
''Tidak apa-apa sayang, masih banyak waktu lainnya untuk kita melakukannya. Jadi, jangan terlalu dipikirkan ya? bagi Mas yang penting kesehatan mu dan calon bayi kita tetap terjaga.''
Abiseka menarik Tiara ke dalam pelukannya, tak lupa pula ia mengecup lembut pucuk kepala istrinya. Seperti biasanya Tiara nampak nyaman bertengger dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang selalu memberikannya kedamaian.
''Terima kasih, Mas. Aku semakin mencintai mu,'' ungkap Tiara tanpa rasa ragu.
''Terima kasih sayang, atas rasa cinta yang telah kau sematkan untuk ku. Aku bersyukur bisa memiliki mu. Aku mencintaimu dari sejak melihat mu di malam pesta itu dan aku pun telah mengagumimu dari sejak zaman persekolahan dahulu, akan tetapi dirimu terlihat cuek pada saat itu. Kau lebih fokus dengan belajar mu. Pada saat itu dirimu terkenal dengan si kutu buku,'' ujar Abiseka dengan segala kejujuran hatinya.
Tiara mendongkakan wajahnya, menatap suaminya dengan tatapan penuh arti. Ia tidak menyangka bahwa dirinya dicintai seistimewa itu oleh seorang Gala Abiseka Gyantara yang kini telah menjadi suaminya.
''Terima kasih atas rasa dan ketulusan mu yang sedalam itu untuk ku Mas. Maafkan aku yang sering kali mengabaikan rasamu dan membanding-bandingkan mu dengan masa laluku," ucap Tiara dengan mengusap lembut kedua pipi suaminya yang kini telah menyentuh hatinya secara perlahan.
''Wajahmu begitu mirip dengan mas Brama. Aku baru menyadari itu, maafkan aku Mas Abi sebab masih menyelipkan masalalu ku didalam hubungan kita.''
Tiara melepaskan diri dari pelukan suaminya, ia merasa bersalah sebab belum bisa sepenuhnya melupakan Brama kendati ia merasa telah nyaman ketika berada di dekat suaminya.
''Tia, kau kenapa?'' Abiseka membalikkan tubuh Tiara yang terlihat membelakanginya.
Tiara menundukkan wajahnya, tanpa sadar air mata pun berlinang membasahi pipi mulusnya.
Semenjak kehamilannya Tiara mudah sekali baper, selalu ada-ada saja hal yang membuatnya sedih.
Abiseka menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, ia pun mengusap air mata istri tercintanya.
__ADS_1
''Sayang, jangan menangis! maafkan jika ada ucapan ku yang kurang berkenan di hatimu. Aku tidak tahan jika melihat mu menangis,'' ujar Abiseka sambil mengecup lembut kening Tiara.
''Masss!'' Tiara semakin terisak, ia pun kembali menghamburkan dirinya ke dalam pelukan suaminya. Rasa cintanya yang masih terbagi membuat Tiara semakin dipenuhi rasa bersalah pada suaminya.
''Aku akan selalu ada untuk mu sayang.'' Abiseka mengecup lembut bibir istrinya untuk menenangkan ibu hamil tersebut agar moodnya kembali normal.
Dan benar saja, Tiara merasakan ketenangan ketika suaminya semakin memperdalam ciumannya. Ia pun begitu menikmati sentuhan dan kemesraan yang diciptakan oleh suaminya. Wajahnya nampak bersemu merah ketika mendapat perlakuan manis dari suaminya. Seketika perasaan dan pikirannya tentang dokter Brama ambyar oleh sentuhan lembut suaminya.
''Bagaimana, apa sudah lebih tenang?'' tanya Abiseka sambil mengusap lembut rambut istrinya yang panjang hitam dan bergelombang.
Tiara menerbitkan senyumannya, ''Terima kasih untuk semuanya Mas! tetaplah di samping ku, menemani ku bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan sosok istri yang shalihah untuk mu,'' ucap Tiara terdengar manja namun semua itu murni dari kejujuran hatinya yang terdalam.
''InsyaAllah, semoga Allah meridhoi niat baik kita sayang. Setelah ini, kita bersih-bersih dulu, nanti kita sholat Maghrib berjama'ah. Mas akan menjadi imam untuk mu,'' ucap Abiseka penuh kesungguhan.
