
Brama meletakkan tubuh Yashinta di atas ranjang empuk, di mana ruang kamar gedung tersebut telah disulap menjadi kamar pengantin yang bertaburan bunga-bunga semerbak mewangi, sehingga memberi kenyamanan dan ketenangan bagi sepasang pengantin baru tersebut.
Brama tanpa sengaja menatap manik mata indah milik Yashinta, begitu pula sebaliknya Yashinta pun begitu terhipnotis dengan ketampanan suaminya. Jangan ditanya lagi seperti apa degup jantungnya saat ini, ia merasakan debaran yang sangat luar biasa ketika posisi mereka berdua terlihat sangat intim di mana Brama kini seolah mengukung tubuh Yashinta, sebab sang istri tidak menyadari jika dirinya masih begitu erat mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
''Ya zawjatii, apa kita akan terus berpandangan seperti ini? sebaiknya kita membersihkan diri dulu, kau pasti sangat lelah dan gerah sekali dengan gaun pengantin ini!'' ucap Brama memecahkan kesunyian.
Yashinta terlihat semakin merona, jika saja wajahnya tidak tertutup cadar, betapa malunya Yashinta jika suaminya sampai mengetahui jika saat ini wajahnya nampak bersemu merah dan malu-malu ketika berhadapan dengan suaminya.
''Iya memanggil ku dengan sebutan Zawjatii? ya Allah, ternyata suamiku begitu sangat romantis. Inikah caranya untuk memanjakan dan meratukan ku?'' batin Yashinta tersenyum di balik cadarnya.
''Mau aku bantu melepaskan gaun pengantinnya?'' Brama nampak siaga demi untuk menyenangkan sang istri.
''T-tapi, aku malu mas!'' Yashinta mengalihkan pandangannya dan segera melepaskan tangannya yang mengalung hangat di leher Brama.
''M-maaf, aku merepotkan mas Bram.'' Yashinta tertunduk malu atas tingkah absurdnya sendiri.
''Tidak apa-apa sayang, aku kini telah menjadi suamimu. Dan kau punya hak atas diriku begitupun sebaliknya.'' Brama mengenggam tangan Yashinta lalu mengecup lembut kening Yashinta.
''Detik ini dan seterusnya kau akan terbiasa dengan hal ini. Kau adalah separuh nafas hidup ku, terima kasih atas hadirmu yang telah mengusik relung jiwaku yang sempat rapuh. Terima kasih karena kau telah menjadi bidadari dalam hidupku memenuhi setengah agama mu. Aku merasa menjadi laki-laki yang bahagia dan sangat sempurna beristrikan dirimu!'' ucap Brama dengan menatap lekat wajah Yashinta yang masih tertutupi cadar.
''Malam ini, detik ini juga izinkan aku sebagai suamimu untuk menyibak tirai wajahmu yang tertutup cadar. Dan aku ingin hanya diriku saja yang melihat segala keindahan yang ada dalam dirimu.''
Yashinta hanya terdiam menahan degup jantungnya yang semakin berdebar kencang oleh perlakuan manis suaminya, ia hanya mengangguk pelan sebagai tanda jika dirinya menyetujui ucapan suaminya.
__ADS_1
''Bismillah ... '' Brama menyentuh dagu Yashinta, ia pun perlahan menyibak kain penutup wajah Yashinta dengan jantung yang berdebar tak beraturan.
Baru kali ini Brama menyentuh wanita yang kini telah menjadi istrinya dengan debaran rasa yang tak kuasa ia menahan segala gejolak yang terpendam.
''Maa syaa Allah, betapa sempurnanya Allah ciptakan pahatan yang indah dari dirimu Yashinta Patrisia Gertrudis! aku tidak menyangka setelah dirimu mengenakan penutup wajah. Rona wajahmu semakin terpancar indah dan tiada celah,'' ucap Brama sambil mengagumi makhluk Tuhan yang paling cantik dan sempurna di hadapannya.
Wajah Yashinta terlihat cantik dan bercahaya di tambah dengan polesan make up pengantin sungguh menambah kesempurnaan yang ada. Tatapan Brama tertuju pada bibir ranum milik istrinya begitu tampak menggoda jiwa lelakinya.
Entah angin apa yang menuntun hati dan pikiran Brama ia seolah terhipnotis dengan kecantikan istrinya, tidak ada lagi nama dan gambaran wajah Tiara di hati dan pikirannya yang ada hanyalah Yashinta seorang yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya.
Brama semakin mendekatkan wajahnya di bibir Yashinta, ''Massss!'' desah Yashinta ketika Brama hendak menempelkan bibirnya di bibir ranum Yashinta.
