Prajurit ! I Love You

Prajurit ! I Love You
#Kegalauan Fendi


__ADS_3

Keesokan harinya Felisa masih kepikiran dengan pernyataan dokter Danu yang menyukainya, ia bahkan tidak tau harus menjawabnya bagaimana, pasalnya ia ingin menolak awalnya namun dokter Danu memintanya untuk memikirkan sebelum ia memberikan jawaban kepadanya


“Duh gimana yah” Gumamnya lirih


“Ada apa dek” Tanya Melati yang melihat adik iparnya uring – uringan dari tadi


“Gak papa mbak, hehe” Ucap Felisa


Ia pun ragu untuk berbicara kepada kakak iparnya itu, pasalnya ia rasa ia bisa mengatasinya sendiri, namun nyatanya semalaman ia tidak bisa tidur karena pikirannya terus saja terngiang - ngiang kalimat sang dokter


“Cerita dek kalau ada apa – apa, kalau belum mau yah sudah kalau begitu, mbak mau berangkat dulu, kamu hari ini izin kan” Ucap Melati


“Iya mbak” Ucap Felisa


“Masih pusing atau udah mendingan” Tanya Melati


“Udah gak mbak” Jawabnya


Melati pun berangkat kerja, Meldi sudah di ambil neneknya pagi – pagi sekali


“Mbak berangkat dulu yah” Ucap Melati


“Iya mbak, hati – hati” Ucap Felisa


“Iya dek” Ucap Melati


Melati pun akhirnya berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja, sesampainya di rumah sakit, Melati di sapa oleh dokter Danu


“Selamat pagi Mel” Ucap Danu


“Pagi dok” Ucap Melati


“Gimana kabar Mel, oh yah adik ipar kamu lagi bikin apa" Tanya Danu


“Baik dok, dia lagi istirahat di rumah” Ucap Melati


“Gak kerja” Tanya Danu


“Dia lagi gak enak badan dok” Jawab Melati


“Oh begitu” Ucap Danu


“Iya dok, kalau begitu saya permisi dok” Ucap Melati pamit dan berlalu


Dokter Danu pun menatap kepergian Melati, dalam hati ia bertanya – tanya tentang keadaan Felisa, ia pun mengambil ponsel dalam saku jas putihnya dan menelepon gadis tersebut


Dr...dr...dr 📞


Panggilan tak terjawab


Beberapa kali ia mencoba namun tak terjawab juga, ia pun mengirim pesan Wa kepada Felisa namun rupanya masih centang satu warna abu – abu, sepertinya belum online


“Apa aku menjenguknya nanti aja yah” Gumam Danu


Kemudian ia menyimpan ponsel di sakunya dan berjalan menuju ruangan tempat ia bekerja


Di tempat lain, Tania nampak uring – uringan, dari semalam ia mencoba menghubungi kekasihnya Romi namun ponselnya tidak aktif


“Duh kemana sih ayang beb ini” Ucapnya


Ia pun menjadi kesal dan meninggalkan ponselnya di atas meja dalam kamarnya dan kembali ke dapur untuk membantu ibunya membuat pesanan


Tak lama kemudian ia pun kembali mengecek ponselnya dan ternyata ada lima panggilan tak terjawab yang berisi panggilan dan pesan suara dari korban tulang ayam yang sudah ia singkat menjadi KTA ❤️nama lain kekasihnya Romi

__ADS_1


“Assalamualaikum, maaf beb dari semalam hape ku dayanya habis lupa cas ini baru penuh lalu hidupin ” Ucap  Romi 


“Ada apa beb” bunyi pesan suara kedua


Tania pun menelepon balik Romi, ia menceritakan isi percakapan antara Felisa dan juga dokter Danu kepada Romi


Romi pun kaget mendengarnya, namun ia merasa kasihan terhadap Fendi, sahabatnya belum juga berjuang namun sudah ditikung oleh lawannya


“Okey beb nanti aku coba bicara dengan Fendi” Ucap Romi


“Oke sayang, nanti berkabar yah” Ucap Tania


“Siap, aku lanjut kerja dulu yah beb” Ucap Romi


“Iya, yang semangat prajurit sayangku” Ucap Tania


“Makasih beb, kamu juga semangat yah sayang” Ucap Romi


“Okey, bey” Ucap Tania


“Bey” Ucap Romi kemudian memutuskan panggilan


Tania pun kembali menuju ke dapur, ia akan pergi mengantar pesanan para pelanggan setianya


