
Sayup-sayup terdengar suara kicauan burung yang mulai berkicauan seolah bernyanyi ria menyambut indahnya suasana di pagi hari yang terlihat begitu sejuk menenangkan hati dan pandangan mata menikmati indahnya panorama alam saat ini.
Hembusan angin segar menerpa di desa terpencil tempat dimana Tiara masih dalam keadaan terpejam dari sejak peristiwa semalam yang hampir merenggut nyawanya.
Abiseka semalaman tidak bisa tidur sampai pagi pun telah menjelang, dirinya tiada habisnya menatap lekat wajah yang terkasih yang sama sekali enggak untuk membuka matanya.
''Tiara, sampai kapan dirimu terus seperti ini? tidakkah kau merindukanku? Aku disini dari sejak semalam tidak bisa tidur demi untuk melihat mu kembali membuka matamu dan aku menjadi orang yang pertama kali melihatmu tersenyum manis padaku sambil melihat indahnya dunia yang saat ini menjadi tempat kita berpijak. Jangan membuatku takut akan kehilanganmu, sungguh ... aku berjanji akan menjagamu sampai akhir nafas kehidupanku. Tak kubiarkan seorangpun menyakitimu, maafkan aku atas kelalaianku menjaga dan merawatmu hingga kau menjadi seperti ini!'' lirih Abiseka dengan terselelehkan air matanya yang seolah tak henti membanjiri wajah tampannya.
Akan tetapi, Tiara masih saja terus terpejam layaknya Putri tidur di dalam negeri dongeng.
''Nak, sebaiknya kau sholat shubuh dahulu! Tiara biar mama yang jaga!'' ucap Mama Arla yang baru saja menjalankan ibadah shalat subuhnya. Di susul pula oleh bunda Pieska, ibunya Tiara.
''Iya nak Abi, benar apa kata mamamu lebih baik kamu melaksanakan ibadah shalat dahulu. Semalam bunda perhatikan kamu tidak tidur hingga pagi ini. Kau pun perlu istirahat dan asupan energi. Lihatlah, wajah mu terlihat lesu. Jika dirimu tiba-tiba lemas dan sakit siapa yang akan menjaga Tiara? ia tentu sangat membutuhkan suaminya berada di sampingnya dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terlihat lemah seperti ini?'' nasehat bunda Pieska pada menantunya.
''Baiklah, Bunda, mama ... Abi titip Tiara!'' ujar Abiseka dengan segera bangkit dari duduknya menuju kamar mandi untuk melakukan ritual wudhunya.
Ibu mertua Abiseka dan juga mama Arla pun mengangguk bersamaan mengiyakan permintaan Abiseka.
Sedangkan Alex, papa Reyhan dan Ayah Tyo sholat berjama'ah di Mesjid sekaligus melaporkan ke RT setempat, atas kedatangan mereka sambil menjelaskan keributan yang terjadi semalam di desa xx yang mungkin telah mengganggu keamanan desa tersebut.
Daniel di tugaskan berjaga di luar memastikan keamanan sekitar rumah setelah anggota polisi meninggalkan TKP. Daniel melaksanakan ibadah shalatnya di rumah saja.
Di temani oleh kekasihnya Stefanie, Daniel begitu menikmati kesejukan alam di pagi buta, di mana waktu baru menunjukkan pukul 05.15 wib.
''Mas, udara di sini sangat sejuk sekali. Pemandangan alamnya masih asri dan alami. Jadi, rumah minimalis ini milik siapa? keadaannya begitu sangat rapi dan bersih. Seperti ada yang menata setiap hari,'' ucap Stefanie sambil melihat bunga-bunga yang bermekaran sangat indah di pagi hari.
''Mungkin milik salah satu orang suruhan Viola. Ada foto terpampang di ruang keluarganya!'' ucap Daniel sambil menyeruput secangkir kopi susu yang ia ambil di dapur, hanya ada kopi sachet yang tersedia di rumah minimalis yang kini menjadi tempat mereka berpijak.
__ADS_1
''Kau benar sayang, aku semalam tak sengaja melihat seorang pemuda yang merasa sedih dari raut wajahnya. Ia sangat berat sekali meninggalkan rumah ini ketika diringkus polisi hanya dirinya saja yang tidak ada perlawanann. Apa mungkin ia terpaksa menjadi orang suruhan Viola Arzeta.'' Stefanie berasumsi.
''Mungkin saja!'' Daniel terlihat kurang menanggapi, ia tidak suka mendengar kekasihnya menyebut nama laki-laki lain di hadapannya. Dengan kata lain Daniel mulai posesif dan cemburu, Stefanie menyadari akan hal itu. Ia lebih memilih melihat setetes embun di pagi hari yang membasahi dedaunan.
''Mas, lihat tetesan embun itu, terlihat jernih sekali. Sejernih hatiku yang kini merasakan embun kesejukan ketika berada di dekat mu!'' Stefanie tampak menggoda kekasihnya yang sedang manyun dihadapannya.
''Benarkah?'' Daniel berpura-pura dingin dan datar, ia ingin melihat sejauh mana kekasihnya mampu menggodanya ketika dirinya sejak merajuk.
''Kok, hanya benarkah sih Mas! harusnya mas jawab terima kasih sayang aku pun merasakan hal yang sama, bukannya cuek seperti ini!'' sela Stefanie sambil menyebikkan bibir mungilnya.
''Cuppp! Seperti inikah?'' Daniel mengecup bibir Stefanie, hingga membuat gadis itu berlonjak kaget.
''Dasar mesummm! mencuri kesempatan dalam kesempitan.'' Stefanie memukul-mukul dada bidang Daniel seperti seorang anak kecil yang sedang bermain-main dengan daddy-nya.
