
Malam harinya, Felisa dan Melati sedang membereskan pakaian Diora, ia akan berangkat dinas keluar kota, beruntung alergi Meldia sudah sembuh sehingga Diora bisa berangkat dengan tenang, sebab Meldia sangat dekat dengan ayahnya itu ketimbang ibunya yakni Melati sendiri
"Dek" Ucap Melati
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Gimana keadaan Tania" Ucap Melati
"Alhamdulillah udah membaik mbak" Ucap Felisa
"Memangnya Tania kenapa Fel, kok mbak perhatikan dia kayak orang galau gitu, dia gak papa kan sama Romi" Ucap Melati
"Mereka udah putus mbak" Ucap Felisa
"Hah, putus" Ucap Melati kaget
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Kenapa, ko kamu gak cerita sama mbak" Ucap Melati
"Maaf mbak, Feli lupa" Ucap Felisa
"Yah udah gak papa, sekarang kamu cerita kenapa mereka bisa sampai putus" Ucap Melati
Ia sangat mengkhawatirkan Tania, karena Tania sudah seperti adik baginya
Felisa pun menceritakan perihal putusnya hubungan sang prajurit dengan sahabatnya itu, ia menceritakan satu persatu kepada Melati tanpa ada satupun bagian yang terlewat
"Jadi maksud kamu, disini Tania lah yang membuat Romi kecewa" Ucap Felisa
"Menurut Feli sih gitu, kalau menurut mbak bagaimana, setelah mbak dengar ceritanya" Ucap Felisa
"Menurut mbak, mbak setuju sama kamu, tapi mbak juga gak bisa menyalahkan Tania, mungkin ia punya alasan tersendiri yang kita gak tau, sebab kita sendiri gak tau apa yang ia rasakan, karena masing - masing orang menghadapi hubungan serius apalagi pernikahan itu tidaklah mudah, butuh kesiapan fisik, materi juga mental, gak heran mungkin saja Tania memikirkan ketiganya, sehingga ia mengambil keputusan seperti itu, namun yang mbak sayangkan, Tania terlalu rendah diri, sebab kalau mbak lihat dari perjuangan Romi, sepertinya ia tulus mencintai Tania" Ucap Melati
"Iya mbak, tapi mbak" Ucap Felisa .
Tapi apa dek" Ucap Melati
__ADS_1
"Apa menikah harus memikirkan ketiga hal itu, apa dulu mbak juga begitu saat mau nikah sama bang Dio" Ucap Felisa
"Iya dek, semua wanita yang ingin menikah ataupun pasangan yang ingin menikah pasti memikirkan hal itu dek" Ucap Melati
"Kalau mbak sendiri bagaimana" Ucap Felisa
"Mbak juga dulu begitu, semuanya mbak pikirin, sebab kan nanti mbak bakal hidup sama keluarga yang baru, mbak pasti kepikiran, keluarga pasangan mbak bisa nerima mbak atau tidak, trus impian menikah mbak seperti ini, apa bisa di wujudkan pasangan mbak atau tidak, walaupun mbak nikah sama kakak kamu biasa aja dan gak mewah - mewah tapi itu sudah menjadi keputusan kami berdua, padahal mbak anak satu - satunya, papa sama Mama Devanka menginginkan anaknya menikah dengan pria yang baik dan hidup bahagia, beruntung bang Dio bisa menunjukan hal itu, dan papa mama setuju, kita menikah, awal menikah juga pasti banyak cobaannya dek, sebelum dan sesudahnya pasti ada aja rintangannya, tapi justru di situlah seni nya dek, kita jadi tau dan lebih faham pasangan kita, saat ingin mempunyai anak juga harus butuh kesiapan fisik dan juga mental, materi juga buat kebutuhan dan lain - lainnya, namun jangan khawatir soal itu, sebab akan selalu ada aja rezekinya, yah pintar - pintar aja kita dek, kalau mbak sih, saat di lamar bang Dio, mbak ngomong ke orang tua, terus orang tua kasih mbak wejangan yah mbak ambil sebagai pegangan, terus juga mbak sholat istikharah minta petunjuk sama Tuhan, pasangan ini baik tidak buat kita, Alhamdulillah di jawab kontan sama Allah, terus kita minta juga buat teguh iman, biar kalau ada rintangan bisa di lewatin sama - sama, Alhamdulillah sampai kita menikah dan sampai sekarang, Allah selalu jaga" Ucap Melati panjang lebar
