Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 119. Extra Part 1 ( Kelahiran Baby Twins )


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, pasca keluarnya Viola Arzeta dari balik jeruji. Ia pun telah melakukan proses lamaran dengan Gerry yang akan menjadi calon suaminya. Tinggal dua bulan lagi persiapan resepsi pernikahan mereka akan digelar beserta ijab qobulnya. Pasangan muda itu terlihat sangat bahagia sekali, atas apa yang mereka raih hingga detik ini persiapan itu tinggal 25% lagi akan digelar.


Di sisi lain, Tiara sedang berbaring di ranjang king sizenya sudah berapa hari ini ia mengalami kontraksi. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda melahirkan setelah 9 bulan 10 hari kehamilannya. Ia pun kerap kali berjalan kaki dijalan yang penuh batu kerikil tanpa mengenakan alas kaki, ia pun sudah satu minggu ini kerap kali mencabut rumput di samping rumahnya.


Konon, kata orang tua di zaman dulu seringnya berjalan kaki bisa mempercepat proses kelahiran. Namun, sudah lewat 10 hari Tiara belum melahirkan juga. Ia sudah lelah membawa perut buncitnya kesana kemari.


Suaminya Abiseka pun, kerap kali tidak bisa tidur sampai pukul 03.00 pagi lantaran Tiara kerap kali mengeluhkan rasa sakitnya. Tiara pun selalu minta dielus perutnya oleh Abiseka sampai ia terlelap.


Tiara seolah seperti bayi gede yang harus dirawat dan diperhatikan semua kemauannya.


''Mas, perutku sakit sekali! dari sejak tadi bayi kita menendang-nendang terus,'' kelu Tiara ketika merasakan kontraksi semakin kuat di perutnya.


''I-iya, sayang. Sabar ... maaf karena hanya ini yang bisa mas lakukan!'' ujar Abiseka sambil mengusap-ngusap perut Tiara yang sedang meringis kesakitan.


"Mas, mau mandi!'' celutuk Tiara sesuka hatinya.


''Tadi katanya mengeluhkan sakit, sekarang mau mandi. Baiknya istirahat dulu sayang, jangan terlalu banyak bergerak!'' ujar Abiseka sambil mengusap lembut perut Tiara.


''Tia mau mandi mas, sepertinya baby kita kegerahan di dalam. Tia mau mandi,'' ujar Tiara mengambek manja, ia mengalungkan tangannya di leher Abiseka.


''Iya, iya, sayang. Mas sediakan air panas dulu,'' ujar Abiseka dengan siaga menyiapkan keperluan istrinya.


Tiara mengulum senyum, melihat sang suami begitu gercep menangani apapun yang menjadi keinginannya.


''Kalian lihat Nak, daddy begitu sangat menyayangi kita. Terbukti selama 9 bulan lebih mommy mengandung kalian. Daddy begitu telaten mengurusi kita,'' Tiara terkekeh sambil mengusap-ngusap perutnya yang telah membuncit.


''Sayang, ayo ... mas mandikan!'' Abiseka mengangkat tubuh Tiara yang bobotnya sudah naik menjadi 66 kg.


''Berat nggak Dad? jika nggak sanggup biar mommy jalan sendiri. Daddy cukup memapah saja,'' ujar Tiara hendak turun dari gendongan Abiseka.


''Untuk dirimu dan anak-anak kita, tidak ada yang berat sayang, semua terasa ringan,'' ujar Abiseka yang sebenarnya sudah ngos-ngosan mengangkat tubuh Tiara.


''Terima kasih, Mas. Kau baik sekali,'' Tiara mengecup pipi suaminya dengan manja.

__ADS_1


''Sama-sama sayang,'' Abiseka mengecup sekilas bibir Tiara yang merona. Bagi Abiseka, Tiara begitu terlihat anggun dimasa-masa kehamilannya.


Abiseka pun dengan telaten memandikan istrinya yang benar-benar bertingkah seperti anak bayi.


''Mas, terima kasih ya?'' Tiara hendak mengenakan pakaian dalamnya setelah melakukan ritual mandinya.


''Sama-sama, sayang!'' ujar Abiseka yang sedikit pun tidak ingin jauh dari istrinya, ia terus mendampingi Tiara tanpa jenuh.


''Sebentar, mas siapkan bubur ayam dulu untuk sarapanmu. Kau cukup di kamar saja,'' ujar Abiseka sambil mengecup lembut kening Tiara.


''Mas, bercak darah!'' seru Tiara histeris, ia takut melihat noda darah yang keluar dari area kewanit**nnya.


Baru 5 langkah Abiseka hendak menuju dapur rumah yang baru mereka bangun dua bulan terakhir ini, ia pun berlari secepat kilat menuju kamar pribadi mereka.


''Apa sayang, darahhh!'' Abiseka terlihat cemas melihat bercak darah yang keluar dari area sensitif Tiara.


"Kita ke rumah sakit sayang, sepertinya kau hendak melahirkan!'' seru Abiseka terlihat cemas bercampur haru.


"Apaaa, mau melahirkan?'' seru Tiara yang merasa sedikit khawatir dengan keadaannya.


''Iya, sayang.'' Abiseka pun segera membawa perlengkapan alat-alat bayi dan juga perlengkapan istrinya kalau-kalau akan melahirkan dengan koper yang sudah lengkap ia persiapkan 10 hari sebelum kelahiran baby mereka.


