
Dr... dr...dr 📞
“Assalamualaikum” Ucap Fendi
“Walaikumsalam, dek kamu mbak telepon dari semalam gak di angkat” Ucap Valeri marah – marah
Fendi melihat jam weker di meja sebelah tempat tidur, ia baru tidur 3 jam yang lalu
“Ada apa mbak” Ucap Fendi, mencoba untuk bangun bersandar di kepala ranjangnya
“Tante masuk rumah sakit, kecelakaan mobil sekarang kondisinya koma” Ucap Valeri panik
“Apa” Ucap Fendi
“Mama kenapa mbak” Lanjutnya
“Kamu sekarang dimana” Tanya Valeri
“Mbak lagi di bandara satu jam lagi mau check in” lanjutnya
“Mbak aku ikut, tiketnya gimana” Ucap Fendi
“Kamu gak lihat ponsel kamu, sudah mbak kirim nomor tiket kamu” Ucap Valeri
“Okey, mbak tunggu di bandara biar kita berangkat bersama” Ucap Fendi
Ia pun segera mencuci mukanya dan bersiap, ia membawa tas ranselnya dan menitip pesan kepada tukang kebun yang tiba – tiba saja terbangun
“Mang, nanti bilang bibi, aku berangkat ke kota C, mama masuk rumah sakit soalnya” Ucap Fendi
“Siap tuan” Ucap mang Danang
“Tuan mau saya antar” Ucap Danang
“Kamu tau bawa mobil” Tanya Fendi
“Tahu Tuan, baru dapat SIM dua bulan yang lalu” Jawab Danang
“Okey, ni kuncinya mang, tolong antar saya ke bandara, mbak Valeri sudah menunggu soalnya” Ucap Fendi
“Siap Tuan, sebentar saya tutup pintunya dulu” Ucap Danang
Sedangkan Fendi sudah berlalu ke depan rumah tempat mobilnya terparkir
“Broh mau kemana” Tanya Romi yang tiba – tiba muncul
“Ke kota C broh, mama koma di rumah sakit” Ucap Fendi cemas
“Astagfirullah” Ucap Romi
“Titip Feli yah broh” Ucap Fendi
“Markas gimana broh” Tanya Romi
“Aku sudah menelepon komandan Arif tadi, nanti beliau yang tangani besok” Ucap Fendi
__ADS_1
“Ayo tuan” Ucap Danang
“Hati – hati yah broh” Ucap Romi
“Okey bey” Ucap Fendi
Mobilpun melaju menuju bandara, Valeri sudah cemas – cemas menunggu kedatangan sepupunya
Setengah jam kemudian, tibalah Fendi di bandara
“Mbak” Ucap Fendi memanggil
“Dek, buruan” Ucap Valeri
Mereka berdua pun menuju loket petugas, setelah itu mereka menunggu keberangkatan di ruang tunggu
“Kamu gak lihat ponsel kamu, om nelpon kamu berulang kali katanya kamu tidak angkat” Ucap Valeri
“Iya mbak, seharian sibuk, lupa lihat hp” Ucap Fendi jujur
“Ya sudah kalau begitu, ayo pesawat kita sudah mau berangkat” Ucap Valeri
Sesuai jadwal yang ditentukan, pesawat mereka pun terbang ke kota C, Fendi yang masih merasa mengantuk pun tertidur selama perjalanan, setelah 1 jam lebih akhirnya mereka mendarat
“Dek” Panggil Valeri
“Ayo turun” Ucapnya
“Iya mbak’ Ucap Fendi
Mereka pun segera menuju rumah sakit tempat mamanya di rawat
“Pa” panggil Fendi Salim kepada ayahnya
“Nak” Ucap Rahman sambil memeluk anak satu – satunya tersebut
“Gimana keadaan mama pa sebenarnya apa yang telah terjadi, mengapa bisa seperti ini” Ucap Fendi
“Mama kamu baru saja melalui masa kritis, hanya saja ia belum sadar, dokter menyuruh kita menunggu hingga besok pagi, sambil terus memantau keadaan mama” Ucap Rahman
“Papa tidak tau kronologinya seperti apa tapi kata mang Diman sopir yang mengantar mama, saat di mintai keterangan sama polisi, mang Diman bilang mobilnya berjalan seperti biasa tidak ada kendala, hanya saja saat di persimpangan dan mang Diman ingin belok, sebuah mobil dari arah belakang langsung menabraknya, rupanya itu kecelakaan beruntun, dan beruntungnya mama kamu masih bisa di selamatkan, beberapa korban lainnya meninggal di tempat termasuk sang pelakunya, mang Diman terbentur stir mobil, dan mama kamu terbentur badan mobil, hanya saja karena kaget dan benturannya lumayan kuat makanya mama kamu sampai saat ini belum sadarkan diri” Lanjut Rahman dengan wajah yang sedih
