
"Ke mana kau malam itu? kenapa kau tega meninggalkan aku sendiri bersama Gala Abiseka? kenapa baru muncul sekarang di hadapanku? dan kenapa tidak ada kabar setelah menghadiri pesta laknat itu?" cecar Tiara dengan serentetan pertanyaan yang tak terbendung pada Viola sahabatnya.
Viola meneguk salivanya berulang kali setelah melihat kemarahan yang terpancar dari sosok Tiara Chandani Putri.
Baru kali ini Viola melihat kemarahan di wajah Tiara, yang biasanya ia selalu melihat sisi lembut dari sahabatnya tersebut.
"OMG, aku harus bisa akting. Jangan sampai Tiara menaruh curiga padaku," gumam Viola dalam hatinya. Ia pun menerobos masuk ke dalam toko Tiara dengan menggeserkan etalase obat untuk memberi ruang dirinya masuk ke dalam.
"Ra, aku minta maaf. Aku sudah mencarimu kemana-mana di malam itu, namun tak juga kunjung kutemukan di mana dirimu berada. Kamu bilang dirimu hendak ke toilet. Aku menyusulmu ke sana, tapi kau tidak ada. Dua jam sudah aku menunggu keberadaanmu, namun kau tak kunjung menampakan batang hidungmu. Menghubungi mu berkali-kali pun sama sekali tidak ada jawaban hingga aku memutuskan untuk pulang." Viola berusaha untuk meyakinkan Tiara, agar gadis malang itu bisa luluh dan memaafkannya. Ia berharap Tiara percaya padanya.
"Kau tahu Vi, aku sudah hancur setelah malam itu, aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk berdekatan dengan mas Bram calon suamiku. Apa yang harus aku jelaskan padanya, jika diriku tidak lagi suci! aku benar-benar merasa bersalah sebab tidak bisa menjaga marwahku!" ucap Tiara berapi-api.
Amarah Tiara semakin menjadi-jadi, dirinya benar-benar tak sanggup menerima segala kenyataan yang ada. Tiara melorotkan tubuhnya bersandar pada etalase tokonya, sambil meratapi nasibnya. Ia menenggelamkan wajahnya bertumpu pada lututnya. Tiara menangis terisak-isak menyesali takdir buruk yang telah menimpanya.
"Maksud mu, apa Ra? kesucian yang bagaimana?" tanya Viola dengan pura-pura bodoh. Padahal dirinya sangat mengetahui jika telah terjadi sesuatu antara Tiara dan Gala Abiseka pada malam pesta atas dasar campur tangannya, Viola yang menjebak sahabatnya, sehingga terjerat cinta satu malam bersama orang yang sama sekali asing bagi Tiara.
"Mahkota ku telah terenggut oleh laki-laki bejat itu. Aku yakin ia sengaja menjebak ku, namun aku tidak punya bukti untuk itu." Tiara terus meratapi nasibnya.
"Maksud mu laki-laki bejat itu adalah kak Gala Abiseka Gyantara?" tanya Viola dengan berpura-pura kaget.
Tiara pun mengangguk, ia enggan menyebutkan nama laki-laki yang telah menoreh luka di hatinya. Menghancurkan mimpi dan angan-angannya untuk merajut ikatan yang sakral dengan laki-laki yang sangat di cintai olehnya Brama Adyaksa Kyswara.
"Astaghfirrullah, Ra. Aku turut prihatin dengan keadaan yang telah menimpa mu." Viola memeluk erat sahabatnya seolah-olah dirinya merasa ikut teriris dengan kepedihan yang dialami oleh sahabatnya.
Viola tertawa riang di dalam hatinya sambil mengelus puncak kepala Tiara yang masih tertutup hijab. Tiara terus menangis dalam pelukan sahabatnya, setidaknya ia merasa lebih tenang ada yang menguatkannya. Padahal seyogyanya Viola tak lebih dari serigala berbulu domba, pandai dalam menyembunyikan kejahatannya.
"Dasar ular kepala dua! aku yakin ini ada hubungannya dengan Viola Arzeta. Jadi tunangan Brama adalah Tiara, wanita yang sangat ku kagumi selama 3 bulan terakhir ini?" bathin Daniel yang dari sejak tadi pun ikut mengekori pergerakan Viola Arzeta yang ternyata menyusul dokter Brama di toko herbal milik Tiara.
__ADS_1
"Ya Allah, aku mendadak jantungan. Bagaimana ini, Tiara adalah tunangan Brama. Sedangkan yang menodai Tiara adalah Gala Abiseka, mereka berdua sepupuan. Begitupun dengan diriku. Jadi, kami bertiga mencintai wanita yang sama?" Daniel memijit pelipisnya memikirkan segala kenyataan yang terjadi.
"Ternyata dunia ini sempit sekali, dan yang besar itu adalah kuasa Allah. Apa yang akan terjadi nanti jika Brama sampai mengetahui dan mendengar dengan mata kepala sendiri jika calon istrinya telah di nodai oleh sepupunya sendiri, Gala Abiseka?" Daniel pun berpura-pura ingin membeli obat herbal, setelah dirinya mendengar percakapan Tiara dan Viola dari samping tembok toko.
