Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 10. Curhat


__ADS_3

Brama pun telah sampai di kediaman sepupunya, tak lupa ia mengucapkan salam pada seisi rumah. Namun, tidak ada satu pun yang menjawab salamnya. Sehingga dirinya harus menghubungi kembali sepupunya yang menyebalkan itu.


"Assalamu'alaikum, kamu dimana Bi? kenapa tidak ada yang menjawab salam ku? Aku sudah berada di depan rumah mu. Jangan sampai kau bercanda dengan ku, ya?" tegas Brama yang tidak suka dengan lelucon yang dibuat oleh sepupunya yang manja itu lewat sambungan telfon.


"Wa'alaikumsalam, masuk saja Bram! Aku didalam kamar, Mama dan Papa sedang tidak ada di rumah. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Bik Sumi mungkin sedang berkutat didapur sehingga tidak mendengar suara mu. Security yang berjaga sedang cuti, jadi tidak ada yang bisa menyambut kehadiran dokter Brama Adyaksa Kyswara hari ini!" ucap sepupu Brama semaunya, ia terlihat duduk santai di ranjang king size-nya tanpa berniat untuk beranjak menemui Brama yang sudah bela-bela mendatangi kediamannya setelah pulang dari toko herbal milik Tiara.


Brama pun melenggang masuk menuju kamar sepupunya, yang terlihat santai memainkan ponselnya.


"Ha ... ha ... ha, wajahmu kenapa terlihat bonyok? apa kau sedang habis adu otot di ring tinju?" sela Brama ketika melihat wajah Gala Abiseka Gyantara sepupunya terlihat tak beraturan.


"Sial*n loe, sepupu yang sedang meringis kesakitan malah loe tertawai." Gala melemparkan bantalnya kearah Brama. Namun, Brama segera menghindar sehingga bantal itu melesat mengenai miniatur alat musiknya yang tertata rapi di atas rak kaca milik pemuda tersebut.


"Yach, miniatur ku!" sergah Gala Abiseka hendak beringsut dari pembaringannya, ia hendak menata kembali miniatur miliknya yang terdiri dari berbagai macam model gitar, drumband, piano, dan alat musik lainnya.


"Ya Allah, hanya miniatur doang sudah seperti kehilangan istri saja!" sela Brama dengan mengeluarkan koper dokternya yang berisi berbagai macam alat dan obat-obatan yang paling ampuh untuk mengobati setiap pasiennya yang sedang gawat darurat.


"Miniatur ini sangat berarti untuk kehidupan ku bro, itu menjadi simbol untuk ku bahwa diriku sangat menyukai dunia musik dari semenjak zaman putih biru dahulu." Gala Abiseka terlihat membela dirinya dihadapan Brama Adyaksa sepupunya.


"Ya sudah, biar aku obati luka mu agar cepat sembuh dalam kurun waktu 30 menit dari sekarang!" ujar Brama dengan menyiapkan obat yang paling ampuh untuk sepupunya itu.


"Tunggu dulu, gunting itu untuk apa? Aku tidak dioperasikan? Aku ingin wajah asli ku tetap seperti ini blasteran Indo Turki!" ucap Gala yang sangat takut melihat gunting dan juga darah.

__ADS_1


"Ya Allah, ternyata kau pengecut juga. Gunting ini hanya digunakan untuk memotong perban bukan untuk operasi wajah mu. Ini cukup di oles salep saja bonyoknya perlahan-lahan akan pudar dan kau akan kembali terlihat tampan. Dan jangan lupa pula minum obat pereda nyeri, biar dirimu tidak meringis kesakitan. Kamu kan anak mami, jadi sakit sedikit manja. By the way, kau belum menjawab pertanyaan ku kenapa wajah mu sampai memar begini?" tanya Brama dengan mengulangi pertanyaannya.


"Biasalah rebutan cewek sama Daniel Mahesa Syailendra sepupumu yang menyebalkan itu," ucap Gala asal.


"Yang benar saja kalian menyukai satu wanita, gila secantik apa wanita itu sampai kalian tergila-gila padanya?" tanya Brama dengan menghentikan aktivitasnya sejenak. Kemudian melanjutkan kembali mengobati luka Gala Abiseka sepupunya.


"Si Daniel salah paham, makanya dia nonjokin aku. Tapi aku benar-benar tertarik pada itu perempuan, aku berharap ia jodoh ku!" ucap Gala yang tanpa sengaja curhat dengan Brama sepupunya.


"Ternyata loe bisa bucin juga ya? memangnya kau yakin itu wanita bakal menerima mu menjadi calon suaminya secara loe kan SETIA alias Setiap Tikungan Ada," sarkas Brama yang tidak yakin jika sepupunya yang terkenal playboy itu bisa jatuh cinta juga.


"Ini beda man, ia wanita shalihah. Ia benar-benar mengalihkan duniaku, aku benar-benar telah jatuh hati padanya. Aku yakin dalam waktu dekat aku akan segera menikahinya!" ucap Gala Abiseka dengan penuh keyakinan.


