
Abiseka sudah mengelilingi sekitaran pasar sampai berhenti di tempat pedagang kaki lima untuk mencari rujak buah pesanan istrinya. Akan tetapi tidak ada satu pun orang yang berjualan rujak buah sebab waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 wib.
''Ya Allah, aku batal meeting. Papa dan mama pasti marah besar padaku. Aku lupa jika ponselku dalam keadaan silent.''
Abiseka memijit kepalanya yang terasa pusing ketika melihat ada tujuh panggilan tak terjawab dari papa dan mamanya.
''Pasti meetingnya sudah dimulai tiga puluh menit yang lalu, mana rujak buahnya juga belum ketemu. Sia-sia pengorbanan ku keliling-keliling mencarinya, namun tak satupun yang jualan.''
Abiseka menghubungi papa dan mamanya juga Alex asisten pribadinya, akan tetapi tidak ada satupun yang mengangkat telfonnya.
''Gawattt, meetingnya memang telah di mulai.''
Abiseka pun menghubungi pihak kantornya dan benar saja, Alex telah menggantikan posisinya untuk memenuhi undangan kliennya yang di rekomendasikan oleh kedua orang tuanya.
''Ini semua gara-gara rujak buah, pekerjaan ku jadi terbengkalai.''
Abiseka menyandarkan kepalanya di kursi mobilnya, ia berpikir sejenak bagaimana caranya agar tidak ada adegan ngambek-ngambekan dari sang istri, ketika permintaannya tidak terpenuhi.
''Apa kubelikan buah-buahan saja di toko buah sesuai permintaannya, kemudian aku meracik rujak buah sendiri special untuknya. Ide yang bagus, sekarang kan teknologi sudah canggih, tinggal lihat resep di google. Nggak apa-apa, meeting ku gagal kali ini. Aku harus siap mendengarkan omelan mamaku oleh sebab tidak tepat janji. Ini semua demi calon cucu mereka juga, aku yakin mama memahaminya.''
Abiseka pun segera merealisasikan idenya. Ia begitu bersemangat membelikan buah-buahan untuk ia jadikan rujak buah demi istri tercinta dan calon baby-nya.
Abiseka pun membelikan masing-masing satu kilo buah-buahan sekalian untuk stok, jika sewaktu-waktu istrinya minta yang aneh-aneh lagi.
''Aku pulang ke rumah saja, sekalian minta bantuan asisten rumah tangga untuk membantu ku membuatkan rujak buah untuk istri ku. Karena ini yang pertama kalinya aku membuat rujak buah, khawatir berlepotan nanti meskipun aku sudah menemukan resep yang akurat untuk membuat sambal cocolannya.''
Abiseka pun melajukan mobilnya menuju kediaman keluarganya, hatinya merasa sedikit tenang sebab punya ide untuk membuat rujak buah special untuk istrinya.
__ADS_1
''Akhirnya, aku punya ide untuk itu semua. Kalau buat sendirikan higenis, ketimbang harus beli pada tukang rujak.''
Abiseka tampak bersemangat, ia pun segera menekan klakson mobilnya ketika sudah sampai di pintu gerbang rumahnya. Seorang security yang menjaga keamanan rumah mereka pun segera berlari kecil membuka pintu gerbang tersebut dan menyambut dengan seksama kedatangan tuan mudanya.
''Selamat sore, Tuan!'' sapa security tersebut penuh hormat.
''Sore Pak, terimakasih!'' ucap Abiseka dengan penuh kesopanan. Tak lupa ia pun menampakkan senyuman termanisnya.
''Kira-kira tuan muda kesambet apa ya? biasanya ia irit bicara dan terkesan dingin, baru kali ini ia bersikap santun dan mengucapkan kata terima kasih kepada bawahannya.'' Security tersebut bergumam dalam hati memikirkan perubahan sikap majikannya.
Abiseka memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun turun dari mobilnya sambil menenteng empat kantong kresek berisi buah-buahan. Membuat security tersebut berlari ke arahnya untuk membawa kantong kresek milik majikannya yang sebagai bentuk rasa hormatnya.