Felisa mendengar dengan seksama nasehat dan penjelasan kakak iparnya itu
"Ternyata gak mudah yah mbak kenal pasangan kita" Ucap Felisa
"Saat kita mengenal waktu pacaran atau sedang dekat gak akan kita kenal 100 persen dek orangnya, nanti setelah menikah baru kita tau pasangan kita lebih jauh seperti apa orangnya, yang penting kalau saran mbak, paling bagus jujur jujuran dari awal biar kita tau kejelekannya dulu, kalau jeleknya udah kita tau, dengan sendirinya kebaikannya pasti jadi bonus buat kita, tapi kalau sebaliknya takutnya pas kita tau jeleknya nanti kita gak bisa nerima dan itu yang bahaya, bisa - bisa belum apa - apa gak jadi lagi" Ucap Melati
"Oh begitu yah mbak" Ucap Felisa
"Iya dek" Ucap Melati
"Kasihan Tania juga yah mbak, bang Romi juga sekarang udah dekat sama yang lain mbak" Ucap Felisa
"Kok begitu mbak, berarti gak cinta dan tulus dong mbak" Ucap Felisa
"Bukan begitu dek, ego pria itu lebih besar dari ego wanita, ketika rasa sayang dan cinta seorang pria tidak di hargai, maka ia lebih memilih memberikannya kepada yang sama - sama punya rasa yang sama alias seimbang, disini bukan Abang bilang Tania gak cinta, tapi bisa jadi Romi itu punya harapan yang lebih terhadap Tania, namun Tania menolak harapan itu, otomatis namanya seorang pria ketika ia menemukan hal itu di wanita lain, maka tidak menutup kemungkinan ia akan merasa nyaman sama orang tersebut, apalagi disini Romi sudah membuat keputusan untuk putus dengan Tania, itu berarti untuk ukuran pria seperti Romi Abang rasa dia sudah memikirkan hal itu dengan matang, jadi tidak mungkin asal dekat dengan wanita aja dek" Ucap Diora menimpali
"Begitu yah bang" Ucap Felisa
"Iya dek" Ucap Diora
"Bang Fendi juga ngomong begitu kayak Abang" Ucap Felisa
"Yah karna pria dewasa seperti itu, beda sama pria lainnya, yang gak putus tapi tumpang tindih sana sini, alias playboy, kalau begini kan enak, jelas, jadi mau dekat sama siapa aja gak bingung dan takut bakal ketahuan" Ucap Diora
"Iya betul kata bang Dio dek" Ucap Melati
"Iya mbak, kasian Tania" Ucap Felisa
"Menyesal juga gak ada gunanya dek, kita doain aja yang terbaik buat mereka berdua" Ucap Melati
__ADS_1
"Iya mbak" Ucap Felisa
"Kalau Fendi sendiri bagaimana" Ucap Melati
"Bang Fendi sejauh ini baik" Ucap Felisa
"Udah kenal dekat berapa bulan dek" Ucap Melati
"Udah dua bulan mbak" Ucap Felisa
"Kenal baik - baik dulu dek, kasih waktu agak lama dikit, kalau dia memang serius dia akan mengikuti apa yang kamu bikin, nanti lihat lagi gimana orangnya, uji dikit gak papa, kan buat calon seumur hidup jadi harus selektif dek biar gak salah" Ucap Diora
"Tapi bang, umur Feli udah cukup loh" Ucap Melati
"Bukan perkara umur sayang, biar lambat asal selamat, jangan buru - buru, jangan dengarin kata orang, Abang gak mau kamu salah pilih, percuma cepat tapi gagal di jalan, itu yang lebih sulit dek" Ucap Diora
"Iya juga yah bang" Ucap Melati
"Iya sayang" Ucap Diora
"Faham kan dek" Ucap Diora
"Faham bang" Ucap Felisa
Kakak beradik itu saling bercerita, hingga pekerjaan mereka selesai
" Tidur yuk, biar bisa bangun nanti buat sahur" Ucap Melati
"Iya mbak" Ucap Felisa
Felisa pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat, begitupun dengan Melati setelah menyimpan koper milik Diora ia pun kemudian naik ke atas ranjang menyusul suami dan anaknya yang sudah duluan beristirahat.
Bersambung_________
Dukung terus karya Author yah 🥰
Saranghae 🤗❤️
__ADS_1