Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 7. Penyesalan ( Obat Penawar Rindu )


__ADS_3

Dua jam sudah Tiara menghabiskan waktunya di kamar mandi, dia tidak henti-hentinya menyesali kecerobohannya.


"Andaikan saja semalam aku tidak mengikuti acara party laknat tersebut, tentunya semua tidak akan menjadi seperti ini!" sesal Tiara di dalam hatinya.


Tiara pun segera mengenakan jubah mandinya dan melilitkan handuk di kepalanya. Ia merasakan sangat kedinginan sebab terlalu lama mengguyuri dirinya dikamar mandi meratapi segala kedukaannya. One night stand bersama Gala Abiseka semalam benar-benar membuat hatinya terluka sangat perih bagai disayat-sayat oleh belati tajam.


Tiara mematut dirinya didepan cermin, wajahnya terlihat pucat pasi akibat terlalu tertekan memikirkan segala kedukaan yang kini menderanya.


"Aku telah kotor, aku tidak bisa menjaga diri dan kesucian ku. Mas Bram, maafkan aku yang menodai janji suci kita, aku mencintaimu Mas. Sungguh sangat mencintaimu! kenapa takdir ini begitu sangat mempermainkan ku? apalah arti sebuah penyesalan, semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikan kesucian ku yang telah terenggut!" isak Tiara dalam tangis pilunya.


Tiara menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya yang memang ia sediakan khusus di toko herbal miliknya sebagai tempat untuknya mengistirahatkan diri disela-sela aktivitasnya menjaga toko herbal miliknya. Ia pun memejamkan matanya setelah terlalu lama menangis. Ia tidak menyadari jika sudah ratusan chat dan panggilan memenuhi ponselnya, dari sejak semalam hingga hari ini Tiara enggan membuka benda pipihnya. Ia masih larut dalam penyesalannya, terlalu berat beban yang harus dipikulnya saat ini membuatnya frustasi luar biasa.


Hari menunjukkan pukul sepuluh siang. Tiara masih terlelap di kasurnya akibat terlalu lelah dan banyak menangis memikirkan peristiwa satu malam yang telah merenggut kesuciannya.


Biasanya, pukul 07.30 wib Tiara sudah stand by membuka toko herbalnya. Namun, hari ini tokonya nampak tertutup rapat. Para pelanggan obat herbalnya sudah berapa kali bolak-balik mengunjungi tokonya guna untuk membelikan obat yang mereka butuhkan.


Tak terkecuali, Brama Adyaksa Kyswara dari sejak semalam hingga siang ini sudah 127 kali ia menghubungi Tiara. Namun tidak ada satu pun panggilan yang dijawab oleh calon istrinya.


Brama pun sudah puluhan kali mengirim pesan untuk calon istrinya itu. Akan tetapi, jangankan mendapat balasan chat. Pesannya, tak satupun di-read oleh Tiara. Membuat Brama setengah frustasi dan khawatir dengan keadaan Tiara.


Brama juga sudah mengunjungi kediaman orang tua Tiara, namun mereka pun tidak mengetahui keberadaan Tiara. Sehingga orang tua Tiara pun ikut panik mencari keberadaan anaknya.


"Bagaimana Nak, Bram? apa kau telah menemui titik terang keberadaan Tiara anak kami?" tanya Pak Prasetyo dan Ibu Pieska yang terlihat panik mencari keberadaan putrinya.

__ADS_1


"Maaf, Om Tante. Brama belum mendapatkan kabar apapun mengenai keberadaan Tiara." Brama terlihat sendu.


"Ya Allah, kau dimana Nak? semalam juga tidak pulang, toko mu juga belum buka. Tak biasanya dirimu seperti ini, Nak. Telfon mu pun tak di angkat, pesan Ibu pun tidak kau buka sama sekali!" gumam Ibu Pieska dengan manik mata yang mulai berembun.


Prasetyo pun tampak menenangkan istrinya. "Bunda tenang saja, insya Allah kita akan menemukan Tiara anak kita." Prasetyo mengusap pundak istrinya agar tidak terlalu sedih dan panik.


Brama nampak mengingat percakapan terakhir antara dirinya dan Tiara semalam.


"Astaghfirullah, aku sampai lupa bukankah semalam Tiara pergi bersama Viola ke pesta ulang tahun temannya di kafe xx?" ucap Brama spontan.


"Viola? apa Tiara menginap di rumah Viola?" Ibu Pieska merasa sedikit lega mendengar penuturan Brama calon mantunya.


"Sebentar, Ibu coba menghubungi Viola dulu! semoga Tiara ada di sana," ucap Ibu Pieska yang hendak menekan tombol ponselnya untuk menghubungi Viola yang semalam terakhir bersama Tiara putrinya.


"Tiara!" pekik Brama dan juga kedua orang tua Tiara dengan rasa tak percaya, melihat orang yang mereka cari ternyata berada di dalam toko tersebut dalam keadaan seperti orang yang baru bangun tidur.


"Ayah, Bunda. Mas Bram, kalian di sini?" tanya Tiara terlihat kaget dan gugup dengan kehadiran orang-orang terkasihnya yang kini telah berdiri tegak di hadapan tokonya.


