
''Abiseka, apa istrimu masih tidur? atau ia sudah menyelesaikan makannya? Bunda Pieska dan Ayah Tyo sudah mau pulang jika kalian ingin bertemu dengannya.'' Mama Arla memanggil anak menantunya sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka.
''Sudah Ma, nanti kami turun ke bawah!'' ucap Abiseka sambil mengelus bibir istrinya yang basah akibat ulahnya.
''Mas Abi, nakal sekali!'' Tiara memukul pelan dada bidang suaminya.
''Nakal untuk istri tercinta tidak mengapa, kan sudah halal!'' Abiseka meraih tubuh Tiara dalam pelukannya.
''Nak, mama tunggu di bawah! jangan lama-lama.''
''Iya, Ma!'' Keduanya menjawab bersamaan dan saling memandangi satu sama lain.
''Anak muda, masih hangat-hangatnya. Tidak mengenal tempat, waktu dan keadaan!'' Mama Arla menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd anak menantunya.
Walaupun pintu masih tertutup rapat, feeling mama Arla anak menantunya sedang melakukan hal-hal yang bisa membuat seseorang panas dingin.
''Mas, kita keluar sekarang! nanti orang tua kita kelamaan menunggu.'' Tiara melerai pelukannya.
''Oke sayang!'' Abiseka menuntun langkah istrinya yang masih terlihat lemah.
''Terima kasih, suamiku!'' Tiara nampak tersanjung dengan perhatian lembut suaminya.
''Sama-sama sayang, sudah kewajiban Mas untuk menjaga mu.'' Abiseka mengecup lembut kening Tiara.
''Piring kotornya nggak di bawa sekalian Mas?''
''Biarkan saja, nanti mas akan membawanya setelah menuntunmu menemui orang tua kita.''
Tiara pun mengangguk, keduanya pun menuruni anak tangga dengan hati-hati. Abiseka benar-benar memperhatikan Tiara dengan penuh kasih tanpa membiarkan istrinya kesusahan sedikitpun.
Orang tua mereka pun saling melemparkan senyuman melihat interaksi anak-anak mereka.
''Sayang, bunda dan ayah pulang dulu, ya? jaga dirimu baik-baik, istirahat yang cukup dan jangan beraktivitas berlebihan.'' Bunda Pieska mengecup lembut kening Tiara.
''Ayah juga hendak pulang, jangan banyak pikiran. Jadilah istri dan menantu yang baik. Masalah tentang Viola semuanya sudah kami urus dan sekarang ia sudah mendekam di balik jeruji bersama orang-orang suruhannya. Sekarang, saatnya memikirkan kesehatanmu dan juga calon cucu kami.'' Ayah Tyo mengusap lembut pucuk kepala Tiara. Ia pun tak lupa mengecup kening Putri kesayangannya.
''Terima kasih untuk semuanya Yah, tapi apa boleh Tia meminta satu permintaan?'' tanya Tiara dengan sedikit ragu untuk mengutarakan niatnya.
''Permintaan apa Nak? jika itu untuk kebaikanmu akan ayah restui!''
__ADS_1
''Begini Yah, salah satu orang suruhan Viola ada yang terpaksa melakukan apa yang dititahkan oleh Viola demi untuk pengobatan ibunya yang sedang butuh perawatan operasi di Rumah sakit. Ia terpaksa bekerja sama dengan Viola untuk menjebak ku, demi untuk mendapatkan pundi-pundi rezeki untuk biaya operasi ibunya dengan nominal ratusan juta. Namanya Gerry, ia sangat baik padaku sewaktu aku di bekap. Aku ingin Gerry di bebaskan dari penjara dan kembali merawat ibunya!'' permintaan Tiara membuat semua orang merasa tidak percaya, mereka tidak setuju dengan permintaan Tiara untuk membebaskan Gerry.
''Mana bisa begitu sayang, Mas tidak bisa membiarkan penjahat berkeliaran di sekeliling kita dengan membebaskannya begitu saja. Mas tidak rela jika ia nantinya menyakitimu lagi.'' Abiseka yang tak tahan dengan permintaan istrinya pun langsung menyela apa yang menjadi keinginan Tiara.
Sementara, orang tua mereka diam sejenak sebelum memberikan argumen agar tidak mengecewakan Tiara yang memang tulus untuk melepaskan Gerry dari balik jeruji.
''Mas, Tiara mohon untuk sekali ini kabulkan keinginan Tiara. Gerry adalah pemuda yang baik, ia telah menjaga dan merawat Tiara ketika semua orang termasuk Viola yang terus menjahatiku. Kasian ibunya Gerry tidak ada yang menjaga dan merawatnya di rumah sakit, Gerry adalah tulang punggung keluarganya. Ayahnya sudah meninggal dunia,'' terang Tiara dengan mengurai air matanya.