''Tidak apa-apa, Pak. Biar aku saja yang membawanya, ini spesial untuk istri ku yang sedang hamil muda. Ia minta rujak buah dan aku ingin membuatkan sendiri untuknya,'' terang Gala Abiseka dengan penuh antusias.
''Wah, Alhamdulillah ... sebentar lagi tuan akan menjadi seorang ayah,'' ujar securty tersebut dengan ikut merasakan kebahagiaan tuan mudanya.
Abiseka seolah tahu apa yang dipikirkan oleh security-nya, akan tetapi dirinya acuh tak acuh. Walaupun mulanya pernikahannya dengan Tiara adalah bentuk keterpaksaan oleh sebab terjerat cinta satu malam bersama wanita yang kini telah menjadi istrinya. Namun, tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mempertahankan biduk rumah tangganya bersama Tiara yang ia yakini seiring waktu Tiara akan menerima dirinya seutuhnya sebagai seorang suami.
''Sayang, aku yakin setelah ini dirimu akan semakin terpikat pada ku.'' Abiseka tersenyum-senyum seperti ABG yang sedang kasmaran, membuat security yang menjaga di posnya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah absurd tuan mudanya.
Abiseka berjalan ke arah dapur dan segera mengenakan apron, seperti seorang chef ternama yang ada di tayangan televisi.
''Tu-tuan, tuan mau apa? biar saya saja yang menyediakan kebutuhan yang tuan inginkan,'' sergah asisten rumah tangga yang bernama Bi Inah.
''Tidak apa-apa Bi, aku ingin belajar menjadi sosok suami yang baik. Aku ingin membuat rujak buah untuk istri ku dan calon bayi ku,'' ujar Abiseka tanpa malu-malu mengakui jika istrinya sudah hamil duluan.
''Ja-jadi, istri tuan Gala sudah mengandung?'' tanya bi Inah penuh kehati-hatian.
__ADS_1
''Alhamdulillah ... istri ku memang sedang mengandung calon buah hati kami Bi. Makanya ia ngidam buah. Aku sudah keliling kemana-mana untuk mencari pedagang rujak, tapi tidak ada. Jadi, aku berinisiatif untuk membuat rujak buah sendiri.''
Abiseka begitu telaten mengupas dan memotong buah-buahan yang hendak ia jadikan rujak buah.
''Oh, jadi ... gara-gara rujak buah ini tuan Gala nekad menjadi layaknya seorang chef master yang bergelut langsung didapur?'' goda bik Inah yang perlahan bisa merasakan perubahan yang sangat luar biasa pada diri majikannya semenjak menikah ia benar-benar menjadi sosok suami idaman.
Abiseka terkekeh mendengar penuturan ART-nya, ''Ya, begitulah Bi ... Aku sangat menikmati peran ku sebagai sosok suami dan calon ayah untuk bayi ku.''
Abiseka pun meluahkan segala apa yang sedang di rasakannya pada Bi Inah yang kini begitu setia menemani dan mendengarkan curhatan tuan mudanya.
''Kalau begitu, bibi bantu memotong buahnya ya? sekalian nantinya bibi bantukan untuk membuat cocolannya,'' tawar bi Inah yang sangat memahami karakter tuan mudanya dari sejak kecil.
''Boleh, Bi. Silahkan!'' ucap Abiseka dengan tersenyum pada ART terbaiknya.
***
Di sisi lain.
Tiara nampak mondar-mandir keluar masuk toko sambil melihat apakah suaminya sudah datang memenuhi permintaannya.
''Mas Abi kemana sih? sudah pukul dua sore belum kembali juga. Apa ia langsung berangkat ke kantor lagi tanpa mencari apa yang kuinginkan,'' gumam Tiara yang mulai risih menunggu kepulangan suaminya.
''Sabar, ya sayang! Mommy yakin Daddy mu akan kembali membawa pesanan kita,'' ucap Tiara sambil mengusap lembut perutnya yang masih terlihat rata.
Percakapan antara Tiara dan bayi yang ada di dalam kandungannya pun terhenti ketika mendengar deru mobil yang tak asing lagi baginya.
''Itu sepertinya Mas Abi,'' gumam Tiara dengan tersenyum bahagia demi untuk menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1