Abiseka benar-benar ingin belajar menjadi sosok suami yang baik untuk Tiara. Ia berusaha untuk terus belajar menuntut ilmu syar'i demi untuk mengimbangi sang istri.
''Mas, aku bahagia dengan perubahan mu. Terima kasih karena telah menjadikan ku sebagai makmum untuk mu, terimakasih atas rasa tanggung jawab mu yang begitu besar terhadap ku dan calon anak kita!'' ucap Tiara sambil mengusap-usap perutnya.
Abiseka pun kembali memeluk tubuh istrinya dari arah belakang, ia pun ikut mengusap perut istrinya yang masih rata.
''Mas mandi dulu, ya? kamu silahkan istirahat dulu, tadikan habis mual. Sebaiknya kau berbaring dulu sembari menunggu Mas selesai bersih-bersih.''
Tiara pun menuruti titah suaminya sebab kepalanya pun masih terasa keliyengan efek dari ngidamnya yang masih terus saja mengalami pusing dan mual-mual.
__ADS_1
Tiara pun menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang, sambil menunggu suaminya menyelesaikan ritual mandinya. Tiara pun memutar lantunan ayat-ayat Qur'an di ponselnya sebagai penyejuk qolbunya sembari menunggu ibadah shalat Maghrib yang tinggal tiga puluh menit lagi.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di bawakan oleh Muzzammil Hasballah menjadi salah satu Qori favoritnya.
''Nak, mommy do'akan semoga dirimu nantinya menjadi seorang hafidz atau hafidzah terlepas dari apapun jenis kelamin mu nanti,'' gumam Tiara sambil berdialog dengan janin yang ada di dalam kandungannya.
Tiara tidak menyadari jika suaminya kini telah berada di sampingnya dengan mengenakan baju Koko lengkap dengan sarungnya. Abiseka telah bersiap-siap untuk menyambut ibadah shalat Maghrib. Ia begitu bahagia mendengar istrinya yang mendambakan calon anak mereka menjadi calon hafidz nantinya.
''Mas, Abi?'' ucap Tiara yang kini diliputi rasa kagum melihat penampilan suaminya yang terlihat sangat religius.
''Iya, kenapa sayang?'' tanya Abiseka sambil mengenakan pecinya.
''Mas terlihat tampan sekali, dan akan lebih terlihat menarik lagi jika wajah mas dihiasi bulu-bulu halus. Tiara suka melihat laki-laki yang memiliki jenggot dan bewokan. Mas pasti akan terlihat seperti pangeran Arab,'' ceplos ibu hamil yang moodnya sering berubah-ubah tanpa sebab yang jelas.
Abiseka tersenyum mendengar ucapan istrinya, ''Baiklah istri ku apa pun yang dirimu inginkan Mas akan menurutinya. Mulai detik ini Mas akan membiarkan bulu-bulu halus menghiasi wajah ku, agar bidadari dunia dan akhirat ku ini merasa senang dan nyaman berada di dekat ku,'' bisik Abiseka lembut di telinga istrinya.
Tiara merasakan embun kesejukan ketika mendengar bisikan lembut suaminya. Dirinya begitu merasakan diratukan oleh suaminya dalam hal apapun.
''Maaf, jika keinginan Tiara terlalu berlebihan Mas!'' ujar Tiara yang merasa tidak enak hati dengan ucapan dan permintaannya yang mungkin sangat memaksa suaminya.
''Tidak apa-apa sayang, bukankah menumbuhkan bulu-bulu halus di dagu itu termasuk Sunnah nabi juga? selama ini mas selalu memangkas habis bulu-bulu halus yang menghiasi wajah Mas yang dahulu aku kira seperti semak belukar yang menganggu ketampanan wajah ku,'' terang Abiseka tanpa di tutup-tutupi sehingga membuat Tiara terkekeh mendengarnya.
''Mas ada-ada saja, bewokan dan bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu di samakan dengan semak belukar.''
__ADS_1
Tiara melebarkan tawanya sehingga menampakkan deretan gigi putih yang sangat cantik dan menawan hati suaminya ketika melihat tawa renyah yang menghiasi wajah istrinya.
''You are very beautiful my wife,'' ucap Abiseka tanpa sengaja memuji kecantikan istrinya yang begitu terlihat sangat sempurna di matanya.