''Mesum sama calon istri kan nggak apa, sekaligus terapi jadi suami yang baik dan sayang istri!'' sela Daniel sambil menarik Stefanie dalam dekapannya. Sehingga manik mata keduanya pun saling bertemu pandang.
''Dokter Brama, dokter Yashinta!'' seru Stefanie dan Daniel hampir bersamaan. Keduanya pun melepaskan pelukannya.
''Untung saja suasana di sini jauh dari keramaian, jika tidak kalian pasti akan merasa malu karena sudah tertangkap basah seperti ini. Buruan halalkan anak gadis orang, dasar sepupu nakal. Dari sejak semalam kau tak henti-hentinya memanasi ku!'' sela dokter Brama sambil menarik telinga sepupunya Daniel dan membawanya masuk ke dalam agar tidak terus berduaan dengan Stefanie di pagi buta sehingga memicu mereka untuk melakukan hal-hal di luar rambu-rambu yang seharusnya belum pantas untuk di lakukan jika ditilik dari kaca mata Islam.
''Iya, iya ... maaf.'' Daniel mengikuti langkah Brama masuk ke dalam rumah dan terpaksa harus mendengarkan kultum di pagi buta dari sosok Brama Adyaksa Kyswara sepupunya yang lebih kental sisi religiusnya dari pada dirinya.
Stefanie sendiri kini nampak berjalan-jalan di sekitar taman bunga bersama Dokter Yashinta sambil menikmati pemandangan di pagi hari. Tetesan embun di dedaunan seolah menuntun langkah hati, pikiran dan jiwa Dokter Yashinta untuk sedikit memberikan pencerahan pada Stefanie yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
''Tefa, apa kau sangat menyukai Daniel?'' tanya dokter Yashinta membuka percakapan.
Gadis bercadar itu merasa punya tanggung jawab untuk meluruskan kedekatan antara Stefanie dan Daniel yang mungkin sudah di luar batasannya. Sebagai saudara seiman yang sudah menyaksikan dengan jelas hubungan antara kedua anak muda itu membuat Yashinta merasa turut andil untuk mengingatkan Stefanie agar tidak lepas kendali ketika berdekatan dengan yang bukan mahramnya.
__ADS_1
''Iya, aku sangat menyukainya. Setelah di khianati oleh Abiseka aku merasakan Daniel adalah laki-laki yang tepat untuk ku.'' Stefanie meyakinkan hatinya.
''Baiklah, jika kalian merasakan kecocokan mestinya hubungan kalian harus segera di halalkan. Sebab, jika laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya terus berdua-duaan orang ketiganya adalah syaitan yang dengan jelas akan menggoda kita untuk berbuat keji dan mungkar. Sebagai wanita dewasa aku pikir dirimu sangat memahami akan ucapan ku!'' Yashinta menatap sekilas wajah Stefanie yang kini sedang tertunduk malu.
Stefanie menyadari kekhilafan yang ia lakukan bersama Daniel akhir-akhir ini. Seperti ini pun keduanya tertangkap basah sedang bermesraan di hadapan dokter Brama dan dokter Yashinta.
''Terima kasih sudah mengingatkan kami. InsyaAllah, setelah ini kami akan segera menghalalkan hubungan ini!'' ujar Stefanie terdengar serius.
''Alhamdulillah, aku turut senang mendengarnya. Kau adalah gadis yang baik,'' ucap dokter Yashinta sambil tersenyum ke arah Stefanie.
Meskipun wajah Yashinta tampak bersembunyi di balik cadarnya, Stefanie dapat merasakan senyum keikhlasan dari dokter muda tersebut. Hingga membuatnya semakin mengagumi sosok wanita bercadar yang ada di hadapannya yang selalu menasehatinya dengan kebaikan-kebaikan yang dapat menyentuh hati dan jiwanya.
***
Abiseka sudah selesai menjalankan ibadah sholatnya, ia pun kembali menemui istrinya yang masih terbaring lemah.
''Sayang, Mas sudah selesai menunaikan kewajiban shalat. Mas tadi berdo'a untuk kesembuhan mu dan bayi kita agar tetap sehat didalam kandungan mommynya.'' Abiseka mengecup kening istrinya yang masih terpejam.
''Hari ini kita kembali ke apartemen kita, di sana kau bisa beristirahat dengan nyaman. Oh ya, satu lagi. Jika kamu sudah sehat Mas tidak akan menghalangi mu beraktivitas lagi. Kau bebas bereksplorasi di toko herbal milikmu. Para pelanggan pasti sangat merindukanmu, bagaimana tidak? toko mu sudah sering tutup, karena pemiliknya menghilang. Makanya kau cepat sadar, semua orang tampak merindukan mu!'' bisik Abiseka didekat daun telinga istrinya.
Semua orang yang menyaksikan pemandangan tersebut pun merasa sedih melihat Abiseka berbicara sendiri tanpa respon dari sang istri.
''Sabar ya nak, mama yakin istri mu akan segera siuman!'' ucap Mama Arla sambil mengusap lembut pundak putranya.
Abiseka mengangguk lemah, ia hanya berharap ada keajaiban. Dan istrinya segera sadarkan diri tersenyum padanya dengan penuh kasih. Abiseka sangat merindukan sentuhan, kelembutan serta belai manja istrinya. Bahkan saat Tiara merajuk pun Abiseka sangat merindukan moment kebersamaannya yang penuh dengan ketegangan akan tetapi berakhir dengan keromantisan yang tercipta di antara mereka.
''Masss,'' ucap Tiara terdengar lemah, ketika tanpa sengaja air mata Abiseka menetes mengenai pipinya.
__ADS_1