"Memangnya loe sudah kenal dekat dan sering bertemu dengannya?" selidik Brama dengan penuh kehati-hatian.


"Hemmm, semoga saja kau berjodoh dengannya!" ucap Brama yang sama sekali tidak mengetahui jika wanita yang dipuja oleh Gala Abiseka adalah Tiara calon istrinya.


"Aamiin, terima kasih do'anya brother! biasanya do'a orang yang Sholeh di ijabah oleh Allah Subhana wa ta'ala," ucap Gala dengan mengulum senyumannya.


"Semoga saja!" ucap Brama terdengar santai.


Entah apa jadinya nanti, jika Brama tahu wanita yang diceritakan oleh Gala adalah calon istrinya, apalagi Gala sudah merenggut kesucian wanita yang sangat dicintai oleh Brama Adyaksa Kyswara tersebut. Biarlah takdir yang menunjukkan jalannya sendiri, sehingga segala kerumitan itu tersingkap sudah.

__ADS_1


"Tapi, aku sudah lama tidak menyungkurkan wajah ku diatas sajadah. Apa mungkin aku pantas bersanding dengannya? tapi aku sudah terlanjur jatuh hati padanya!" ucap Gala lagi.


"Astaghfirullah, mulai sekarang hadapkan wajah mu kepada sang maha pencipta. Bertaubatlah pada-Nya, Allah Subhana wata'ala akan mengampuni dosa para hamba-Nya selagi nafas masih berada di kerongkongan." Brama nampak menepuk-nepuk pundak Gala sepupunya guna memberikan semangat.


"Terima kasih support-nya brother!" ucap Gala Abiseka penuh semangat.


"Oh, ya maaf semalam aku tidak bisa ke party mu sebab bertabrakan dengan jadwal operasi pasien ku. Selain itu, aku sangat tidak suka keramaian apalagi sampai mendengar konser musik. Gendang telinga ku bisa pecah," ucap Brama jujur.


Brama sama sekali tidak mengetahui jika party yang dihadiri oleh calon istrinya Tiara adalah party ulang tahun sepupunya Gala Abiseka. Jika semalam dirinya datang mungkin akan terjadi perang dunia ke-2 antar dua sepupu tersebut.


"Alah, loe fanatik amat. Dimana-mana orang-orang sangat menyukai dunia musik. Untung saja semalam aku tidak menjemput mu bersama Daniel, kalau tidak sia-sia pengorbanan kami dalam menjemput mu. Jangan-jangan dirimu pun tidak tahu di mana keberadaan cafe xx tempat party ulang tahunku semalam?" tanya Gala penuh selidik.


Dokter Brama mengendikkan bahunya tanda tidak tahu, yang ia tahu dan ia hafal adalah nama mesjid-mesjid, tempat-tempat kajian islami. Rumah sakit dan merawat serta mengobati orang sakit. Ia sama sekali tidak tertarik dengan dunia malam dan sejenisnya. Meskipun hanya sekedar ngobrol santai, Brama dengan kesederhanaannya lebih suka nimbrung di warung makan yang terletak di pinggir jalan. Dengan niat membantu orang-orang yang sedang kesusahan menjajakan setiap dagangannya. Brama tidak tertarik untuk ngumpul di cafe dan sejenisnya. Ia lebih menyukai kegiatan sosial dan peduli pada sesama.


"Payah loe, dasar dokter kolot! kerjanya hanya fokus mengurusi orang sakit doang. Sekali-kali lihat dunia luar dong, gimana nantinya jika istrimu ingin ke mall dan sejenisnya sedangkan kamu tidak pernah healing disana!" cecar Gala pada dokter muda tersebut.


"Kalau sudah punya istri ya beda lagi, aku akan menemaninya kemana pun ia pergi. Calon istri ku wanita Sholihah, tentunya dirinya lebih suka tempat-tempat religius dan bernuansa islami!" kilah Brama yang tanpa sengaja curhat pada Gala Abiseka sepupunya mengenai calon istrinya Tiara Chandani Putri.


"Memangnya dokter muda yang ada di hadapan ku ini juga sudah punya calon istri?" tanya Gala dipenuhi rasa penasaran terhadap Brama. Mengingat selama ini, Brama tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun apalagi Brama pernah mengatakan jika ia tidak ingin pacaran, mana mungkin Brama tiba-tiba punya calon istri begitu pikirnya.


"Alhamdulillah dengan mengharap ridho Allah, insya Allah dua bulan lagi kami akan menikah!" ucap Brama penuh keyakinan penuh keyakinan, sehingga membuat mulut Gala Abiseka seketika ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika sepupunya akan segera mengakhiri masa lajangnya.

__ADS_1


"Whatttt? get married?" Gala mengulangi pertanyaannya.


__ADS_2