di penuhi dengan tangisan sang bayi, ia pun sangat membantu Melati dalam mengurus anak mereka, ia bahkan sudah pandai dalam mengganti popok dan baju bayi, hanya saja ia belum ahli tentang cara memandikan anaknya, alhasil bagian itu Melati yang jauh lebih berperan
Rumahpun nampak sunyi karena para penghuninya sedang tidur siang
Tak terasa hari sudah sore, hujan pun sudah mulai berhenti, genangan air di depan rumahnya pun kini sudah mulai menyurut
Melati baru selesai memandikan anaknya dengan hanya menggunakan kain lap dan air hangat, sengaja tidak ia mandikan di dalam bak mandi bayi karna udara yang masih dingin
Sedangkan Dena baru selesai mandi, ia juga memandikan Reihan dengan air panas yang tadi dimasak olehnya
Hanya Diora dan putra yang masih terlelap
Felisa pun sudah bangun dan kini sedang bergegas ke kamar mandi, Melati sedang menggendong bayinya yang sudah cantik dan rapi, Melati pun juga sudah mandi tadi
“Wah cantiknya adek bayi” Ucap Reihan
__ADS_1
“Makasih akak Leihan” Ucap Melati meniru suara bayi
Diora dan Putra pun sudah bangun dan bahkan sudah rapi, mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga
“Yah ampun aku lupa” Ucap Dena lalu bergegas menuju kamarnya
Ia pun kembali dengan membawa beberapa tas yang ia ambil dari kopernya, dan membagikannya satu persatu pada saudara - saudaranya itu
“Ini apa mbak” Tanya Felisa
“Di buka dulu dek” Ucap Dena
“Wah bagus banget mbak” Ucap Felisa saat membuka isi tas yang di berikan oleh Dena, ternyata itu adalah sebuah gamis berwarna sage green yang cantik
“Kamu suka” Tanya Dena
“Iya mbak, makasih yah” Ucap Felisa
Melati dan Diora pun membuka tas yang diberikan Dena, isinya hampir sama cuma motifnya yang berbeda
Punya Diora adalah kemeja lengan panjang bermotif, sedangkan punya Melati yaitu gamis yang berwarna sama dengan Felisa hanya saja mempunyai motif yang sama dengan Diora
“Sepertinya ini baju pasangan” Ucap Melati
“Iya mbak” Ucap Dena
“Aku sengaja beli oleh – olehnya mirip supaya bisa kita pakai sama – sama pas acara akikah nanti”
“Punyaku, bang Putra dan Reihan juga sama dengan kalian warnanya, Cuma beda motif juga” Ucap Dena kemudian memperlihatkan baju gamis miliknya yang juga sama
“Wah berarti nanti kita kembaran dong” Ucap Felisa antusias
“Iya dek” Ucap Dena
“Makasih yah Den” Ucap Melati
“Hm mbak, berarti kita tinggal nyari baju buat dedek Meldia dong” Ucap Felisa
“Gak usah dek, kemarin mama Devanka membeli baju buat Meldi dan warnanya mirip kok sama ini” Ucap Melati
Yah, memang benar yang dikatakan Melati, ibunya Devanka sering kali berkunjung dengan membawa hadiah untuk cucu pertamanya itu, begitupun suaminya pak Hendra, mereka suka sekali membeli barang entah itu sepatu, baju, popok dan lain – lainnya untuk cucu kesayangan mereka
“Wah kebetulan sekali mbak, syukurlah kalau begitu” Ucap Dena
Acara akikah Meldia tinggal tiga hari lagi, tepat seminggu ia keluar dari rumah sakit, dan acara tersebut akan digelar di kediaman yang sekarang mereka tempati, beberapa perlengkapan pun sudah mereka tulis dalam catatan, besok kalau cuacanya bagus, Felisa dan Dena akan pergi untuk berbelanja keperluan
Sehabis bercengkrama dan melepas rindu satu sama yang lainnya, tak terasa adzan magrib telah berkumandang, mereka pun menyudahi percakapan mereka dan bergegas menjalankan ibadah wajib tersebut secara berjamaah, kali ini dipimpin oleh Putra, bacaan surah - surah pendek pun Putra lantunkan dengan indah, hingga sampai salam dan doa pun suara Putra sangat merdu di telinga, mungkin ini juga salah satu penyebab yang membuat Dena jatuh cinta kepadanya, sungguh cerminan calon imam yang sangat didamba oleh setiap wanita, Dena sangat beruntung bisa menikah dengan suaminya itu, mereka pun mengirimkan doa kepada almarhumah ibu mereka
Malam itu sebuah keluarga yang lama terpisah berkumpul bersama, mengulas kembali setiap kenangan yang ada, bercerita dan tertawa bersama.
Bersambung ~~
Begitulah hubungan darah, lebih kental dari air, walaupun terpisah jauh, keluarga tetaplah sebuah keluarga.
__ADS_1
Dukung terus karya Author yah, jangan lupa like, vote dan komen 🥰 Terima kasih 🙏