''Maaf,'' ucap Brama ketika tiba-tiba adzan menggema di seluruh penjuru kota.
''Astaghfirullah, iya sayang aku hampir lupa. Kita belum berbenah diri dan aku pun belum melafalkan do'a malam pengantin.'' Brama menerbitkan senyumannya di balik hasratnya yang begitu membuncah ingin menyentuh apa yang kini sudah halal untuk disentuh.
''Kita lanjutkan nanti ya Mas! tolong buka resleting gaun pengantin ku,'' pinta Yashinta sambil menyembunyikan kegugupan dan rasa malunya yang sudah bertaut menjadi satu.
''Hampir saja, sepertinya aku harus mempersiapkan hati dan mentalku. Seperti kisah-kisah malam pengantin sebelum ku, semua laki-laki pasti mendambakan indahnya menikmati alam syurgawi di malam pengantin.'' Yashinta semakin gugup dan gemetar ketika membayangkan suaminya menikmati semua keindahan yang ada dalam dirinya.
''Apa mau mas antar ke kamar mandi?'' tanya Brama ketika ia selesai menarik resleting gaun pengantin Yashinta.
''T-tidak mas, aku bisa sendiri!'' Yasinta terlihat gugup dan gemetar, ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Yashinta nampak terpukau, sebab di dalam kamar mandi telah tertata sempurna, di dalam bathup sudah bertaburkan bunga-bunga harum mewangi untuk merilekskan dirinya dan Brama setelah menjadi raja dan ratu sehari.
Yashinta nampak merendamkan tubuhnya di dalam air hangat, ia begitu malu saat melihat peralatan mandi yang disediakan khusus dirinya dan Brama. Wajah Yashinta semakin terlihat bersemu merah.
''Ya Allah, inikah ritual malam pengantin sebelum menikmati malam indahnya? Apakah malam ini aku benar-benar akan menyelami indahnya syurga dunia bersama suamiku? Ya Allah, aku benar-benar gugup. Peralatan mandinya begitu lengkap sekali, haruskah aku menggunakan sabun mustika d*ra ini agar terkesan kesat dan wangi?'' Yashinta merasa malu dengan apa yang ia pikirkan saat ini.
''Pasti semua ini yang menyediakannya adalah mama Naraya atau omma Zanna?'' gumam Yashinta sambil memejamkan matanya dan merendamkan tubuhnya di dalam bathup yang begitu semerbak mewangi.
''Sayanggg, apa sudah selesai mandinya?'' tanya Brama yang tidak sabaran menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, sebab ia pun merasa gerah ingin segera melakukan ritual mandinya.
''Astaghfirullah, aku sampai lupa. Suamiku sedang menunggu ku, bagaimana jika ia beranggapan yang aneh-aneh padaku? ya Allah, aku jadi malu sendiri. Nanti aku dikira melakukan ritual mandi untuk mensukseskan malam pengantin?'' Yasinta semakin bersemu malu.
''Mas, maaf menunggu lama. Akan tetapi, baju gantiku ketinggalan di koper. Bisakah mas mengambilkannya untuk ku?'' seru Yashinta sambil menyembulkan kepalanya keluar pintu ketika menyadari pakaian gantinya tidak terbawa karena ia buru-buru ke kamar mandi tanpa perlengkapan yang matang.
''Sebentar sayang, mas ambilkan!'' ucap Brama dari balik pintu. Akan tetapi, netranya tidak sengaja menangkap tubuh istrinya yang masih mengenakan basahan dan belum sempat melilitkan handuk ketubuhnya.
Brama meneguk salivanya ketika memandang keindahan dari wanita yang kini telah menjadi istrinya.
''M-maaf mas.'' Yashinta dengan gerakan cepat menutup pintu kamar mandi. Ia merasa sangat malu ketika menampakkan sebagian keindahan yang ia miliki pada suaminya sendiri. Sebab, ini yang pertama kalinya untuk Yashinta.
''Sayang, maaf. Mas hanya menemukan pakaian ini di kopermu!'' seru Brama ketika hanya ada berapa helai gaun kurang bahan yang disodorkan oleh Brama padanya.
''Ya Allah, kok pakaian ku berubah seperti ini Mas!'' pekik Yashinta ketika melihat berapa helai lingerie yang diberikan Brama padanya.
__ADS_1
''Mas juga tidak tahu, sayang! mungkin ritual malam pengantin umumnya memang begitu,'' ucap Brama terdengar polos di balik pintu.