Abiseka menopang tubuh Tiara menuju mobil mereka. Ia pun melesatkan mobilnya dengan kecepatan sedang, meski dalam keadaan darurat ia tidak ingin membuat Tiara ketakutan. Kenyamanan sang istri lebih diutamakan.


''Anak-anak daddy, baik-baik di dalam perut mommy ya? cepat-cepat keluar agar kalian bisa melihat indahnya dunia ini, jangan buat mommy merasa sakit lebih lama lagi!'' gumam Abiseka sambil mengelus perut Tiara di sela-sela mengemudi mobilnya.


Hanya dalam waktu 20 menit mereka pun sampai di rumah sakit Permata Bunda.


Abiseka segera menuju ruang IGD, ''Suster, tolong istri saya hendak melahirkan!'' seru Abiseka pada seisi ruang IGD itu.


Abiseka sudah seperti kebakaran jenggot, ia tidak sabaran ingin menyaksikan kelahiran baby twinsnya yang sudah di USG sekitar 6 bulan yang lalu.


Kata dokter spesialis kandungan, istrinya mengandung baby twins. Akan tetapi, belum diketahui jenis kelaminnya karena kedua bayi kembar mereka menutupi jenis kelamin mereka.

__ADS_1


Kedua bayi itu tampak kompak di dalam perut mommynya, sehingga dokter pun kesulitan memastikan jenis kelamin keduanya. Dapat dipastikan jika baby twins itu adalah anak-anak yang cerdas dan pintar yang akan mewarnai hari-hari Tiara dan Abiseka selanjutnya.


Para suster terlihat kucar -kacir menangani keadaan Tiara, sebab sang suami terlalu over protektif. Ia ingin istrinya lebih diutamakan dari pasien lainnya.


''Sabar, tuan. Istri tuan baru pembukaan satu, jadi belum bisa melahirkan tunggu sampai pembukaan sepuluh ya?'' ujar suster yang menangani Tiara.


''Owalah, aku kira sudah mau melahirkan mengingat sudah ada keluar bercak darah,'' ujar Abiseka dengan polosnya.


''Iya, sebagian orang memang mengalami seperti itu sebelum melahirkan. Ada juga yang tidak di tandai bercak merah. Sabar ya tuan, nanti saya akan mengontrol kembali keadaan istri anda,'' ujar suster tersebut mengintrupsi.


''Baiklah,'' ujar Abiseka dengan terus berada di samping Tiara.


''Sayang, apa kau mau ngemil dulu? mas sudah persiapkan buah kurma kesukaanmu. InsyaAllah, dengan mengkonsumsi buah kurma ini kau akan mudah dalam melahirkan nanti,'' ujar Abiseka sambil menyuapkan buah kurma pada mulut mungil Tiara.


''Terima kasih, Mas.'' Tiara merasa di ratukan, ia pun menikmati suapan sang suami dengan penuh manja.


''Sayanggg! apa istrimu sudah melahirkan?'' seru mama Arla yang di ikuti papa Reyhan dari arah belakangnya. Kedua mertua Tiara nampak ngos-ngosan oleh sebab mengira jika menantunya sudah melahirkan.


Semua ketegangan itu terjadi akibat kehebohan Abiseka yang mengabarkan jika istrinya akan segera melahirkan.


Tiara dan Abiseka menoleh kesumber suara, ''Maaf, belum ma, pa. Kata susternya baru pembukaan satu,'' ujar Abiseka sambil nyengir kuda.


''Ya Allah, kau ini bikin spot jantung orang tua,'' ujar mama Arla sambil menjewer telinga Abiseka.


''Ampun ma ... ampun ma, Abi juga tidak tahu jika kelahiran baby twins harus tertunda dan masih menunggu pembukaan sepuluh, kata susternya!'' ceplos Abiseka dengan polosnya.


''Apaaa? jadi calon cucu mama adalah baby twins? kenapa baru sekarang kau memberitahunya? dasar anak nakal, jika mama tahu calon cucu mama adalah baby kembar, mama akan rutin memperhatikan kesehatan dan kebutuhan cucu menantu mama,'' ujar mama Arla sambil menarik telinga Abiseka untuk yang kedua kalinya. Sehingga, telinga Abiseka memerah akibat dijewer mamanya.


''Maaf, ma. Semua itu kejutan untuk mama papa dan juga orang tua Tiara. Qodarullah, baby twinsnya belum lahir. Kita harus menunggu lagi dirumah sakit ini,'' ujar Abiseka dengan raut wajah cemberut, seperti anak kecil yang sedang menyebikkan bibir lantaran tidak di kasih permen oleh kedua orangtuanya.


Semua yang ada di dalam ruangan itu tampak terkekeh melihat kekocakan Abiseka. Butuh waktu untuk beberapa saat lagi menunggu kedua bayi mungil itu lahir kedunia. Sehingga membuat Abiseka dan keluarga harus lebih sabar lagi menunggu kehadiran tangan- tangan mungil itu hadir mewarnai kehidupan mereka.


Dear reader tercinta, berdasarkan permintaan para reader author kabulkan untuk melanjutkan berapa bab lagi cerita ini. Semoga karya author remahan ini menghibur para reader semua, love you all. Tetap stay tune di Sebening Dukamu, untuk menunggu next episode!😊😘😘

__ADS_1


__ADS_2