Abiseka terdiam tanpa merespon ucapan istrinya, dalam hati ia benar-benar menolak apa yang menjadi keinginan Tiara.
''Nak, nanti ayah pikirkan bersama papa Reyhan dan juga orang suruhan kami dan pihak kepolisian untuk memeriksa perkara tentang pemuda yang bernama Gerry benarkah apa yang seperti kau ucapkan atas semua itu hanya kamuflase untuk mengelabuimu. Jangan cepat percaya dengan ucapan seseorang, kau lihat sahabatmu sendiri dari sejak kecil kalian terlihat akrab. Namun, pada kenyataannya dia telah bohongimu dan sengaja menjebakmu dalam kebinasaan. Dan yang sangat menyakitkan, ia mencoba untuk melenyapkanmu dari muka bumi demi untuk memenuhi ambisinya. Ayah tidak ingin gegabah dalam mengambil kesimpulan sebelum semuanya akan terbukti kebenarannya.''
Ayah Tyo berusaha untuk menenangkan Tiara, agar anaknya tidak terlalu memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu kesehatannya. Begitu pun dengan kedua orang tua Abiseka, mereka pun sependapat dengan ayah Tyo.
Abiseka terdiam, dadanya terasa bergemuruh ketika mendengar permintaan Tiara yang begitu antusias ingin bebaskan Gerry. Ada rasa cemburu yang terbesit dari hatinya ketika mendapati istrinya begitu kekeuh membela laki-laki lain di hadapannya.
''Terima kasih, Yah!'' ucap Tiara dengan mata berbinar ketika mendengar penuturan ayah Tyo yang sama sekali tidak menyudutkannya begitupun kedua mertuanya juga memberikan support terbaik untuknya.
Lain halnya Abiseka, wajahnya tiba-tiba berubah datar dan dingin ketika orang tua mereka memberi celah agar salah satu tahanan yang telah bekerja sama dengan Viola harus dilepaskan atas permintaan Tiara.
Ayah Tyo dan bunda Pieska pun segera beranjak pergi dari kediaman orang tua Abiseka besan mereka.
Setelah kepergian kedua orang tua Tiara dari kediaman mereka, giliran mama Arla dan papa Reyhan yang beranjak pergi. Tinggallah Abiseka dan Tiara yang masih diam membisu setelah kepergian orang tua mereka.
''Mas, kenapa diam? mas marah dengan Tia?'' Tiara mendekati suaminya.
''Masuk ke kamar, kau harus beristirahat! jangan berpikir yang macam-macam, aku tidak ingin kau terbebani dengan hal-hal yang tak seharusnya kau lakukan.'' Abiseka menuntun langkah Tiara menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Keduanya hanya terdiam tanpa bicara, mereka seolah tenggelam pada pikiran masing-masing.
''Kau istirahatlah, aku akan merapikan bekas makanan kita tadi.'' Abiseka membaringkan tubuh Tiara di atas tempat tidur.
''Massss,'' desah Tiara sambil menarik tubuh Abiseka untuk berbaring di sebelahnya. Tiara berusaha untuk meredam amarah suaminya dengan cara menggodanya untuk bergerut di atas ranjang panas.
Mendengar desah*n Tiara yang tak biasa membuat sisi lelaki Abiseka terasa bergerilya. Ingin sekali ia menyalurkan hasratnya yang terpendam, akan tetapi Abiseka urung untuk menyentuh istrinya. Ia masih sangat kecewa dan marah ketika mendengar penuturan Tiara yang terkesan membela satu tahanan mereka yang jelas-jelas telah bekerjasama dengan Viola untuk menjebak istrinya yang hampir saja merenggut nyawa istri dan calon bayinya.
Tiara tidak ingin membahas perkara itu, ia pun tidak ingin berdebat dengan Abiseka.
''Aammhhhh,'' Tiara memberanikan diri untuk ******* bibir Abiseka dengan caranya sendiri. Ia bergerilya dengan begitu nakalnya di atas bibir suaminya yang seksi dan menggoda itu.
''Shhhhhh,'' Abiseka mendes*h nikmat ketika mendapat penyerangan istrinya yang tanpa terduga terhadapnya.
__ADS_1
Tidak sampai di situ, Tiara pun bergerak nakal sambil membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Ia pun mengusap dan menjilati dada bidang suaminya yang ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.
''Masss, aku ingin!'' des*h Tiara dengan menggoda suaminya. Membuat Abiseka yang sedang marah pun seketika tanpa sadar merengkuh tubuh istrinya dengan kabut hawa nafsu yang begitu bergairah.