"Assalamu'alaikum," sapa Daniel di buat setenang mungkin. Ia sengaja berpura-pura mampir ke toko herbal milik Tiara untuk sekedar basa-basi dan melihat wanita yang sangat digandrungi olehnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," terdengar kedua sahabat itu menjawab salam dari dalam toko.
Tiara merapikan hijabnya yang terlihat tak beraturan. Ia pun mengusap air matanya agar bisa melayani customernya dengan perasaan yang lebih tenang, yakni tidak membawa urusan pribadinya dalam pekerjaan yang digelutinya.
"Cari apa Mas?" tanya Tiara setenang mungkin, agar tidak kentara jika dirinya baru saja menangis oleh sebab meluapkan amarahnya yang sedang meledak-ledak.
"Mencari vitamin untuk stamina dan daya tahan tubuh agar tetap fit sepanjang hari." Daniel beralasan demi untuk melihat dan mendekati Tiara secara diam-diam. Sekaligus mencari bukti jika kejadian panas yang menimpa Tiara dan Gala Abiseka sepupunya ada hubungannya dengan Viola Arzeta.
"Ada berbagai macam obat herbal, Mas. Madu, jintan hitam, kapsul minyak zaitun, propolis, sarikurma, obat herbal untuk stamina dalam bentuk minuman jahe dan kopi herbal juga ada. Mas boleh pilih suplemen mana yang mas suka!" titah Tiara sambil mengembangkan senyuman termanisnya.
"Mas, mau pilih suplemen herbal yang mana?" tanya Tiara lagi, sehingga menyadarkan lamunan Daniel tentang khayalannya untuk memiliki Tiara.
"Oh, iya ma-af. Aku pilih semuanya!" timpal Daniel, membuat Tiara terperangah mendengar ucapan Daniel yang tidak masuk akal menurutnya.
"Maaf, jangan bercanda deh Mas. Mas boleh pilih salah satunya!" ujar Tiara yang mengira jika Daniel hanya bercanda.
"Tidak apa-apa bungkus saja semuanya!" titah Daniel dengan terus menatap lekat pada Tiara. Membuat si empunya toko merasa tak nyaman karena diperhatikan oleh customernya.
Tiara memasukkan suplemen herbal yang diminta oleh Daniel ke dalam kantong kresek khusus.
"Totalnya tujuh ratus lima puluh ribu, Mas!" ucap Tiara dengan menyerahkan kantong kresek yang berisi obat-obat herbal pesanan Daniel.
__ADS_1
"Terima kasih, nona manis!" ceplos Daniel sambil menampakkan senyuman khasnya.
Daniel menyerahkan uang delapan helai merah pada Tiara. Tiara pun hendak mengembalikan uang pecahan senilai lima puluh ribu. Namun, Daniel menolaknya dengan berdalih kembaliannya untuk Tiara saja mana tahu dibutuhkan.
Tiara yang tidak mengetahui jika Daniel adalah pengagum rahasianya pun terlihat santai dan tenang. Terhadap semua customernya Tiara selalu berpikir positif baginya pembeli adalah raja yang sepatutnya untuk ia layani dengan baik.
Tiara terpaksa menerima kebaikan Daniel, karena Daniel begitu kekeuh untuk tidak menerima uang kembalian tersebut.
"Baiklah jika begitu terima kasih, semoga berkah!" ucap Tiara tanpa berpikir macam-macam tentang Daniel.
"Aamiin, sama-sama Nona." Daniel semakin terhipnotis dengan pesona Tiara. Namun, Tiara sama sekali tidak mengetahui jika Daniel sangat mengaguminya.
"Oh ya, ini brosur obat-obat herbal yang mas beli barusan. Jika ada hal yang tidak di pahami, silakan hubungi nomor yang tertera di bagian bawah brosur tersebut!" terang Tiara yang sedikitpun tidak menaruh curiga pada Daniel yang sebenarnya hanya ingin mencari bukti tentang permasalahan yang dialami oleh Tiara dan Abiseka di Cafe xx.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba," bathin Daniel dengan tersenyum memandangi nomor ponsel Tiara yang tertera di brosur obat-obat tersebut.
"Tiara Chandani Putri, itu nama mu ya? rasanya tidak asing lagi. Aku pernah melihat mu di pengajian ustadz Abu Ammar," terang Daniel yang memang sengaja ingin mendekati Tiara secara perlahan.
"Benar sekali! Namaku Tiara, benar aku memang sering mengikuti pengajian tersebut." Tiara menjawab seadanya, tanpa sedikitpun di tutup-tutupi.
"Oh ya, namaku Daniel Mahesa Syailendra!" ucap daniel dengan menjulurkan tangannya. Namun, Tiara menelungkupkan tangan di dadanya dengan seutas senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
Daniel pun kembali menarik tangannya. Ada rasa malu yang menyelinap di kedalaman hatinya ketika menyadari Tiara menolak uluran tangannya.
"Dia benar-benar gadis yang luar biasa, sungguh ... aku benar-benar terpikat padanya," batin Daniel yang tak berkedip memandang pesona Tiara.
"Hey ubur-ubur, kau!" pekik Viola setelah menyadari customer yang berbicara sejak tadi dengan Tiara ternyata ada Daniel musuh bebuyutannya.
__ADS_1