"Tiara, kamu disini Nak? kami semua mencarimu. Nak Brama juga sudah kemana-mana mencari mu, ia sangat mengkhawatirkan mu. Setidaknya memberi kabar, jangan membuat semua orang khawatir." Pieska nampak menasehati putrinya. Ia pun memeluk putri kesayangannya dengan penuh kasih.


"Maaf Bunda, Tiara semalam ketiduran di toko setelah pulang dari party menemani Viola." Tiara terlihat berbohong, demi menyembunyikan kesedihannya. Ingin Tiara menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Bundanya. Namun, Tiara berusaha terlihat tegar di hadapan orang-orang terkasihnya.


"Lain kali, jika tidak pulang ke rumah kabari bunda. Jangan buat kita semua khawatir, lihat calon suami mu ia nampak resah tanpa kehadiran mu." Pieska melirik sekilas pada calon mantunya. Membuat Brama tersenyum simpul menahan gejolak didadanya. Ia benar-benar merindukan sosok Tiara. Sehari tidak melihat wajah ayu calon istrinya membuatnya hilang semangat hidup, Tiara benar-benar telah mencuri segenap hati dan jiwanya.

__ADS_1


Sementara, Tiara semakin diliputi kesedihan yang mendalam, ia tidak sanggup menatap wajah Brama calon suaminya. "Maafkan aku, Mas Bram!" batin Tiara dengan mengalihkan pandangannya.


Kejadian one night stand bersama Gala Abiseka Gyantara benar-benar menjadi momok menakutkan dalam hidupnya, menghancurkan masa depan yang hendak ia bangun bersama calon suaminyanya. Peristiwa buruk tersebut seolah merintangi hubungannya dengan Brama, menenggelamkan mimpi-mimpinya yang sudah ia rencanakan dengan begitu apiknya. Namun, kebahagiaan tersebut kini sirna dan hancur berkeping-keping bagaikan di telan perut bumi, semua mimpi-mimpinya seakan tenggelam bersama kepingan hatinya yang terkoyak.


Tiara benar-benar larut dalam penyesalannya, "Siapa sebenarnya yang telah menjebak ku dan Gala? apa mungkin itu Viola? Tapi, itu tidak mungkin ia sahabat karib ku. Aku yakin, ini semua adalah rencana buruk pria jahat itu. Terbukti disaat mati lampu ia mencuri kesempatan untuk memeluk ku. Di saat ia tampil bersama Gyantara Music Group pun ia terus mencuri kesempatan untuk mendekati ku dengan untaian sya'ir lagunya yang memukau dan membius para tamu undangan yang hadir di sana. Tapi, Viola kemana? kenapa ia meninggalkan ku di saat aku terjebak di ranjang panas bersama Gala Abiseka?" Tiara bertanya-tanya didalam hati kecilnya.


Lamunannya pun seketika buyar, ketika orang-orang terkasihnya hendak pamit dari hadapannya.


"Nak, Ayah dan Bunda kembali bertugas dulu, ya? tadi, Ayah meninggalkan meeting bersama relasi ayah ketika mendengar dirimu menghilang dan tidak ada kabar. Bunda mu sangat mengkhawatirkan mu!" ucap Ayah Prasetyo dengan mengelus puncak kepala Tiara.


"Iya, Nak. Bunda pun hendak mengunjungi Pieska Boutique Colection, sudah satu Minggu Bunda tidak mengunjungi boutique kita, Bunda bersama ortu nak Brama pun sedang fokus mengurusi pernikahan kalian beserta walimahannya yang insya Allah tinggal dua bulan lagi." Bunda Pieska nampak menggoda anak dan calon mantunya.


Brama merasa bahagia dan tersanjung, namun tidak dengan Tiara ia nampak terlihat sedih dan murung.


"Brama, tolong jaga anak Ayah dan Bunda ya? kami percaya penuh pada mu!" Prasetyo, ayah Tiara nampak memberikan dukungan penuh terhadap hubungan anak dan calon mantunya.


"InsyaAllah, Yah!" ucap Brama yang tidak sungkan-sungkan memanggil calon mertuanya dengan sebutan Ayah. Ia pun menyalami ayah dan Bunda Tiara dengan takzim. Begitu pun dengan Tiara.


Setelah kepergian ayah Prasetyo dan Bunda Pieska, Tiara nampak menjaga jarak dengan Brama. Dirinya nampak kalut dengan ujian hidup yang kini tengah melandanya.


"Cari obat herbal apa, Mas? maaf, aku baru buka toko." Tiara terlihat sendu dengan menundukkan wajahnya tanpa berani menatap wajah calon suaminya yang sebenarnya sangat ia rindukan. Namun, setiap mengingat kejadian panas antara dirinya dan Abiseka semalam membuat Tiara merasa malu untuk sekedar menatap wajah sang calon imam yang kini sudah berdiri tegak di hadapannya.


"Aku mencari mu Tiara, dari sejak semalam hingga saat ini, engkaulah obat penawar rinduku!" ujar Brama dengan tatapan penuh cinta terhadap Tiara calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2