Ia sangat syok saat polisi menelpon dan mengabarinya mengenai kabar sang istri, yang ia tau, ia baru saja berpamitan karena istrinya ingin pergi ke Mall, tadinya Rahman akan pergi berdua, sekaligus membeli oleh – oleh sebelum kembali ke kota A, namun Rahman harus segera bertemu rekan bisnisnya, alhasil istrinya hanya pergi berdua dengan sang sopir
“Astagfirullah” Ucap Fendi
“Keadaan mang Diman juga gimana pak” Tanya Fendi
“Keadaannya baik – baik saja, namun papa minta agar tetap di rawat takut terjadi apa – apa, sekarang mungkin sedang beristirahat” Ucap Rahman
Fendi pun melihat keadaan mamanya dari balik kaca pintu, ia sangat sedih melihat wanita yang dicintainya terbaring lemah tak sadarkan diri, sungguh ia merasa tidak berguna sebagai anak, karena tidak bisa menjaga ibunya sendiri
“Kamu jangan sedih sayang, semua ini adalah musibah”Ucap Rahman
Ia sangat mengenal anak lelakinya itu, sehingga ia mencoba memberikan nasehat yang bijaksana agar anaknya itu tidak menyalahkan dirinya sendiri atas musibah ini
__ADS_1
Tak terasa pagi menjelang, Fendi yang tertidur di kursi rumah sakit pun terbangun, ibunya masih di ruang ICU, sepupunya datang dengan membawa sarapan
“Broh makan dulu” Ucap salah seorang sepupunya
Fendi pun memakan sarapan yang dibawa saudaranya itu
“Val” Ucap Fendi
“Kamu semalam tidur disini” Tanya Fendi
“Gak, aku sama om pulang” Jawab Valeri
“Oh terus papa mana” Tanya Fendi
“Om sedang berbicara dengan dokter” Jawab Valeri
“Sus apa saya bisa menjenguk mama saya” Ucap Fendi
“Oh boleh pak, tapi jangan lama, pasien masih belum bisa terlalu lama dijenguk” Ucap salah seorang perawat yang bertugas
Fendi pun masuk dan memakai pakaian khusus, lalu ia berbincang dengan ibunya, ia berharap ibunya bisa mendengar apa yang ia ceritakan
“Ma, cepat sembuh yah” Ucapnya
Sepertinya tidak ada tanda – tanda kesadaran ibunya, Fendi pun keluar dari ruangan, berkumpul dengan yang lainnya
Nampak ayahnya Rahman yang terlihat prustasi, ia terlihat sangat lelah, wajahnya yang mulai menua, syarat akan kekhawatiran terhadap kondisi pujaan hatinya
“Pak, gimana kata dokter” Tanya Fendi
“Yang sabar yah nak, kita terus berdoa” Ucap Rahman
Kemudian ia duduk bersandar di kursi yang disediakan
Valeri pun tidak bisa berkata apapun, kondisi tantenya masih belum sadar, walaupun ia juga seorang dokter, namun nampaknya ia tak bisa berbuat banyak, selain beda kejuruan ia juga tidak punya wewenang di rumah sakit tersebut
Tak terasa sudah seminggu Fendi dan keluarganya menjaga sang ibunda, ia bahkan tidak pernah menghubungi gadis pujaannya, ia sangat kangen dengan Felisa, namun ibunya jauh lebih membutuhkan dirinya
“Ma, mama cepat sembuh yah, nanti Fendi kenalin sama bidadari yang cantik juga kayak mama” Ucap Fendi
Setelah berucap seperti itu, terlihat pergerakan jemari mamanya, Fendi yang melihat reaksi mamanya pun langsung memanggil dokter lewat tombol yang ia pencet di sebelah ranjang pasien, dokter pun berdatangan dan memeriksa keadaan ibunya, dan beruntung kondisi ibunya mulai stabil
Rahman sangat bahagia, istrinya kini mulai sadar, perlahan kelopak matanya terbuka, meski masih sedikit pusing, Betharia Gunawan kini mulai sadar
“Fendi” Panggilnya
“Iya ma” Ucap sang anak
“Janji yah nanti kenalin ke mama” Ucap Betharia dengan suara serak khas bangun tidur
Rahman pun bingung dengan janji yang dibuat sang anak ke ibunya, ia pun penasaran namun ia akan menanyakan langsung ke Fendi setelah ini.
Bersambung_____
Wah sepertinya ada yang mulai memberitahu sang mama ni ye 🤭
__ADS_1
Diam menjadi prajurit berpangkat tinggi, bergerak perkenalkan calon bini, cuaks 🤣🤪
Dukung pak Fendi selalu yah Readers 😊 Saranghae 🤗