Abiseka pun menyesap bibir Tiara dengan penuh nafsu, keduanya pun saling bertukar saliva satu sama lain menikmati indahnya surga dunia yang begitu sangat memabukkan.
Pasangan halal itu pun kembali melakukan pergulatan panas, ketika biduk hawa nafsunya sudah mencapai ubun-ubun.
Abiseka memainkan dan menyesap kedua bukit kembar milik Tiara yang begitu sangat menggoda imannya.
''Massss, ammhhh!'' desah*an Tiara semakin mencapai puncaknya ketika hawa nafsunya menginginkan suaminya melakukan penyatuan raga dengannya.
Benda perkasa milik Abiseka pun, kembali amblas di dalam gua kenikmatan Tiara yang masih terasa sempit karena mereka baru berapa kali melakukannya selama menjadi suami istri.
''Sayangggg, kau begitu sangat menggoda!'' racau Abiseka sambil terus memompa miliknya di atas kenikmatan surga istrinya.
''Pelan-pelan, Mas! ada bayi kita di dalam sini,'' ucap Tiara di sela-sela aktivitas bercintanya yang begitu sangat dinikmatinya.
''Iya sayang,'' ucap Abiseka dengan memperlambat pompaannya, ia pun kembali menyesap bibir Tiara dengan lahapnya menyalurkan hasratnya juga emosi yang masih menjelajahi jiwanya. Akan tetapi, perlahan emosi pun mulai mereda seiring kabut gairahnya yang hampir berada di puncak kenikmatan.
''Sayanggggg, ah ... ah ... ah, ini sangat nikmat!'' racau Abiseka sambil menyemburkan lahar panasnya di gua kenikmatan milik Tiara.
Begitu pun Tiara tak henti melenguhkan desah*n kenikmatannya yang kini menjalar di sekujur tubuhnya. Ia pun merasa tumbang dan lemas ketika sesuatu keluar di bawah sana membuat dirinya mengelinjang nikmat.
Peluh pun menetes, dari pori-pori tubuh keduanya setelah selesai menikmati pergulatan panasnya.
''Terima kasih sayang, maaf telah mendiamkanmu! maaf untuk rasa cemburu yang tak beralasan, tapi sungguh aku tidak ingin mendengarmu menyebut nama pria lain di hadapanku terlepas dari siapapun itu. Mas akan pikirkan lagi masalah Gerry. Mas pun akan membantu biaya perawatan ibunya Gerry di rumah sakit.'' Abiseka membaringkan tubuh Tiara beralaskan telapak tangannya untuk berbaring.
Tiara pun berbaring menghadap wajah suaminya yang begitu terlihat tampan dan sangat menggoda dalam pandangannya.
''Terima kasih juga karena mas sudah mengerti diriku dan memahami akan keadaanku. Tia sangat mencintai mas Abi, di sini di dalam dadaku hati pikiran dan jiwaku hanya tertuju pada mas seorang. Terima kasih mas telah menemaniku untuk bertumbuh menjadi seorang istri yang semulanya belum bisa menerima keadaan, akan tetapi kini aku justru takut kehilanganmu!'' ucap Tiara sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
''Sama-sama sayang, Mas tidak bisa hidup tanpamu. Dirimu adalah separuh nafas hidupku tanpamu aku tidak akan bisa melewati perjalanan hidup ini! kau begitu sangat berarti dan sempurna dalam hidupku, jangan pernah pergi dariku dan tetaplah bertahan denganku seperti apapun sikapku yang mungkin terkadang menyakitimu tanpa sadarku!'' Abiseka mengecup lembut kening Tiara.
Keduanya pun terlelap setelah aktivitas panasnya, tak peduli cuaca sudah memancarkan cahaya terang. Keduanya tampak terlelap dalam satu selimut, menikmati indahnya menjadi pasangan halal yang bebas melakukan hubungan suami istri kapanpun mereka mau tanpa ada yang menghalanginya.
***
Di sisi lain, dicafe xx yang telah dibooking oleh dokter Brama. Ini pertama kalinya dokter muda tersebut masuk di sebuah cafe bersama seorang wanita yang belum halal untuknya, akan tetapi karena ingin berbicara empat mata dan juga mengisi perut mereka yang lapar. Ia pun memilih cafe yang terlihat sejuk di mana di bawah sana terdapat tumbuhan hijau yang menyejukkan pandangan mata sambil menikmati hidangan yang ada.
__ADS_1
''Yashinta, maaf atas sikap ku padamu selama ini. Akan tetapi hari ini aku ingin jujur padamu tentang perasaanku. Maukah dirimu menjadi pasangan hidupku!'' tanya dokter Brama dengan satu tarikan nafas. Kalimat itu pun lolos dari lisan keluhnya yang selama ini mengganggu jiwa ketenangan jiwanya.