Di markas batalyon 7** sang Danyon baru selesai kembali setelah memberikan pembinaan, ia pun kini sedang berganti pakaian karena akan berlatih di lapangan olahraga


Romi dan prajurit lainnya pun kini sedang latihan, seusai latihan Fendi pun beristirahat sejenak di samping lapangan, sambil meminum minuman air putih kemasan botol


“Izin Dan, lapor, latihan telah selesai” Ucap Serka Romi


“Bubarkan” Ucap sang Danyon


“Siap” Ucap Romi


Ia pun kembali ke tengah lapangan untuk membubarkan barisan latihan


“Izin Dan” Ucapnya


“Iya ada apa Serka Romi” Tanya Fendi


“Pulang kerja nanti bisakah saya izin untuk berbicara berdua” Ucap Romi


“Apakah ini mengenai urusan pekerjaan” Tanya Fendi


“Siap, tidak komandan” Ucap Romi


“Hum, baiklah Serka Romi, pulang kerja nanti temui saya” Ucap Fendi


“Siap” Ucap Romi


“Masih ada lagi” Tanya Fendi


“Siap, tidak, permisi komandan” Ucap Serka Romi


“Silahkan” Ucap Fendi


 


Detik menit bergulir, saatnya mereka pulang setelah selesai berdinas, layaknya kedua sahabat mereka pun bercengkerama, kini tidak ada yang tau bahwa mereka adalah abdi negara, sebab penampilan mereka hanya sederhana


“Makan malam dimana broh” Tanya Romi


“Mana aja terserah” Ucap Fendi datar

__ADS_1


“Okey, tempat biasa aja, gimana” Ucap Romi


“Okey” Ucap Fendi


Mereka pun menuju kafe tempat mereka nongkrong, disana mereka makan menu pesanan mereka dengan lahap, dan sehabis itu mereka mulai mengobrol santai


“Ada apa broh” Ucap Fendi


“Broh” Panggil Romi


“Hum” Ucap Fendi sambil minum jus lemon yang ia pesan


“Doktet Danu menyatakan perasaanya ke Felisa” Ucap Romi


Byur ....


Minumam yang diminum Fendi keluar begitu saja dari mulutnya menyembur ke arah wajah Romi


“Bang*e” Ucap Romi


“Maaf” Ucap Fendi


“Cih” Kesal Romi sambil mengelap wajahnya dengan tisu


Fendi nampak berfikir, pikirannya melayang entah kemana


“Broh, broh” Panggil Romi


“Hum” Ucap Fendi


“Hum hum hum, gebetanmu sudah di incar orang tuh” Ucap Romi


“Dia jawab apa” Tanya Fendi


“Gak tau, kata Tania dokter Danu menyuruh Felisa untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaannya” Ucap Romi menjelaskan sesuai apa yang kekasihnya infokan


Fendi pun kelihatan prustasi, ia tidak menyangka kalau saingannya begitu cepat bergerak


Ia pun nampak diam, wajahnya menahan kesal luar biasa, ia tidak marah pada Felisa maupun dokter Danu namun ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak berani dalam mengambil sikap


Ia pun beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan Romi


“Tungguin broh” Ucap Romi kemudian berlari mengejar Fendi


Romi sangat mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu, ia merasa kegalauan yang di rasakan Fendi hal yang wajar, selama ini Fendi jarang dekat dengan wanita, ia tak pernah menyukai wanita seperti ia menyukai Felisa, namun nampaknya kini ia harus mengahadapi kenyataan bahwa ada saingannya yang jelas – jelas telah mencuri start darinya, rupanya meski  jago menembak dan hebat sebagai prajurit, Fendi hanyalah manusia biasa yang juga bisa merasa galau dan kecewa.


 


Bersambung~~~~


Duh kasihan bang Fendi 🤧


Makanya bertindak dong bang 😏


Wanita butuh kepastian kali 🙄


Giliran di tikung aja galau, awas loh bang jangan sampai galaunya buat seisi markas tembak – tembakan, nanti bisa gawat lagi, hihi 🤭


Author jangan gitu dong kan kasihan bang Fendi, udah biarin aja biar tau rasa 😂 biar bisa cepat bertindak ☺️


Terus pantengin ceritanya yah Readers sayang 🥰 Saranghae 🤗


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2